Sementara itu, di kamar kecilnya di belakang rumah, Pak Karyo duduk di tepi ranjang, sebuah buku catatan kecil terbuka di tangannya. Dia menulis dengan hati-hati, mencatat setiap detail penting.
Minggu ke-16 kehamilan. Gerakan pertama terasa. Mual pagi berkurang setelah minum jamu tradisional. Bu Maya memanggil "Mas" dan "Sayang" saat berhubungan.
Jarinya berhenti sejenak pada catatan terakhir, seulas senyum tipis muncul di wajahnya yang biasanya tak terbaca. "Saiki kabeh wes molai dadi cetha," gumamnya pelan. (Sekarang semua mulai menjadi jelas.)
Dia membalik halaman, mencocokkan dengan catatan sebelumnya. Ada diagram sederhana tentang perkembangan kehamilan, dengan tanda-tanda khusus pada minggu-minggu tertentu. Minggu ke-16 telah dia lingkari dengan tebal, dengan catatan: "Gerakan pertama. Penting untuk membangun ikatan."
Pak Karyo menutup bukunya dan meletakkannya di laci. Dia mengambil ponselnya, tatapannya langsung terpaku pada foto Dani, putra bungsunya yang baru berusia empat tahun. Senyum polos bocah itu selalu berhasil mencairkan hatinya.
Ada tiga pesan dari Ratih, istrinya, yang belum dia baca:
[Ratih: "Pak, Dani takon kapan Bapak mulih maneh" (Pak, Dani tanya kapan Bapak pulang lagi)]
[Ratih: "Wingi dheweke nangis, kangen karo Bapak" (Kemarin dia nangis, kangen Bapak)]
[Ratih: "Iki video Dani lagi dolanan bal nang latar. Pengin ngirim nanging ora bisa. Telpon wae yen Bapak duwe wektu" (Ini video Dani lagi main bola di halaman. Mau kirim tapi nggak bisa. Telepon ya kalau Bapak ada waktu)]
Pak Karyo mengusap layar ponsel dengan jari kasarnya, seolah bisa menyentuh wajah anaknya dari kejauhan. Sebuah perhitungan sederhana muncul di benaknya—saat Dani lulus SMA, umurnya sudah hampir 70 tahun. Pikiran itu membuat perutnya mulas.
"Aku kudu nyiapke masa depane Dani," gumamnya pelan. Dengan upah pembantu rumah tangga, apa yang bisa dia tabung untuk pendidikan anaknya nanti? Tanpa pensiun, tanpa asuransi, tanpa jaminan apapun di usia senja.
Matanya beralih ke arah rumah utama, ke jendela kamar Maya. Bayi dalam kandungan Maya—anaknya—mungkin adalah kesempatan satu-satunya. Entah bagaimana, dia harus bisa memanfaatkan situasi ini untuk masa depan Dani.
"Sabar sedelok maneh, Le," gumamnya pelan. (Sabar sebentar lagi, Nak.)
Jarinya bergerak di atas layar ponsel, mengetik balasan:
[Pak Karyo: Bapak juga kangen Dani. Tapi masih banyak kerjaan di sini. Insya Allah bulan depan Bapak pulang bawa oleh-oleh buat Dani]
Dia menatap layar beberapa saat, ragu-ragu, sebelum menambahkan:
[Pak Karyo: Bilang sama Dani, Bapak sayang dia. Jangan nakal ya di rumah]
Setelah mengirim pesan, Pak Karyo menatap layar ponselnya sejenak, bayangan Dani dan Ratih berkelebat di benaknya. Lalu tangannya perlahan bergerak, membuka galeri foto. Jarinya berhenti pada foto Maya yang diambil diam-diam—Maya dengan gaun tipis di taman belakang, rambutnya tertiup angin, tangannya mengelus perut yang mulai membuncit.
"Wes ora iso mundur," gumamnya, merasakan gejolak di bawah perutnya. (Sudah tidak bisa mundur.)
Dia memejamkan mata, mengingat lagi bagaimana tubuh Maya terasa di bawah tangannya. Kulitnya yang halus, lembut, wangi sabun mahal—beda jauh dengan kulit Ratih yang kasar oleh kerja keras di ladang. Suara desahan Maya bergema di telinganya, cara wanita itu mengerang namanya: "Mas... Mas Karyo..."
"Awakku kroso urip maneh," bisiknya pada diri sendiri. (Tubuhku terasa hidup lagi.)
Di usianya yang sudah lewat setengah abad, Pak Karyo tidak pernah membayangkan akan merasakan gairah seperti ini lagi. Apalagi dari wanita seperti Bu Maya—terpelajar, kaya, jauh di atas kelasnya. Dan sekarang, wanita itu mengandung anaknya.
"Anakku nang wetenge wong wedok ayu," dia tersenyum bangga, tangannya mengusap selangkangannya sendiri yang mulai mengeras hanya dengan membayangkan Maya. (Anakku di perut wanita cantik.)
Matanya beralih ke foto Dani yang tersimpan di ponsel. Bocah empat tahun itu tersenyum lebar, memamerkan gigi susunya yang ompong. Hati Pak Karyo terasa sesak. Berapa banyak yang bisa dia berikan pada Dani dengan gajinya sebagai pembantu? Sekolah bagus? Kuliah? Masa depan cerah?
"Nek Bu Maya gelem nulungi... Dani iso sekolah sing apik," gumamnya pelan. (Kalau Bu Maya mau membantu... Dani bisa sekolah yang bagus.)
Bayangan itu terus berkembang dalam kepalanya. Bu Maya bukan cuma majikan—dia eksekutif dengan gaji besar, koneksi luas. Kalau Bu Maya cukup bergantung padanya, cukup butuh padanya, mungkin dia bisa meminta sedikit bantuan untuk Dani. Beasiswa mungkin? Atau pekerjaan yang lebih baik untuk dirinya sendiri?
Tapi untuk itu, Bu Maya harus membutuhkannya lebih dari siapapun. Lebih dari Pak Irwan.
Setiap kali memijat Maya, tangannya sengaja menyentuh bagian-bagian yang membuat wanita itu mendesah tertahan. Pak Karyo tahu persis di mana titik-titik itu berada—di bawah payudara yang membengkak, di sepanjang paha dalam, di lekuk pinggul. Dan dia tahu Maya menginginkannya lagi, meski wanita itu berusaha menyembunyikannya.
"Suk nรจk Pak Irwan lungo manรจh, Bu Maya bakal dadi duwรจkku manรจh," gumamnya dengan keyakinan sederhana seorang pria desa. (Nanti kalau Pak Irwan pergi lagi, Bu Maya akan jadi milikku lagi.)
Dia tidak perlu rencana rumit. Instingnya sebagai lelaki cukup untuk tahu bahwa tubuh Maya merespons sentuhannya dengan cara yang tidak pernah dia lakukan pada Irwan. Bayinya—darah dagingnya—tumbuh di rahim Maya, menciptakan ikatan yang tidak bisa dipatahkan.
"Wong lanang sing bener kudu ngopeni anake," Pak Karyo bergumam, menegaskan nilai-nilai tradisionalnya. (Laki-laki sejati harus merawat anaknya.)
Bukan hanya anaknya dengan Maya, tapi juga Dani. Dani yang menunggu di desa, yang masa depannya tergantung pada apa yang bisa Pak Karyo dapatkan dari situasi ini.
"Nek aku iso gawe Bu Maya tresno karo aku... luwih tresno tinimbang karo bojone..." Pak Karyo berpikir sambil menggigit bibirnya. (Kalau aku bisa membuat Bu Maya cinta padaku... lebih cinta daripada sama suaminya...)
Mungkin Bu Maya bisa membantu membayar sekolah Dani. Mungkin bahkan bisa membelikannya rumah kecil di Jakarta, supaya Ratih dan Dani bisa pindah ke sini. Mungkin bisa memberinya pekerjaan yang lebih baik, dengan gaji yang lebih besar.
Bagaimana dia akan membuat Maya bergantung padanya? Tentu saja dengan merawat ibunya. Membuat Maya selalu membutuhkannya, selalu menginginkannya. Bukan hanya jamunya, pijatannya, tapi juga—Pak Karyo tersenyum nakal—kepuasan yang hanya bisa dia berikan.
"Bu Maya seneng tenan karo awakku," dia mengingat bagaimana tubuh telanjang Maya menggeliat di bawahnya, bagaimana wanita itu tidak pernah puas dengan satu kali, selalu minta lagi dan lagi. (Bu Maya benar-benar suka dengan tubuhku.)
"Bu Maya butuh aku... butuh aku kanggo bayine... kanggo awake dhewe... mengko butuh aku kanggo kabeh," gumamnya dengan keyakinan sederhana. (Bu Maya butuh aku... butuh aku untuk bayinya... untuk dirinya sendiri... nanti butuh aku untuk semua.)
Ponselnya berdering, memecah lamunan panasnya. Nama "Ratih" muncul di layar. Dengan cepat dia mengangkatnya, masih dengan sisa-sisa bayangan Maya yang telanjang dalam pikirannya.
"Halo, Dik," sapa Pak Karyo, suaranya langsung berubah lembut.
"Mas," suara Ratih terdengar lelah di ujung telepon. "Dani nangis maneh esuk mau. Jare pengin melu Mas nang Jakarta." (Dani nangis lagi tadi pagi. Katanya ingin ikut Mas ke Jakarta.)
Pak Karyo memejamkan mata, merasakan tusukan rasa bersalah. "Aku ngerti, Dik. Mengko yen wis rampung kabeh, Dani iso melu mrene." (Aku mengerti, Dik. Nanti kalau semua sudah beres, Dani bisa ikut ke sini.)
"Iyo, Mas." Ada jeda sebelum Ratih melanjutkan, "Mas... sampeyan wingi bilang nek wis... nyemplung karo Bu Maya. Tenan?" (Iya, Mas. Mas... kamu kemarin bilang sudah... tidur dengan Bu Maya. Betul?)
"Tenan, Dik. Wingi bengi... karo sak-urunge kuwi wis pirang-pirang dino. Awale mung ngurut wetenge, terus dadi... luwih," jawab Pak Karyo, suaranya sedikit bangga. (Betul, Dik. Tadi malam... dan beberapa hari sebelumnya juga. Awalnya cuma urut perutnya, lalu jadi... lebih.)
"Pak Irwan ngerti, Mas?" tanya Ratih cepat, kekhawatiran jelas dalam suaranya. (Pak Irwan tahu, Mas?)
Pak Karyo menggeleng, meski Ratih tidak bisa melihatnya. "Ora, Dik. Dheweke ora ngerti. Iki kabeh ndhelik-ndhelikan. Wingi bengi dheweke lungo, nang Bandung jarene. Aku langsung mlebu kamare Bu Maya." (Tidak, Dik. Dia tidak tahu. Ini semua sembunyi-sembunyi. Tadi malam dia pergi, ke Bandung katanya. Aku langsung masuk kamarnya Bu Maya.)
"Mas," suara Ratih terdengar serius. "Kuwi mbebayani banget. Yen Pak Irwan ngerti, sampeyan iso mati. Dheweke wong sugih, duwe kuasa." (Mas, itu sangat berbahaya. Kalau Pak Irwan tahu, kamu bisa mati. Dia orang kaya, punya kuasa.)
"Aku ngerti resikonipun, Dik. Nanging Bu Maya wis ora iso uwal saka aku. Dheweke kecanduan," Pak Karyo menjawab dengan yakin. (Aku tahu risikonya, Dik. Tapi Bu Maya sudah tidak bisa lepas dariku. Dia kecanduan.)
"Terus rencanamu piye, Mas? Apa mung diteruske nganti konangan?" desak Ratih. (Terus rencanamu bagaimana, Mas? Apa hanya diteruskan sampai ketahuan?)
"Ora, Dik. Aku duwe rencana," kata Pak Karyo dengan suara rendah. "Aku bakal gawe Bu Maya semakin nggantungke uripe marang aku. Ora mung kanggo jamune, pijetane, tapi kanggo kabutuhan atine. Suwi-suwi, dheweke bakal milih aku tinimbang bojone." (Tidak, Dik. Aku punya rencana. Aku akan membuat Bu Maya semakin menggantungkan hidupnya padaku. Tidak hanya untuk jamunya, pijatannya, tapi untuk kebutuhan hatinya. Lama-lama, dia akan memilih aku daripada suaminya.)
"Sampeyan arep ngrusak rumah tanggane wong, Mas?" suara Ratih terdengar tidak percaya. (Kamu mau merusak rumah tangga orang, Mas?)
"Rumah tanggane wis rusak, Dik. Enem taun ora duwe anak. Pak Irwan ora iso mancing. Aku sing mancing. Saiki, Bu Maya meteng anakku. Kuwi wis bukti nek aku luwih apik tinimbang bojone." (Rumah tangganya sudah rusak, Dik. Enam tahun tidak punya anak. Pak Irwan tidak bisa membuahi. Aku yang membuahi. Sekarang, Bu Maya hamil anakku. Itu sudah bukti kalau aku lebih baik daripada suaminya.)
"Terus, sampeyan arep ngopo? Njaluk Bu Maya ninggal bojone? Terus urip karo sampeyan? Neng ngendi? Opo Bu Maya gelem urip neng deso karo sampeyan?" pertanyaan Ratih bertubi-tubi. (Terus, kamu mau apa? Minta Bu Maya meninggalkan suaminya? Lalu hidup dengan kamu? Di mana? Apa Bu Maya mau hidup di desa denganmu?)
Pak Karyo tertawa kecil. "Ora, Dik. Aku ora ngimpi semono dhuwure. Nanging, yen Bu Maya butuh aku terus-terusan, dheweke iso dadi bojo simpenanku. Dheweke duwe dhuwit akeh, duwe omah gedhe. Dadi malah iso nyukupi kabutuhan awake dhewe kabeh. Lan kowe karo Dani iso pindah neng Jakarta." (Tidak, Dik. Aku tidak bermimpi setinggi itu. Tapi, kalau Bu Maya butuh aku terus-menerus, dia bisa jadi istri simpananku. Dia punya uang banyak, punya rumah besar. Jadi malah bisa mencukupi kebutuhan kita semua. Dan kamu dengan Dani bisa pindah ke Jakarta.)
"Sampeyan yakin Bu Maya gelem? Lan sampeyan ora wedi karo Pak Irwan?" (Kamu yakin Bu Maya mau? Dan kamu tidak takut dengan Pak Irwan?)
"Bu Maya wis muni 'sayang' karo aku, Dik. Dheweke ngundang aku 'Mas'. Iku ora mergo seks tok. Iku wis ono roso. Masalah Pak Irwan, aku bakal ngati-ati. Yen perlu, aku iso golek gaman." (Bu Maya sudah bilang 'sayang' padaku, Dik. Dia memanggilku 'Mas'. Itu bukan karena seks saja. Itu sudah ada rasa. Masalah Pak Irwan, aku akan hati-hati. Kalau perlu, aku bisa cari senjata.)
"Mas!" Ratih terdengar kaget. "Ojo ngomong ngono! Kuwi wis dadi perkoro pidana!" (Mas! Jangan bicara begitu! Itu sudah jadi perkara pidana!)
"Aku mung kandha 'yen perlu', Dik. Tapi aku yakin ora bakal nganti semono. Bu Maya iki wong pinter. Dheweke iso ngatur carane supaya bojone ora ngerti, utowo ora masalah." (Aku hanya bilang 'kalau perlu', Dik. Tapi aku yakin tidak akan sampai segitu. Bu Maya ini orang pintar. Dia bisa mengatur caranya supaya suaminya tidak tahu, atau tidak masalah.)
Ratih menghela napas panjang. "Mas... sampeyan pancen duwe pesona sing ora bisa ditolak wong wedok. Aku dhewe yo ngakoni kuwi. Tapi iki permainan berbahaya. Iki dudu wong deso sing iso diakali. Iki wong kutha, wong sugih, wong duwe pengaruh." (Mas... kamu memang punya pesona yang tidak bisa ditolak perempuan. Aku sendiri juga mengakui itu. Tapi ini permainan berbahaya. Ini bukan orang desa yang bisa diakali. Ini orang kota, orang kaya, orang punya pengaruh.)
"Percoyoa karo aku, Dik. Aku duwe rencana. Bu Maya wis ora iso uwal saka tanganku. Wingi bengi wae, dheweke nyebut-nyebut 'anake awake dhewe' pas lagi klimaks. Kuwi tandha nek dheweke wis nganggep iki anake awake dhewe, dudu anake karo Pak Irwan." (Percayalah padaku, Dik. Aku punya rencana. Bu Maya sudah tidak bisa lepas dari tanganku. Tadi malam saja, dia menyebut-nyebut 'anak kita berdua' saat sedang klimaks. Itu tanda kalau dia sudah menganggap ini anak kita berdua, bukan anaknya dengan Pak Irwan.)
"Sampeyan ngati-ati yo, Mas. Ojo terus-terusan smsan karo telponan neng HP-e Bu Maya. Kuwi gampang konangan. Ojo ninggal bukti opo-opo." (Kamu hati-hati ya, Mas. Jangan terus-menerus SMS-an dan teleponan di HP-nya Bu Maya. Itu gampang ketahuan. Jangan tinggalkan bukti apa-apa.)
"Tenang, Dik. Aku ngerti carane ndelikke. Bu Maya uga pinter nyimpen wadi." (Tenang, Dik. Aku tahu caranya menyembunyikan. Bu Maya juga pintar menyimpan rahasia.)
"Muga-muga wae sampeyan bener, Mas. Aku mung ora pengin sampeyan ciloko. Lan ojo lali karo aku lan Dani, yo? Sampeyan wis janji." (Semoga saja kamu benar, Mas. Aku hanya tidak ingin kamu celaka. Dan jangan lupa dengan aku dan Dani, ya? Kamu sudah janji.)
"Ora bakal, Dik. Ora bakal. Pisan maneh, ojo kuwatir. Bu Maya wis ora iso uwal saka aku. Saben pagi mual-mual, mung aku sing iso nulungi. Saben awake pegel, mung pijetanku sing manjur. Saben nduweni napsu... mung aku sing iso muasne. Bojone ora iso opo-opo." (Tidak akan, Dik. Tidak akan. Sekali lagi, jangan khawatir. Bu Maya sudah tidak bisa lepas dariku. Setiap pagi mual-mual, hanya aku yang bisa menolong. Setiap badannya pegal, hanya pijatanku yang manjur. Setiap punya nafsu... hanya aku yang bisa memuaskannya. Suaminya tidak bisa apa-apa.)
"Aku percoyo, Mas. Aku ngerti piye rasane ora entuk sampeyan pirang-pirang sasi. Ora enak tenan," kata Ratih dengan suara pelan. (Aku percaya, Mas. Aku tahu bagaimana rasanya tidak mendapatkanmu berbulan-bulan. Tidak enak sekali.)
Pak Karyo tersenyum puas. "Sabar, Dik. Mengko yen wis kasil kabeh, urip awake dhewe bakal luwih kepenak. Aku janji." (Sabar, Dik. Nanti kalau sudah berhasil semua, hidup kita akan lebih enak. Aku janji.)
"Iyo, Mas. Pokokmen ati-ati," kata Ratih terakhir kali. (Iya, Mas. Pokoknya hati-hati.)
"Iyo, Dik. Ora usah kuwatir." (Iya, Dik. Tidak usah khawatir.)
"Ora bakal kleru, Bu. Percaya karo aku," jawab Pak Karyo lembut. (Tidak akan salah, Bu. Percaya padaku.)
Setelah beberapa kalimat perpisahan dan janji untuk segera mengirim uang tambahan, Pak Karyo menutup telepon. Dia duduk diam beberapa saat, tatapannya menerawang ke luar jendela kecil kamarnya yang menghadap ke rumah utama.
Dari sudut ini, dia bisa melihat sebagian kamar Maya dan Irwan di lantai atas. Lampunya menyala—Maya mungkin sedang beristirahat di sana, seperti yang dia katakan tadi.
Pak Karyo kembali menatap buku catatannya, merenungkan rencana yang telah dia susun. Waktunya semakin sempit. Jika dia ingin memastikan posisinya dalam keluarga ini, dia perlu mempercepat strategi.
Dia mengambil ponselnya lagi, membuka foto Maya yang tersimpan. Jarinya dengan lembut menyentuh bagian perut Maya di foto itu.
"Anakku," bisiknya pelan. "Ora suwe maneh, kabeh wong bakal ngerti yen kowe anakku tenan." (Anakku. Tidak lama lagi, semua orang akan tahu bahwa kamu benar-benar anakku.)
Dengan keputusan bulat, Pak Karyo menutup buku catatannya dan bangkit. Sudah waktunya mempercepat rencana. Dimulai dengan membuat dirinya semakin tidak tergantikan dalam kehidupan sehari-hari Maya.
Dia membuka laci, mengeluarkan beberapa bungkus rempah kering yang dia bawa dari desa. Campuran khusus untuk membuat jamu yang akan meredakan semua keluhan kehamilan Maya—jamu yang hanya dia yang tahu cara membuatnya.
"Saiki wektune tumindak luwih cepet," gumamnya sembari menyimpan rempah-rempah itu di sakunya. (Sekarang waktunya bertindak lebih cepat.)
Dengan tekad baru, Pak Karyo melangkah keluar dari kamarnya, bersiap untuk fase berikutnya dalam rencananya—memastikan bahwa Maya dan bayinya tidak akan bisa hidup nyaman tanpa bantuannya. Dan jika strateginya berhasil, bahkan Irwan pun akan mengakui posisi pentingnya dalam keluarga ini.
Saat melintasi halaman belakang menuju dapur, matanya terangkat ke jendela kamar Maya di lantai atas. Siluet Maya terlihat sekilas, berdiri dekat jendela, mungkin juga sedang memandang ke luar. Untuk sepersekian detik, pandangan mereka seolah bertemu dari kejauhan.
Pak Karyo tersenyum kecil. "Ora suwe maneh, Bu Maya. Ora suwe maneh." (Tidak lama lagi, Bu Maya. Tidak lama lagi.)
Bersambung ...
