Di rumah, Maya duduk di meja makan dengan canggung. Pak Karyo baru saja menyajikan hidangan yang tampak luar biasa—salmon panggang dengan saus lemon, salad segar, dan sup krim asparagus yang aromanya membuat air liur Maya menetes.
"Ini... kelihatan enak banget, Pak," Maya memuji, terkejut dengan kemampuan kuliner Pak Karyo yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya. "Kapan Pak Karyo belajar masak seperti ini?"
Pak Karyo tersenyum, menuangkan air putih ke gelas Maya. "Saya pernah kerja di restoran dulu, Bu. Sebelum jadi sopir dan akhirnya kerja di sini."
"Wah, aku nggak pernah tau," Maya mengakui, sengaja menggunakan 'aku' alih-alih 'saya' untuk menciptakan kedekatan.
"Ada banyak hal yang Ibu belum tau tentang saya," Pak Karyo menjawab dengan senyum misterius. "Tapi kita punya waktu... untuk saling mengenal lebih baik."
Maya menyuap salmon ke mulutnya, menahan desahan nikmat saat rasa lemon dan rempah lembut menyapa lidahnya. "Mmm, ini enak banget."
"Salmon bagus untuk ibu hamil," Pak Karyo menjelaskan, masih berdiri di samping meja. "Banyak omega yang baik untuk perkembangan otak bayi."
Maya menatap Pak Karyo. "Pak Karyo nggak makan?"
"Saya sudah makan di dapur tadi, Bu."
"Ayolah," Maya menepuk kursi di sampingnya. "Duduk di sini. Rasanya aneh makan sendirian sementara Pak Karyo cuma berdiri ngeliatin."
Pak Karyo ragu sejenak—ini adalah pelanggaran batas lain dalam hubungan majikan-pembantu mereka. Tapi akhirnya dia duduk di kursi yang ditunjuk Maya.
"Pak Karyo tau banyak ya soal makanan untuk ibu hamil?" tanya Maya, melanjutkan makannya.
"Seperti yang saya bilang kemarin, saya punya pengalaman... lima kali," Pak Karyo tersenyum. "Dan dalam budaya Jawa, ada banyak pantangan dan anjuran untuk ibu hamil."
"Misalnya?" Maya bertanya, tiba-tiba tertarik.
"Salah satunya, ibu hamil harus makan makanan yang... membuat senang," Pak Karyo menjelaskan, matanya bertemu dengan Maya. "Apa pun yang bikin ibu hamil bahagia, harus dipenuhi."
"Apa pun?" Maya mengangkat alisnya, menangkap makna tersembunyi dalam kata-kata itu.
"Apa pun, Bu," Pak Karyo menegaskan. "Bayi bisa merasakan kebahagiaan ibunya. Kalau ibunya puas... bayinya juga sehat."
Maya menelan ludah, mengerti persis "kepuasan" apa yang dimaksud. "Apa lagi yang Pak Karyo tau tentang... trimester kedua?"
Pak Karyo tersenyum, matanya berkilat penuh pengetahuan. "Banyak hal berubah di trimester kedua, Bu. Energi kembali. Mual berkurang. Dan..." dia berhenti sejenak, "hasrat tertentu... meningkat."
"Hasrat tertentu?" Maya bertanya, pura-pura tidak mengerti meski pipinya mulai merona.
"Di desa, istri-istri hamil tu badan jadi lebih napsu," Pak Karyo berbicara terus terang. "Istri saya dulu, waktu hamil anak kedua, tiap malem minta ngewe. Nggak pernah kayak gitu sebelumnya."
Maya hampir tersedak minumannya. "Napsu gimana maksudnya, Pak?"
"Ya napsu pengen ditusuk, Bu," Pak Karyo menjawab langsung, suaranya turun lebih rendah. "Tiap malem minta dimasukin. Kadang sampe tiga kali sehari nggak puas-puas."
Maya merasakan pipinya memanas dan bagian bawah perutnya mulai berdenyut. "Dan itu... aman buat bayinya?"
"Ya aman lah, Bu," Pak Karyo menjawab mantap. "Wong di desa semua orang hamil tetep berhubungan badan. Lahirannya juga lancar-lancar aja. Malah katanya bikin jalan lahir lebih licin."
Maya menggigit bibirnya. "Terus... posisinya gimana?"
Pak Karyo menggaruk lehernya. "Ya nggak nindih perut, Bu. Biasanya dari... belakang. Enak, bisa masukin dalem-dalem."
"Dari belakang?" Maya mendorong, kini sepenuhnya melupakan makanannya.
"Iya, Bu. Atau Bu Maya di atas," Pak Karyo menjawab, matanya kini terang-terangan menatap tubuh Maya. "Istri saya dulu paling suka nungging. Katanya lebih kerasa sampe ujungnya."
Maya menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdebar kencang mendengar penjelasan vulgar Pak Karyo.
"Apa bayinya... bisa ngerasain?" Maya bertanya, suaranya hampir berbisik.
Mata Pak Karyo berkilat. "Nggak lah, Bu. Dia aman di dalam. Paling cuma kerasa goyang-goyang dikit."
"Goyang-goyang?"
"Kaya ditimang-timang," Pak Karyo menjelaskan dengan gerakan tangan yang menggambarkan. "Istri saya dulu bilang, habis dientot, bayinya malah tenang. Kayak abis dipuasin barengan ibunya."
"Pak Karyo," Maya berkata perlahan, meletakkan garpunya. "Saya... saya mau tanya sesuatu."
"Silakan, Bu," Pak Karyo mengangguk.
Maya merasakan tatapan Pak Karyo yang semakin intens. Tanpa sadar, jari-jarinya menyisir rambut ke belakang telinga, mengekspos lehernya yang jenjang. Gerakan sederhana yang entah bagaimana terasa intim.
Sambil menyesap tehnya perlahan, Maya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Kimononya bergeser sedikit, menampakkan lekuk bahunya yang halus. Matanya menangkap tatapan Pak Karyo yang sekilas menjelajahi tubuhnya sebelum pria itu cepat-cepat mengembalikan pandangannya ke wajah Maya.
Suasana di antara mereka berubah, menjadi lebih berat, lebih panas. Maya merasa jantungnya berdetak lebih cepat saat Pak Karyo bergeser sedikit mendekat.
"Bu Maya," ucap Pak Karyo, suaranya lebih rendah dari biasanya, "teh herbal ini... bisa membantu Ibu merasa lebih... nyaman."
Maya menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. "Terimakasih, Pak," bisiknya, suaranya tak lebih dari hembusan napas. Jemarinya perlahan memainkan tepian cangkir, gerakan melingkar yang mengirimkan sinyal tak terucap.
Tangan Pak Karyo bergerak perlahan di atas meja, hampir menyentuh jari-jari Maya. Maya mengamati tangan kasar itu—tangan yang sudah menyentuh hampir seluruh tubuhnya selama seminggu terakhir.
"Makan malamnya enak banget, Pak," ucap Maya pelan, menyesap tehnya.
Pak Karyo tersenyum tipis. "Syukur kalau Ibu suka."
Maya beranjak mengambil piring bekas makannya, sengaja berjalan melewati sisi Pak Karyo. Aroma tubuh pria itu—sabun sederhana dan keringat samar—entah kenapa selalu membuatnya nyaman, tidak seperti parfum Irwan yang kini memicu mualnya.
Di wastafel, Maya merasakan kehadiran Pak Karyo di belakangnya. Tubuhnya refleks menegang.
"Bu," suara Pak Karyo rendah di belakangnya. "Boleh saya bantu?"
Tanpa menunggu jawaban, tangannya sudah melingkari pinggang Maya, mengambil piring dari tangannya. Tubuh mereka kini begitu dekat, punggung Maya nyaris menempel di dada bidang Pak Karyo.
"Mmh," Maya menggumam pelan, tidak menolak kedekatan ini.
Tangan Pak Karyo meletakkan piring di wastafel, tapi tidak kembali ke sisinya sendiri. Alih-alih, tangannya kini dengan lembut menyentuh sisi pinggang Maya.
"Bu Maya..." bisiknya, napasnya hangat di tengkuk Maya.
Maya menggigit bibir. "Pak Karyo, kita..."
"Kita udah seminggu nahan diri," potong Pak Karyo, suaranya masih pelan tapi mengandung urgensi tersembunyi. "Dokter udah ngasih izin, kan?"
Maya mengangguk samar, tubuhnya bergerak sedikit, tidak sengaja menggesek bagian depan celana Pak Karyo.
"Nngh," Pak Karyo mendesis, tangannya kini bergerak ke perut Maya, lembut mengelus bagian yang mulai membuncit. "Saya pengen... nyentuh Ibu lagi."
Maya merasakan panas menjalar di pipinya. Seminggu terakhir, mereka memang sudah melakukan banyak hal—sentuhan, rabaan, bahkan oral seks—tapi selalu dengan batasan tidak ada penetrasi. Dokter baru kemarin memberi izin untuk hubungan lengkap.
"Lantainya dingin," bisik Maya, tangannya tanpa sadar menyentuh tangan Pak Karyo di perutnya.
Pak Karyo memahami isyarat itu. Dengan gerakan lambat, dia membalikkan tubuh Maya hingga mereka berhadapan. Tatapan mereka bertemu—mata Maya yang berkabut dan mata Pak Karyo yang pekat oleh hasrat.
Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang awalnya ragu, lalu semakin dalam. Maya mendesah pelan saat lidah Pak Karyo bertemu dengan lidahnya.
"Mmmh..." Maya menggerakkan pinggulnya tanpa sadar, menggesek ereksi Pak Karyo yang terasa jelas di balik celananya.
Tangan Pak Karyo bergerak turun, meremas bokong Maya dengan lembut tapi tegas. "Bu..." bisiknya di sela ciuman mereka, "kita butuh tempat yang lebih nyaman."
Maya terengah, matanya setengah terpejam. Dia tahu mereka tidak bisa melakukannya di dapur—tidak untuk pertama kalinya setelah mendapat izin dokter. Dia melepaskan diri dari pelukan Pak Karyo, mundur selangkah.
Pak Karyo mengamatinya dengan tatapan bertanya. Tanpa kata-kata, Maya berbalik dan berjalan menuju tangga. Dia tidak menoleh, tapi langkahnya yang perlahan adalah undangan tak terucap.
Pak Karyo mengikutinya dalam diam, menjaga jarak beberapa langkah. Di tengah tangga, tangan Maya sedikit gemetar memegang pegangan. Pak Karyo berhenti, memberinya ruang untuk berubah pikiran, tapi Maya melanjutkan langkahnya.
Di depan pintu kamar utama, langkah Maya melambat. Dia menyentuh gagang pintu, ragu sejenak. Ini kamarnya dengan Irwan—tempat yang selama ini menjadi batas terlarang untuk interaksinya dengan Pak Karyo.
Merasakan keraguan Maya, Pak Karyo berbisik, "Kita bisa ke tempat lain kalau Ibu mau."
Maya menggeleng pelan. Dia mendorong pintu hingga terbuka, melangkah masuk. Pak Karyo mengikuti, menutup pintu di belakang mereka.
Dalam cahaya temaram kamar utama, mereka berdiri berhadapan. Tangan Pak Karyo terangkat, menyentuh sisi wajah Maya dengan kelembutan yang kontras dengan kekasaran kulitnya.
"Saya akan pelan-pelan," janjinya, ibu jarinya mengusap bibir bawah Maya.
Maya mengangguk, membiarkan kimononya tersingkap saat tangan Pak Karyo menyusup masuk, menyentuh dadanya yang membesar. Desahan pelan lolos dari bibirnya.
"Ahh..."
Pak Karyo membungkuk, bibirnya kini menelusuri leher Maya, turun ke tulang selangkanya. Tangannya menyelinap ke belakang, menyentuh tali kamisol Maya.
"Boleh?" tanyanya, matanya menatap Maya.
Maya mengangkat tangannya, menghentikan Pak Karyo. "Kita... pelan-pelan aja ya, Pak," bisiknya. "Aku masih... nggak yakin..."
Pak Karyo mengangguk, tangannya kembali ke sisi tubuh Maya. "Kita nggak perlu buru-buru," ucapnya pengertian. "Saya cuma mau nyentuh Ibu lagi. Udah kangen banget."
Maya tersenyum tipis, tangannya kini berani menyentuh dada Pak Karyo, merasakan otot-otot keras di balik kemejanya. "Kita punya waktu," bisiknya.
Pak Karyo mengangguk, tangannya kembali bergerak, kali ini ke paha Maya, menyusup di bawah kimononya. "Kita punya semalem penuh," bisiknya, jarinya menelusuri kulit halus paha dalam Maya.
"Mmmh," Maya mendesah saat jari Pak Karyo menemukan celana dalamnya yang sudah basah. "Pak..."
"Cuma nyentuh," Pak Karyo meyakinkan, jarinya mengusap lembut area sensitif Maya dari luar kain tipis. "Pengen bikin Ibu enak dulu."
Maya mengangguk, lututnya mulai lemas merasakan sentuhan Pak Karyo. Tangannya mencengkeram kemeja pria itu, kepalanya bersandar di dadanya.
"Ke... ke tempat tidur," bisik Maya di antara desahan tertahan. "Nggak kuat berdiri..."
Pak Karyo tersenyum, dengan lembut menuntun Maya ke tepi tempat tidur. Ranjang besar itu—tempat tidur Maya dan Irwan—kini menjadi saksi bisu hubungan terlarang mereka.
Saat Maya duduk di tepi tempat tidur, Pak Karyo berlutut di depannya. Tangannya dengan hati-hati membuka kimono Maya lebih lebar, mengekspos paha mulusnya.
"Cantik banget," bisiknya, mencium bagian dalam lutut Maya.
Maya memejamkan mata, jantungnya berdebar kencang. Kepalanya penuh pertanyaan—apakah ini benar? apakah mereka sudah terlalu jauh?—tapi tubuhnya memiliki jawaban sendiri. Dia membuka kakinya sedikit lebih lebar, memberikan akses lebih pada Pak Karyo.
Pak Karyo memahami undangan itu. Tangannya bergerak ke atas, jemarinya menyusup ke sisi celana dalam Maya, menariknya perlahan.
"Boleh?" tanyanya lagi, matanya menatap Maya.
Maya menelan ludah, menatap balik mata Pak Karyo yang dipenuhi hasrat dan... sesuatu yang lebih dalam. Perlahan, dia mengangguk.
Malam baru saja dimulai untuk mereka berdua.
Jari-jari Pak Karyo bergerak perlahan menarik celana dalam Maya. Kain tipis itu melewati pahanya yang mulus, turun ke betis, hingga akhirnya terlepas sepenuhnya, meninggalkan Maya dalam keadaan setengah telanjang di tepi tempat tidur. Tatapan Pak Karyo menggelap saat melihat area paling intim Maya yang kini terbuka untuknya.
"Ibu cantik banget," bisiknya, suaranya serak oleh hasrat yang tertahan.
Maya merasakan pipinya memanas. Meski ini bukan pertama kali Pak Karyo melihatnya dalam keadaan intim, ada sesuatu yang berbeda malam ini. Mungkin karena mereka berada di kamar utama—wilayah sakral pernikahannya dengan Irwan. Mungkin karena bayi dalam rahimnya yang telah membuatnya resmi menjadi ibu. Atau mungkin karena kini, dengan izin dokter, tidak ada lagi batasan yang menahan mereka.
"Pak..." Maya berbisik, tubuhnya gemetar saat Pak Karyo menelusuri bagian dalam pahanya dengan sentuhan lembut.
Tangan kasar Pak Karyo kontras dengan kelembutan sentuhannya. Jari-jarinya bergerak dengan keyakinan seorang pria yang telah mengenal banyak wanita, namun dengan kehati-hatian seorang yang mengerti kondisi khusus Maya. Bibirnya mengikuti jalur tangannya, mengecup perlahan dari lutut Maya, naik ke paha dalamnya, mengirimkan gelenyar hangat ke seluruh tubuhnya.
"Boleh?" tanya Pak Karyo lagi, matanya menatap ke atas, mencari konfirmasi sebelum melangkah lebih jauh.
Maya menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. Apa yang kita lakukan? Ini kamar aku dan Irwan. Ini lebih dari sekadar program. Namun tubuhnya berkata lain, bergerak tanpa perintah, membuka kakinya lebih lebar sebagai jawaban.
Pak Karyo mengerti isyarat itu. Dengan perlahan, dia mendekatkan wajahnya ke area paling sensitif Maya, napasnya hangat menyapu kulit telanjangnya. Maya memejamkan mata, mencengkeram seprai saat merasakan sentuhan pertama lidah Pak Karyo.
"Ahh..." desahnya pelan, tubuhnya melengkung.
Kenapa rasanya lebih intens dari biasanya? Maya bertanya dalam hati. Setiap sentuhan terasa berlipat ganda intensitasnya, seolah seluruh sarafnya telah diprogram ulang untuk merasakan kesenangan yang lebih dalam.
"Mmm... manisnya beda," gumam Pak Karyo di antara kegiatannya. "Lebih... manis sekarang."
Maya terkesiap mendengar komentar vulgar itu. Dia tidak pernah membayangkan akan mendengar kata-kata seperti itu di kamar utamanya, dari mulut pembantunya. Tapi alih-alih merasa terhina, tubuhnya bereaksi dengan gelombang gairah yang mengejutkan.
Lidah Pak Karyo bergerak dengan keahlian yang membuat Maya tersentak. Tangannya tanpa sadar meraih kepala Pak Karyo, jari-jarinya mencengkeram rambut pria itu, menahannya tetap di posisi.
"Oh... ya... di situ..." Maya berbisik, suaranya tak lagi terdengar seperti miliknya sendiri.
Pak Karyo menggeram pelan, suara yang lebih mirip predator daripada pembantu rumah tangga yang biasanya patuh. Tangannya naik, menyentuh perut Maya yang mulai membuncit, sebelum bergerak lebih tinggi, menyusup ke dalam kimononya untuk meremas payudaranya.
Maya mendesah keras saat jari dan lidah Pak Karyo bekerja secara simultan, membawanya ke tepi jurang kenikmatan dengan cepat. Rasanya berbeda—lebih intens, lebih dalam. Apa karena kehamilan? pikirnya samar. Atau karena kami akhirnya berada di ranjangku sendiri?
"Pak... aku... aku mau..." Maya tak mampu menyelesaikan kalimatnya, desahan mengambil alih kata-katanya.
"Keluar aja, Bu," Pak Karyo berbisik di antara kegiatannya. "Biarkan tubuh Ibu nikmatin ini."
Kata-kata itu menjadi pemicu terakhir. Maya merasakan tubuhnya menegang, punggungnya melengkung, dan gelombang kenikmatan melandanya dengan intensitas yang membuatnya terkejut. Desahannya bergema di kamar, lebih keras dari yang pernah dia keluarkan.
"Ahhh! Ya Tuhan... ahh!"
Pak Karyo tidak berhenti, lidahnya terus bergerak selama orgasme Maya, memperpanjang sensasi hingga Maya harus mendorong kepalanya menjauh karena terlalu sensitif.
"Stop... stop dulu..." Maya terengah, tubuhnya masih bergetar.
Pak Karyo mendongak, wajahnya basah dan mata yang dipenuhi kebanggaan. "Enak, Bu?" tanyanya dengan senyum yang hampir arogan.
Maya hanya bisa mengangguk, masih berusaha mengatur napasnya. Dengan gerakan lembut namun tegas, Pak Karyo mendorong bahunya, membimbingnya untuk berbaring sepenuhnya di ranjang. Maya tidak menolak, membiarkan tubuhnya tenggelam di kasur yang biasa dia berbagi dengan Irwan.
Pak Karyo berdiri, menatap Maya yang terbaring dengan kimono terbuka di ranjang besar itu. Tangannya bergerak ke kancing kemejanya sendiri, mulai membukanya satu per satu dengan perlahan.
"Ibu udah siap kan?" tanyanya sekali lagi, memberikan kesempatan terakhir bagi Maya untuk menghentikan semua ini.
Dalam hati, Maya tahu inilah saat keputusan final. Jika mereka melangkah lebih jauh malam ini, tidak ada lagi pura-pura bahwa ini "hanya program kehamilan." Ini akan menjadi pengkhianatan sepenuhnya—atau setidaknya, akan tampak seperti itu bagi Pak Karyo yang tidak tahu bahwa Irwan menyetujui semua ini.
Tapi Irwan memang mengizinkan. Dia bahkan memasang kamera untuk menyaksikan semua ini. Pikiran itu membuat Maya menoleh sekilas ke sudut kamar, ke arah lemari tempat dia tahu salah satu kamera tersembunyi dipasang.
"Bu?" Pak Karyo menunggu jawabannya, tangannya berhenti di kancing ketiga.
Maya menarik napas dalam, lalu mengangguk. "Iya, Pak. Aku siap."
Mengambil jeda dramatis, Pak Karyo membuka sisa kancing kemejanya, membiarkannya jatuh ke lantai. Tubuhnya yang berotot—hasil bertahun-tahun kerja fisik—terekspos sepenuhnya. Tidak ada lemak berlebih, hanya otot-otot keras yang terpahat sempurna meski usianya sudah lebih dari lima puluh tahun.
Maya menelan ludah. Kontras antara tubuh Pak Karyo dan tubuh Irwan selalu mengejutkannya. Irwan, dengan gaya hidup perkantoran dan olahraga sesekali di gym, memiliki tubuh yang baik tapi lebih lembut. Pak Karyo adalah definisi dari kekuatan mentah dan ketangguhan.
"Ibu suka?" tanya Pak Karyo, menangkap tatapan Maya yang mengamati tubuhnya.
Maya mengangguk tanpa sadar. "Pak Karyo... fit banget."
"Kerja keras, Bu," Pak Karyo tersenyum, tangannya kini bergerak ke ikat pinggangnya. "Bukan dari gym yang mahal."
Sindiran halus itu membuat Maya tersenyum. Pak Karyo membuka ikat pinggangnya, lalu melepas celananya, hingga kini hanya mengenakan celana dalam yang tidak bisa menyembunyikan ereksinya yang besar.
Maya menelan ludah lagi, matanya terpaku pada tonjolan itu. Dia sudah merasakannya sebelumnya, tapi malam ini akan berbeda. Malam ini akan ada penetrasi penuh, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak dia tahu kehamilannya.
Pak Karyo merangkak ke ranjang, tubuhnya yang besar menaungi Maya. Wajahnya yang kecoklatan oleh matahari kontras dengan kulit putih Maya. Dia membungkuk, bibirnya bertemu dengan bibir Maya dalam ciuman yang jauh lebih lembut dari yang Maya perkirakan.
"Ibu cantik banget," bisiknya di sela ciuman. "Hamil bikin Ibu makin cantik."
Maya tersipu, tangannya refleks bergerak ke perutnya yang mulai membuncit. Pak Karyo mengikuti gerakan itu, tangannya menutupi tangan Maya di atas perut.
"Anak kita tumbuh sehat di sini," bisiknya, suaranya penuh kelembutan yang mengejutkan.
Anak kita. Kata-kata itu mengirimkan sensasi aneh ke dada Maya. Secara teknis, Pak Karyo benar—secara biologis, ini memang anaknya. Tapi mendengarnya diucapkan dengan keyakinan seperti itu, membuat Maya merasakan sesuatu yang kompleks.
"Pak," Maya berbisik, tidak yakin harus merespons bagaimana.
"Ssh," Pak Karyo menempelkan jarinya di bibir Maya. "Malam ini, jangan panggil saya 'Pak'. Rasanya aneh."
Maya mengerjap. "Terus... harus manggil apa?"
"Karyo aja," jawabnya, matanya menatap langsung ke mata Maya. "Atau... terserah Ibu."
Ada undangan tersembunyi dalam kata-kata itu, dorongan halus untuk memanggil dengan nama yang lebih intim. Maya menggelengkan kepala perlahan.
"Karyo," ucapnya, mencoba nama itu tanpa embel-embel formal. Terasa aneh di lidahnya setelah bertahun-tahun memanggilnya "Pak Karyo."
Pak Karyo tersenyum, tangannya kembali bergerak, kini membuka kimono Maya sepenuhnya. Maya membiarkannya, teringat bahwa Irwan sedang menyaksikan semua ini melalui kamera. Aku melakukan ini untuk Irwan juga, pikirnya, mencari pembenaran meski tubuhnya jelas tidak membutuhkan pembenaran apa pun.
Dengan gerakan lembut, Pak Karyo menarik kamisol tipis Maya ke atas, mengekspos dadanya yang membesar akibat kehamilan. Dia mendesah pelan melihat pemandangan itu.
"Dadanya... lebih besar ya sekarang," komentarnya, tangan kasarnya mengelus bagian samping payudara Maya.
"Efek kehamilan," Maya menjawab singkat, merasakan sensitivitas baru di area tersebut.
Pak Karyo membungkuk, bibirnya menangkap puting Maya, mengirimkan gelenyar tajam ke seluruh tubuhnya. Maya mengerang, punggungnya melengkung refleks.
"Ahh!"
"Sensitif ya?" Pak Karyo berbisik, lidahnya bermain dengan puting Maya yang mengeras. "Ini juga karena hamil?"
"I-iya," Maya tergagap. "Dokter bilang... ahh... semua jadi lebih sensitif."
Pak Karyo tersenyum di antara kegiatannya. "Bagus. Jadi Ibu bisa lebih nikmatin malem ini."
Tangannya yang lain bergerak turun, kembali menemukan area sensitif di antara kaki Maya. Dengan keahlian yang mengejutkan, jarinya menemukan titik yang tepat, membuat Maya mendesah lebih keras.
"Ya di situ... ahh..."
"Ibu Maya udah basah banget," bisik Pak Karyo, suaranya penuh kekaguman. "Tubuh Ibu emang siap banget ya buat dimasukin."
Kata-kata vulgar itu, alih-alih membuat Maya risih, justru meningkatkan gairahnya. Ini jauh berbeda dari percakapan ranjangnya dengan Irwan yang selalu halus dan terjaga. Ada sesuatu yang membebaskan dalam keterbukaan Pak Karyo—kekasaran yang terasa jujur dan tanpa pretense.
"Buka semuanya," ucap Maya, mendadak berani. Tangannya menarik sisa pakaian Pak Karyo, tak sabar.
Pak Karyo menurut, melepaskan celana dalamnya dalam satu gerakan cepat. Ereksinya yang besar kini terekspos sepenuhnya, membuat Maya menelan ludah. Benar-benar berbeda dengan Irwan, pikirnya tanpa sadar.
"Ibu mau... nyentuh?" tanya Pak Karyo, suaranya serak oleh hasrat.
Maya mengangguk, tangannya terangkat ragu sebelum akhirnya melingkari batang keras itu. Pak Karyo mendesis, matanya terpejam sejenak menikmati sentuhan halus Maya.
"Kamu..." ucap Maya, tanpa sadar menggunakan 'kamu' alih-alih 'Pak' atau 'Karyo', "kamu yakin ini aman buat... bayinya?"
Pak Karyo menatapnya dengan kelembutan yang mengejutkan. "Saya yakin, Bu. Saya udah lima kali jadi bapak. Saya tau gimana... memperlakukan ibu hamil."
Ada keyakinan dalam suaranya yang menenangkan Maya. Dia memang berpengalaman, pikirnya. Dia bukan hanya tahu cara memuaskan wanita, tapi juga cara memuaskan wanita hamil.
Tiba-tiba Maya teringat fakta yang selama ini tidak terlalu dia pikirkan—Pak Karyo telah mengalami lima kehamilan dengan dua istri berbeda. Dia telah melihat, menyentuh, dan memuaskan tubuh hamil sebelumnya. Apa yang bagi Maya dan Irwan adalah pengalaman pertama yang menakutkan, bagi Pak Karyo adalah wilayah yang sangat familiar.
Seolah membaca pikirannya, Pak Karyo berkata lembut, "Ibu nggak perlu khawatir. Tubuh hamil itu indah, dan saya tau cara... membuatnya merasa lebih indah lagi."
Maya merasakan sensasi aneh—campuran rasa aman dan terangsang mendengar pengalaman Pak Karyo. Aku berada di tangan yang berpengalaman, pikirnya. Dia tau persis apa yang dilakukannya.
"Posisi yang paling aman," Pak Karyo melanjutkan, tangannya kini dengan lembut membantu Maya berbaring miring, "adalah dari samping seperti ini."
Dengan gerakan terlatih, Pak Karyo memposisikan tubuh Maya miring ke kiri, meletakkan bantal di bawah perutnya untuk dukungan. "Begini nyaman, Bu?"
Maya mengangguk, terkejut oleh efisiensi dan pengetahuan Pak Karyo tentang posisi ideal untuk wanita hamil. Berapa kali dia melakukan ini dengan istri-istrinya dulu? Maya bertanya-tanya.
"Atau," Pak Karyo berbisik di telinganya sambil berbaring di belakang Maya, dadanya menekan punggung Maya, "Ibu bisa di atas, mengontrol dalamnya."
Maya menggigit bibir. "Samping dulu... pelan-pelan."
Pak Karyo mengangguk, mencium lembut tengkuk Maya. Tangannya menelusuri tubuh Maya, memastikan setiap bagian mendapat perhatian. Maya merasakan ereksi keras Pak Karyo menekan bagian belakang tubuhnya.
"Mmmh..." Maya mendesah saat tangan Pak Karyo kembali menemukan area sensitifnya. "Karyo..."
"Saya di sini," bisik Pak Karyo. "Saya akan jaga Ibu... dan bayi kita."
Kata-kata itu membuat Maya membeku sejenak. Bayi kita. Terdengar begitu salah namun juga begitu benar. Secara biologis, memang benar itu bayi mereka. Tapi mendengar Pak Karyo mengklaimnya secara verbal, menciptakan gelombang kompleks dalam diri Maya.
"Pak—" Maya mulai protes, tapi kata-katanya terhenti saat merasakan Pak Karyo mulai mendorong masuk perlahan.
"Ahhh..." Maya tersentak, merasakan tubuhnya terbuka untuk Pak Karyo setelah berminggu-minggu hanya berhenti di foreplay. Sensasinya berbeda—lebih intens, lebih dalam. Apakah ini karena kehamilan? Apakah tubuhku memang lebih sensitif sekarang?
"Oke, Bu?" tanya Pak Karyo, berhenti sejenak, memberikan waktu bagi Maya untuk beradaptasi.
"Iya... lanjutin..." Maya berbisik, jarinya mencengkeram seprai.
