𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟏𝟏

 

"Jadi, gimana sekarang?" tanya Maya pelan, menarik selimut hingga ke dadanya.

Kamar utama terasa hangat meski AC menyala. Mereka baru saja selesai mandi setelah makan malam dan pembicaraan di mobil. Irwan duduk bersandar di kepala tempat tidur, tablet di tangannya, sementara Maya berbaring miring menghadapnya.

"Maksudnya?" Irwan mengalihkan pandangan dari tabletnya.

"Kita udah ngobrol banyak di mobil," Maya memperjelas. "Tapi aku masih belum jelas apa yang sebenarnya kamu mau. Tadi pagi kamu panik lihat Pak Karyo 'berani' sama aku. Tapi sekarang, setelah terapi, kayaknya kamu malah mendorong..."

Irwan meletakkan tabletnya, menatap Maya serius. "Oke, aku jelasin. Tadi pagi aku belum... siap. Aku masih bingung sama perasaanku sendiri. Tapi sekarang..." Dia menghela napas. "Sekarang aku udah mantap."

"Mantap gimana?"

"Aku udah bilang ke kamu, kan? Aku punya... preferensi ini." Irwan menggenggam tangan Maya. "Aku nggak cuma ngasih izin, tapi aku mendukung kalau kamu mau... lebih bebas sama dia."

Maya menatapnya tak percaya. "Kamu serius? Jadi kalau besok dia..." Maya tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Kalau besok dia menunjukkan inisiatif lagi, dan kamu mau merespons... aku nggak akan marah." Irwan menelan ludah. "Malah, aku ingin kamu merespons senatural mungkin."

"Apa aku harus bilang ke dia soal... persetujuan dari kamu?"

tanya Maya ragu-ragu.

Irwan menggeleng cepat. "Jangan. Sama sekali jangan." Suaranya mendadak serius. "Ini penting, Maya. Dia nggak boleh tau kalau aku ngasih izin. Dia harus tetep mikir kalau ini... di belakangku."

"Kenapa?" Maya mengerutkan dahi.

"Karena..." Irwan menelan ludah. "Karena itu yang bikin ini... berhasil. Buat dia, buat aku. Kalau dia tau aku setuju, semuanya bakal berubah."

Maya mengangguk pelan, berusaha memahami. "Oke..."

Irwan terdiam sejenak, lalu menatap Maya. "Aku udah mikirin soal Rabu."

"Rabu?" Maya mengangkat alisnya.

"Iya." Irwan menggeser posisi duduknya, menghadap Maya lebih dekat. "Rabu nanti... aku nggak akan pulang."

"Maksudnya?"

"Aku nggak akan pulang sama sekali..." Irwan menggenggam tangan Maya. "Aku sengaja ngasih kalian waktu berdua. Semaleman penuh. Walaupun bukan weekend, dan kamu masih harus kerja, tapi malemnya... rumah ini akan jadi milik kalian berdua."

Maya merasakan sesuatu bergerak di perutnya. Bukan bayinya, tapi sensasi menggelitik yang aneh. "Kamu mau aku ngapain aja sama dia?"

"Apapun yang kalian berdua inginkan," jawab Irwan, matanya menatap Maya intens. "Aku cuma minta satu hal."

"Apa?"

"Ceritakan semuanya ke aku setelahnya. Detail. Nggak usah disensor."

Maya mengangguk pelan, masih berusaha memahami perubahan dinamika ini. "Oke."


Senin pagi, Maya bangun lebih awal. Irwan masih tertidur pulas di sampingnya. Dia menyelinap keluar kamar menuju dapur untuk minum air.

Pak Karyo sudah ada di sana, menyiapkan sarapan.

"Pagi, Bu," sapanya formal, tapi matanya menyiratkan sesuatu yang lain.

"Pagi, Pak," balas Maya, mengambil gelas.

Saat dia berbalik, Pak Karyo sudah berdiri tepat di belakangnya. Maya tersentak, hampir menjatuhkan gelasnya.

"Maaf, Bu," Pak Karyo berkata, tapi tidak mundur. "Saya mau ambil garam."

Maya menyadari dia berdiri di depan rak bumbu. Dia bergeser, tapi Pak Karyo tidak segera mengambil garam. Matanya menatap Maya intens.

"Pak Karyo," Maya berbisik, memastikan suaranya tidak terdengar sampai kamar, "Irwan masih di rumah."

"Saya tau, Bu," bisik Pak Karyo, tapi tetap mendekat, tangannya perlahan menyentuh pinggul Maya. "Tapi saya kangen rasanya nyentuh Ibu."

Maya merasakan gelombang hangat menjalar dari titik di mana tangan kasar Pak Karyo menyentuh pinggulnya. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena takut kepergok, tapi karena ingatan semalam dengan Irwan. "Aku ingin kamu merespons senatural mungkin," kata-kata Irwan terngiang di telinganya. Tapi bagaimana cara merespons 'natural' saat tubuhnya langsung bereaksi seperti ini?

"Mas..." nama itu terselip dari bibirnya tanpa sadar, hampir tak terdengar, namun cukup untuk membuat mata Pak Karyo berkilat penuh kemenangan.

Maya menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Dia nggak mau Pak Karyo terlalu percaya diri terlalu cepat. Biarkan dia berusaha sedikit, biarkan dia merasa harus memenangkan setiap sentuhan. Maya melirik ke arah lorong dengan cemas, lalu kembali menatap Pak Karyo yang kini berdiri begitu dekat hingga dia bisa mencium aroma sabun sederhana bercampur keringat pagi yang entah mengapa terasa begitu... maskulin.

Maya tidak mendorong tangannya menjauh. Alih-alih, tubuhnya justru sedikit condong ke arah sentuhan itu, sebuah pengkhianatan kecil terhadap otaknya yang masih berusaha berpikir jernih. "Kita harus hati-hati," bisiknya, suaranya bergetar halus saat tangan Pak Karyo perlahan bergerak naik, menyusuri lekuk pinggangnya. "Kalau Irwan lagi ada di rumah, kita harus jaga sikap."

Pak Karyo mengangguk, tapi tangannya bukannya berhenti, malah bergerak naik, menyentuh pinggang Maya dan perlahan merambat ke atas. Jemarinya yang kasar menyisakan jejak panas di kulit Maya bahkan melalui lapisan tipis piyamanya. Maya bisa merasakan napasnya sendiri menjadi pendek dan cepat, bibirnya sedikit terbuka tanpa sadar. "Ibu yakin?" tanya Pak Karyo, suaranya rendah dan dalam, terdengar begitu dekat di telinga Maya hingga membuatnya gemetar.

"Pak Karyo," Maya memperingatkan, meski tubuhnya berkhianat—puting di balik piyama tipisnya mengeras, perutnya terasa menggelitik, dan kelembapan mulai terbentuk di antara kedua kakinya. Jemari Maya tanpa sadar mencengkeram pinggiran meja dapur, menahan tubuhnya yang hampir lemas saat tangan Pak Karyo hampir mencapai bagian bawah payudaranya.

Suara langkah kaki dari lorong membuat keduanya tersentak. Maya langsung menegakkan tubuh, mendorong tangan Pak Karyo dengan gerakan panik namun tanpa suara. Jantungnya berdegup liar, campuran antara ketakutan tertangkap basah dan—anehnya—kekecewaan karena momen mereka terganggu. Pak Karyo langsung mundur, berpura-pura sibuk dengan kompor.

Maya cepat-cepat minum airnya, tangannya sedikit gemetar membuat air sedikit tumpah ke dagunya. Dia buru-buru menghapusnya, berusaha menenangkan napasnya yang masih tidak beraturan. Terlalu dekat, pikirnya. Tapi kenapa aku malah kecewa?

Irwan muncul di ambang pintu dapur, rambutnya masih berantakan. "Pagi, semua," sapanya santai, seolah tidak melihat apa-apa.

"Pagi, Wan," balas Maya, berusaha terdengar normal meski jantungnya masih berdebar.

"Selamat pagi, Pak," Pak Karyo membungkuk sopan.

Irwan melirik keduanya bergantian, tatapannya menganalisa. Dia tersenyum tipis sebelum berjalan ke meja makan. "Sarapan sudah siap?"


Di kantor, Maya tidak bisa berkonsentrasi. Ponselnya bergetar dengan pesan masuk:

"Ibu masih kepikiran yang tadi pagi? Saya juga."

Maya menggigit bibir, ragu untuk membalas. Akhirnya dia mengetik:

"Pak Karyo, kita harus lebih hati-hati."

Balasan datang segera:

"Tapi Ibu suka kan? Saya bisa lihat dari gerakan Ibu."

Maya memerah membaca pesan itu. Dia membalas:

"Pak Karyo, saya mohon jangan bicara seperti itu. Saya masih istri Irwan."

Balasannya datang cepat:

"Tapi tubuh Ibu bilang lain tadi. Saya lihat sendiri."

Maya menggigit bibir, jemarinya gemetar di atas layar ponsel. Dia harus menghentikan ini, tapi ada bagian dari dirinya yang tidak ingin berhenti.

"Itu... itu cuma reaksi fisik. Tidak berarti apa-apa."

"Kalau tidak berarti apa-apa, kenapa Ibu masih balas chat saya?"

Maya terdiam, tidak tahu harus membalas apa. Pak Karyo benar - kalau dia benar-benar tidak tertarik, seharusnya dia mengabaikan pesan-pesan ini.

"Saya cuma tidak ingin suasana di rumah jadi canggung," akhirnya Maya membalas, kebohongan yang bahkan tidak meyakinkan dirinya sendiri.

"Jujur aja, Bu. Ibu masih kepikiran, kan? Sama kayak saya."

Maya menarik napas dalam-dalam. Dia seharusnya tidak melanjutkan percakapan ini. Tapi jemarinya bergerak sendiri:

"Kita nggak bisa begini terus. Irwan bisa curiga."

"Tapi Ibu mau, kan? Kalau ada kesempatan..."

Maya menatap layar ponsel lama sekali. Dia bisa saja berbohong, mengatakan tidak. Tapi entah kenapa, dia malah mengetik:

"Entahlah... saya bingung."

Balasan Pak Karyo membuat jantungnya berdebar lebih kencang:

"Kapan Pak Irwan lembur lagi?."

Maya menelan ludah.

Dia menatap layar ponsel lama, jemarinya mengetuk-ngetuk sisi casing. Pertanyaan Pak Karyo menggantung di layar: "Kapan Pak Irwan lembur lagi?"

Sebenarnya ini kesempatan sempurna. Irwan sudah mengatur semuanya untuk hari Rabu—dia sengaja tidak pulang, memberikan Maya dan Pak Karyo waktu berdua seharian. Tapi tentu saja, Pak Karyo tidak boleh tahu kalau ini direncanakan.

Maya menggigit bibir bawahnya, berpikir bagaimana cara merespons. Dia harus terlihat ragu-ragu, tidak terlalu bersemangat. Karena kalau terlalu mudah, Pak Karyo mungkin akan curiga.

"Memangnya kenapa nanya begitu?" Maya akhirnya membalas, memutuskan untuk sedikit menggoda.

Jawaban Pak Karyo datang cepat: "Ya kalau Bapak nggak ada... kita bisa lebih bebas."

Maya tersenyum kecil. Dia suka melihat Pak Karyo berusaha. "Bebas gimana maksudnya?" balasnya, pura-pura tidak mengerti.

"Ibu tau persis maksud saya," balas Pak Karyo. "Kalau Pak Irwan nggak ada, saya bisa kasih Ibu apa yang Ibu mau."

Jantung Maya berdebar lebih cepat membaca pesan itu. Dia membayangkan tangan kasar Pak Karyo di tubuhnya lagi, sentuhan yang membuat tubuhnya bereaksi begitu cepat tadi pagi.

"Memangnya apa yang aku mau?" Maya mengetik, sengaja mengubah 'saya' menjadi 'aku' untuk pertama kalinya dalam percakapan mereka.

"Ibu mau saya sentuh lagi. Sentuh sampai basah seperti tadi pagi."

Suara berat Pak Karyo seakan menggema di telinga Maya meski hanya lewat pesan teks.

"Tapi kali ini nggak cuma sentuh aja, Bu. Saya mau puasin Ibu seperti Sabtu malam itu."

Jeda singkat.

"Masih inget kan, Bu, gimana rasanya? Waktu Ibu teriak-teriak di bawah saya sampai tetangga bisa denger?"

Maya menarik napas tajam. Tubuhnya langsung bereaksi, seolah setiap kata dari Pak Karyo adalah sentuhan langsung ke kulitnya. Keberanian pria itu meningkat pesat—dari sopan dan formal kini menjadi vulgar dan menantang.

Dia menunggu beberapa menit sebelum membalas. Jemarinya gemetar di atas layar ponsel. Maya berpura-pura sibuk dengan dokumen di mejanya, meski sebenarnya hanya ingin membuat Pak Karyo menunggu. Memberinya waktu untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.

Ponselnya bergetar lagi sebelum dia sempat membalas. Pesan baru dari Pak Karyo:

"Ibu sendiri yang bilang waktu itu. Saya masih inget jelas."

Maya menelan ludah.

"Gimana Ibu minta lagi dan lagi. Gimana Ibu teriak kalo Ibu suka."

Jantungnya berdebar makin kencang.

"Gimana Ibu basah banget tiap saya sentuh."

Bibir Maya terasa kering. Dia menelan ludah, mencoba menenangkan tubuhnya yang mulai memanas. Bayangan malam itu kembali menyeruak—bagaimana tubuhnya bereaksi liar terhadap sentuhan Pak Karyo. Bagaimana dia mengeluarkan suara-suara yang bahkan tidak pernah dia tahu bisa keluar dari mulutnya sendiri.

"Aku masih mikir-mikir..." Maya akhirnya membalas, memainkan peran wanita yang ragu-ragu meski sebenarnya keputusan sudah diambil sejak tadi. Jemarinya masih gemetar saat mengetik. Celana dalamnya mulai terasa lembap hanya dari membaca pesan-pesan Pak Karyo.

Balasan datang dengan cepat:

"Ibu nggak perlu mikir-mikir."

Tegas. Menuntut.

"Tubuh Ibu lebih jujur. Saya masih inget gimana Ibu memohon Sabtu malam itu."

Maya merasakan gelenyar panas mengalir ke bagian bawah perutnya.

"'Jangan berhenti, Mas. Terus, Mas.' Sampai Ibu nangis saking enaknya."

Dia menggigit bibir bawahnya keras-keras, berusaha menahan desahan yang hampir lolos.

"Sabtu malam itu Ibu udah jadi milik saya seutuhnya. Dan kita berdua tau, Ibu pengen itu terjadi lagi."

Maya membaca pesan itu berulang kali. Setiap kata mengirim gelombang panas ke seluruh tubuhnya. Ada sesuatu tentang keyakinan Pak Karyo yang membuatnya semakin terangsang—bagaimana dia mengingatkan Maya akan momen-momen intimnya yang paling memalukan sekaligus paling memuaskan. Bagaimana dia dengan percaya diri mengklaim Maya sudah menjadi miliknya.

Dan yang paling mengganggu? Tubuh Maya sendiri membenarkan setiap kata-katanya.

Maya menggigit bibir, merasakan campuran malu dan gairah yang memabukkan. Pesan terakhir Pak Karyo masih terpampang di layar—menantangnya, menggodanya. Sekujur tubuhnya berteriak untuk mengakui bahwa Pak Karyo benar.

Dia memang menginginkannya lagi.

Kenikmatan yang dia rasakan Sabtu malam itu melampaui apapun yang pernah dia alami. Bagaimana Pak Karyo memperlakukannya dengan kasar namun tepat. Bagaimana tangannya yang besar dan kasar menjelajahi setiap inci tubuhnya. Bagaimana dia membuat Maya mencapai puncak berkali-kali hingga suaranya serak karena terlalu banyak menjerit.

Bagaimana dia bisa membuat Maya melakukan hal-hal yang selama ini Maya anggap merendahkan, tapi ternyata justru sangat, sangat memuaskan.

Maya mematikan layar ponselnya lalu menyalakannya lagi. Jantungnya berdebar makin keras. Dia membasahi bibirnya yang kering.

Dia memutuskan sudah cukup bermain-main.

"Rabu... Pak Irwan tidak akan pulang. Ada urusan di luar kota."

Tidak ada balasan untuk beberapa menit. Kemudian:

"Saya akan siapkan sesuatu yang spesial untuk Ibu hari Rabu."

Maya merasakan jantungnya berdebar lebih kencang.


Selasa pagi, rutinitas sarapan terasa berbeda. Irwan sengaja duduk lebih lama di meja makan, memperhatikan interaksi Maya dan Pak Karyo. Maya tampak gugup saat Pak Karyo menuangkan teh untuknya, tangan mereka bersentuhan sekilas.

"Hari ini pulang jam berapa?" tanya Irwan santai.

"Seperti biasa," jawab Maya. "Kenapa?"

"Nggak apa-apa," Irwan tersenyum. "Cuma mau tau aja."

Setelah Irwan berangkat, Pak Karyo langsung menghampiri Maya yang masih duduk di meja makan.

"Ibu belum berangkat?" tanyanya, berdiri sangat dekat.

"Sebentar lagi," Maya menjawab, tidak beranjak.

Pak Karyo duduk di kursi sebelah Maya, tangannya perlahan menyentuh paha Maya di bawah meja. "Masih ada waktu sebentar..."

bisiknya dengan suara berat.

Maya menelan ludah, melirik jam dinding. Dia memang masih punya sekitar lima belas menit sebelum benar-benar harus berangkat. "Pak Karyo..." suaranya bergetar, bukan penolakan, tapi antisipasi.

"Sssst..." Pak Karyo mendekatkan bibirnya ke telinga Maya. "Saya cuma mau nyentuh sebentar," bisiknya, tangannya bergerak lebih tinggi, menyusuri rok kantor Maya perlahan. Jemarinya yang kasar menyisir lembut paha dalam Maya, meninggalkan jejak panas di kulitnya.

"Ah..." Maya mendesah pelan, tubuhnya refleks membuka sedikit kakinya, memberikan akses lebih bagi Pak Karyo. Tangannya mencengkeram pinggiran meja, berusaha menjaga keseimbangan saat sensasi hangat menjalar dari titik sentuhan itu.

Pak Karyo tersenyum melihat reaksi Maya. Tangannya bergerak semakin tinggi hingga menyentuh bagian dalam paha Maya yang sudah mulai basah.

"Mmh..." Maya mengerang tertahan, bibirnya setengah terbuka. Matanya terpejam sejenak saat tangan besar Pak Karyo akhirnya menyentuh celana dalamnya. "Ya Tuhan..." bisiknya.

"Duh, Bu..." Pak Karyo mengerang pelan, merasakan kelembapan yang sudah merembes ke kain tipis. "Gini aja udah basah banget," jari-jarinya dengan lembut mengusap area sensitif Maya dari luar celana dalam.

"Ahh... Mas..." nama itu terselip begitu saja dari bibir Maya, napasnya semakin cepat.

Mendengar panggilan itu, Pak Karyo semakin berani. Dia menarik kursinya lebih dekat, tangan kirinya melingkar di pinggang Maya sementara tangan kanannya masih aktif di bawah meja. "Sini, Dik," bisiknya seduktif, menarik Maya untuk menghadapnya.

Maya menurut, tubuhnya berputar menghadap Pak Karyo. Dalam sekejap, bibir mereka bertemu. Awalnya hanya kecupan ringan, namun segera berubah menjadi ciuman dalam yang basah. "Mmmh..." Maya mendesah dalam ciuman mereka, tangannya tanpa sadar melingkar di leher Pak Karyo.

Sementara bibir mereka bertaut, jemari Pak Karyo dengan cekatan menyingkap rok Maya lebih tinggi, kemudian menyusup ke balik celana dalamnya. "Ssshh... Basah banget," bisiknya, menemukan titik sensitif Maya yang sudah mengeras.

"Ahh! M-Mas..." Maya terkesiap, pinggulnya bergerak tanpa sadar, mencari sentuhan lebih dari jari-jari terampil Pak Karyo. Tubuhnya bergetar saat jari telunjuk dan tengah Pak Karyo mulai membelai klitorisnya dengan gerakan memutar perlahan.

"Enak, Dik?" bisik Pak Karyo tepat di telinga Maya, lidahnya menjilat sekilas daun telinga Maya, membuat wanita itu menggigil.

"I-iya... enak banget..." Maya mendesah, tangannya mencengkeram bahu Pak Karyo saat sensasi menggelitik mulai membangun di pusatnya. "T-tapi... kantor..."

"Masih ada waktu," Pak Karyo meyakinkan, jarinya kini bergerak lebih cepat, membuat lingkaran-lingkaran kecil pada titik paling sensitif Maya. "Saya bisa bikin Ibu keluar dalam dua menit," bisiknya percaya diri.

"Aahh! Ah! Mas... Ah!" desahan Maya semakin keras saat Pak Karyo menyelipkan satu jari ke dalam lipatannya yang basah sambil terus memainkan klitorisnya dengan ibu jari. "Oh! Ya Tuhan..."

Pak Karyo menambahkan jari kedua, gerakan keluar-masuk yang semakin cepat membuat Maya terengah-engah. "Udah deket ya?" bisiknya, merasakan dinding Maya mulai berdenyut di sekitar jarinya.

"I-iya... iya... oh..." Maya menutup matanya rapat-rapat, kepalanya terkulai di bahu Pak Karyo saat gelombang kenikmatan mulai membangun. "Mas... Mas Karyo... aku mau..."

"Keluarin aja, Dik," Pak Karyo mendorong, jarinya bergerak semakin cepat dan dalam. "Ayo, keluarin buat Mas..."

"Ahh! Ahhhh!" Maya menggigit bahu Pak Karyo untuk meredam jeritannya saat orgasme menerjang tubuhnya. Pinggulnya bergerak liar di atas jari Pak Karyo, tubuhnya gemetar hebat. "Mmmmhh! Mmm!"

Pak Karyo terus memainkan jarinya, memperpanjang kenikmatan Maya hingga wanita itu lemas di pelukannya. "Udah ya?" bisiknya lembut, perlahan menarik jarinya keluar.

Maya terengah-engah, tubuhnya masih bergetar dengan sisa-sisa orgasme. "Ya Tuhan..." bisiknya, menatap Pak Karyo dengan mata sayu. "Aku bisa telat nih."

Pak Karyo tersenyum, membawa jarinya yang basah ke mulutnya dan menjilat cairan Maya dengan sensual. "Mmm... manis," gumamnya, membuat wajah Maya memerah. "Besok masih banyak waktu, Bu," bisiknya menggoda.

Maya menelan ludah, merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar. Dia bisa merasakan celana dalamnya yang sangat basah, menjadi pengingat akan apa yang baru saja terjadi. "Pak Karyo, kita nggak seharusnya—"

"Ssst," Pak Karyo menyela lembut, mengecup singkat bibir Maya. "Besok lebih lama, ya?"

Maya tidak bisa menahan senyumnya, meski campuran rasa bersalah dan antisipasi bergejolak dalam dirinya. "Aku harus siap-siap," bisiknya, beranjak dari kursi dengan kaki masih gemetar.

"Gini aja udah banjir," bisik Pak Karyo. "Gimana besok..."

Maya memejamkan mata, membiarkan sensasi itu menguasainya sejenak sebelum dengan berat hati mendorong tangan Pak Karyo. "Saya harus berangkat kerja," bisiknya, meski enggan.

Pak Karyo tersenyum puas. "Besok kita punya banyak waktu."

bersmabung


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com