Maya
memutar tubuhnya di depan cermin ruang tamu untuk kesekian kalinya.
Blazer krem yang membalut tubuhnya masih sama elegannya seperti saat
pertama ia beli dua tahun lalu, meski sekarang terasa sedikit lebih
longgar. Enam tahun, bisiknya dalam hati. Enam tahun, dan tubuhnya malah
makin kurus, bukannya tambah berisi... seperti yang seharusnya.
"Masya
Allah, cantik sekali, Bu." Pak Karyo muncul dari arah dapur, membawa
secangkir teh hangat. Asisten rumah tangga yang sudah mengabdi sejak
mereka pertama menikah itu tersenyum tulus. "Kayak foto pengantin yang
di sana itu." Ia menunjuk ke figura yang tergantung di dinding—foto
pernikahan Maya dan Irwan.
Maya tersenyum tipis. "Ah, Pak Karyo
bisa aja." Ia menerima teh yang disodorkan, menyesapnya perlahan. Aroma
melati yang familiar bikin tubuhnya agak rileks.
"Yang, dasi aku
miring nggak?" Irwan keluar dari kamar, masih berkutat dengan simpul
dasinya. Maya letakkan cangkir tehnya, lalu hampiri suaminya.
"Sini."
Dengan lembut ia membenarkan dasi Irwan. Dari jarak sedekat ini, ia
bisa mencium aroma aftershave yang familiar—masih sama seperti enam
tahun lalu. "Sudah."
"Maya..." Irwan menangkap tangannya yang hendak menjauh. "Kamu oke?" Matanya menatap cemas.
Maya mengangguk, meski keraguan jelas di matanya. "Cuma... nervous. Biasa."
"Bu Maya, Pak Irwan," Pak Karyo berdeham pelan. "Udah jam setengah tujuh."
"Oh iya," Irwan melepaskan tangan Maya, mengambil kunci mobil dari meja. "Kita harus berangkat sekarang kalau nggak mau telat."
Maya
mengambil tas tangannya, mengeluarkan lipstik untuk sentuhan terakhir.
"Pak Karyo, tolong jaga rumah ya. Kita pulangnya mungkin agak maleman."
"Siap,
Bu." Pak Karyo mengikuti mereka ke teras depan rumah. Langit Jakarta
sudah gelap, tapi udara masih terasa hangat. "Selamat ulang tahun
pernikahan. Semoga Allah selalu memberkahi."
Di mobil, Maya
mengeluarkan ponselnya, mengecek alamat restoran untuk terakhir kali.
Mereka memilih tempat Indonesia yang cukup berkelas di Menteng—tidak
semewah hotel bintang lima, tapi cukup untuk menjaga gengsi keluarga
besar mereka.
"Siap?" Irwan remas tangannya lembut sebelum nyalakan mesin.
Maya
tarik napas panjang, ngerasain jemarinya gemetar. Dia tau banget apa
yang nunggu mereka malam ini—tatapan penuh tanya, bisikan yang nggak
keucap, harapan yang belum terpenuhi. "Siap," jawabnya, lebih buat
yakinkan diri sendiri.
Dua puluh menit kemudian, mobil mereka
berhenti di depan restoran. Bangunan kolonial yang direstorasi itu
tampak hangat dengan pencahayaan taman yang lembut. Maya bisa melihat
beberapa mobil familiar sudah terparkir—keluarga mereka sudah mulai
berdatangan.
Maya merasakan genggaman Irwan mengerat. Mereka
berdua tahu apa yang menanti di balik pintu kayu berukir itu—dua
keluarga besar dengan ekspektasi yang lebih besar lagi.
Ruangan
VIP itu dirancang mengikuti konsep pendopo modern—luas dan elegan dengan
sentuhan Jawa yang halus. Dua meja bundar besar dengan lazy susan
kristal mendominasi ruangan. Aroma rempah dan bunga melati bercampur di
udara, menciptakan atmosfer mewah yang tetap akrab.
Di meja
pertama, keluarga Maya sudah berkumpul. Papanya lagi diskusi serius sama
Om Hadi soal harga properti di BSD, sementara Mamanya dan Tante Mira
bahas rencana umroh tahun depan. Sepupunya, Andi, sibuk dengan
iPad-nya—paling lagi closing another deal, pikir Maya. Typical
keluarganya—bisnis nggak pernah berhenti, bahkan di acara keluarga.
Di
meja satunya, keluarga Irwan mulai berdatangan. Mama mertuanya langsung
hampiri Maya, peluk dia dengan kehangatan yang terasa sedikit beda dari
biasanya. "Selamat ulang tahun pernikahan ya, Nak. Enam tahun... masya
Allah, nggak kerasa ya?"
Justru kerasa setiap detiknya, Maya membatin, bales pelukan mertuanya dengan senyum profesional yang biasa dia pake di meeting.
Percakapan
ngalir ke berbagai topik. Om Hadi dan Papa balik tenggelam dalam
diskusi properti mereka. Di sisi lain meja, Tante Astrid lagi cerita
dengan antusias soal gallery batik barunya di Kemang. Mama Irwan
sesekali nimpal, tapi Maya bisa ngerasain tatapannya yang sesekali arah
ke blazer krem yang bungkus tubuh rampingnya.
"Oh iya, Dik Linda udah masuk bulan ketujuh ya, Bu?" Tante Astrid beralih ke Mama Irwan. "Anak kedua..."
Maya
merasakan jemarinya mencengkeram garpu lebih erat. Linda, adik Irwan,
baru menikah dua tahun lalu. Tapi sudah hamil anak kedua, sementara
dia...
"Alhamdulillah," Mama Irwan senyum bangga. "Semoga lancar
kayak yang pertama." Matanya lirik sekilas ke arah Maya. "Sekarang
tinggal..."
"Eh, soto konro-nya enak ya," Irwan motong cepat,
tangannya di bawah meja remas lembut jari Maya yang mulai gemetar.
"Tante mau tambah?"
"Eh, nanti dulu," Tante Astrid senyum, matanya beralih ke Maya. "Maya sendiri gimana? Udah coba program lagi?"
Maya
merasakan jemarinya semakin dingin dalam genggaman Irwan. Ia memaksakan
senyum profesional yang biasa ia gunakan saat presentasi sulit di
kantor. "Lagi fokus kerja dulu, Tante. Project baru..."
"Aih,
kerja melulu." Tante Mira dari seberang meja ikut nimbrung. "Lihat Linda
tuh, baru dua tahun nikah udah anak kedua. Padahal dia juga kerja."
Maya
teguk air putihnya pelan, berusaha tenangkan diri. Blazer krem yang
tadi terasa pas kini kayak mencekik lehernya. Dari sudut matanya, dia
bisa lihat Mama Irwan yang mulai gelisah dengan arah pembicaraan ini.
"Maya ini emang kebanyakan mikir," Papa coba cairkan suasana. "Semua mesti direncanain detail. Iya kan, Wan?"
"Iya,
Pak." Irwan ngangguk, tangannya masih genggam erat jemari Maya di bawah
meja. "Tapi bagus kan? Lihat aja pemilihan menu malam ini, semua—"
"Ah, menu mah gampang diatur," potong Om Hadi, "tapi ada hal-hal yang nggak bisa diatur pake Excel sheet. Iya kan, Maya?"
Tawa
kecil menyebar di meja. Maya tersenyum tipis, merasakan keringat dingin
mulai mengalir di punggungnya. Enam tahun, dan komentar-komentar
seperti ini masih bisa menusuknya sedalam hari pertama.
"Bu Maya," pelayan datang di saat yang tepat, "hidangan utamanya udah siap. Rendang atau ayam bakar?"
Maya
hampir menghela napas lega dengan interupsi ini, tapi Tante Astrid
rupanya belum selesai. "Nanti coba tanya Linda ya, Maya. Dia pake dokter
bagus di Menteng. Katanya ada program khusus buat... yang agak susah."
Kali ini, Maya merasakan tangan Irwan yang gemetar dalam genggamannya.
"Rendang saja," Maya menjawab pelan, bersyukur bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh arti Tante Astrid.
Hidangan
utama disajikan dengan elegan di atas piring porselen putih. Maya
menatap rendang di hadapannya, aroma rempah yang biasanya menggugah
selera kini terasa mencekik. Dia bisa denger percakapan di sekitarnya
mulai beralih ke topik lain—bisnis properti Om Hadi, rencana umroh Mama,
gallery batik Tante Astrid—tapi telinganya masih berdenging dengan
komentar soal Linda.
"Maya," Om Hadi tiba-tiba manggil dia dari
seberang meja, suaranya yang berat bikin beberapa kepala noleh. "Kalo
mau cepet hamil, kuncinya tuh posisi sama durasi."
"Om Hadi..." Maya usaha senyum, tapi jarinya yang gemetar hampir jatuhin garpu.
"Irwan
ini kebanyakan kerja sih," Om Hadi nyendok rendangnya santai, matanya
lirik penuh arti. "Minimal mesti tiga jam sehari, posisi yang tepat.
Biar gravitasi bantu." Dia kedip mata. "Kalo cuma lima menit sebelum
tidur, ya mana bisa?"
Bisikan tawa tertahan terdengar di sekitar
meja. Maya merasakan wajahnya terbakar, teringat rutinitas malam mereka
yang memang hanya berlangsung singkat—Irwan selalu terlalu lelah setelah
lembur.
"Dan jangan lupa, posisinya harus yang dalem," Om Hadi
lanjut dengan nada sok tau, seolah-olah dia ahli fertilitas. "Kalo cuma
missionary standar gitu, susah nembus. Harus yang..." dia bikin gerakan
pake tangannya yang bikin Mama Irwan kesedak tehnya.
Maya
menunduk, tangannya mencengkeram garpu semakin erat. Di sampingnya, ia
bisa merasakan tubuh Irwan menegang, keringat mulai membasahi telapak
tangannya yang menggenggam jemari Maya. Mereka berdua tahu persis—semua
yang disebutkan Om Hadi adalah kebalikan dari rutinitas intim mereka
yang singkat dan mekanis.
Irwan berdeham keras. "Om Hadi, soal properti di BSD tadi—"
"Oh
iya, Maya," Mama Irwan motong, suaranya melembut dengan cara yang bikin
Maya pengen nangis. "Mama denger di Malaysia ada treatment baru. Temen
Mama sukses setelah lima tahun nyoba. Mau Mama minta kontaknya?"
Maya
merasakan pandangan semua orang tertuju padanya. Blazer kremnya yang
sudah terasa longgar kini seolah menyusut, mencengkeram tubuhnya seperti
tangan-tangan yang menuntut jawaban.
"Makasih, Ma." Maya denger
suaranya sendiri jawab, tenang dan terkontrol kayak pas dia mimpin rapat
direksi. "Nanti kita omongin."
Mama Irwan mengangguk, tapi Maya
bisa melihat kekecewaan samar di matanya. Enam tahun, dan mereka masih
menunggu. Enam tahun, dan setiap pertemuan keluarga masih berakhir
dengan tatapan yang sama.
Sisa makan malam berlalu dalam
gerakan-gerakan mekanis. Maya mengiris rendangnya menjadi
potongan-potongan kecil yang nyaris tidak ia sentuh. Irwan di sampingnya
berusaha keras menjaga percakapan tetap pada topik-topik aman—politik,
bisnis, cuaca—apa saja selain bayi dan kehamilan.
Ketika hidangan
penutup disajikan—es teler premium dengan kelapa muda Australia—Maya
sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Setiap suapan terasa seperti
abu di mulutnya.
"Udah jam sembilan," Irwan akhirnya umumkan, lirik jam tangannya. "Maya besok ada meeting pagi."
"Ah, masih sibuk aja," Tante Mira senyum penuh arti. "Padahal harusnya—"
"Iya,
meeting sama client dari Singapore," potong Maya cepat, bangkit dari
kursinya. Blazer kremnya yang longgar dia rapetin kayak armor. "Makasih
semuanya. Maaf kita harus duluan."
Pelukan dan ciuman perpisahan
terasa seperti siksaan. Setiap pelukan disertai bisikan—"Sabar ya",
"Jangan stress", "Coba konsul ke..."—yang Maya tanggapi dengan senyum
profesionalnya.
Di mobil, Maya melepas sepatunya dengan gerakan
lelah. Irwan menyalakan mesin dalam diam, membiarkan AC mobil mengisi
keheningan di antara mereka.
"Yang..." Irwan akhirnya ngomong setelah mereka keluar dari area parkir.
"Jangan sekarang," Maya potong pelan, matanya terpejam. "Please."
Irwan
mengangguk, tangannya menggenggam kemudi lebih erat. Enam tahun, dan
mereka masih belum menemukan kata-kata yang tepat untuk saat-saat
seperti ini.
𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟏
Categories
- 𝟏𝟎𝟎𝟏 𝐊𝐈𝐒𝐀𝐇 𝐔𝐒𝐓𝐀𝐙𝐀𝐇
- 𝐀𝐤𝐮 𝐆𝐮𝐫𝐮 𝐁𝐞𝐫𝐡𝐢𝐣𝐚𝐛 𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐀𝐤𝐮 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐜𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚
- 𝐀𝐤𝐮 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐌𝐞𝐧𝐢𝐤𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠𝐤𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐡𝐤𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧𝐤𝐮
- 𝐀𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐛𝐚- 𝐭𝐢𝐛𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐥𝐞𝐬𝐛𝐢𝐚𝐧
- 𝐀𝐭𝐚𝐬𝐚𝐧𝐤𝐮 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐂𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤
- 𝐁𝐨𝐝𝐲 𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐝𝐮𝐡𝐚𝐲
- 𝐂𝐚𝐥𝐨𝐧 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚 𝐃𝐚𝐧 𝐂𝐚𝐥𝐨𝐧 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢
- CERPEN
- 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐚𝐤 𝐁𝐢𝐚𝐬𝐚
- 𝑪𝒐𝒓𝒓𝒖𝒑𝒕𝒊𝒐𝒏
- 𝐃𝐞𝐦𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭𝐚𝐧
- 𝐃𝐨𝐬𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐢𝐧𝐝𝐚𝐡
- 𝐆𝐚𝐢𝐫𝐚𝐡 𝐓𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠
- 𝐆𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐌𝐚𝐛𝐮𝐤
- 𝐈𝐛𝐮 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚𝐤𝐮 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮
- 𝐈𝐛𝐮 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐛𝐚𝐭𝐤𝐮
- 𝐈𝐛𝐮𝐤𝐮 𝐓𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐁𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡
- 𝐈𝐁𝐔𝐊𝐔 𝐓𝐄𝐑𝐋𝐀𝐋𝐔 𝐁𝐀𝐈𝐊
- 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐀𝐭𝐚𝐬𝐚𝐧𝐤𝐮
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐤𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐓𝐊𝐖
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐭𝐚𝐠𝐢𝐡𝐚𝐧
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥 𝐎𝐥𝐞𝐡 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐏𝐚𝐬𝐫𝐚𝐡 𝐃𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐢𝐣𝐚𝐭
- Kasih Terlarang Keluarga
- 𝐊𝐀𝐓𝐑𝐈𝐍
- 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚
- 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐏𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠
- 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐤𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐊𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐣𝐚𝐰𝐚𝐭
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡𝐤𝐮 𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮
- 𝐊𝐎𝐏𝐈 𝐒𝐔𝐒𝐔
- 𝐋𝐚𝐛𝐢𝐢𝐫𝐢𝐧 𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐢𝐭𝐚𝐫𝐤𝐮
- 𝐋𝐚𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐁𝐢𝐫𝐚𝐡𝐢
- 𝐋𝐞𝐧𝐢 𝐓𝐚𝐧 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐳𝐚𝐡 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐋𝐈𝐃𝐘𝐀
- 𝐋𝐢𝐤𝐚 𝐋𝐢𝐤𝐮 𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧
- 𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐑𝐢𝐬𝐚
- Mama... aku minta Maaf
- 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮 𝐆𝐮𝐫𝐮 𝐍𝐠𝐚𝐣𝐢 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐍𝐚𝐤𝐚𝐥
- 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐞𝐫𝐠𝐨𝐝𝐚 𝐎𝐥𝐞𝐡 𝐒𝐚𝐡𝐚𝐛𝐚𝐭𝐤𝐮
- 𝐌𝐚𝐲𝐚 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮
- 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐝𝐚𝐲𝐚 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠
- 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮
- 𝐌𝐈𝐋𝐀
- 𝐌𝐨𝐦𝐞𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐈𝐧𝐭𝐫𝐢𝐤
- 𝐍𝐚𝐟𝐬𝐮 𝐁𝐢𝐫𝐚𝐡𝐢 𝐂𝐢𝐭𝐫𝐚
- 𝐍𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦
- 𝐏𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐄𝐊𝐒𝐈𝐁 𝐓𝐚𝐧𝐭𝐞 𝐋𝐢𝐭𝐡𝐚
- 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠𝐤𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚
- 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐝𝐫𝐢𝐚𝐧
- 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐁𝐢𝐛𝐢 𝐊𝐀𝐑𝐈𝐍𝐀 𝐃𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚
- 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐤𝐚𝐤𝐤𝐮
- 𝐑𝐀𝐇𝐀𝐒𝐈𝐀 𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐈𝐒𝐓𝐑𝐈
- 𝐑𝐚𝐡𝐢𝐦 𝐇𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐚𝐣𝐢𝐤𝐚𝐧
- RANJANG YANG TERNODA
- 𝐑𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐈𝐛𝐮 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐑𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐆𝐮𝐧𝐮𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐦𝐮𝐤𝐮𝐬
- 𝐒𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐒𝐢𝐬𝐤𝐚 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚𝐤𝐮
- 𝐒𝐤𝐚𝐧𝐝𝐚𝐥 𝐒𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚
- The Jack Story
- The Ukhti's Story
- 𝐓𝐇𝐑𝐄𝐄𝐒𝐎𝐌𝐄 𝐃𝐑𝐀𝐌𝐀 𝐃𝐀𝐍 𝐃𝐈𝐋𝐄𝐌𝐀
- 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐀𝐫𝐢𝐧𝐚 & 𝐆𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐨𝐭𝐨𝐫
Blog Archive
- Januari 2026 (31)
- Desember 2025 (29)
- November 2025 (4)
- Oktober 2025 (2)
- September 2025 (31)
- Agustus 2025 (19)
- Juli 2025 (26)
- Juni 2025 (27)
- Mei 2025 (27)
- April 2025 (28)
- Maret 2025 (41)
- Februari 2025 (31)
- Januari 2025 (52)
- Desember 2024 (39)
- November 2024 (80)
- Oktober 2024 (44)
- September 2024 (60)
- Agustus 2024 (96)
- Juli 2024 (92)
- Juni 2024 (98)
- Mei 2024 (101)
- April 2024 (68)
- Maret 2024 (56)
- Februari 2024 (52)
- Januari 2024 (62)
- Desember 2023 (77)
- November 2023 (53)
- Oktober 2023 (38)
- September 2023 (28)
- Agustus 2023 (28)
- Juli 2023 (41)
- Juni 2023 (24)
- Mei 2023 (40)
- April 2023 (13)
- Maret 2023 (1)
- Januari 2023 (2)
- Desember 2022 (20)
- November 2022 (24)
- Oktober 2022 (33)
- September 2022 (15)
- Agustus 2022 (25)
- Juli 2022 (31)
- Juni 2022 (38)
- Mei 2022 (8)
Cari Blog Ini
Diberdayakan oleh Blogger.
