MASIH POV LIDYA
Setelah 1 Bulan Koh Freddy berada di luar negeri, tiba-tiba ia datang ke kantor tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepadaku baik di telepon ataupun chat. Padahal malam sebelumnya kami melakukan chat, ini seperti sebuah kejutan yang manis.
Ketika dia mengajakku untuk makan siang, kali ini langsung aku iya kan. Meskipun dalam hatiku sangat ingin berduaan saja, tapi saat itu aku merasa tidak enak kepada Vina. Akhirnya kuajak Vina..... eh teman-teman yang lain pada ikut. Akhirnya kami jalan kaki berombongan menuju Resto yang terdekat dengan kantor.
Setelah tiba di Resto, Koh Freddy mengajakku untuk duduk terpisah dari teman-temanku. Aku berpikir bahkan berharap siang ini menjadi makan siang yang romantis, ternyata tidak, tapi tetap sangat membahagiakan. Saat kami berdua di meja terpisah, Koh Freddy mengatakan bahwa aku ada kesempatan untuk mengisi posisi Manager. Rencananya Pak Ridwan akan bergeser ke divisi lain.
Tentu saja aku sangat senang sekali dengan berita ini. Bagaimanapun saat ini suamiku sedang ada kesulitan finansial, jadi aku harus bisa mem-back-up kekurangannya. Meskipun dari posisi sekarang pun kekurangan itu masih bisa teratasi, tapi bukankah akan lebih aman jika penghasilanku bertambah?
“Sebelumnya bakal ada assesment dulu yang dilakukan lembaga independent yang cukup kredibel sampai akhirnya mereka yang menilai kelayakan seseorang pada posisi tertentu. Dari kantor pusat, Koko rekomendasiin kamu…. jajaran Direksi juga pastinya akan memasukkan nama-nama lain, gitu juga dari seluruh perwakilan kantor cabang. Kayanya bakal ada semacam pelatihan dulu deh…. Buat teknisnya Koko juga belom dapet laporannya, waktunya pun belum pasti tapi sekitar 1-2 bulanan lagi dari sekarang. Maaf Koko Cuma bisa sampe tahap rekomendasiin kamu jadi salah satu kandidat, untuk hasil dan penilaian… semua tergantung pencapaian kamu dan penilaian lembaga itu, Koko ga mau ikut campur, tapi Koko percaya kamu bakalan bisa, Koko percaya banget sama kemampuan kamu…. Jangan kecewain kepercayaan Koko ya.. ”, ucap Koh Freddy menjelaskan tentang sistem yang dilakukan nanti.
“Makasih banyak Koh….. aku bakalan berusaha sebaik mungkin”, ucapku mungkin dengan mata yang berkaca-kaca. Ada perasaan bahagia. Juga perasaan cinta makin besar pada sosok di depanku ini, rasanya semakin berlipat-lipat, dia telah banyak membantuku dalam meraih karier.
Acara makan siang pun selesai, sebelum kami bangkit berdiri, Koh Freddy berucap, “nanti pulangnya Koko anter pulang ya?”, tanyanya seperti biasanya.
“mmm…”, aku menjawab seolah ragu-ragu, padahal dalam hatiku sudah pasti mau. Bagaimana mungkin aku akan menolak pada sosok yang akhir-akhir ini selalu menemani fantasiku meraih kenikmatan?
“ya udah ga apa-apa kalo ga bisa….”, ucap Koh Freddy sambil tersenyum setelah melihat aku tak memberikan jawaban.
“eh takutnya ngerepotin Koh”, jawabku malu-malu tapi mau.
“Koko udah berharap direpotin sejak setahun yang lalu”, ucap Koh Freddy santai. Tak terasa, sudah 1 tahun lamanya aku menolak, selama itu pula orang kedua yang saat ini kucintai selain suamiku, bersikap sabar. Dan kuharap penantian panjangnya itu terobati saat sekarang aku menganggukan kepala tanda setuju.
Ketika keinginannya untuk mengantarkanku pulang akhirnya terwujud, minggu berikutnya Koh Freddy jadi lebih sering ke Kantor, bahkan dalam minggu itu dia datang sampai 3 kali dan semuanya berakhir dengan mengantarkanku pulang. Total sudah 4 kali aku diantar pulang. Tiga yang pertama benar-benar hanya mengantarkan saja, cuma rute kantor-rumahku, sudah hanya begitu. Di perjalanan pun hanya mengobrol biasa, meskipun sudah jauh lebih akrab tapi tidak ada sekalipun membahas soal perasaan. Begitu juga dengan kontak fisik, tidak ada sama sekali… jangankan berpegangan, sekedar menyentuh saja tidak.
Jujur saja, aku pun sebenarnya belum siap untuk mendapatkan kontak fisik apapun, aku masih menyadari sepenuhnya akan statusku sebagai seorang yang telah bersuami, meskipun saat itu hasratku kepada Koh Freddy sudah begitu tinggi. Melihat sikap Koh Freddy pun sepertinya sama, menjaga sikap. Hal itu justru membuat aku semakin respek dan merasa aman berada di dekatnya.
Saat mengantarku pulang yang ke-4 kalinya, aku ingat hari itu adalah hari Jumat, di tengah perjalanan Koh Freddy membelokkan mobilnya ke sebuah Café dan mengajakku untuk makan. Aku pun tak menolak itu. Acara makannya sih biasa, justru perbincangan setelah makan yang membuatku bertanya-tanya.
Disitu Koh Freddy mulai menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Dia mengatakan sering bermasalah dengan istrinya. Bahkan kini istri dan kedua anaknya sudah terpisah tempat tinggal. Istri dan anak-anaknya sudah dari tahun lalu tinggal di Singapore, sementara Koh Freddy tetap di Jakarta. Jika Koh Freddy bolak-balik ke Singapore, itu semata-mata dalam rangka melepas kerinduan kepada anak-anaknya saja.
Di tiga tahun terakhir, pasangan Koh Freddy dan Ci Lani, itulah nama istrinya, sempat beberapa kali memutuskan untuk bercerai. Ketidakcocokan dalam rumah tangga, ditambah sudah tidak adanya perasaan diantara keduanya membuat rumah tangganya menjadi hambar. Tapi perceraian itu tidak pernah benar-benar terlaksana bahkan hingga hari ini. Mereka memutuskan untuk tetap bersama, walaupun hanya sekedar status saja. Semua itu mereka lakukan demi anak-anak mereka. Ya, anak-anak lah yang menyebabkan mereka tetap bertahan meski sudah tanpa cinta.
Setelah bercerita tentang rumah tangganya, Koh Freddy akhirnya mengucapkan sebuah kalimat yang selama ini tidak pernah aku dengar….
“Lid, kamu juga pasti udah tau dan ngerasain, kalo dari dulu Koko suka sama kamu”, ucap Koh Freddy serius sambil menatapku,
DEGGG
Walaupun aku sudah bisa menebak dari sebelumnya tentang maksud dan perasaannya. Tetap saja ucapan itu membuat wajahku memerah dan detak jantungku berdetak hebat. Ucapan itu sebenarnya sangat membahagiakanku apalagi hatiku saat itu memang sudah merasakan hal yang sama dengan yang Koh Freddy katakan. Tapi di sisi lain membuat aku semakin merasa bersalah kepada suamiku. Meski aku tak menjawab perasaan Koh Freddy, karena Koh Freddy pun tak menanyakan tentang perasaanku padanya, tapi jujur perasaan yang sudah terpatri di dalam hati ini sudah mengisyaratkan bahwa hubunganku dengan Koh Freddy sudah melampaui batas kewajaran... tak wajar bagi seorang yang sudah berumah tangga.
Koh Freddy hanya mengatakan itu, sekedar ingin mengungkapkan isi hatinya yang tersimpan selama ini. Namun untuk soal status hubungan kita, sepertinya di benak Koh Freddy pun sama sepertiku, ada keraguan mau dibawa kemana hubungan kita ini meskipun hati sudah merasakan jatuh cinta.
Apalagi di akhir katanya dia mengucapkan, “status kita sama, ada hati yang harus dijaga di luar sana, sebesar apapun perasaan Koko sama kamu, Koko selalu menghargai komitmenmu dengan pasanganmu. Koko salut sama kamu, malahan sikap salut Koko semakin bertambah di setiap penolakan kamu…. Koko sudah jarang nemuin perempuan seperti kamu, makasih Lid…. udah bikin Koko sadar bahwa sebenarnya ada batas tebal yang tidak seharusnya Koko lewati”.
Setelah pembicaraan itu, mulai dari café hingga perjalanan pulang, suasana yang tadinya sudah akrab diantara kita, mendadak menjadi serba canggung. Meski sebenarnya aku sangat setuju dengan apa yang Koh Freddy katakan, namun tersirat bahwa hubungan ini memang tidak seharusnya dilangkahkan semakin jauh. Aku tahu itu…. begitupun keinginanku, memang sama seperti itu. Tapi apakah itu isyarat dari Koh Freddy bahwa perasaan ini harus diakhiri? Saat semuanya baru mulai tumbuh begitu indah? Bukan ini yang dimau!!!
Sesampai di rumah, sesuatu dalam diriku mengingkarinya, aku masih belum siap untuk mengakhirinya. Akhirnya untuk kali pertama aku yang memulai menelepon Koh Freddy terlebih dahulu, justru kali ini semakin mengisyaratkan kepadanya bahwa aku memiliki perasaan yang sama. Begitupun Koh Freddy yang justru makin terang-terangan menunjukkan perasaannya yang bukan sekedar suka…. tapi cinta.
“Koh…. udah sampe rumah?”, tanyaku memulai percakapan telepon.
“Baru aja nyampe, Lid….. kenapa?”, jawab Koh Freddy, dari nadanya sepertinya sangat senang kalau aku menelepon.
“Ga apa-apa….. nanya aja…”, balasku malu-malu.
“Kirain kangen…..”, Koh Freddy kali ini seperti menggodaku.
“Ih…”, jawabku pura-pura ketus, padahal tebakan Koh Freddy memang benar.
“Ya udah, Koko aja yang kangennya”, ujar Koh Freddy.
“Baru ketemu juga… masa kangen?”, tanyaku masih pura-pura jual mahal.
“Iya beneran, soalnya bakalan lama ga ketemu… hari Minggu ini Koko ke Singapore dulu”, jawab Koh Freddy tanpa malu-malu seperti aku.
“Singapore?”, jujur saja aku kaget mendengar Singapore, aku merasa sedih bakal ditinggalkan lagi.
“Iya Lid, tapi ga lama koq… paling 3 hari”, ucap Koh Feddy.
Aku masih terdiam, sedang menghitung sejak hari ini Jumat… ditambah 3 hari dari Minggu… berarti ga bakalan ketemu Koh Freddy selama 5 hari. Di saat kondisi sedang sayang-sayangnya, ditinggal 5 hari pun rasanya bakalan sepeti 5 windu. Memang lebay banget!
“Tapi Koko pengen ketemu kamu dulu sebelum ke Singapore, Lid….. boleh?”, tanya Koh Freddy yang membuat aku melonjak kegirangan dan senyum-senyum sendiri di dalam kamarku ini.
“Kapan, Koh?”, aku langsung merespon cepat.
“Besok sih Koko ada acara ke Surabaya… palingan Minggu”, jawab Koh Freddy.
“Tapi kan Koh Freddy ke Singapore-nya hari Minggu?”, tanyaku bingung.
“Iya berangkat jam 3-an kayanya…. pagi aja ketemunya ya Sayang?”, ucap Koh Freddy yang untuk pertama kalinya menyebutku dengan panggilan ‘Sayang’. Rasanya aku seperti melayang ke awan jingga mendengar panggilan yang sebenarnya sederhana itu.
“ih koq manggil Sayang?”, tukasku masih sok-sok’an tak ingin dipanggil begitu.
“Kan emang Koko beneran sayang…. Gimana mau ga? Anterin Koko main squash doang, jam 12-an juga udah balik”, jelas Koh Freddy santai.
“Terserah Koko aja..”, jawabku singkat sambil tersenyum. Jadwal yang sangat pas, soalnya sebelumnya aku sudah ada janji dengan Vina sekitar jam 12 atau 1'an buat ke salon. Semesta seolah mendukung.
“Makasih ya Sayang, Koko ntar jemput ke rumah jam 10’an”, ucap Koh Freddy bahagia.
“eh jangan ke rumah Koh, hari Minggu ada suami aku”, aku kaget dengan rencana Koh Freddy.
“Ga apa-apa, bilang aja naik taxi online…”, jawab Koh Freddy seperti mengajarkanku untuk berbohong pada suamiku.
“Terserah Koko aja ah…. Padahal ketemunya di depan kompleks aja”, jawabku terpaksa setuju tapi memberikan saran alternatif, karena jujur aku mulai merasa takut dengan rencana penjemputannya.
“Bukan gitu Lid, soalnya Koko mau minta tolong sesuatu sama kamu”, tanya Koh Freddy lagi.
“Minta tolong apa?”, tanyaku penasaran campur deg-degan takut Koh Freddy meminta hal yang aneh-aneh.
“Koko pengen liat kamu pake dress yang waktu itu dipake di undangan….. jadi, masa udah cantik-cantik pake dress kamu jalan dulu ke depan?”, pinta Koh Freddy sekaligus memberikan alasan mengapa titik penjemputan di rumah.
“dress yang biru itu ya? Emang buat apa Koh… aneh banget ih mintanya”, tanyaku penuh tanda tanya.
“Pengen motoin kamu pake dress itu, Lid…”, jawab Koh Freddy santai.
“Baru tau kalo Koh Freddy ternyata fotografer juga….”, ucapku lagi.
“yaaa….. bukan fotografer juga, sekedar hobi aja, amatiran lah”, kata Koh Freddy merendah.
“hmmm…. berarti suka motoin cewek-cewek yah? banyak dong koleksinya?”, tanyaku sedikit sinis, mulai tumbuh rasa cemburu pada diriku.
“Ga pernah Lid, biasanya motoin tema alam aja… pemandangan yang indah-indah gitu, kalo motoin orang ya baru kamu ini, kan sama-sama indah… itu juga kalo kamunya mau sih”, jawab Koh Freddy.
“Halah gombal ah… ya udah boleh, Koh… sekarang Koh Freddy bersih-bersih dulu gih, ntar malam tapi chat-an lagi yaa…. tapi jangan kemaleman…. awas aja kalo Kokoh ga chat, hari Minggu batal!”, aku mengakhiri pembicaraan dengan nada yang dibuat marah tapi manja dan kini aku sudah tak malu-malu meminta Koh Freddy untuk chat nanti di malam hari, sudah seperti permintaan seorang gadis pada kekasihnya saja.
“Idih ngancem…. iya Sayang, iyaaaa, malem Koko pasti chat koq, makasih ya Sayang buat telepon nya, I Love You……”, Koh Freddy mengakhiri pembicaraan.
“Iya”, jawabku singkat, sementara di dalam hatiku mengucapkan ‘I Love You too, Honey……’.
BERSAMBUNG ....
