𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟗

Di lobby hotel, Irwan memesan kopi ketiga. Tangannya yang biasa mantap menandatangani kontrak miliaran kini gemetar mengaduk minuman yang belum ia sentuh. Matanya menatap kosong ke arah lift, membayangkan apa yang terjadi di lantai atas. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini cuma prosedur medis aja - masuk, lakukan, keluar. Kayak donor darah atau check-up rutin. Tapi kenapa sudah lewat setengah jam dan belum ada kabar dari Maya?

Maya berdiri di depan pintu suite, tangannya gemetar saat memasukkan key card. Suara klik pelan mengonfirmasi pintu terbuka, dan ia melangkah masuk dengan lutut yang nyaris goyah.

Pak Karyo sudah menunggu di dalam, berdiri canggung di dekat jendela. Maya nyaris tersedak melihat penampilannya - kemeja putih yang ia belikan dari butik langganannya malah membuat Pak Karyo tampak semakin tidak pantas berada di suite mewah ini. Kulitnya yang hitam legam, hasil bertahun-tahun bekerja di bawah terik matahari Jakarta, tampak kontras mengerikan dengan kemeja putih itu. Wajahnya yang kasar dan penuh kerutan, dengan hidung pesek dan bibir tebal khas orang kampung, membuat Maya seketika menyesali keputusannya.

"Ya Allah," bisik Maya dalam hati, "aku akan berhubungan intim dengan... ini?"

Maya menelan ludah, mencoba menenangkan perutnya yang bergolak. Ia adalah eksekutif senior, terbiasa menghadapi situasi sulit dengan profesional. Tapi ini... melihat Pak Karyo yang berdiri canggung dengan kemeja yang terlalu rapi untuk tubuhnya yang kekar dan kasar, Maya merasa ingin muntah.

"Su-sudah lama nunggu?" Maya coba tersenyum profesional, tapi suaranya bergetar. Aroma sabun hotel mewah yang ia siapkan khusus untuk Pak Karyo malah membuat segalanya terasa lebih buruk - seperti menyemprotkan parfum Chanel ke atas tumpukan sampah.

"Baru lima belas menit kok, Bu," Pak Karyo jawab dengan logat Jawa medok-nya yang kental, membuat Maya semakin ngeri membayangkan apa yang akan terjadi. Tangan Pak Karyo yang hitam dan penuh kapalan bergerak-gerak gelisah di sisi tubuhnya - tangan yang sebentar lagi akan menyentuh kulitnya yang putih mulus.

"A-aku ke kamar mandi dulu," Maya buru-buru kabur, nyaris tersandung high heels-nya sendiri. Di kamar mandi mewah suite itu, ia bersandar di pintu, napasnya tersengal. Bayangan tangan kasar itu menyentuh tubuhnya membuat perutnya semakin mual.

"Ini demi punya anak," Maya berbisik pada bayangannya di cermin, mencoba memoleskan lipstik merah Chanel-nya dengan tangan gemetar. "Demi anak... demi anak... aku harus kuat..."

"Inget, aku Maya Andini," bisiknya pada cermin, mencoba mengingat prestasi-prestasinya - lulusan terbaik MBA, senior manager termuda di perusahaannya. "Aku pasti bisa lakuin ini." Tapi getaran dalam suaranya mengkhianati kepura-puraan itu. Ia melirik bed king size yang akan menjadi saksi bisu transformasinya dari eksekutif sukses menjadi wanita yang begitu putus asa akan kehadiran seorang anak hingga rela menyerahkan diri pada pembantu rumah tangganya sendiri.

Sementara itu Pak Karyo berdiri canggung di dekat pintu, masih mengenakan kemeja putih baru yang Maya belikan khusus untuk malam ini dari butik langganannya.

Maya membuka tas Hermesnya dengan tangan gemetar, mengeluarkan botol kecil berisi Valium yang ia dapatkan dari dokter. Di sampingnya, terlipat rapi, sebuah lingerie hitam yang ia beli siang tadi - keputusan impulsif saat melewati butik di Plaza Senayan. Awalnya ia merasa konyol, membeli pakaian dalam mewah untuk... seorang pembantu. Tapi entah mengapa, ada bagian dari dirinya yang ingin mempertahankan ilusi bahwa ini bukan sekadar "prosedur" aja seperti yang mereka rencanakan.

"Aku tetep Maya Andini," bisiknya pada bayangan di cermin, jemarinya yang lentik menyentuh lingerie itu. "Senior manager yang selalu keliatan sempurna." Tapi getaran dalam suaranya mengkhianati kepura-puraan itu. Ia meneguk Valium dengan air dingin, menunggu obat itu memberikan keberanian yang ia butuhkan.

Perlahan, dengan gerakan yang masih anggun walaupun gemetar, Maya melepas satu per satu pakaiannya. Blazer krem Burberry yang tadi pagi ia pilih dengan cermat untuk meeting dengan klien Jepang. Rok pensil yang membuatnya merasa berkuasa di ruang rapat. Blus sutra yang selalu memberinya rasa percaya diri. Setiap lapisan yang terlepas seolah mengupas persona profesionalnya, menyisakan seorang wanita yang begitu putus asa akan kehadiran seorang anak.

Lingerie itu terasa dingin di kulitnya - sutra hitam yang kontras dengan kulit putihnya yang terawat salon. Maya memutar tubuhnya di cermin, mencoba meyakinkan diri bahwa ia masih wanita yang sama, eksekutif sukses yang biasa membuat keputusan miliaran rupiah. Tapi bayangan di cermin menunjukkan sosok yang berbeda - seorang wanita yang akan menyerahkan diri pada pembantunya sendiri.

Valium mulai bekerja ketika Maya melangkah keluar kamar mandi. Efek obat penenang itu membuat kepalanya sedikit ringan, tapi tidak cukup untuk menghilangkan kegugupannya sepenuhnya. Lingerie hitam yang ia kenakan terasa seperti armor yang terlalu tipis, membuat kulitnya meremang setiap kali AC menyentuhnya.

Pak Karyo masih berdiri di dekat jendela, sosoknya yang tegap tampak asing dalam kemeja putih Marks & Spencer yang Maya belikan. Keringat mulai membasahi punggungnya, membuat kemeja itu menempel pada otot-otot yang terbentuk dari bertahun-tahun kerja fisik. Maya bisa melihat bagaimana tangan kasar Pak Karyo mencengkeram tirai, menahan diri untuk tidak langsung menghampirinya.

Aroma yang menguar dari tubuh Pak Karyo membuat kepala Maya semakin pusing - campuran antara sabun murah, keringat, dan sesuatu yang sangat... maskulin. Aroma yang selama ini ia cium dari jauh saat Pak Karyo membersihkan rumah atau mencuci mobil, kini begitu dekat dan menusuk, membuat lututnya gemetar.

"Bu Maya..." Suara Pak Karyo terdengar serak, sangat berbeda dari nada formal yang biasa ia gunakan saat membersihkan rumah atau menyiapkan sarapan. "Cantik banget..."

Pujian sederhana itu membuat pipi Maya merona. Ia, yang biasa menerima komplimen di meeting-meeting high level, entah mengapa merasa telanjang di bawah tatapan pembantunya yang kini perlahan memberanikan diri menatapnya langsung.

Pak Karyo maju selangkah, otot-otot di lengannya yang biasa mengangkat furniture menegang menahan diri. "Permisi, Bu... boleh saya mendekat?" suaranya lebih berat dari biasanya.

Maya mengangguk kaku, kakinya seolah terpaku ke lantai marmer yang dingin. Ia melihat bagaimana Pak Karyo mendekat dengan gerakan yang tidak lagi membungkuk hormat - ada sesuatu yang kayak pemburu dalam caranya melangkah.

"Ya ampun..." Pak Karyo berbisik saat jarak mereka tinggal selangkah. Matanya yang biasanya tertunduk kini berani menjelajahi tubuh Maya dari atas ke bawah. "Bu Maya..."

Tangan kasarnya terulur, gemetar hebat, lalu berhenti di udara. Pak Karyo menelan ludah keras. "Saya... boleh pegang?"

Maya mengangguk kaku. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia, seorang senior manager yang terbiasa memerintah puluhan karyawan, kini hanya bisa menunggu perintah dari pembantunya sendiri.

"Lingerie-nya bagus banget, Bu." Pak Karyo melangkah maju, arogansi baru tampak dalam gerakannya. Tangannya yang hitam legam menyentuh bahu telanjang Maya, membuat kontras yang mengejutkan antara kulit kasar gelap dengan kulit halus putih. "Kayak di film-film bule yang kadang saya lihat di HP."

Maya tersentak. "Kamu nonton begituan?"

Pak Karyo tersenyum miring, senyum yang tak pernah Maya lihat selama ini. "Di desa saya, Bu, cowok-cowok suka kumpul nonton bareng." Jemari kasarnya turun, menelusuri tali lingerie hitam di bahu Maya.

Tiba-tiba Pak Karyo menarik Maya ke dalam pelukannya. Otot-otot kerasnya menekan tubuh Maya yang dibalut lingerie tipis. Aroma keringat bercampur sabun murah langsung menusuk hidung Maya.

"Pak Karyo!" Maya mendorong dada bidang di hadapannya, tapi gerakannya lemah. "Bapak... keringetan banget."

"Maaf, Bu," Pak Karyo melonggarkan pelukannya, tapi tangannya yang kasar tetap melingkari pinggang Maya dengan posesif. "Saya keringetan banyak gini karena... Bu Maya di depan saya... pake baju begini."

Napasnya terengah, kemeja putih Marks & Spencer yang Maya belikan kini menempel di tubuhnya yang basah oleh keringat. "Badan saya panas semua... liat Bu Maya sedekat ini. Lingerie hitam begini... transparan lagi."

Pak Karyo menelan ludah keras, matanya tak bisa lepas dari lekuk tubuh Maya yang terlihat jelas dari balik kain tipis itu. "Majikan saya... yang cantik... yang biasanya pake baju kerja rapi... sekarang cuma pake beginian di depan saya. Gimana saya nggak grogi? Nggak keringetan?"

Tangannya yang gemetar bergerak menyentuh tali lingerie di bahu Maya. "Dari tadi jantung saya kayak mau keluar, Bu. Takut salah gerak... takut Bu Maya berubah pikiran."

Maya mencoba menahan napas. Kemeja putih Marks & Spencer yang ia belikan kini basah oleh keringat, menempel pada tubuh berotot Pak Karyo. Campuran antara bau sabun murahan dan keringat kerja keras membuatnya ingin mundur, tapi tangan Pak Karyo masih melingkari pinggangnya.

Pujian dengan logat medok itu entah mengapa membuat lutut Maya melemas. Ada sesuatu yang sangat primitif dalam cara Pak Karyo memandangnya - tatapan yang jauh berbeda dari pandangan hormat para kolega di kantornya.

"Mungkin..." Maya menelan ludah, berusaha mengembalikan kontrol dalam suaranya. "Mendingan Pak Karyo mandi dulu deh?" Ia menunjuk ke arah kamar mandi. "Aku... aku udah siapin sabun khusus."

Maya merasakan lututnya melemas mendengar pujian dengan logat medok itu. Ada sesuatu yang sangat primitif dan menggairahkan dalam cara Pak Karyo memujanya - jauh berbeda dari pujian formal yang biasa ia terima di lingkungan kerjanya.


Pak Karyo mengangguk patuh, mengambil handuk dan peralatan mandi yang Maya siapkan. Langkahnya berat menuju kamar mandi, seolah masih tidak percaya dengan situasi ini. Maya bisa mendengar suara gemerisik pakaian yang dilepas, diikuti suara shower yang dinyalakan.

Maya duduk di tepi ranjang, jemarinya yang lentik memainkan ujung lingerie-nya dengan gelisah. Aroma sabun hotel mewah bercampur dengan wangi parfum Chanel-nya, menciptakan atmosfer yang entah mengapa membuatnya semakin gugup. Ponselnya bergetar - panggilan ketiga dari Irwan - tapi ia mengabaikannya. Pikirannya melayang pada apa yang akan terjadi setelah ini, pada tangan-tangan kasar yang akan menyentuhnya, pada tubuh gelap berotot yang akan...

 BERSAMBUNG ... 

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟖

Minggu berikutnya berlalu dalam atmosfer yang semakin berat. Maya menghabiskan waktu di laptopnya, membaca forum-forum kesuburan dan menghitung siklus seperti orang kesetanan. Irwan sibuk dengan pengacara kepercayaannya, menyusun perjanjian yang akan memastikan kerahasiaan rencana mereka.

"Nih, draft terakhirnya," Irwan meletakkan map coklat di meja dapur suatu pagi. Maya sedang mengaduk kopinya dengan tatapan kosong, sementara Pak Karyo membereskan sisa sarapan dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya.

Maya membuka map itu dengan jemari lentik yang biasa menandatangani kontrak-kontrak miliaran. Matanya yang terlatih menelusuri setiap klausa dengan teliti, berhenti pada pasal-pasal yang membuat alisnya terangkat. Kompensasi finansial yang ditawarkan - angka dengan deretan nol yang bahkan melebihi gaji lima tahun Pak Karyo. Tapi bukan itu yang bikin dia kaget.

Larangan mutlak untuk mengungkapkan identitas kepada siapapun, termasuk keluarga dekat. Pelepasan hak total atas anak yang akan lahir. Denda yang bisa menghancurkan hidup jika berani membocorkan rahasia. Bahkan ada klausul yang melarang kontak fisik di luar "prosedur" yang ditentukan, dengan sanksi pidana yang mengerikan.

"Yang..." Maya mengangkat wajahnya, menatap Irwan yang berdiri kaku di seberang meja. Ia mengerti sekarang - kontrak ini bukan sekadar perjanjian legal. Ini adalah rantai yang akan memastikan Pak Karyo tetap di tempatnya, selamanya hanya sebagai... alat.

Di sudut dapur, Pak Karyo masih sibuk dengan piring-piring kotor, tapi Maya bisa melihat bahunya yang menegang. Pria itu pasti mendengar semuanya.

"Lebih baik gini," Irwan menjawab datar, tangannya yang gemetar tersembunyi di balik punggung. "Biar semua... tetap di tempatnya."

Maya mengangguk pelan, jemarinya membalik halaman berikutnya. Klausa tentang jadwal pertemuan yang harus disetujui Irwan. Larangan berkomunikasi langsung tanpa pengawasan. Bahkan ada pasal khusus yang mewajibkan Pak Karyo menjalani tes kesehatan mingguan - seolah ia tidak lebih dari seekor pejantan ternak.

"Pak Karyo," Maya memanggil dengan suara yang lebih tinggi dari biasanya. "Sini bentar?"

Pak Karyo mendekat dengan langkah tenang, tangannya yang basah ia lap ke celemek lusuhnya. Maya mendongak, untuk pertama kalinya benar-benar memperhatikan pria yang akan... tidak, ia tidak sanggup melanjutkan pikiran itu.

"Ini kontraknya, Pak. Harus ditandatangani," Maya berusaha terdengar profesional, seperti saat ia memimpin rapat dengan vendor. "Dibaca dulu ya."

Pak Karyo mengambil dokumen itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia membacanya perlahan, sesekali mengernyitkan dahi pada istilah-istilah hukum yang tidak ia pahami. Maya menemukan dirinya memperhatikan jemari Pak Karyo yang kasar menggenggam kertas - jemari yang dalam beberapa hari akan...

"Saya ngerti, Bu," suara Pak Karyo memecah lamunan Maya. "Tapi..." ia terdiam sejenak, matanya melirik sekilas ke arah Maya sebelum kembali menunduk. "Apa nggak kebanyakan uangnya?"

"Udah, nggak usah dipikirin nominalnya," Irwan menyela cepat, menangkap kilatan aneh di mata pembantunya saat menatap Maya. "Yang penting Pak Karyo paham akibatnya kalo sampe ada yang tau."

Pak Karyo mengangguk, mengambil pulpen yang disodorkan Maya. Tangannya sempat bersentuhan dengan jemari lentik majikannya, membuat Maya tersentak kecil. Irwan melihat semua itu dengan dada yang semakin sesak.

Setelah kontrak ditandatangani, Maya semakin terobsesi dengan persiapan. Setiap pagi ia mengukur suhu tubuhnya dengan termometer digital khusus, mencatat setiap perubahan sekecil apapun di aplikasi di ponselnya.

"Liat nih," Maya menunjukkan grafik di ponselnya pada Irwan suatu malam. "Kata aplikasi ini, masa suburku mulai minggu depan." Ada nada aneh dalam suaranya - campuran antara antisipasi dan kegugupan yang membuat Irwan semakin gelisah.

"Kita harus booking hotel," Maya melanjutkan, jemarinya dengan cepat mengetik di ponselnya. "Ah, Ritz Carlton ada suite yang bagus."

"Maya..." Irwan menatap layar yang menampilkan foto kamar mewah dengan king size bed dan pemandangan kota. "Apa nggak terlalu..."

"Kalo mau ngelakuin ini, harus di tempat yang bener," Maya memotong tegas. Ia berbalik ke arah Pak Karyo yang sedang menyedot debu di sudut ruangan. "Pak Karyo, coba liat deh. Bagus kan?"

Pak Karyo mendekat dengan ragu, matanya melebar melihat foto kamar hotel yang harganya mungkin setara dengan gajinya selama berbulan-bulan. Maya menunjukkan beberapa foto lain, jemarinya menggeser layar dengan antusias yang membuat Irwan semakin tidak nyaman.

"Ini kamar mandinya, ada bathtub jacuzzi," Maya menjelaskan, seolah sedang memperkenalkan properti pada klien VIP. "Pak Karyo harus mandi yang bersih ya sebelum..." Suaranya menghilang, wajahnya mendadak merona menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Irwan melihat bagaimana Pak Karyo menelan ludah, matanya tidak lepas dari layar ponsel Maya - atau mungkin dari jemari lentik yang memegangnya. Ada sesuatu dalam cara pembantunya memandang yang membuat alarm berbunyi di kepala Irwan. Ini bukan lagi sekadar prosedur medis seperti yang mereka rencanakan. Ada sesuatu yang lebih... primitif.

"Saya permisi dulu, Bu," Pak Karyo mundur dengan canggung, kembali ke penyedot debunya. Tapi Irwan bisa melihat bagaimana pria itu sesekali melirik ke arah Maya yang masih sibuk dengan ponselnya, membicarakan detail booking kamar dengan nada yang terdengar seperti seorang wanita yang merencanakan kencan rahasia.

Malam itu, Maya tidur dengan laptop menyala di sampingnya, membaca artikel-artikel tentang posisi yang paling efektif untuk pembuahan. Irwan berbaring dalam gelap, mendengarkan suara keyboard dan desah napas istrinya yang semakin memburu setiap kali membaca detail tertentu.

Di lantai bawah, ia bisa mendengar Pak Karyo masih membereskan rumah - suara yang biasanya menenangkan kini terasa seperti countdown menuju sesuatu yang tidak bisa ia hentikan.

Malam sebelumnya, Maya tidak bisa tidur. Ia berbaring di samping Irwan yang mendengkur halus, matanya menatap langit-langit kamar yang remang. Besok. Besok ia akan melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya sebagai wanita karir sukses.

Pagi harinya, sarapan berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Maya nyaris tidak menyentuh roti panggangnya, sementara Irwan berkali-kali mengaduk kopi yang sudah dingin. Pak Karyo, yang biasanya sibuk membereskan dapur, kini duduk kaku di meja makan atas permintaan Maya - "buat ngomongin detail terakhir," katanya.

"Jadi gini," Maya berdeham, suaranya lebih tinggi dari biasanya. "Check-in mulai jam dua siang." Ia mengeluarkan amplop dari tas Hermesnya. "Nih kuncinya. Pak Karyo masuk duluan ya sore, nunggu di kamar. Saya... saya nyusul abis jam 6."

Pak Karyo mengangguk, tangannya yang kasar menerima amplop itu dengan gemetar. Maya tidak bisa tidak memperhatikan bagaimana jemari gelap dan kapalan itu kontras dengan amplop putih hotel bintang lima.

"Saya udah siapin baju ganti," Maya melanjutkan, menghindari tatapan kedua pria di hadapannya. "Ada di paper bag di kamar Pak Karyo. Tolong... dipake ya." Suaranya mengecil saat mengingat bagaimana ia memilih kemeja putih itu di butik langganannya - untuk pertama kalinya membeli baju pria yang bukan untuk Irwan.

Pukul satu siang, Maya berdiri di depan lemari pakaiannya yang luas. Tangannya menyentuh deretan blazer dan rok yang biasa memberinya kepercayaan diri di kantor. Apa yang seharusnya dipakai seorang wanita karir saat akan... tidak, ia tidak sanggup melanjutkan pikiran itu.

Akhirnya ia memilih setelan krem favoritnya - blazer dan rok yang selalu membuatnya merasa cantik dan berkuasa. Tapi kali ini, saat ia memakainya, rasanya seperti mengenakan kostum. Seperti sedang berpura-pura menjadi Maya yang biasanya.

Pukul setengah dua, Pak Karyo berangkat duluan dengan taksi - tidak mungkin menggunakan mobil keluarga untuk hal seperti ini. Maya mengamati dari jendela kamar bagaimana pria itu berjalan ke gerbang komplek. Tubuhnya yang biasa membungkuk hormat kini tegap dalam kemeja putih baru, menenteng paper bag berisi pakaian ganti.

"Aku anterin," Irwan berkata pelan, mengambil kunci mobil dari meja. Maya mengangguk, tidak mempercayai suaranya untuk berbicara.

Perjalanan ke hotel berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Maya menatap kosong ke jalanan Jakarta yang macet, sementara Irwan mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Ketika mobil mereka memasuki basement hotel, Maya merasakan jantungnya berdebar semakin kencang.

"Kamu tunggu di lobby aja," Maya berbisik, suaranya bergetar. "Aku... aku telepon ya kalo udah... kalo udah selesai."

Irwan mengangguk kaku, memarkir mobilnya di spot terjauh dari lift. Maya turun dengan langkah yang ia harap terlihat mantap, meski lututnya gemetar hebat. Blazer kremnya yang biasa terasa pas kini seolah mencekik.

Di lobby hotel, Irwan memesan kopi pertamanya. Ia duduk di sudut yang tersembunyi dari pandangan umum, berusaha nenangin diri. Ia membayangkan prosedur ini akan berlangsung cepat dan klinis - masuk, lakukan, keluar. Seperti prosedur medis biasa. Tapi ketika setengah jam berlalu tanpa kabar dari Maya, kecemasannya mulai memuncak.

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟕

Malam itu, setelah Maya tertidur, Irwan duduk termenung di ruang kerjanya. Tawaran Pak Karyo terus berputar dalam benaknya seperti kaset rusak.

Ia membuka ponselnya, menatap deretan chat yang tak terbalas. Dimas, teman kuliahnya yang dulu begitu dekat, kini hanya menampilkan "Last seen a long time ago". Sandra, istri Dimas, bahkan memblokir nomor Maya setelah mereka mengutarakan permintaan donor. Satu per satu, lingkaran sosial mereka menjauh - undangan makan malam dibatalkan, pesan WhatsApp diabaikan, bahkan sepupu-sepupu yang dulu akrab kini hanya mengirim emoji sebagai jawaban.

Matanya beralih ke foto pernikahan yang tergantung di dinding - Maya yang anggun dalam balutan gaun putih, tersenyum bahagia di sampingnya. Enam tahun yang lalu, ia bersumpah akan memberikan segalanya untuk wanita itu. Sekarang? Bahkan untuk meminta bantuan teman pun ia tidak bisa.

Irwan membuka laci mejanya, mengeluarkan amplop coklat berisi hasil tes terakhirnya. Angka-angka yang tercetak di sana seolah mengejeknya - penurunan drastis yang membuat dokter menggeleng putus asa. Tangannya gemetar membaca ulang diagnosis itu untuk kesekian kalinya.

"Yang..."

Irwan tersentak, buru-buru memasukkan amplop itu kembali ke laci. Maya berdiri di ambang pintu, mengenakan piyama sutra cream yang dulu pas di tubuhnya namun kini terlihat kedodoran. Rambut panjangnya yang biasa tertata rapi di kantor kini tergerai berantakan, matanya sembab dengan jejak maskara yang luntur - pasti habis nangis lagi.

"Belum tidur?" Irwan menggeser kursinya, berusaha tersenyum meski dadanya sesak melihat kondisi Maya.

Maya menggeleng lemah, melangkah masuk dengan langkah gontai yang tidak pernah ia tunjukkan di depan klien-kliennya. Ia duduk di sofa, kakinya tertekuk di bawah tubuhnya - posisi yang selalu ia ambil saat merasa rentan.

"Tadi Mama telpon," Maya memainkan ujung piyamanya. "Linda udah masuk bulan kedelapan. Mereka mau adain syukuran minggu depan."

Irwan menghela napas berat. Linda, adik iparnya, baru menikah dua tahun lalu tapi sudah hamil anak kedua. Setiap kabar kehamilan di keluarga mereka kini terasa seperti tamparan.

"Aku bilang kita nggak bisa dateng," Maya melanjutkan, suaranya bergetar. "Alasan klasik - meeting sama klien dari Singapore."

"Maya..."

"Sampe kapan, Yang?" Maya mendongak, matanya berkaca-kaca. "Sampe kapan kita harus ngumpet-ngumpet gini? Sampe kapan kita harus bohong terus?"

Irwan bangkit, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Tawaran Pak Karyo kembali menghantui benaknya. Haruskah? Tidak, ini gila. Tapi melihat Maya yang semakin rapuh...

"Ada yang perlu aku omongin," kata Irwan akhirnya, berhenti di depan jendela. Di luar, lampu taman menyinari sosok Pak Karyo yang masih tekun menyiram tanaman meski hari sudah larut.

"Hmm?"

"Tadi siang..." Irwan menelan ludah. "Pak Karyo ngomong sama aku."

Maya menegakkan tubuhnya. Ada sesuatu dalam nada suara Irwan yang menarik perhatiannya.

"Dia... dia nawarin sesuatu." Irwan berbalik, menatap Maya dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Dia bilang dia punya lima anak yang sehat. Dan kalo kita mau... dia bersedia..."

Hening. Hanya suara deru AC dan detak jam dinding yang terdengar. Maya duduk kaku, matanya melebar menatap Irwan seolah suaminya baru saja berbicara dalam bahasa alien.

"Maksud kamu..." Maya berbisik, "Pak Karyo nawarin untuk..."

Irwan mengangguk lemah. Ia mengira Maya akan meledak marah, akan menganggap ide itu gila. Tapi di luar dugaan, istrinya justru terdiam lama, matanya menerawang ke arah jendela di mana sosok Pak Karyo masih terlihat bekerja.

"Lima anak..." Maya bergumam, seolah bicara pada diri sendiri. Ia bangkit, berjalan ke jendela. Dari sini, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Pak Karyo mengangkat pot-pot berat dengan mudah, otot-ototnya yang kekar hasil bertahun-tahun kerja fisik menonjol di balik seragam lusuhnya.

"Maya, kita nggak perlu pikirin ini," Irwan cepat-cepat menambahkan, meski suaranya tidak meyakinkan. "Ini ide gila. Aku cuma merasa perlu ngasih tau kamu."

"Nggak, Yang." Maya berbalik, ada kilatan aneh di matanya. "Kita udah coba semuanya. Dokter-dokter terbaik, program bayi tabung termahal... dan lihat hasilnya." Ia menunjuk ke arah laci tempat Irwan menyimpan hasil tesnya. "Bahkan temen-temen kita... mereka semua ngejauh begitu tau apa yang kita butuhin."

Maya kembali menatap ke luar jendela. Pak Karyo kini sedang membereskan peralatan kebunnya, gerakannya efisien dan penuh tenaga meski hari sudah larut.

"Setidaknya kita tau dia orang baik," Maya melanjutkan, suaranya lebih mantap. "Empat tahun dia kerja di sini, nggak pernah sepeser pun uang atau barang ilang. Dia jujur, setia, pekerja keras..." Ia berhenti sejenak. "Dan yang paling penting... liat betapa sehatnya anak-anaknya."

Di luar, Pak Karyo menghilang ke dalam rumah. Samar-samar terdengar suara air mengalir - ia pasti sedang mencuci peralatan kebun sebelum membereskan dapur, rutinitas malamnya yang tak pernah berubah.

Pagi berikutnya, Maya nyaris tidak bisa menatap Pak Karyo saat sarapan. Setiap kali pembantu mereka mendekat untuk menuang kopi atau mengambil piring kotor, wajah Maya memerah dan tangannya gemetar memegang sendok. Irwan yang biasanya berangkat pagi-pagi, hari ini sengaja tinggal lebih lama - ia tahu pembicaraan ini tidak bisa ditunda.

"Pak Karyo," Irwan memanggil setelah Maya memberikan isyarat kecil dengan matanya. "Bisa ngobrol sebentar?"

"Nggih, Den." Pak Karyo mendekat dengan sikap formal seperti biasa, berdiri dengan postur hormat beberapa langkah dari meja makan.

Maya menunduk, jemarinya mencengkeram ujung blazernya di bawah meja. Wanita yang biasanya penuh percaya diri memimpin rapat direksi ini kini tampak seperti gadis remaja yang gugup.

"Soal... obrolan kemarin," Irwan berdeham, suaranya lebih serak dari yang ia inginkan. "Kami udah bahas bareng."

Hening sejenak. Maya masih menunduk, bahkan saat Pak Karyo dengan berani melirik ke arahnya.

"Kami..." Irwan menelan ludah. "Kami setuju. Tapi ada beberapa syarat yang harus kita omongin."

"Nggih, Den. Saya siap nurut apa saja yang Bapak sama Ibu minta."

Maya akhirnya mengangkat wajahnya, tapi hanya sekilas sebelum kembali menunduk. Wajahnya merah padam sampai ke telinga. "S-saya akan siapin dokumennya," bisiknya nyaris tak terdengar.

Seminggu berlalu. Maya, yang biasanya selalu meminta pendapat Irwan untuk segala hal, kini seolah membangun tembok profesionalisme untuk melindungi dirinya dari kecanggungan situasi ini. Ia menghabiskan malam-malamnya membuat daftar persyaratan - bukan karena obsesi mengontrol seperti biasanya, tapi lebih karena kebutuhan menciptakan jarak.

"Ini..." Maya meletakkan map di meja dapur dengan tangan gemetar, bahkan tidak berani menatap langsung pada Pak Karyo yang sedang mencuci piring. "Daftar tes kesehatan yang harus dilakuin."

Pak Karyo mengeringkan tangannya, menunggu Maya menjauh beberapa langkah sebelum mengambil map tersebut. Keduanya seolah menari dalam koreografi canggung, berusaha keras menghindari kemungkinan bersentuhan.

"Dan ini..." Maya mengeluarkan jadwal dari tasnya, meletakkannya di ujung meja sejauh mungkin dari Pak Karyo. "Jadwal... kebersihan yang harus diikutin."

Irwan memperhatikan bagaimana istrinya bahkan tidak sanggup mengucapkan kata 'mandi', bagaimana bahasa tubuhnya menyiratkan rasa malu yang dalam. Maya yang selalu anggun dan terkontrol kini tampak seperti akan pingsan setiap kali Pak Karyo berada dalam radius tiga meter darinya.

"Tiga kali sehari," Maya menambahkan cepat, suaranya nyaris mencicit. "Pake... pake sabun khusus. S-saya udah siapin di..." Ia tidak sanggup melanjutkan, wajahnya semakin merah.

"Maaf ya, Bu," Pak Karyo bersuara pelan, "tapi biasanya saya mandi subuh sama malem aja. Kalo siang, sama keringat dan..."

"P-pokoknya harus tiga kali!" Maya memotong panik, suaranya melengking tidak seperti biasanya. Ia buru-buru mundur saat Pak Karyo mengambil selangkah maju. "Kebersihan itu... itu penting. Saya nggak mau ada... ada..."

Maya tidak menyelesaikan kalimatnya, setengah berlari keluar dari dapur. Irwan bisa mendengar suara high heels istrinya yang berantakan menaiki tangga, tidak anggun seperti biasanya.

Sore itu, setelah berkali-kali menunda dengan alasan mengecek email dan menelepon klien, Maya akhirnya mengumpulkan mereka di ruang kerja. Tangannya gemetar hebat saat membuka map berisi dokumen legal.

"I-ini kontrak yang harus ditandatangani," suaranya nyaris berbisik. "Aku udah konsultasi sama pengacara. Semua udah diatur... termasuk..." Ia menelan ludah. "...jadwal dan prosedurnya."

Maya bahkan tidak sanggup membacakan isi kontrak itu. Setiap kali sampai pada bagian yang menjelaskan 'prosedur', wajahnya semakin merah dan suaranya semakin pelan hingga nyaris tak terdengar.

"Kita harus profesional," Maya mencoba terdengar tegas, tapi malah seperti mencicit. "Pak Karyo di sini cuma sebagai... sebagai..." Ia tidak sanggup melanjutkan, tangannya mencengkeram map hingga kukunya memutih.

Irwan melihat bagaimana Maya nyaris melompat kaget saat Pak Karyo mengulurkan tangan untuk mengambil dokumen. Bagaimana istrinya secara tidak sadar merapatkan blazernya, seolah berusaha membuat tameng dari kain.

"Dan... dan ini," Maya mengeluarkan kartu dari dompetnya dengan tangan gemetar, meletakkannya di ujung meja. "Buat beli... vitamin dan... dan..." Suaranya menghilang, tidak sanggup melanjutkan.

"Saya ngerti, Bu," Pak Karyo mengambil kartu itu dengan gerakan hati-hati, seolah menyadari kegugupan majikannya. "Saya akan lakuin yang terbaik."

Maya mengangguk kaku, nyaris tersandung kursi saat berbalik mengambil tasnya. "S-saya ada meeting," gumamnya terburu-buru, meski jam sudah menunjukkan pukul lima sore. "Permisi."

Setelah Maya pergi, Irwan bisa mencium aroma sabun antiseptik yang sudah dipakai Pak Karyo - berbeda dari aroma tanah dan keringat yang biasa melekat di tubuh pembantunya. Perubahan kecil ini, ditambah sikap Maya yang begitu gugup dan malu, membuat segalanya terasa semakin nyata.

Dan semakin tak terelakkan.

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟔

Fajar baru saja menyingsing ketika Maya melangkah keluar dari kamar. Blazer krem yang dulu pas kini menggantung longgar di tubuhnya yang semakin kurus, membuatnya tampak seperti anak kecil yang mencoba mengenakan pakaian ibunya. Dia melewati ruang kerja Irwan tanpa mengetuk - kebiasaan baru yang menyakitkan setelah pertengkaran hebat semalam.

Dari jendela dapur, Pak Karyo mengamati bagaimana Maya berjalan ke mobilnya. Ada sesuatu yang berbeda dalam caranya bergerak pagi ini - lebih berat, seolah setiap langkah membutuhkan energi ekstra. BMW putih itu meluncur meninggalkan pekarangan, membawa serta keanggunan terakhir yang tersisa dari rumah mewah itu.

Pak Karyo menyelesaikan ritual paginya dengan pikiran berkecamuk. Dia mencuci piring-piring kotor yang semalam tidak disentuh siapapun, mengepel lantai marmer yang berkilau - rutinitas yang biasanya dia lakukan dengan pikiran kosong. Tapi pagi ini berbeda. Setiap gerakannya dipenuhi pertimbangan, setiap helaan napasnya membawa keraguan.

Jam menunjukkan pukul sembilan ketika dia akhirnya memberanikan diri mendekati ruang kerja Irwan. Suara keyboard terdengar dari dalam - ketukan frustrasi yang tidak berirama, diselingi helaan napas berat dan sesekali umpatan tertahan.

Pak Karyo berdiri di depan pintu kayu jati itu, tangannya terangkat ragu-ragu. Selama empat tahun mengabdi di rumah ini, dia telah menyaksikan pasangan ini dari dekat. Melihat bagaimana cinta mereka perlahan terkikis oleh ketidakhadiran tangis bayi. Mendengar isak Maya di malam-malam sunyi. Mengamati Irwan yang semakin sering mengurung diri.

"Permisi, Pak," dia mengetuk pelan, suaranya hampir tenggelam dalam deru AC. "Maaf ganggu..."

Hening. Hanya suara keyboard yang semakin brutal. Pak Karyo mengetuk sekali lagi, lebih keras.

"Masuk." Suara Irwan terdengar asing - serak dan pahit, seperti kopi dingin yang tersisa di cangkir-cangkir kotor di mejanya.

Ruangan itu berantakan - sangat tidak seperti Irwan yang biasanya rapi dan teratur. Berkas-berkas berserakan di lantai, beberapa bahkan tampak seperti habis diremas. Tiga cangkir kopi kosong berjejer di meja, noda hitam mengering di dasarnya. Dan di tengah kekacauan itu, Irwan duduk dengan mata sembab, kemeja yang sama seperti semalam kini kusut dan berbau keringat.

"Maaf, Pak..." Pak Karyo memulai dengan hati-hati, matanya menatap lantai - kebiasaan yang udah terpatri selama puluhan tahun kerja jadi pembantu. "Saya nggak bermaksud lancang. Tapi saya liat masalah Bapak sama Ibu..."

Irwan mengangkat wajahnya perlahan dari laptop. Matanya merah dan berkantung, rambutnya berantakan seperti habis dijambak berkali-kali. Dia menatap Pak Karyo dengan pandangan kosong, seolah baru menyadari keberadaan pria yang telah mengurus rumahnya selama empat tahun ini.

Pak Karyo menelan ludah. Apa yang akan dia katakan bisa membuatnya dipecat - atau lebih buruk lagi. Tapi melihat kehancuran di hadapannya, melihat bagaimana rumah tangga yang dulunya harmonis ini perlahan hancur... dia harus mencoba.

"Saya..." dia berdeham pelan, tangannya yang kasar menggenggam ujung kemejanya yang lusuh. "Saya punya lima anak di kampung, Pak. Semuanya sehat. Kalau Bapak izinkan..." Dia nggak nyelesaiin kalimatnya, tapi tatapan Irwan yang mendadak berubah tajam nunjukin bahwa majikannya paham betul apa yang dia tawarkan.

Keheningan yang menyusul terasa mencekam. Deru AC yang biasanya menenangkan kini terdengar seperti dengung ancaman. Irwan menatap Pak Karyo lekat-lekat, seolah baru pertama kali melihat pria itu - pria sederhana yang selama ini membersihkan rumahnya, memasak makanannya, mencuci mobilnya.

Pak Karyo memang rajin dan atletis untuk usianya yang 54 tahun. Tubuhnya yang kekar hasil bertahun-tahun bekerja fisik tampak jelas di balik seragam lusuhnya. Tapi penampilannya jauh dari kata menarik - kulitnya gelap dan kasar oleh matahari, wajahnya bertahun-tahun terpanggang cuaca Jakarta, dan pendidikannya hanya sampai SMP.

"Keluar." Suara Irwan terdengar dingin, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.

"Tapi Pak—"

"KELUAR!" Irwan menggebrak meja, membuat cangkir-cangkir kopi kosong bergetar. Laptop di hadapannya nyaris terjatuh.

Pak Karyo mundur selangkah, tapi tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Ada keteguhan dalam caranya berdiri yang tidak pernah Irwan lihat sebelumnya. "Maaf, Pak. Tapi saya nggak bisa diam aja lihat rumah tangga Bapak hancur seperti ini."

"Kamu..." Irwan bangkit dari kursinya, tubuhnya gemetar menahan amarah. "Berani-beraninya kamu... nawarin... buat ngehamilin istriku?"

"Bukan gitu, Pak," Pak Karyo tetap tenang, meski keringat mulai mengalir di pelipisnya. "Saya cuma pengen bantu. Saya lihat Bu Maya makin kurus. Saya sering denger Bu Maya nangis tiap malem. Dan Bapak..." dia melirik ruangan yang berantakan itu, "Bapak juga tersiksa."

"Kamu nggak tau apa-apa!" Irwan menyambar cangkir kopi terdekat, melemparnya ke dinding. Suara pecahan porselen memenuhi ruangan. "Kamu cuma pembantu! Berani-beraninya..."

"Ya, saya emang cuma pembantu," Pak Karyo motong, suaranya tetep rendah dan hormat tapi ada ketegasan di dalamnya. "Tapi justru karena itu saya nggak punya apa-apa buat dipertaruhkan. Nggak ada status sosial, nggak ada nama baik keluarga. Yang saya punya cuma..." dia diem sebentar, "...bukti kalo saya bisa kasih apa yang Bapak sama Bu Maya pengen."

Irwan terduduk kembali di kursinya, tenaganya seolah tersedot habis. Kata-kata ayahnya tentang Om Hendra bergema di telinganya - 'bukan lelaki sejati'. Dan kini, pembantu rumah tangganya sendiri menawarkan untuk membuktikan bahwa dia, Irwan, memang bukan lelaki sejati.

"Pergi," bisik Irwan, suaranya pecah. "Sebelum aku telepon satpam kompleks."

Pak Karyo mengangguk pelan, berbalik menuju pintu. Tapi sebelum menutup pintu, dia berhenti sejenak. "Pak," katanya tanpa noleh, "saya udah anggep Bapak sama Bu Maya kayak keluarga sendiri. Tawaran saya tetep berlaku... kalo Bapak berubah pikiran."

Pintu tertutup dengan suara pelan, meninggalkan Irwan sendirian dengan pikirannya yang kacau. Di luar, dia bisa mendengar suara Pak Karyo mulai menyapu halaman - kembali ke rutinitas hariannya seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.

Irwan menatap kosong ke arah laptop, layarnya menampilkan spreadsheet yang sudah tidak dia mengerti lagi. Kata-kata Pak Karyo terus berputar di kepalanya. Lima anak. Semuanya sehat. Dan Maya... Maya yang semakin kurus, semakin putus asa...

Tangannya gemetar mengambil foto pernikahan dari laci - Maya dalam gaun Vera Wang putih yang anggun, tersenyum dengan bibir merah sempurna hasil riasan penata rias terkenal. Enam tahun lalu, di ballroom hotel bintang lima, mereka berdansa di tengah decak kagum para tamu. Maya berbisik manja tentang empat anak yang akan mereka miliki, tentang nama-nama yang sudah dia siapkan - semua terdengar mewah dan modern, seperti anak-anak ekspatriat.

Sekarang, Maya bahkan tidak sanggup melewati bagian perlengkapan bayi di mall tanpa bergegas pergi, matanya berkaca-kaca. Kamar bayi yang dia desain dengan interior designer ternama kini hanya menjadi museum kesedihan - boneka-boneka mahal berdebu, box bayi import masih terbungkus rapi.

Suara gesekan sapu Pak Karyo di halaman memecah lamunannya. Irwan berjalan ke jendela, mengamati pembantunya yang sedang bekerja di bawah terik matahari. Keringat membuat kaos lusuhnya menempel di tubuh - memperlihatkan otot-otot kasar yang terbentuk dari kerja keras, bukan dari gym mahal seperti miliknya. Kulit Pak Karyo yang hitam legam penuh kerutan tampak mengkilap oleh peluh, kontras tajam dengan kulit putih terawat para eksekutif di lingkungan sosial mereka.

"Permisi, Pak." Suara serak Pak Karyo bikin Irwan kaget. Dia berbalik, ngeliat pembantunya berdiri di ambang pintu dengan ember dan kain pel. "Mau bersihin ruangan..."

Irwan mengangguk kaku, mundur ke sudut ruangan. Dari dekat, perbedaan mereka semakin mencolok. Pak Karyo dengan kemeja lusuh yang dikancing asal-asalan, celana katun belel yang sudah pudar warnanya, dan sandal jepit murahan - berdiri di ruang kerja mewah dengan furniture import dan lukisan-lukisan mahal.

Tapi pria sederhana inilah yang memiliki apa yang tidak dia miliki. Lima anak - bukti nyata kejantanan yang tidak bisa dibeli dengan semua uang dan status sosialnya. Irwan menatap tangan Pak Karyo yang sedang mengepel - tangan yang kasar dan hitam dengan kuku-kuku tebal yang tidak terawat, urat-urat menonjol seperti akar pohon tua. Tangan yang sama yang mungkin akan...

Pikiran itu membuat perutnya bergolak. Maya yang anggun, yang biasa berdansa di pesta-pesta elit, yang kulitnya seputih porselen dan selembut sutra... harus menyerahkan diri pada pria seperti ini? Maya yang fasih berbahasa Inggris dan Mandarin, yang bisa membahas politik global dan pasar saham... berpasangan dengan pria yang bahkan tidak bisa membedakan fork dan spoon?

Suara mobil di halaman mengalihkan perhatiannya. Maya turun dengan langkah gontai, blazer krem Burberry-nya yang mahal kini tampak kedodoran di tubuhnya yang kurus. Dia berjalan melewati Pak Karyo yang membungkuk hormat - pemandangan yang sudah ribuan kali Irwan lihat. Tapi kali ini berbeda.

Mata Pak Karyo, yang biasanya selalu tertunduk hormat, kini mengikuti setiap langkah Maya dengan tatapan yang membuat Irwan merinding. Ada kelaparan di sana, hasrat primitif yang tidak tersembunyi. Seperti predator yang mengawasi mangsanya, menunggu saat yang tepat untuk...

Irwan menggeleng keras, mencoba mengusir bayangan-bayangan yang mulai memenuhi kepalanya. Tapi suara Pak Karyo yang mengepel lantai - gerakan yang kuat dan metodis - terus mengingatkannya akan kenyataan pahit: pria kasar dengan tangan hitam penuh kapalan inilah yang mungkin bisa memberikan apa yang Maya inginkan.
"NGGAK!" Maya mendorong Irwan menjauh. "Kamu nggak ngerti perasaan aku! Kamu nggak pernah bisa ngerti!" Ia menyambar tasnya dan berjalan cepat ke arah tangga, meninggalkan Irwan yang terpaku.

Dari pintu belakang yang sedikit terbuka, Pak Karyo mengamati dalam diam, kantong sampah masih di tangannya. Ada sesuatu dalam tatapannya – sebuah keputusan yang mulai terbentuk.

Malam itu, Maya tidur dengan air mata mengering di pipinya, sementara Irwan terjaga di ruang kerjanya. Di kamar belakang yang sederhana, Pak Karyo menatap foto lima anaknya yang tersenyum lebar, jemarinya yang kasar menelusuri wajah-wajah bahagia itu dengan gerakan penuh pertimbangan.

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟓

Setelah keputusan berat itu dibuat, Maya berubah seperti orang kesetanan. Setiap malam, cahaya laptop menyinari wajahnya yang pucat di kamar mereka yang gelap. Jemarinya yang biasa meneken kontrak miliaran, kini tak henti-hentinya mengetik kata kunci di Google: "donor sperma", "keberhasilan inseminasi", "prosedur bayi tabung".

Irwan berbaring di sampingnya, pura-pura tidur tapi matanya tak bisa lepas dari bayangan Maya di dinding. Istrinya yang biasanya rapi sempurna di depan klien, sekarang berantakan dengan rambut diikat asal dan kacamata melorot.

"Belum tidur juga?" Irwan akhirnya bertanya, setelah jam dinding menunjukkan pukul dua pagi.

Maya menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Bentar lagi. Aku ketemu forum bagus nih."

Di luar kamar mereka, suara-suara malam berbaur dengan dentingan peralatan dapur. Pak Karyo, seperti biasa, masih membereskan rumah hingga larut. Kebiasaannya sejak empat tahun bekerja di rumah ini - memastikan semuanya sempurna sebelum tidur.

Seminggu berlalu seperti itu. Maya dengan laptopnya, Irwan dengan kecemasannya, dan Pak Karyo dengan rutinitas malamnya. Hingga suatu malam, Maya menutup laptopnya dengan gerakan tegas.

"Yang," ia berbalik menghadap Irwan yang sedang membaca laporan kantor. "Aku udah nemu tiga pilihan yang paling mungkin."

Irwan menurunkan dokumennya perlahan. Entah mengapa, jantungnya berdebar lebih kencang. "Apa aja?"

"Pertama, bayi tabung. Tapi..." Maya menggigit bibir, kebiasaannya saat gugup. "Prosesnya ribet dan peluang berhasilnya... nggak tinggi-tinggi amat di umurku."

Irwan mengangguk. Mereka sudah terlalu familiar dengan prosedur itu.

"Kedua, inseminasi buatan. Lebih simpel dari bayi tabung, tapi..." Maya menarik napas dalam. "Tingkat keberhasilnya juga nggak terlalu oke."

"Terus yang ketiga?" Irwan bertanya, meski ia sudah bisa menebak dari cara Maya menghindari tatapannya.

"Cara natural." Maya mengucapkannya dengan suara nyaris berbisik.

Hening sejenak. Dari lantai bawah, terdengar suara mesin cuci yang baru selesai. Pak Karyo pasti sedang melipat cucian sekarang, rutinitas terakhirnya sebelum tidur.

"Kata dokter Ratna..." Maya melanjutkan dengan hati-hati, "di umur 34, tubuhku bakal lebih respon sama cara natural. Hormon-hormon yang keluar waktu... waktu berhubungan, bisa naikin peluang hamil jauh lebih gede."

Irwan bangkit dari tempat tidur, berjalan ke jendela. Lampu taman yang temaram menyinari wajahnya yang tegang. "Kamu mau aku bayangin istriku tidur sama cowok lain?"

"Bukan gitu, Yang..." Maya menghampirinya, memeluk Irwan dari belakang. "Ini cuma... prosedur medis aja. Kayak donor darah atau donor organ."

Irwan tertawa getir. "Donor yang bikin istriku telanjang di ranjang orang lain?"

Maya melepaskan pelukannya, mundur beberapa langkah. "Kalo kamu belum siap, kita bisa..."

"Tidak," Irwan memotong. "Kita udah sepakat mau nyoba. Aku nggak mau liat kamu nangis tiap malem lagi." Ia berbalik, menatap Maya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi tolong... kasih aku waktu buat nyerna semua ini."

***



Pencarian donor dimulai minggu berikutnya. Maya memutuskan untuk mendekati sepupunya, Andi, yang sudah memiliki tiga anak. Mereka bertemu di Starbucks sebuah mall di Jakarta Selatan, jauh dari lingkungan sosial mereka yang saling mengenal.

"Jadi," Andi menyesap espresso-nya dengan gugup, "kalian mau aku... ngasih..."

"Spermamu," Maya menyelesaikan kalimatnya, mencoba kedengaran profesional seperti waktu meeting. "Secara medis, tentu aja. Semua bakal dilakukan dengan prosedur yang bener."

Andi nyaris tersedak kopinya. "Are you out of your mind?" bisiknya tajam. "Gimana kalo Tante tau? Atau Papa? Mereka bisa kena stroke!"

"Nggak bakal ada yang tau," Maya mencondongkan tubuhnya, suaranya memohon. "Please, Ndi. Kamu tau kan banget kami pengen punya anak."

"No way." Andi menggeleng tegas, membereskan tasnya. "Aku nggak mau ikutan drama kayak gini. Cari orang lain aja deh." Ia berdiri, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut, "Dan May... please jangan cerita ke siapa-siapa soal obrolan ini ya."

Irwan tidak lebih beruntung. Ia mencoba peruntungannya dengan Dimas, teman kuliahnya yang masih lajang. Mereka bertemu di Senayan National Golf Club, tempat yang cukup eksklusif untuk menjamin privasi.

"Sorry, Wan," Dimas mengayunkan stick golf-nya dengan gugup, bolanya meleset jauh. "This is... too much banget. Maksud gue, kita emang temen deket, tapi..."

"Kita bikin perjanjian resmi," Irwan menjelaskan, tangannya gemetar memegang stick. "Semuanya legal dan rahasia."

"Dan bayangin setiap liat anakmu nanti, itu sebenernya..." Dimas menggeleng kuat-kuat. "I can't, Wan. This is fucked up banget."

Dimas meninggalkan lapangan golf bahkan sebelum menyelesaikan hole ketiga. Sejak itu, ia menghilang dari grup WhatsApp alumni, dan status Last Seen-nya di chat personal dengan Irwan selalu "Last seen a long time ago".

Penolakan demi penolakan berdatangan. Undangan makan malam yang biasanya disambut antusias, kini selalu berakhir dengan "Ada meeting dadakan" atau "Anak lagi sakit". Group chat yang biasanya ramai dengan candaan dan gosip, mendadak sepi setiap Maya atau Irwan mengirim pesan.

"Liat deh cara mereka ngeliatin aku di supermarket tadi," Maya terisak suatu malam. "Bini Dimas pura-pura nggak liat, padahal jelas-jelas kita papasan di bagian sayur."

Irwan melampiaskan frustrasinya dengan lembur. Kantornya yang biasanya sepi setelah jam lima, kini menjadi tempat pelariannya hingga tengah malam. Proposal-proposal menumpuk di mejanya - bukan karena banyak pekerjaan, tapi karena ia takut pulang dan menghadapi kenyataan.

Suatu malam, Maya pulang dengan wajah kusut. Blazer Burberry-nya tampak kusut, maskara luntur di sudut matanya. Satu lagi makan siang yang dibatalkan sepihak oleh teman-temannya - kali ini Sandra, sahabatnya sejak kuliah.

"Ini semua gara-gara kamu!" Maya membanting tas Hermes-nya ke lantai. Pak Karyo yang sedang mengepel di dekat situ terlonjak kaget, tapi tetap diam melanjutkan pekerjaannya. "Kalo aja kamu normal..."

"Kalo kamu normal, kita nggak perlu bikin malu diri sendiri kayak gini!"

Kata-kata itu menggema di dapur yang luas. Pak Karyo, yang sedang mengelap konter dapur, menghentikan gerakannya sejenak. Selama empat tahun bekerja di rumah ini, ia sudah terbiasa dengan pertengkaran majikannya. Biasanya hanya bisikan-bisikan tajam atau pintu yang dibanting. Tapi malam ini berbeda.

"Lu pikir gue mau kayak gini?" Irwan membalas, suaranya bergetar. "Lu pikir gue sengaja bikin kita jadi bahan omongan?"

Maya tertawa getir. Air mata mengalir di pipinya yang masih berbekas foundation mahal. "Setidaknya lo nggak perlu ngadepin tatapan mereka tiap hari. Tatapan kasihan, tatapan jijik..." Ia mengambil gelas dari rak, tangannya gemetar saat menuang air. "Lo bisa sembunyi di balik meeting sama lembur-lembur lo itu."

"Dan lo pikir gue bahagia?" Irwan menghempaskan diri di kursi makan. "Lo pikir gue nggak ngerasa... nggak ngerasa..." Suaranya tercekat.

Pak Karyo melirik dari sudut matanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Irwan - pria yang selalu tampil tegar dan profesional itu - menangis. Air mata mengalir di pipinya tanpa suara, bahunya berguncang menahan isakan.

"Permisi, Pak, Bu..." Pak Karyo berdeham pelan, merasa tidak nyaman menyaksikan momen intim ini. "Saya... mungkin saya ke belakang dulu."

"Nggak usah, Pak Karyo," Maya menggeleng lemah. "Selesain aja kerjaan Bapak. Toh semua orang juga udah tau betapa menyedihkannya rumah tangga kita."

Pak Karyo menunduk, melanjutkan pekerjaannya membersihkan dapur. Tapi matanya sesekali melirik ke arah Maya yang kini terduduk lemas di meja makan, dan Irwan yang masih terisak tanpa suara. Sebagai pria berusia 54 tahun dengan lima anak yang sehat, hatinya terenyuh melihat penderitaan pasangan muda ini.

Tangannya yang kasar menggenggam lap dengan lebih erat. Ia ingat bagaimana dulu istrinya melahirkan anak-anak mereka dengan mudah. Lima kali hamil, lima kali melahirkan dengan lancar. Bahkan di usianya yang sudah kepala lima, ia masih sering mendapat godaan dari tetangga-tetangga di kampung tentang 'kehebatannya'.

Maya terisak lagi, kali ini lebih keras. "Aku nggak kuat lagi, Yang... Aku nggak kuat liat Sandra gendong bayinya tadi. Dia bahkan nikah dua tahun setelah kita..."

Irwan bangkit, hendak memeluk istrinya, tapi Maya menghindar. "Jangan pegang-pegang," bisiknya tajam. "Aku nggak mau... aku nggak bisa..."

Pak Karyo meletakkan lapnya perlahan. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya - sesuatu yang membuatnya memberanikan diri melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan selama empat tahun bekerja di rumah ini.

"Maaf, Pak, Bu..." Pak Karyo berdeham pelan, menghentikan aktivitasnya mengelap konter dapur. Matanya melirik canggung pada kedua majikannya yang masih bersitegang.

Maya menoleh tajam. "Apa?" Suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan, mata merahnya masih basah oleh air mata.

Pak Karyo tersentak kecil. Selama empat tahun bekerja di rumah ini, ia jarang melihat nyonyanya semarah ini. Tangannya yang kasar meremas lap di genggamannya, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi keberaniannya menciut melihat tatapan Maya.

"Sa-saya..." ia memulai ragu, "Saya cuma mau bilang kalau—"

"Bilang apa?" Maya memotong tidak sabar. "Kalau sudah waktunya Bapak istirahat? Ya, silakan. Kami butuh privasi."

Pak Karyo menunduk, mengurungkan niatnya. "Nggih, Bu. Permisi." Ia mundur perlahan, matanya sesekali melirik ke arah Irwan yang masih terdiam.

Sepeninggal Pak Karyo, suasana dapur kembali mencekam. Denting samar sendok kopi Irwan yang terus diaduk tanpa tujuan memecah keheningan.

"Ini nggak adil, Wan," Maya berbisik, tangannya menggenggam ujung blazernya hingga kusut. "Berapa banyak lagi penolakan yang harus kita terima? Sepupu kamu, teman-teman kita... semua menjauh begitu kita minta bantuan."

Irwan meletakkan sendoknya dengan suara denting pelan. "Aku udah hubungi semua orang yang bisa dipercaya, Maya. Tapi ini permintaan yang... sulit."

"Sulit?" Maya tertawa getir. "Kita cuma minta sperma mereka, bukan ginjal!" Suaranya meninggi, getaran emosi terdengar jelas. "Dimas bahkan nggak mau ketemu kita lagi sejak kita bilang soal donor."

Irwan menghela napas berat. "Gimana pun, ini masalah sensitif. Orang-orang takut ada komplikasi nanti, takut kalau—"

"Kalau apa? Kalau aku tiba-tiba jatuh cinta sama donor?" Maya mencibir sarkastis. "Kamu pikir aku semurahan itu?"

"Maya, bukan gitu..." Irwan bangkit dari kursinya, kursi kayu itu berderit keras di lantai marmer. "Tapi kita harus realistis. Siapa yang mau ambil risiko jadi donor untuk kita tanpa ada ikatan apapun setelahnya?"

Di sudut dapur, tanpa mereka sadari, Pak Karyo berdiri diam, tangannya menggenggam kantong sampah yang seharusnya ia buang ke luar. Matanya menatap kedua majikannya dengan sorot yang sulit dibaca.

"Aku lelah, Wan," suara Maya melunak, bahunya turun dalam kekalahan. "Aku lelah terus berharap, terus mencari... tapi hasil tetap sama."

Irwan mendekati istrinya, tangannya ragu hendak menyentuh bahu Maya yang bergetar menahan isak. "Kita akan temukan jalan keluar. Mungkin... mungkin memang sudah waktunya kita pertimbangkan adopsi?"

"Nggak!" Maya menjauh, matanya menatap nyalang. "Aku pengen ngerasain hamil, Wan. Ngerasain bayi bergerak di perut aku sendiri. Ngerasain semua yang Linda rasain, yang semua sepupu kamu rasain!" Suaranya pecah oleh isak tangis.

"Maya..." Irwan menatap nanar, tangannya jatuh ke sisi tubuhnya.

Dari tempatnya berdiri, Pak Karyo bergerak pelan. Sepatu lusuhnya berderit kecil di lantai mengkilap, menarik perhatian Maya.

"Pak Karyo masih di sini?" Maya mengusap air matanya kasar, memasang wajah tegas yang biasa ia tunjukkan di kantor. "Saya bilang Bapak boleh pulang."

"Maaf, Bu..." Pak Karyo mengeratkan genggamannya pada kantong sampah, ada keraguan di matanya. "Saya cuma... saya mau..." Ia tidak melanjutkan kata-katanya, terintimidasi oleh tatapan Maya.

"Apa?" desak Maya tidak sabar. "Kalau nggak penting, tolong biarkan kami sendiri."

Pak Karyo mengangguk cepat, lalu berbalik menuju pintu belakang. Langkahnya sedikit terburu-buru, punggungnya yang biasa tegap kini sedikit membungkuk.

Sepeninggal Pak Karyo untuk kedua kalinya, Maya menatap Irwan dengan mata berkaca-kaca. "Aku nggak tahan lagi, Wan. Aku nggak bisa terus hidup dalam penolakan begini."

"Maya, dengarkan aku—"


Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟒

Seminggu berlalu sejak pertengkaran hebat itu. Maya dan Irwan masih tidur di kamar terpisah - Maya di kamar utama, sementara Irwan memilih tidur di sofa ruang kerjanya. Setiap pagi, mereka berpapasan di dapur seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi alamat.

"Kopi, Pak," Pak Karyo meletakkan secangkir kopi hitam di hadapan Irwan yang duduk melamun di meja makan. Maya baru saja berangkat ke kantor, meninggalkan aroma parfum Chanel yang masih mengambang di udara.

Irwan mengangguk lemah. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Pak Karyo yang dengan cekatan membereskan sisa sarapan Maya - roti yang hanya dimakan setengah, telur yang nyaris tidak disentuh. Istrinya semakin kurus sejak diagnosis itu.

Malam harinya, Irwan berbaring di sofa ruang kerja, mendengarkan suara isak tangis samar dari kamar sebelah. Suara yang sama yang menghantuinya setiap malam selama seminggu terakhir. Maya menangis, berusaha meredam suaranya dengan bantal, tapi dinding-dinding rumah mewah mereka seolah sengaja meneruskan setiap isakan ke telinga Irwan.

"Ya Allah..." Irwan memejamkan mata, tangannya gemetar menggenggam ponsel yang menampilkan pesan dari ibunya:

"Nak, tadi Mama ketemu Linda di pengajian. Udah masuk bulan kedelapan... kamu kapan ngasih Mama cucu?"

Pesan itu seperti pisau yang mengiris hatinya. Irwan membayangkan tatapan kasihan yang akan ia terima di acara keluarga berikutnya. Bisikan-bisikan di belakangnya.

"Kasihan ya, sudah enam tahun..."

"Mungkin ada yang salah dengan dia..."

Suara isakan Maya semakin jelas. Irwan bangkit dari sofa, berjalan ke arah pintu. Tangannya terangkat, hendak mengetuk, tapi tertahan. Apa yang bisa ia katakan? Bahwa ia menyesal? Bahwa ia bersedia mempertimbangkan... tidak, ia masih belum sanggup memikirkan opsi itu.

Keesokan paginya, saat Irwan turun untuk sarapan, ia mendapati Maya sudah duduk di meja makan. Tidak seperti biasanya, istrinya belum bersiap ke kantor. Masih mengenakan piyama sutra, rambut tergerai berantakan, mata sembab.

"Maya?" Irwan menarik kursi di hadapan istrinya. "Kamu... nggak ke kantor?"

Maya menggeleng pelan, jemarinya memainkan ujung piyama sutranya yang kusut. "Udah izin WFH." Suaranya serak, bekas menangis semalaman. "Yang... kita harus ngobrol."

Irwan merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Selama enam tahun pernikahan mereka, Maya tidak pernah absen atau terlambat ke kantor - bahkan saat sakit pun ia tetap memaksakan diri pergi. Melihatnya seperti ini, berantakan dan rapuh, membuat Irwan sadar betapa dalam luka yang ia torehkan pada istrinya.

"Aku udah mikirin ini berkali-kali," Maya melanjutkan, matanya menatap kosong cangkir kopi di hadapannya. "Soal... donor sperma."

Irwan menegang. Topik yang selama ini ia hindari akhirnya muncul juga. "Maya, kita udah bahas ini..."

"Nggak, Yang. Kita belum bener-bener ngomongin ini." Maya mengangkat wajahnya, matanya yang sembab menatap langsung ke mata Irwan. "Tiap kali aku coba bahas, kamu selalu ngeles. Atau marah. Atau ngurung diri di ruang kerja."

"Soalnya ini gila!" Irwan membentak, membuat Pak Karyo yang sedang membereskan dapur terlonjak kaget. "Kamu mau aku biarin cowok lain... ngehamilin kamu?"

"Bukan gitu," Maya mencoba menjelaskan, suaranya bergetar menahan emosi. "Ini cuma prosedur medis. Kayak... kayak transfusi darah. Kita bisa cari donor yang kita kenal, yang kita percaya. Paling nggak kita tau latar belakangnya, dan anak kita nanti nggak bakal bingung soal asal-usulnya."

"Dan menurut kamu itu bakal bikin semuanya lebih baik?" Irwan tertawa getir. "Anak yang lahir dari... dari..." ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Maya menunduk, air matanya mulai jatuh ke meja. "Aku nggak mau kehilangan kesempatan jadi ibu, Yang. Umurku udah 34 tahun. Tiap bulan yang lewat, tiap test pack yang negatif..." suaranya pecah dalam isakan.

Irwan memejamkan mata, teringat kata-kata ayahnya tentang Om Hendra. 'Bukan lelaki sejati'. Kata-kata itu menghantuinya setiap malam, bercampur dengan suara isak tangis Maya dari kamar sebelah.

"Kita bisa adopsi aja," Irwan mencoba bernegosiasi, meski ia tahu Maya belum siap dengan opsi itu.

"Aku pengen ngerasain hamil, Yang," Maya berbisik. "Pengen ngerasain bayiku gerak di perutku. Pengen... pengen ngasih keturunan buat keluarga kita."

Dari sudut matanya, Irwan melihat Pak Karyo yang dengan canggung melanjutkan pekerjaannya, berusaha tidak mendengarkan percakapan pribadi majikannya. Namun situasi ini terlalu intim untuk diabaikan - asisten rumah tangga mereka itu pasti sudah mendengar setiap pertengkaran, setiap isak tangis yang terjadi selama berminggu-minggu terakhir.

"Aku perlu waktu," Irwan akhirnya berkata, bangkit dari kursinya. Ia tidak sanggup lagi melihat air mata Maya, tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa ia telah gagal sebagai suami.

"Sampe kapan?" Maya bertanya lirih. "Sampe aku keburu tua buat punya anak?"

Irwan tidak menjawab. Ia mengambil tas kerjanya dan berjalan ke pintu, meninggalkan Maya yang masih terisak di meja makan. Di belakangnya, ia bisa mendengar Pak Karyo dengan lembut menawarkan tisu pada Maya.

Sepanjang hari di kantor, Irwan tidak bisa berkonsentrasi. Setiap kali ia mencoba fokus pada pekerjaannya, bayangan Maya yang berantakan di meja makan menghantuinya. Ia membayangkan bagaimana rasanya melihat istrinya mengandung anak lelaki lain - melihat perutnya membesar, mendengarnya berbicara tentang tendangan bayi yang bukan darah dagingnya.

Proposal-proposal menumpuk di mejanya, tapi pikirannya terus kembali ke percakapan pagi tadi. Ia membuka ponselnya, ngetik pesan untuk Maya, lalu hapus lagi. Berkali-kali.

Saat matahari mulai tenggelam, Irwan akhirnya mengirim satu pesan singkat: "Aku pulang telat. Ada yang perlu kupikirin."

Irwan menyetir tanpa tujuan di jalanan Jakarta malam itu. Lampu-lampu kota yang biasanya menenangkan kini terasa mengejek. Setiap kali ia melihat pasangan di trotoar, bayangan Maya dengan donor yang mereka bicarakan memenuhi benaknya.

Mobilnya berhenti di sebuah kafe yang masih buka. Ia butuh kopi - atau mungkin sesuatu yang lebih keras. Tapi tidak, ia harus tetap berpikir jernih malam ini.

"Americano, double shot," pesannya pada barista yang tampak bosan.

Duduk di sudut kafe, Irwan mengeluarkan ponselnya. Foto pernikahan mereka enam tahun lalu masih menjadi wallpaper - Maya tersenyum bahagia dalam gaun putihnya, dan ia... ia masih percaya bisa memberikan segalanya untuk wanita itu.

"Mas?" suara pelayan mengejutkannya. "Kopinya."

Irwan menyesap minuman pahit itu perlahan. Seperti kenyataan yang harus ia telan - bahwa ia tidak bisa memberikan apa yang Maya inginkan. Bahwa wanita yang ia cintai mungkin harus... tidak, ia bahkan tidak sanggup membayangkannya.

Ponselnya bergetar. Maya.

"Yang," suara Maya terdengar serak. "Kamu dimana?"

"Masih perlu waktu," Irwan menjawab pendek.

"Please pulang. Kita ngomong baik-baik."

Irwan memejamkan mata. "Aku nggak bisa, Maya. Nggak sekarang."

"Sampe kapan?" suara Maya bergetar. "Sampe aku keburu tua? Sampe semua pintu ketutup?"

"Maya..."

"Aku tau ini berat," Maya melanjutkan. "Tapi coba liat dari sisiku. Aku udah 34 tahun, Yang. Tiap bulan yang lewat, tiap test pack yang negatif..." suaranya pecah.

Irwan menggenggam ponselnya lebih erat. Di seberang kafe, ia melihat seorang ayah menggendong anaknya yang tertidur. Pemandangan yang dulu membuatnya tersenyum, kini mengiris hatinya.

"Aku pulang sekarang," katanya akhirnya.

Di rumah, Maya menunggu di ruang tamu. Matanya sembab, tapi ada ketegaran dalam cara ia duduk tegak di sofa. Irwan duduk di hadapannya, jarak yang biasanya terasa intim kini seperti jurang menganga.

"Aku udah mikirin semuanya," Maya memulai. "Soal donor... kita bisa cari yang pas. Seseorang yang kita kenal, yang kita percaya. Dan prosesnya bisa dilakuin dengan... profesional."

"Profesional?" Irwan tertawa getir. "Gimana bisa profesional kalo kita minta orang lain buat..." ia tidak sanggup melanjutkan.

"Ini bukan soal... itu," Maya mencoba menjelaskan. "Ini soal bangun keluarga kita. Kasih kesempatan ke aku - ke kita - buat punya anak."

"Terus gimana sama perasaanku?" suara Irwan meninggi. "Kamu pikir aku bisa tidur nyenyak bayangin istriku..." ia berhenti, menarik napas dalam. "Maya, aku sayang kamu. Tapi ini... ini terlalu berat."

Maya bangkit, berpindah untuk duduk di samping Irwan. "Aku juga sayang kamu," bisiknya. "Nggak bakal ada yang berubah. Kamu tetep suamiku, ayah dari anak-anak kita nanti."

"Ayah?" Irwan mendengus. "Ayah dari anak yang bahkan bukan darah dagingku?"

"Jadi ayah bukan cuma soal DNA," Maya menggenggam tangan Irwan. "Tapi soal siapa yang ngebesarin, ngajarin, nyayangin anak itu. Dan aku tau kamu bakal jadi ayah yang luar biasa."

Irwan menatap tangan mereka yang bertaut. Tangan yang selama enam tahun selalu menjadi tempatnya bergantung, yang selalu ia genggam di setiap kesulitan.

"Gimana kalo nanti..." Irwan menelan ludah. "Gimana kalo nanti aku nggak bisa sayang sama anak itu kayak anakku sendiri?"

Maya menggeleng. "Aku kenal kamu, Yang. Kamu punya hati yang besar. Dan anak ini... dia bakal jadi bagian dari kita berdua. Hasil dari cinta dan pengorbanan kita."

"Pengorbanan," Irwan mengulang kata itu dengan pahit. "Emang nggak ada cara lain?"

"Kita udah coba semuanya," Maya menyandarkan kepalanya di bahu Irwan. "Tiga kali program bayi tabung, puluhan dokter, macem-macem pengobatan... ini satu-satunya jalan yang tersisa."

Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat. Di luar, suara jangkrik memecah keheningan malam. Irwan merasakan kehangatan tubuh Maya di sampingnya, kehangatan yang selama enam tahun menjadi rumahnya.

"Kalo..." Irwan akhirnya berbicara, suaranya nyaris berbisik. "Kalo kita lakuin ini... aku punya syarat."

Maya mengangkat wajahnya, matanya berbinar dengan harapan.

"Donor harus orang yang bener-bener kita kenal. Yang karakternya udah terbukti. Dan..." ia mengeratkan genggamannya pada tangan Maya. "Aku harus ikut dalam semua keputusan. Nggak boleh ada yang disembunyiin dari aku."

Maya mengangguk cepat. "Tentu, Yang. Apapun yang bikin kamu nyaman."

"Dan satu lagi," Irwan menatap Maya lekat-lekat. "Janji sama aku... janji kalo ini nggak bakal ngubah perasaan kamu ke aku."

Air mata Maya mengalir saat ia memeluk Irwan erat. "Nggak bakal, Yang. Kamu satu-satunya suamiku, satu-satunya yang aku sayang."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak diagnosis terakhir, mereka tidur berpelukan. Maya terlelap dengan senyum di bibirnya, sementara Irwan masih terjaga, memandangi langit-langit kamar. Ia tahu keputusannya malam ini akan mengubah hidup mereka selamanya. Ia hanya bisa berharap, cintanya pada Maya cukup kuat untuk melewati semua ini.

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟑

 Malam itu, begitu sampai di rumah, Irwan langsung mengurung diri di ruang kerjanya. Maya bisa mendengar suara kunci diputar dari dalam. Dia berdiri di depan pintu kayu itu, tangannya terangkat hendak mengetuk, tapi tertahan di udara. Apa yang bisa dia katakan? Bahwa semua akan baik-baik saja? Mereka berdua tahu itu bohong.

"Pak Karyo," Maya memanggil pelan saat melihat asisten rumah tangga mereka lewat. "Tolong siapin makan malam buat Mas Irwan ya. Taruh aja di depan pintu."

"Nggih, Bu." Pak Karyo mengangguk, matanya melirik sekilas ke pintu ruang kerja yang tertutup. Maya bisa menangkap kekhawatiran di wajahnya.

Tiga hari berlalu. Nampan-nampan makanan di depan pintu nyaris tidak tersentuh. Maya hanya bisa mendengar suara keyboard dan sesekali geraman frustrasi dari dalam. Irwan masih mengerjakan pekerjaannya - mungkin lebih dari biasanya - tapi menolak keluar atau berbicara dengan siapapun.

Di hari kedua, Maya mencoba menelepon mertuanya, tapi kemudian membatalkan niatnya. Bagaimana dia bisa menjelaskan situasi ini pada wanita yang selalu membanggakan kesuburan keluarga mereka? Yang selalu bercerita bagaimana ia melahirkan empat anak dengan mudah?

"Bu Maya nggak makan?" Pak Karyo bertanya dengan nada khawatir saat membereskan piring sarapan yang lagi-lagi cuma disentuh setengah.

Maya menggeleng lemah. "Nanti aja, Pak. Aku... aku mau keluar bentar."

Dia mengambil kunci mobil dan tas tangannya, memastikan make-up-nya cukup tebal untuk menyembunyikan mata sembabnya. Ada satu tempat yang selalu dia kunjungi saat hatinya gundah - klinik konsultasi Dr. Sarah di kawasan Menteng, seorang psikolog spesialis pernikahan yang sudah menanganinya sejak program bayi tabung pertama.

Ruang konsultasi Dr. Sarah selalu terasa menenangkan. Aroma lavender dari diffuser, dinding dengan foto-foto keluarga bahagia, dan kehadiran wanita profesional yang selalu bisa membuat masalah seberat apapun terasa lebih ringan.

"Udah tiga kali program ya, Maya?" Dr. Sarah menuang air ke gelas. "Dan sekarang dokter bilang nggak bisa dilanjutin?"

Maya mengangguk, menyesap air mineralnya perlahan.

"Kelainan genetik, Dok. Kualitas spermanya..." dia terdiam, menggigit bibir. "Irwan... dia ngurung diri sejak tiga hari lalu."

"Hmm." Dr. Sarah mengangguk maklum. "Berat emang buat seorang suami. Apalagi di kultur kita, anak itu..." dia berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "...kayak bukti kejantanan."

"Aku nggak tau harus gimana lagi, Dok." Maya menunduk, memandangi pantulan wajahnya yang lelah di permukaan air. "Adopsi... aku belum siap. Rasanya... rasanya beda."

"Ada opsi lain sebenernya," Dr. Sarah berkata pelan. "Secara medis, ini udah cukup umum di beberapa negara." Dia membuka sebuah brosur. "Donor sperma."

Maya mengangkat wajahnya, terkejut.

"Tapi... bukannya itu..."

"Ini prosedur medis yang legal dan aman," Dr. Sarah menjelaskan. "Banyak pasangan dengan kondisi kayak kalian yang berhasil punya anak lewat cara ini. Yang penting itu nyari donor yang tepat, dengan latar belakang kesehatan yang jelas, dan pastinya..." dia menatap Maya dengan pengertian, "...dengan persetujuan suami."

"Irwan nggak bakal setuju," Maya menggeleng cepat. "Dia... dia tradisional banget soal hal-hal kayak gini."

"Tapi setidaknya ini opsi yang bisa dipertimbangin," Dr. Sarah menyodorkan brosur itu. "Daripada kalian terus kejebak dalam rasa bersalah. Ada banyak cara buat bangun keluarga, Maya."

Maya termenung. Donor sperma. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya. Tapi sekarang...

"Pikirin baik-baik ya," Dr. Sarah tersenyum profesional. "Omongin sama Irwan kalau dia udah lebih tenang. Dan inget," dia menambahkan, "kadang solusi terbaik datang dari tempat yang nggak kita duga sebelumnya."

Dalam perjalanan pulang, pikiran Maya berkecamuk. Donor sperma. Kehamilan yang nyata. Bayi yang bisa dia kandung sendiri. Tapi... bagaimana cara menyampaikan ini pada Irwan? Pada suaminya yang bahkan mendengar kata "donor" saja sudah membuat wajahnya mengeras?

Mobil Maya memasuki halaman rumah. Dari jendela lantai dua, dia bisa melihat lampu ruang kerja Irwan masih menyala. Tiga hari, dan suaminya masih mengurung diri di sana. Maya menghela napas panjang, menggenggam kemudi erat. Mungkin memang sudah waktunya untuk membicarakan opsi yang tidak biasa ini.

Maya memarkir mobilnya di garasi, tapi tidak langsung turun. Dia menatap pantulan dirinya di spion - wajah lelah seorang wanita yang sudah kehabisan pilihan. Dari sudut matanya, dia melihat Pak Karyo sedang menyiram tanaman di taman depan, sosoknya yang tegap bergerak dengan efisien seperti biasa.

"Pak Karyo," Maya memanggil setelah keluar dari mobil. "Mas Irwan udah makan siang?"

"Belum, Bu. Nampan sarapan masih utuh di depan pintu." Suara Pak Karyo terdengar khawatir.

Maya mengangguk pelan, ide mulai terbentuk di benaknya.

"Tolong siapin sup asparagus ya, Pak. Yang biasa Mas Irwan suka."

Aroma sup yang menguar dari dapur membuat perut Maya bergemuruh, mengingatkannya bahwa dia sendiri belum makan sejak pagi. Dia menunggu dengan sabar sementara Pak Karyo menyiapkan nampan, memastikan semuanya sempurna - sup masih mengepul, roti panggang tersusun rapi, dan segelas jus jeruk segar.

Dengan hati-hati Maya membawa nampan itu ke lantai dua. Di depan pintu ruang kerja Irwan, dia menarik napas dalam-dalam.

"Yang?" Maya mengetuk pelan. Tidak ada jawaban. "Aku bawain sup asparagus. Yang kamu suka."

Hening sejenak. Maya hampir menyerah ketika mendengar langkah kaki pelan mendekati pintu. Suara kunci diputar.

Irwan berdiri di ambang pintu, tampak berantakan dengan kemeja yang sama sejak tiga hari lalu. Matanya merah dan berkantung, janggutnya mulai tumbuh tak beraturan. Maya belum pernah melihat suaminya sekacau ini.

"Boleh aku masuk?" tanya Maya lembut. Jantungnya berdebar melihat kondisi suaminya.

Irwan mundur tanpa kata-kata, membiarkan Maya masuk ke ruang kerjanya yang biasanya rapi tapi kini dipenuhi cangkir kopi kosong dan kertas-kertas berserakan. Laptop-nya menyala, menampilkan spreadsheet yang Maya yakin sudah dikerjakannya selama tiga hari terakhir - cara Irwan melarikan diri dari kenyataan.

"Kamu harus makan," Maya meletakkan nampan di meja, menyingkirkan beberapa dokumen dengan hati-hati. Aroma sup menguar di ruangan pengap itu.

"Aku nggak lapar." Suara Irwan serak, seperti belum digunakan selama berhari-hari.

"Please?" Maya mengambil sendok, mengaduk sup perlahan. "Demi aku?" Matanya memohon.

Irwan akhirnya duduk, membiarkan Maya menyodorkan sendok sup ke mulutnya. Seperti anak kecil yang patuh, ia membuka mulut. Maya bisa melihat air mata menggenang di sudut mata suaminya.

"Maaf..." bisik Irwan setelah beberapa suap. "Aku... aku gagal jadi suami."

"Jangan ngomong gitu," Maya menggenggam tangan Irwan. "Ini bukan salah siapa-siapa."

"Tapi bener kan?" Irwan tertawa getir. "Aku nggak bisa kasih kamu anak. Kayak yang Papa bilang soal Om Hendra - bukan cowok beneran."

"Yang..." Maya meletakkan sendoknya. Ini saat yang tepat. "Sebenernya... ada cara lain."

Irwan mengangkat wajahnya, menatap Maya dengan mata sembab.

"Tadi aku ke tempat Dokter Sarah," Maya melanjutkan hati-hati. "Dia bilang... ada beberapa opsi yang bisa kita pertimbangin."

"Adopsi?" Irwan menggeleng. Tangannya gemetar memegang sendok. "Kamu sendiri yang bilang belum siap."

"Bukan," Maya menelan ludah. "Donor... donor sperma." Suaranya hampir tak terdengar saat mengucapkan kata terakhir.

Ruangan itu mendadak sunyi. Maya bisa mendengar detak jam dinding dan suara samar Pak Karyo menyapu halaman di bawah.

"Nggak." Irwan berdiri, mendorong kursinya ke belakang dengan kasar. "Aku nggak mau denger soal itu."

"Tapi Yang, kalo donornya orang yang kita kenal..."

"NGGAK!" Irwan menggebrak meja, membuat sup tumpah ke dokumen-dokumen. "Kamu mau aku biarin cowok lain... ngehamilin istriku?"

"Bukan gitu," Maya mencoba tenang meski jantungnya berdebar kencang. "Ini... ini kayak transfusi darah. Cuma prosedur medis."

"Prosedur medis?" Irwan

menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Kamu denger nggak apa yang dokter bilang? Tingkat keberhasilannya cuma lima belas persen! Lima belas persen, Maya! Setelah semua yang udah kita lalui, semua uang yang kita keluarin..."

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu, tangannya mengepal. "Belum lagi prosedurnya itu... begitu kaku, begitu artifisial. Ruangan steril, alat-alat dingin, dokter dan perawat yang masuk-keluar seperti pabrik. Apa itu cara manusia membuat keturunan?"

Maya menatap Irwan dengan sedih. Ia mengerti keberatan suaminya. Tiga kali program bayi tabung yang gagal memang sudah menguras mereka, bukan hanya secara finansial tapi juga emosional.

"Iya, aku tau tingkat keberhasilannya rendah," Maya mengusap lengannya sendiri, merasa dingin tiba-tiba. "Tapi apa pilihan kita, Yang? Kita sudah di jalan buntu."

Irwan menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi. "Dan uangnya... Ya Allah, kita hampir menghabiskan seluruh tabungan. Apa kita sanggup bayar satu program lagi yang kemungkinan berhasilnya kecil?"

"Dan bayangkan," Irwan melanjutkan, suaranya merendah menjadi bisikan getir, "kita harus minta donor itu masturbasi di lab lagi dan lagi. Berapa kali? Tiga kali? Lima kali? Sepuluh kali sampai berhasil?" Ia mengusap wajahnya kasar. "Apa nggak memalukan, Maya? Tiap kali gagal, kita harus minta dia datang lagi, masuk ruangan itu lagi, keluarkan... keluarkan benihnya lagi. Ya Allah, aku bahkan nggak sanggup membayangkan harus minta tolong seperti itu berkali-kali!"

Maya menggigit bibirnya. Inilah saatnya. "Sebenarnya..." ia memulai dengan hati-hati, "Dokter Sarah menyebutkan ada cara lain yang tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi. Dan biayanya... jauh lebih rendah."

Mata Irwan melebar, terlihat tertarik. "Cara apa? Kenapa dokter Ratna nggak pernah menyebutkan ini?"

"Karena..." Maya menelan ludah, mencari keberanian, "cara ini nggak sepopuler bayi tabung di kalangan dokter. Lebih sedikit prosedur medis, lebih sedikit intervensi. Dokter Sarah bilang tubuh lebih responsif dengan... pendekatan alami."

"Ada cara yang lebih... natural," Maya berbisik, mengingat penjelasan Dokter Sarah. "Yang nggak harus di rumah sakit."

"Lebih parah lagi!" Irwan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Dadanya naik turun. "Kamu mau tidur sama cowok lain? Atas nama apa? Medis? Keturunan?"

"Yang..." Maya mencoba meraih tangannya.

"Keluar." Irwan menunjuk pintu. "Aku butuh waktu sendiri." Matanya berkilat marah.

"Tapi..." Suara Maya tercekat.

"KELUAR!" Teriakannya memenuhi ruangan.

Maya bangkit perlahan, kakinya gemetar. Di ambang pintu, dia berhenti sejenak.

"Aku bakal selalu sayang kamu, Yang. Tapi aku juga pengen jadi ibu. Dan kalo ini satu-satunya cara..."

Irwan tidak menjawab. Maya menutup pintu di belakangnya, tepat saat mendengar suara benda dibanting ke dinding. Dia bersandar ke pintu, membiarkan air matanya jatuh.

Di ujung tangga, Pak Karyo berdiri dengan sapu di tangan, wajahnya menunduk sopan tapi Maya tahu ia mendengar semuanya. Pertengkaran hebat mereka yang pertama setelah enam tahun pernikahan.

𝑩𝑬𝑹𝑺𝑨𝑴𝑩𝑼𝑵𝑮

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟐


Sepanjang perjalanan pulang, Maya membiarkan dirinya tenggelam dalam deru halus AC mobil. Blazer krem yang tadi pagi masih nyaman di badan sekarang terasa mencekik. Ia membuka kancingnya perlahan, mengambil napas dalam-dalam.

Ponselnya bergetar. Lagi.

"Matiin aja," kata Irwan, melirik sekilas ke arah istrinya. "Nggak usah liat grup itu malem ini."

Maya mengangguk lemah, tapi jemarinya tetap membuka notifikasi yang masuk. Foto terbaru bayi kembar Siska memenuhi layar - dua makhluk mungil dalam balutan jumper merah muda, tertawa ke arah kamera. Di bawahnya, deretan ucapan selamat dan emoji hati bermunculan seperti konfeti digital yang menari-nari, mengejek.

"Cantik ya?" Maya berbisik, suaranya bergetar. "Matanya... mirip Siska banget."

Irwan mengeratkan genggamannya pada kemudi. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Besok kita ke rumah sakit ya," ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Jenguk Dika."

"Hmm." Maya mematikan ponselnya, melemparnya ke dashboard. "Anak ketiga Tari. Padahal dia nikah dua tahun setelah kita."

Mobil mereka berhenti di lampu merah. Di seberang jalan, seorang ibu muda menggendong bayinya yang tertidur, sementara suaminya mendorong kereta bayi kosong di sampingnya. Maya menatap pemandangan itu lekat-lekat, seolah berusaha merekam setiap detailnya dalam memori.

"Kita mampir beli hadiah dulu besok?" tanya Irwan, matanya mengikuti arah pandang Maya. Lampu hijau menyala, dan mereka kembali melaju menembus keheningan Jakarta malam.

"Wan," Maya tiba-tiba bersuara setelah beberapa saat. "Inget nggak waktu kita masih pacaran?"

"Hmm?"

"Waktu itu aku cerita... mau punya anak berapa?"

Irwan tersenyum tipis. Tentu saja ia ingat. Bagaimana bisa lupa? Maya yang duduk di ayunan taman kampus, mata berbinar menatap langit sore, bercerita tentang impian-impiannya. "Empat," jawab Irwan pelan. "Dua cewek, dua cowok."

"Kayla," Maya melanjutkan, suaranya nyaris berbisik. "Rayhan... Adiba... Malik..."

"Dan kamu udah planning mau masuk sekolah mana," Irwan menambahkan. "Les ballet buat yang cewek, sepak bola buat yang cowok."

"Tapi sekarang..." Maya nggak melanjutkan kalimatnya. Nggak perlu. Mereka berdua tahu apa yang nggak terucapkan.

Irwan menepikan mobilnya di bawah pohon beringin besar. Jalanan sudah sepi, hanya sesekali mobil melintas. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan merayap di antara mereka.

"Aku capek, Wan." Maya akhirnya berbicara, menatap kosong ke depan. "Capek... sama semua ini. Program-program itu... suntikan-suntikan itu..."

"Maya..."

"Nggak," Maya menggeleng keras. "Dengerin aku dulu." Ia melepas sabuk pengamannya, memutar tubuh menghadap suaminya. "Kita udah coba segala cara. Tiga kali program bayi tabung, Wan. Tiga kali!"

"Dan kita bisa coba lagi," Irwan menyela, tangannya terulur pengen ngelus pipi Maya, tapi istrinya menghindar.

"Pake duit dari mana? Kita udah abisin hampir semua tabungan buat program-program itu!"

"Aku bisa ambil project tambahan. Lembur. Apa aja."

"Bukan cuma soal duit!" Maya membentak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kamu nggak tau rasanya... setiap suntikan itu... setiap pengambilan sel telur... setiap nungguin hasil..." Suaranya pecah.

Irwan terdiam. Memang, ia tidak pernah benar-benar tahu. Yang ia tahu hanya Maya yang kesakitan setelah setiap prosedur. Maya yang menangis diam-diam di kamar mandi setiap hasil test negatif. Maya yang perlahan-lahan kehilangan senyum cerahnya.

"Aku masih inget muka Papa kamu," Maya melanjutkan setelah beberapa saat. "Waktu Om Hendra dateng ke acara tahun baru sama istrinya. Cara Papa ngeliat mereka... cara dia komen..."

"Maya, please..." Irwan memejamkan mata. Ia tidak mau mengingat itu. Tidak mau mengingat bagaimana ayahnya dengan kejam mengatakan Om Hendra "bukan lelaki sejati" karena tidak bisa memberikan keturunan.

"Dan sekarang," Maya tersenyum getir, "kita kayak mereka."

"Kita nggak kayak mereka!" Irwan memukul kemudi keras, bikin Maya terlonjak. "Sori... sori." Ia mengusap wajahnya kasar. "Satu kali lagi, Yang. Please. Satu kali lagi kita coba."

Maya menatap suaminya lama. Irwan yang selalu tegar, yang selalu optimis, kini tampak begitu rapuh. Ada keputusasaan dalam suaranya yang belum pernah Maya dengar sebelumnya.

"Kalo gagal lagi?" tanya Maya pelan.

"Kita stop." Irwan menggenggam tangan Maya erat. "Aku janji. Satu kali ini aja. Kita coba sama dokter baru. Yang lebih bagus. Aku denger ada spesialis fertilitas baru di RS Menteng."

Maya hela napas panjang. "Kamu yakin?"

"Please?"

Setelah keheningan yang terasa selamanya, Maya ngangguk pelan. "Satu kali," bisiknya. "Yang terakhir."

***​

Seminggu kemudian, Maya duduk tegang di ruang tunggu RS Menteng. Jemarinya mencengkeram tas Hermes-nya erat, matanya menatap kosong ke arah akuarium besar yang menghiasi sudut ruangan. Di sampingnya, Irwan membolak-balik brosur rumah sakit tanpa benar-benar membacanya.

"Nomor 28, Ibu Maya Andini?"

Maya menegakkan tubuhnya. Irwan menggenggam tangannya, memberinya kekuatan, sebelum mereka melangkah masuk ke ruangan Dr. Ratna.

Ruangan itu berbeda dari klinik-klinik fertilitas yang pernah mereka kunjungi sebelumnya. Lebih hangat, dengan lukisan-lukisan bayi yang terpajang di dinding. Tapi justru pemandangan itu bikin dada Maya makin sesak.'

"Silakan duduk," Dr. Ratna tersenyum ramah. Wanita paruh baya itu membuka map di hadapannya, mengeluarkan beberapa lembar hasil tes. "Saya udah pelajari rekam medis dari dokter sebelumnya, dan hasil tes terbaru..."

Maya merasakan genggaman Irwan mengerat. Ia bisa merasakan ketegangan yang terpancar dari tubuh suaminya.

"Maaf ya sebelumnya," Dr. Ratna menatap mereka bergantian, "tapi saya harus sampaikan ini dengan jelas." Ia mengambil salah satu kertas. "Hasil analisis sperma menunjukkan penurunan yang sangat signifikan, baik dari jumlah maupun motilitasnya."

"Maksudnya?" suara Irwan serak.

"Kualitas spermanya terlalu rendah buat program bayi tabung." Dr. Ratna nunjukkin grafik di kertas itu. "Bahkan dibanding pemeriksaan enam bulan lalu, penurunannya hampir 80 persen."

Maya merasakan tubuh Irwan menegang. Ia bisa melihat rahang suaminya mengeras, tangannya yang menggenggam sandaran kursi hingga buku-buku jarinya memutih.

"Tapi... masih ada cara lain kan, Dok?" Maya mencoba senyum, meski bibirnya gemetar. "Maksud saya... teknologi sekarang udah canggih..."

Dr. Ratna menggeleng pelan. "Dengan kondisi begini, kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Kurang dari satu persen." Ia menatap Irwan yang kini menunduk dalam. "Dan liat tren penurunannya... saya khawatir kondisinya bakal terus memburuk."

Ruangan itu mendadak terasa dingin. Maya bisa mendengar deru AC yang bercampur dengan detak jam dinding. Tik. Tok. Tik. Tok. Menghitung detik-detik hancurnya harapan terakhir mereka.

"Nggak mungkin..." Irwan akhirnya bersuara. "Pasti ada yang salah. Kita bisa tes ulang. Di lab lain. Di rumah sakit lain."

"Pak Irwan," Dr. Ratna ngomong lembut, "kami udah lakukan tiga kali pengujian buat mastiin. Hasilnya konsisten."

Maya merasakan air matanya mulai jatuh. Ia menggigit bibirnya keras, berusaha menahan isakan yang mengancam keluar. Di sampingnya, Irwan duduk kaku seperti patung.

"Saya sarankan..." Dr. Ratna lanjut dengan hati-hati, "mungkin udah waktunya pertimbangkan opsi lain. Adopsi, misalnya. Atau..." ia diam sejenak, matanya natap Maya dan Irwan bergantian, "donor sperma."

Maya yang tadinya menunduk, mendadak mengangkat wajahnya. Irwan di sampingnya menegang.

"Dengan teknologi sekarang, prosedurnya cukup aman," Dr. Ratna jelasin dengan nada profesional. "Dan Bu Maya bisa ngalamin kehamilan sendiri, rasain prosesnya dari awal sampe melahirkan."

"Nggak." Irwan tiba-tiba berdiri. "Kami... kami perlu waktu buat cerna ini semua."

Irwan hanya mengangguk singkat sebelum membimbing Maya keluar. Di lorong rumah sakit yang ramai, mereka berjalan seperti robot. Maya bisa melihat beberapa ibu hamil berlalu-lalang, mendorong kereta bayi, menggendong bayi mereka. Pemandangan yang dulu memberinya harapan, kini terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.

Di mobil, Irwan hanya duduk diam di belakang kemudi. Maya menatap suaminya, melihat bagaimana pria yang selalu tegar itu kini tampak begitu hancur. Kata-kata ayahnya tentang Om Hendra pasti bergema dalam benaknya.

"Yang..." Maya ngulurkan tangannya, tapi Irwan ngepisnya pelan.

"Jangan," bisiknya parau. "Jangan... sekarang."

Maya menarik tangannya kembali, membiarkan air matanya mengalir dalam diam. Di luar, langit Jakarta mulai mendung, seolah ikut berduka atas diagnosis yang baru saja menghancurkan mimpi mereka.

BERSAMBUNG
Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟏

 

Maya memutar tubuhnya di depan cermin ruang tamu untuk kesekian kalinya. Blazer krem yang membalut tubuhnya masih sama elegannya seperti saat pertama ia beli dua tahun lalu, meski sekarang terasa sedikit lebih longgar. Enam tahun, bisiknya dalam hati. Enam tahun, dan tubuhnya malah makin kurus, bukannya tambah berisi... seperti yang seharusnya.

"Masya Allah, cantik sekali, Bu." Pak Karyo muncul dari arah dapur, membawa secangkir teh hangat. Asisten rumah tangga yang sudah mengabdi sejak mereka pertama menikah itu tersenyum tulus. "Kayak foto pengantin yang di sana itu." Ia menunjuk ke figura yang tergantung di dinding—foto pernikahan Maya dan Irwan.

Maya tersenyum tipis. "Ah, Pak Karyo bisa aja." Ia menerima teh yang disodorkan, menyesapnya perlahan. Aroma melati yang familiar bikin tubuhnya agak rileks.

"Yang, dasi aku miring nggak?" Irwan keluar dari kamar, masih berkutat dengan simpul dasinya. Maya letakkan cangkir tehnya, lalu hampiri suaminya.

"Sini." Dengan lembut ia membenarkan dasi Irwan. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma aftershave yang familiar—masih sama seperti enam tahun lalu. "Sudah."

"Maya..." Irwan menangkap tangannya yang hendak menjauh. "Kamu oke?" Matanya menatap cemas.

Maya mengangguk, meski keraguan jelas di matanya. "Cuma... nervous. Biasa."

"Bu Maya, Pak Irwan," Pak Karyo berdeham pelan. "Udah jam setengah tujuh."

"Oh iya," Irwan melepaskan tangan Maya, mengambil kunci mobil dari meja. "Kita harus berangkat sekarang kalau nggak mau telat."

Maya mengambil tas tangannya, mengeluarkan lipstik untuk sentuhan terakhir. "Pak Karyo, tolong jaga rumah ya. Kita pulangnya mungkin agak maleman."

"Siap, Bu." Pak Karyo mengikuti mereka ke teras depan rumah. Langit Jakarta sudah gelap, tapi udara masih terasa hangat. "Selamat ulang tahun pernikahan. Semoga Allah selalu memberkahi."

Di mobil, Maya mengeluarkan ponselnya, mengecek alamat restoran untuk terakhir kali. Mereka memilih tempat Indonesia yang cukup berkelas di Menteng—tidak semewah hotel bintang lima, tapi cukup untuk menjaga gengsi keluarga besar mereka.

"Siap?" Irwan remas tangannya lembut sebelum nyalakan mesin.

Maya tarik napas panjang, ngerasain jemarinya gemetar. Dia tau banget apa yang nunggu mereka malam ini—tatapan penuh tanya, bisikan yang nggak keucap, harapan yang belum terpenuhi. "Siap," jawabnya, lebih buat yakinkan diri sendiri.

Dua puluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan restoran. Bangunan kolonial yang direstorasi itu tampak hangat dengan pencahayaan taman yang lembut. Maya bisa melihat beberapa mobil familiar sudah terparkir—keluarga mereka sudah mulai berdatangan.

Maya merasakan genggaman Irwan mengerat. Mereka berdua tahu apa yang menanti di balik pintu kayu berukir itu—dua keluarga besar dengan ekspektasi yang lebih besar lagi.

Ruangan VIP itu dirancang mengikuti konsep pendopo modern—luas dan elegan dengan sentuhan Jawa yang halus. Dua meja bundar besar dengan lazy susan kristal mendominasi ruangan. Aroma rempah dan bunga melati bercampur di udara, menciptakan atmosfer mewah yang tetap akrab.

Di meja pertama, keluarga Maya sudah berkumpul. Papanya lagi diskusi serius sama Om Hadi soal harga properti di BSD, sementara Mamanya dan Tante Mira bahas rencana umroh tahun depan. Sepupunya, Andi, sibuk dengan iPad-nya—paling lagi closing another deal, pikir Maya. Typical keluarganya—bisnis nggak pernah berhenti, bahkan di acara keluarga.

Di meja satunya, keluarga Irwan mulai berdatangan. Mama mertuanya langsung hampiri Maya, peluk dia dengan kehangatan yang terasa sedikit beda dari biasanya. "Selamat ulang tahun pernikahan ya, Nak. Enam tahun... masya Allah, nggak kerasa ya?"

Justru kerasa setiap detiknya, Maya membatin, bales pelukan mertuanya dengan senyum profesional yang biasa dia pake di meeting.

Percakapan ngalir ke berbagai topik. Om Hadi dan Papa balik tenggelam dalam diskusi properti mereka. Di sisi lain meja, Tante Astrid lagi cerita dengan antusias soal gallery batik barunya di Kemang. Mama Irwan sesekali nimpal, tapi Maya bisa ngerasain tatapannya yang sesekali arah ke blazer krem yang bungkus tubuh rampingnya.

"Oh iya, Dik Linda udah masuk bulan ketujuh ya, Bu?" Tante Astrid beralih ke Mama Irwan. "Anak kedua..."

Maya merasakan jemarinya mencengkeram garpu lebih erat. Linda, adik Irwan, baru menikah dua tahun lalu. Tapi sudah hamil anak kedua, sementara dia...

"Alhamdulillah," Mama Irwan senyum bangga. "Semoga lancar kayak yang pertama." Matanya lirik sekilas ke arah Maya. "Sekarang tinggal..."

"Eh, soto konro-nya enak ya," Irwan motong cepat, tangannya di bawah meja remas lembut jari Maya yang mulai gemetar. "Tante mau tambah?"

"Eh, nanti dulu," Tante Astrid senyum, matanya beralih ke Maya. "Maya sendiri gimana? Udah coba program lagi?"

Maya merasakan jemarinya semakin dingin dalam genggaman Irwan. Ia memaksakan senyum profesional yang biasa ia gunakan saat presentasi sulit di kantor. "Lagi fokus kerja dulu, Tante. Project baru..."

"Aih, kerja melulu." Tante Mira dari seberang meja ikut nimbrung. "Lihat Linda tuh, baru dua tahun nikah udah anak kedua. Padahal dia juga kerja."

Maya teguk air putihnya pelan, berusaha tenangkan diri. Blazer krem yang tadi terasa pas kini kayak mencekik lehernya. Dari sudut matanya, dia bisa lihat Mama Irwan yang mulai gelisah dengan arah pembicaraan ini.

"Maya ini emang kebanyakan mikir," Papa coba cairkan suasana. "Semua mesti direncanain detail. Iya kan, Wan?"

"Iya, Pak." Irwan ngangguk, tangannya masih genggam erat jemari Maya di bawah meja. "Tapi bagus kan? Lihat aja pemilihan menu malam ini, semua—"

"Ah, menu mah gampang diatur," potong Om Hadi, "tapi ada hal-hal yang nggak bisa diatur pake Excel sheet. Iya kan, Maya?"

Tawa kecil menyebar di meja. Maya tersenyum tipis, merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Enam tahun, dan komentar-komentar seperti ini masih bisa menusuknya sedalam hari pertama.

"Bu Maya," pelayan datang di saat yang tepat, "hidangan utamanya udah siap. Rendang atau ayam bakar?"

Maya hampir menghela napas lega dengan interupsi ini, tapi Tante Astrid rupanya belum selesai. "Nanti coba tanya Linda ya, Maya. Dia pake dokter bagus di Menteng. Katanya ada program khusus buat... yang agak susah."

Kali ini, Maya merasakan tangan Irwan yang gemetar dalam genggamannya.

"Rendang saja," Maya menjawab pelan, bersyukur bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh arti Tante Astrid.

Hidangan utama disajikan dengan elegan di atas piring porselen putih. Maya menatap rendang di hadapannya, aroma rempah yang biasanya menggugah selera kini terasa mencekik. Dia bisa denger percakapan di sekitarnya mulai beralih ke topik lain—bisnis properti Om Hadi, rencana umroh Mama, gallery batik Tante Astrid—tapi telinganya masih berdenging dengan komentar soal Linda.

"Maya," Om Hadi tiba-tiba manggil dia dari seberang meja, suaranya yang berat bikin beberapa kepala noleh. "Kalo mau cepet hamil, kuncinya tuh posisi sama durasi."

"Om Hadi..." Maya usaha senyum, tapi jarinya yang gemetar hampir jatuhin garpu.

"Irwan ini kebanyakan kerja sih," Om Hadi nyendok rendangnya santai, matanya lirik penuh arti. "Minimal mesti tiga jam sehari, posisi yang tepat. Biar gravitasi bantu." Dia kedip mata. "Kalo cuma lima menit sebelum tidur, ya mana bisa?"

Bisikan tawa tertahan terdengar di sekitar meja. Maya merasakan wajahnya terbakar, teringat rutinitas malam mereka yang memang hanya berlangsung singkat—Irwan selalu terlalu lelah setelah lembur.

"Dan jangan lupa, posisinya harus yang dalem," Om Hadi lanjut dengan nada sok tau, seolah-olah dia ahli fertilitas. "Kalo cuma missionary standar gitu, susah nembus. Harus yang..." dia bikin gerakan pake tangannya yang bikin Mama Irwan kesedak tehnya.

Maya menunduk, tangannya mencengkeram garpu semakin erat. Di sampingnya, ia bisa merasakan tubuh Irwan menegang, keringat mulai membasahi telapak tangannya yang menggenggam jemari Maya. Mereka berdua tahu persis—semua yang disebutkan Om Hadi adalah kebalikan dari rutinitas intim mereka yang singkat dan mekanis.

Irwan berdeham keras. "Om Hadi, soal properti di BSD tadi—"

"Oh iya, Maya," Mama Irwan motong, suaranya melembut dengan cara yang bikin Maya pengen nangis. "Mama denger di Malaysia ada treatment baru. Temen Mama sukses setelah lima tahun nyoba. Mau Mama minta kontaknya?"

Maya merasakan pandangan semua orang tertuju padanya. Blazer kremnya yang sudah terasa longgar kini seolah menyusut, mencengkeram tubuhnya seperti tangan-tangan yang menuntut jawaban.

"Makasih, Ma." Maya denger suaranya sendiri jawab, tenang dan terkontrol kayak pas dia mimpin rapat direksi. "Nanti kita omongin."

Mama Irwan mengangguk, tapi Maya bisa melihat kekecewaan samar di matanya. Enam tahun, dan mereka masih menunggu. Enam tahun, dan setiap pertemuan keluarga masih berakhir dengan tatapan yang sama.

Sisa makan malam berlalu dalam gerakan-gerakan mekanis. Maya mengiris rendangnya menjadi potongan-potongan kecil yang nyaris tidak ia sentuh. Irwan di sampingnya berusaha keras menjaga percakapan tetap pada topik-topik aman—politik, bisnis, cuaca—apa saja selain bayi dan kehamilan.

Ketika hidangan penutup disajikan—es teler premium dengan kelapa muda Australia—Maya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Setiap suapan terasa seperti abu di mulutnya.

"Udah jam sembilan," Irwan akhirnya umumkan, lirik jam tangannya. "Maya besok ada meeting pagi."

"Ah, masih sibuk aja," Tante Mira senyum penuh arti. "Padahal harusnya—"

"Iya, meeting sama client dari Singapore," potong Maya cepat, bangkit dari kursinya. Blazer kremnya yang longgar dia rapetin kayak armor. "Makasih semuanya. Maaf kita harus duluan."

Pelukan dan ciuman perpisahan terasa seperti siksaan. Setiap pelukan disertai bisikan—"Sabar ya", "Jangan stress", "Coba konsul ke..."—yang Maya tanggapi dengan senyum profesionalnya.

Di mobil, Maya melepas sepatunya dengan gerakan lelah. Irwan menyalakan mesin dalam diam, membiarkan AC mobil mengisi keheningan di antara mereka.

"Yang..." Irwan akhirnya ngomong setelah mereka keluar dari area parkir.

"Jangan sekarang," Maya potong pelan, matanya terpejam. "Please."

Irwan mengangguk, tangannya menggenggam kemudi lebih erat. Enam tahun, dan mereka masih belum menemukan kata-kata yang tepat untuk saat-saat seperti ini.

Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com