𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟎𝟏

Irwan melangkah masuk ke rumah dengan langkah lebih berat dari biasanya, tas kerjanya tersampir di bahu. Ada lingkaran tipis di bawah matanya—bukti malam tanpa tidur yang cukup. Tapi ada senyum di wajahnya saat melihat Maya yang menyambut di ruang depan.

"Hai, Yang," sapanya, suaranya terdengar sedikit serak.

"Hai," balas Maya, mencoba terdengar normal meski jantungnya berdebar kencang. "Kok pulangnya lebih cepat?"

Irwan mengangkat bahu. Dia melangkah mendekati Maya, memeluknya dengan lembut. "Nggak papa, Kangen aja."

Maya membalas pelukan itu, berusaha menenangkan debar jantungnya yang menggila. Dia suamiku, ingatnya pada diri sendiri. Bersikaplah normal.

Tapi saat Irwan mencium lehernya—tempat yang semalam dikecup Pak Karyo—tubuh Maya refleks menegang. Bukan karena tidak nyaman, tapi karena memori sensual yang tiba-tiba muncul di benaknya.

Irwan menyadari reaksi itu dan menarik diri, menatap Maya dengan senyum kecil yang sulit diartikan. "Masih sensitif ya?" tanyanya, nadanya ringan tapi matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam.

Maya mengangguk, merasa malu karena Irwan bisa membaca tubuhnya dengan begitu mudah.

"Kamu udah sarapan?" tanya Irwan, mengalihkan pembicaraan.

"Udah. Tapi aku bisa nemenin kamu makan," jawab Maya.

Mereka berjalan bersama ke dapur, di mana Pak Karyo sudah menyiapkan sarapan untuk Irwan dan secangkir kopi yang masih mengepul.

"Selamat pagi, Pak," sapa Pak Karyo dengan sopan, membungkuk sedikit. "Perjalanan lancar?"

"Lancar, Pak Karyo," jawab Irwan, duduk di kursinya. "Cuma macet dikit di tol."

Maya duduk di hadapan Irwan, memperhatikan interaksi kedua pria itu dengan seksama. Dari luar, semua terlihat normal—Irwan yang berbicara sopan pada Pak Karyo, Pak Karyo yang melayani dengan efisien. Tapi ada ketegangan halus di udara, semacam arus listrik tak terlihat yang menghubungkan ketiganya.

Pak Karyo meletakkan secangkir kopi di hadapan Irwan,

"Makasih, Pak Karyo," ucap Irwan, tatapannya sekilas bertemu dengan pembantu mereka sebelum beralih ke kopinya.

Maya mengamati pertukaran itu dengan napas tertahan. Ada sesuatu dalam cara mereka berinteraksi—campuran kesadaran dan ketidaknyamanan yang aneh. Apakah begini rasanya bagi Pak Karyo selama ini? Melayani pria yang istrinya dia tiduri? Dadanya terasa sesak memikirkan kompleksitas situasi mereka.

"Bu Maya nggak mual pagi ini," Pak Karyo tiba-tiba berkata, mungkin untuk memecah keheningan canggung. "Sepertinya kondisi Ibu membaik."

Irwan mengangkat alis, menatap Maya. "Beneran? Biasanya kamu selalu mual di pagi hari."

Maya mengangguk, sadar bahwa topik ini bisa mengarah ke tempat yang berbahaya dengan cepat. "Iya, aneh ya? Mungkin karena udah masuk trimester kedua."

"Atau mungkin karena..." Irwan melirik sekilas ke Pak Karyo, tidak melanjutkan kalimatnya tapi implikasinya jelas.

Maya merasakan wajahnya memanas. Apa Irwan benar-benar akan membahas ini sekarang? Di depan Pak Karyo?

Tapi Pak Karyo menyelamatkan situasi dengan berkata, "Mungkin karena teh herbal yang saya buatkan tadi pagi, Pak. Resep tradisional dari desa saya untuk ibu hamil."

Irwan mengangguk, tatapannya penuh arti saat menatap Pak Karyo. "Kamu memang... punya banyak pengetahuan tentang kehamilan ya, Pak Karyo."

"Istri saya dua-duanya pernah hamil, Pak," jawab Pak Karyo sopan. "Saya belajar banyak dari pengalaman."

Cara Pak Karyo mengatakan "pengalaman" membuat pipi Maya memanas lagi. Ada makna tersembunyi dalam percakapan kasual mereka, lapisan-lapisan yang hanya mereka bertiga yang mengerti.

"Oh!" Maya tiba-tiba berkata, teringat sesuatu. "Irwan, tadi pagi aku ngerasain gerakan bayi untuk pertama kalinya!"

Ekspresi Irwan langsung berubah—ada kegembiraan tulus yang muncul, menggantikan ketegangan sebelumnya. "Serius? Kenapa nggak langsung ngabarin aku?"

Maya tersenyum, lega dengan perubahan topik. "Aku mau kasih surprise pas kamu pulang. Rasanya kayak... gelembung kecil bergerak di dalam."

Irwan meletakkan kopinya, tangan terulur ke arah perut Maya. "Boleh aku...?"

Maya mengangguk, mengambil tangan Irwan dan menempatkannya di perutnya. Dari sudut matanya, dia bisa melihat Pak Karyo mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk membereskan dapur meski semua sudah rapi.

"Sayang, ayo dong gerak lagi," Maya berbicara pada perutnya. "Tunjukin ke Papa."

Kata "Papa" itu terasa aneh di lidahnya sekarang, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan bisikan lembut "anakku" dari Pak Karyo beberapa saat lalu. Maya merasa seperti penipu, menggunakan istilah yang menciptakan hubungan palsu antara Irwan dan bayi yang bukan darah dagingnya.

Tapi Irwan adalah ayahnya, Maya mengingatkan diri sendiri dengan tegas. Dia yang akan membesarkan anak ini. Dia suamiku. Ayah dari anakku.

Seolah merespons pemikiran Maya, bayi di dalam perutnya bergerak lagi—sebuah gerakan kecil tapi jelas yang membuat mata Irwan melebar dengan takjub.

"Ya Tuhan! Aku ngerasain!" serunya, wajahnya berseri-seri. "Maya, ini... ini luar biasa!"

Kebahagiaan tulus Irwan membuat Maya merasa hangat sekaligus bersalah. Hangat karena melihat betapa suaminya mencintai bayi ini meski tahu bukan darah dagingnya. Bersalah karena... yah, semua hal lain yang terjadi.

Pak Karyo berdiri beberapa meter dari mereka, tangannya menggenggam lap dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tertuju pada tangan Irwan yang kini mengelus perut Maya dengan penuh kasih sayang, ekspresinya tak terbaca.

"Saya permisi dulu, mau beresin halaman belakang," ucap Pak Karyo tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit kaku.

"Oh, iya, silahkan Pak Karyo," jawab Irwan tanpa mengalihkan pandangan dari perut Maya.

Pak Karyo membungkuk sedikit sebelum melangkah keluar dari dapur. Tapi sebelum pergi, matanya sekilas bertemu dengan Maya—ada sesuatu di tatapan itu, semacam pengakuan diam akan situasi mereka yang kompleks, sebelum dia menghilang ke halaman belakang.

Sepeninggal Pak Karyo, Irwan mencondongkan tubuhnya, berbisik di telinga Maya. "Jadi... kamu manggil dia 'Mas' dan 'Sayang' semalam."

Maya merasakan darahnya seolah membeku. Dia tahu Irwan menonton semuanya, tentu saja, tapi mendengarnya mengungkit hal itu secara langsung tetap membuatnya terkejut.

"Aku... itu cuma... keluar begitu aja," Maya tergagap, tidak yakin bagaimana harus menjelaskan.

Irwan tersenyum, matanya berkilat dengan emosi yang rumit—campuran gairah, cemburu, dan sesuatu yang lebih gelap yang tidak bisa Maya artikan.

"Aku suka," bisiknya, mengejutkan Maya. "Aku suka dengernya. Kamu terlihat... sangat tulus waktu mengatakannya."

Tulus. Kata itu menohok Maya. Apakah dia memang tulus? Apakah panggilan mesra itu memang murni refleks emosionalnya, bukan sekedar efek dari gairah sesaat?

"Irwan, aku—"

"Sshh," Irwan meletakkan jarinya di bibir Maya. "Kita nggak perlu membahasnya sekarang. Aku cuma mau kamu tahu... aku nggak marah. Malah sebaliknya."

Maya menatap suaminya, mencoba memahami pria yang selama enam tahun dia pikir dia kenal dengan

Maya menatap suaminya, mencoba memahami pria yang selama enam tahun dia pikir dia kenal dengan baik. Siapa sebenarnya Irwan ini? Suami yang pengertian? Pria dengan fetish aneh? Atau seseorang di antara keduanya?

"Kamu... benar-benar nggak keberatan?" tanya Maya hati-hati, suaranya hampir berbisik meski Pak Karyo sudah tidak ada di ruangan.

Irwan menggenggam tangan Maya, matanya menatap dalam. "Awalnya aku pikir aku akan cemburu buta," akunya. "Tapi ternyata... ada sesuatu yang sangat... membebaskan dalam melihatmu dengan Pak Karyo."

"Membebaskan?" Maya mengerutkan kening, tidak mengerti.

"Melihatmu benar-benar melepaskan diri," Irwan menjelaskan, suaranya rendah dan intim. "Kamu nggak pernah seperti itu denganku, Maya. Nggak pernah sepuas itu, selepas itu."

Ada kejujuran menyakitkan dalam kata-katanya yang membuat Maya ingin menangis. Enam tahun bersama, dan dia tidak pernah mampu memberi Irwan pengalaman yang sama seperti yang Pak Karyo berikan padanya dalam beberapa hari.

"Maaf," bisik Maya, tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan.

"Jangan minta maaf," Irwan dengan cepat menjawab, meremas tangannya lembut. "Ini bukan salah siapa-siapa. Kita nggak bisa mengontrol tubuh kita seperti itu."

Maya menggigit bibirnya, tidak yakin harus merespons apa. Apakah ini tentang tubuh saja? Atau ada sesuatu yang lebih dalam?

"Apa kamu masih ketemu Dr. Andy?" tanya Maya tiba-tiba, teringat psikolog yang Irwan konsultasikan tentang respons emosionalnya yang kompleks.

Irwan mengalihkan pandangan, jarinya memainkan cangkir kopi. "Aku... undur jadwal konsultasi beberapa minggu terakhir."

"Kenapa? Bukannya dia banyak membantu?"

"Ya, memang," Irwan mengangguk pelan. "Tapi aku mau fokus dulu ke fase pertama rencana kita. Mastiin semuanya... berjalan lancar."

"Fase pertama?" Maya mengangkat alisnya.

Irwan tersenyum tipis. "Kamu. Pak Karyo. Semua... interaksi kalian."

Oh, pikir Maya. Dia menganggap ini semua bagian dari rencana, bukan sesuatu yang lepas kendali.

"Aku mau memastikan segala sesuatunya teratur dulu," Irwan melanjutkan, suaranya lebih tenang dan terkendali dari yang Maya perkirakan. "Nanti aku akan lanjut konsultasi lagi. Dr. Andy memberikan banyak wawasan menarik tentang... respons kita berdua."

Ada sesuatu dalam cara Irwan mengatakannya—keteraturan yang hampir klinis—yang membuat Maya merasa tidak nyaman. Ini bukan lagi tentang program kehamilan. Ini terdengar seperti eksperimen yang diatur dengan cermat.

"Kamu bilang 'fase pertama'," Maya menyuarakan kekhawatirannya. "Berapa banyak fase yang kamu rencanakan? Dan apa Pak Karyo tahu dia bagian dari rencana ini? Dia kan cuma pembantu kita, Say."

Irwan menatap Maya dalam-dalam. "Percaya deh, dari yang aku lihat semalam, dia sangat menikmati perannya. Dan setelah cara kamu memanggilnya..." Irwan berhenti sejenak, "...aku rasa dia lebih dari sekedar pembantu bagimu sekarang."

Kata-kata itu menusuk Maya dengan cara yang tidak dia perkirakan. Ada kebenaran di sana yang tidak ingin dia akui, tidak pada Irwan, bahkan tidak pada dirinya sendiri.

"Itu cuma keluar begitu aja," Maya mencoba membela diri. "Aku nggak bermaksud—"

"Sshh," Irwan memotong lembut. "Nggak perlu dijelaskan. Aku udah bilang, aku nggak marah. Aku malah... terangsang mendengarnya."

Ya Tuhan, ada apa dengan kami? Maya bertanya dalam hati. Apa yang terjadi dengan pernikahan normal kami?

Tapi pertanyaan itu sendiri mengandung ironi—pernikahan mereka tidak pernah benar-benar "normal" sejak mereka memutuskan untuk memulai "program" dengan Pak Karyo.

"Gimana kalau kita makan malam di luar malam ini?" tanya Irwan tiba-tiba, mengubah topik pembicaraan. "Ada restoran Italia baru di dekat kantorku. Kita bisa merayakan hasil USG kemarin dan... semua perkembangan lainnya."

Maya mengangguk, lega dengan perubahan arah percakapan. "Boleh. Kedengarannya menyenangkan."

"Oke," Irwan tersenyum, menghabiskan kopinya. "Aku mau mandi dulu, badan masih lengket setelah perjalanan."

Irwan bangkit, tapi sebelum pergi, dia membungkuk dan mencium Maya—bukan ciuman biasa, tapi ciuman dalam dan menuntut yang membuatnya terkejut. Ada sesuatu yang posesif dalam ciuman itu, seolah Irwan ingin menandai teritorinya kembali.

Saat Irwan akhirnya melepaskan ciuman, Maya terengah-engah. Tapi alih-alih merasa terangsang, tubuhnya bereaksi dengan cara yang tidak dia duga—perutnya tiba-tiba bergejolak, dan gelombang mual yang tidak ada sepanjang pagi mendadak menyerang.

"Excuse me—" Maya tergagap, menutup mulutnya dan bergegas ke wastafel dapur.

Dia muntah, tubuhnya terbungkuk di atas wastafel sementara Irwan menepuk-nepuk punggungnya dengan khawatir.

"Maya? Kamu nggak apa-apa?"

Maya berkumur, mencoba menenangkan perutnya yang masih bergejolak. "Mungkin aku terlalu cepat senang kalau mual paginya udah hilang," ucapnya lemah.

Tapi dalam hati, Maya tahu ada sesuatu yang lebih aneh terjadi. Dia baik-baik saja sepanjang pagi. Tidak ada mual saat dia bangun, saat dia sarapan, bahkan saat berinteraksi dengan Pak Karyo. Mual itu datang hanya setelah ciuman Irwan.

Ini gila, pikirnya, menolak mencari pola yang jelas terlihat. Pasti cuma kebetulan.

Suara pintu belakang terbuka, dan Pak Karyo muncul dengan ekspresi khawatir. "Ada apa, Bu? Saya dengar Ibu muntah."

"Mual paginya Bu Maya ternyata belum sepenuhnya hilang," jawab Irwan sebelum Maya sempat berbicara.

Pak Karyo mengangguk, bergerak dengan efisien ke dapur. "Saya buatin teh jahe lagi, ya Bu. Tadi pagi kan ampuh."

"Makasih, Pak Karyo," ucap Maya lemah, duduk kembali di kursinya.

Irwan menatap interaksi itu dengan seksama, matanya menyipit sedikit. "Sepertinya teh buatan Pak Karyo memang lebih manjur ya dari obat-obatan yang dokter kasih."

Ada nada aneh dalam suara Irwan—bukan kecemburuan, tapi semacam ketertarikan ilmiah yang dingin. Seolah dia sedang mengamati eksperimen dan mencatat hasilnya.

"Ini bumbu tradisional, Pak," jawab Pak Karyo sambil menyiapkan teh. "Nenek moyang kita udah pake dari jaman dulu buat ibu hamil."

"Hmm," Irwan mengangguk, matanya tidak lepas dari gerakan efisien Pak Karyo. "Mungkin memang ada sesuatu... khusus dari cara tradisional."

Maya menatap kedua pria itu bergantian, merasakan ketegangan aneh di udara. Ada semacam kompetisi terselubung yang terjadi—bukan permusuhan terbuka, tapi pertarungan halus tentang siapa yang lebih mampu memenuhi kebutuhannya.

"Ini tehnya, Bu," Pak Karyo menyodorkan cangkir dengan cairan mengepul.

Maya menerimanya dengan kedua tangan, jari-jarinya bersentuhan dengan Pak Karyo sekilas. Sensasi itu—sentuhan sederhana—mengirimkan gelombang hangat melalui tubuhnya, mengusir rasa mual dengan instan.

"Makasih," bisiknya, menghirup aroma teh yang menenangkan.

Pak Karyo mengangguk, membungkuk sopan sebelum mengundurkan diri. "Saya lanjutin kerjaan di luar dulu."

Saat Pak Karyo melangkah keluar, Maya bisa merasakan tatapan Irwan padanya—intens dan penuh spekulasi.

"Menarik ya," ucap Irwan pelan setelah Pak Karyo pergi.

"Apanya?" tanya Maya, menyesap tehnya.

"Reaksi tubuhmu," Irwan menjelaskan, nadanya seperti dokter yang mendiskusikan kasus medis yang menarik. "Mual saat kucium, tapi tenang saat Pak Karyo di dekatmu."

Maya nyaris tersedak tehnya. "Itu... itu cuma kebetulan."

"Mungkin," Irwan mengangkat bahu. "Atau mungkin ada sesuatu yang lebih... biologis terjadi di sini."

Maya menatap suaminya dengan tidak percaya. "Maksudmu?"

"Dr. Ratna pernah bilang, beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi dalam kandungan bisa 'mengenali' DNA ayah biologisnya melalui reaksi kimia," Irwan menjelaskan dengan tenang, seolah mendiskusikan cuaca. "Mungkin itulah yang terjadi. Bayimu mengenali Pak Karyo sebagai ayah biologisnya."

"Bayimu"—bukan "bayi kita." Maya merasakan jantungnya seperti diremas. Apakah begitu Irwan melihatnya sekarang? Sebagai bayi Maya dan Pak Karyo, bukan bayi mereka berdua?

"Itu bukan... itu bukan yang kita sepakati, Irwan," Maya berkata lirih. "Kita sepakat ini bayi kita. Kamu ayahnya."

Irwan cepat-cepat meraih tangan Maya, tampak menyesal. "Tentu saja, sayang. Aku ayahnya. Maksudku, secara sosial dan hukum. Aku yang akan membesarkannya. Tapi kita tidak bisa mengabaikan fakta biologisnya, kan?"

Maya tidak menjawab, dadanya terasa sesak. Bagaimana situasi bisa menjadi serumit ini? Bagaimana garis-garis yang dulunya begitu jelas kini menjadi begitu kabur?

"Aku mau ke kamar dulu," Maya akhirnya berkata, bangkit dari kursinya. "Masih sedikit pusing."

"Oke," Irwan mengangguk, tidak mencoba menahannya. "Istirahat aja. Nanti sore kita makan di luar, ya?"

Maya mengangguk samar sebelum melangkah ke lantai atas, pikirannya berkecamuk dengan pertanyaan tanpa jawaban dan perasaan yang semakin kompleks.


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com