𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟐𝟏

Maya terbaring lemas di ranjang, tubuhnya masih gemetar dari ronde terakhir yang baru saja mereka selesaikan. Keringat membuat lingerie hitamnya menempel pada kulitnya seperti lapisan kedua, kusut dan berantakan setelah bergumul berjam-jam. Sesi mereka jauh lebih intens dari pertemuan di hotel—kali ini tanpa pengaruh Valium, dengan kesadaran penuh, membuat setiap sensasi terasa begitu nyata dan mentah.

"Ya ampun..." Maya berbisik terengah, matanya setengah terpejam menatap langit-langit. Sudah berapa kali dia klimaks? Dia kehilangan hitungan. Tubuhnya terasa lemah namun puas, perutnya masih terasa hangat oleh benih Pak Karyo yang berhasil dia tampung dalam-dalam.

Pak Karyo bangkit ke posisi duduk, mengamati Maya yang masih terengah-engah. Tubuh kekarnya yang kuat tampak berkilau oleh keringat, otot-otot perutnya yang keras terlihat jelas di bawah sinar lampu kamar. Berbeda dari Irwan yang biasanya langsung tertidur setelah satu kali klimaks, Pak Karyo masih terlihat penuh energi meski sudah berkali-kali memenuhi Maya dengan benihnya.

"Udah berapa kali ini?" Maya bertanya lemah, masih berusaha mengatur napasnya.

"Baru dua kali, Bu," Pak Karyo menjawab, bibirnya menyunggingkan senyum puas. "Program hamil butuh minimal tiga kali biar sperma saya lebih banyak peluangnya nyampe ke sel telur."

Maya mengerang pelan. Tubuhnya terasa lelah setelah dua ronde intens yang membuat tempat tidur berderit dan suara-suara mereka memenuhi ruangan. Tapi jauh di dalam hatinya, ada keinginan untuk merasakan sensasi itu sekali lagi—sensasi saat Pak Karyo mendominasi tubuhnya, membuatnya mencapai kenikmatan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Pak Karyo melirik ke bawah, ke arah kejantanannya yang mulai melemas. "Saya masih sanggup satu ronde lagi, Bu. Tapi perlu bantuan buat bangun lagi." Tatapannya kembali ke Maya, jari kasarnya menyeka keringat di dahi wanita itu dengan kelembutan yang mengejutkan. "Bu Maya mau bantu kan? Biar program kita sukses?"

"Sekarang..." Pak Karyo menarik diri perlahan, membuat Maya mengerang kehilangan. "Bersihin kontol saya, Bu. Lebih semangat dari tadi. Kita masih punya satu ronde lagi."

Maya menatap kejantanan Pak Karyo yang masih basah oleh campuran cairan mereka. Dia menggigit bibir bawahnya, sedikit mengernyit melihat sisa-sisa kekacauan di sana. Meski sudah beberapa kali melakukannya di hotel, tanpa pengaruh Valium di sistemnya, sensasi itu masih terasa aneh baginya.

Penasaran juga, apa Bu Maya bakal nurut apa nolak. Saiki iki waktune ngetes sepiro gedhene kuasaku nang dheweke. (Penasaran juga, apa Bu Maya bakal nurut apa nolak. Sekarang ini waktunya menguji seberapa besar kuasaku atas dia.) Pak Karyo membatin, merasakan sensasi mabuk kekuasaan saat melihat wanita berpendidikan tinggi ini terdiam menatap kejantanannya.

Bayangan ronde ketiga membuatnya lemas. Satu ronde lagi berarti satu kesempatan lagi untuk benih Pak Karyo mencapai sel telurnya. Untuk hamil. Untuk memiliki bayi yang selama ini dia impikan.

Dengan helaan napas pendek dan senyum kecil yang hampir mengakui kekalahan, Maya meluncur turun dari tempat tidur. Pipinya merona, tapi matanya tidak lagi ragu saat dia berlutut di hadapan Pak Karyo. Tubuhnya masih sensitif, tapi pikirannya sudah memilih. Tangannya meraih kejantanan Pak Karyo dengan keberanian yang tidak dia miliki di awal malam.

Pak Karyo menggenggam rambutnya lebih erat, mengendalikan setiap gerakan. "Liat saya," perintahnya. "Saya mau liat mata Bu Maya pas ngemut kontol saya."

Maya mendongak, matanya yang berkabut nafsu menatap langsung ke mata Pak Karyo. Bibirnya yang merah dan bengkak melingkari kejantanan Pak Karyo, bergerak naik turun dengan ritme yang semakin cepat.

"Bagus," Pak Karyo mendesah, tangan kasarnya membelai rambut Maya dengan lembut. "Tapi masih kurang dalem."

Maya mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Pak Karyo yang intens. Ada sesuatu yang berbeda dalam caranya memandang - percaya diri, hampir menuntut. Napas Maya tertahan, menyadari perubahan dinamika di antara mereka.

"Maksudnya?" tanya Maya, suaranya sedikit gemetar.

Pak Karyo mengusap ibu jarinya di bibir bawah Maya. "Masukin sampe tenggorokan," ucapnya langsung. "Kayak yang saya ajarin ke istri saya di desa."

Bojoku nang ndeso wis iso ngemut nganti mentok. Awal-awal yo angel, tapi saiki malah seneng. Bu Maya mesthi iso koyo bojoku, kudune malah luwih pinter soale wong sekolahan. (Istriku di desa sudah bisa menelan sampai mentok. Awal-awal ya susah, tapi sekarang malah suka. Bu Maya pasti bisa seperti istriku, harusnya malah lebih pintar karena orang berpendidikan.) Pak Karyo membandingkan keduanya, yakin Maya bisa melakukannya lebih baik.

Maya terkesiap, menggelengkan kepalanya. "Aku bahkan belom pernah... ngelakuin ini sama sekali. Irwan—"

"Justru itu," Pak Karyo memotong cepat, matanya menggelap. "Tadi Pak Irwan sendiri yang bilang ke saya. 'Perlakuin istri saya kayak istri kamu sendiri, Pak.' Itu kata-kata beliau persis."

Pak Irwan ngomong "perlakukan istri saya seperti istri Pak Karyo". Ya wis tak turuti, persis koyo aku ngopeni bojoku nang ndeso. Opo maneh sing kudu tak gatekke? (Pak Irwan bilang "perlakukan istri saya seperti istri Pak Karyo". Ya sudah kuturuti, persis seperti aku memperlakukan istriku di desa. Apa lagi yang harus kuperhatikan?) Pak Karyo sama sekali tidak menangkap atau mengabaikan kata "lembut" dan "kelembutan" dari permintaan Irwan, terfokus hanya pada bagian "seperti istri Pak Karyo".

Maya tertegun. Apa benar Irwan meminta Pak Karyo memperlakukannya seperti itu? Tidak mungkin. Pasti Pak Karyo salah mengartikan maksud suaminya. "Pak Karyo, kayaknya Pak Irwan nggak bermaksud kayak—"

"Istri saya awalnya juga gitu," potong Pak Karyo lagi, tidak memberi Maya kesempatan menyelesaikan penjelasannya. Tangannya dengan lembut tapi tegas menekan belakang kepala Maya. "Tapi sekarang... dia udah terlatih. Saya yang ajarin pelan-pelan."

Irwan emang gak mungkin minta aku dilakuin gini, batin Maya ragu. Tapi... kalau bisa bikin Pak Karyo lebih bergairah, mungkin lebih banyak kesempatan aku hamil? Pikirannya berperang antara rasa ragu dan keinginan untuk hamil.

"Bu Maya mau hamil kan?" Pak Karyo melanjutkan, suaranya rendah dan membujuk. Tangannya di belakang kepala Maya menekan lembut, mendorong kejantanannya sedikit lebih dalam ke mulut wanita itu.

Maya mengeluarkan suara tersedak kecil. Matanya berair menatap ke atas, menemukan Pak Karyo yang sedang memandangnya dengan tatapan puas.

"Tapi setelah dua kali keluar, kontol saya butuh lebih." Jari-jari Pak Karyo meremas rambut Maya, menahannya tetap di posisi. "Yang kayak gini nggak cukup. Harus lebih dalem."

Kejantanannya bergerak sedikit di dalam mulut Maya, menyentuh langit-langit mulutnya. Maya mengerang pelan, getaran dari suaranya membuat Pak Karyo mendesah nikmat.

"Harus masuk sampe tenggorokan." Pak Karyo mendorong pinggulnya maju sedikit, membuat Maya nyaris tersedak lagi. "Kalo cuma dijilat biasa, nggak bakal bisa keras lagi buat ronde tiga."

Maya mencoba bernapas melalui hidungnya. Pikiran bahwa dia berlutut di depan pembantunya sendiri, dengan mulut penuh kejantanan pria itu, membuat perutnya bergejolak aneh. Campuran malu dan... gairah yang tidak seharusnya ada.

"Bu Maya juga mau kan?" Pak Karyo menekan lebih dalam, membuat Maya mengernyit. "Tadi teriak-teriak minta lebih. 'Jangan berhenti! Enak banget!' Berarti Bu Maya juga pengen ronde tiga, kan?"

Maya menggigit bibir dalam pikirannya. Benar. Dia memang menjerit begitu. Dan yang lebih memalukan, dia memang menginginkannya lagi. Tubuhnya masih mendamba sentuhan Pak Karyo meski sudah dipuaskan berkali-kali.

"Berapa kali tadi Bu Maya udah keluar?" Pak Karyo melanjutkan, tangannya membimbing kepala Maya dalam gerakan naik-turun yang lambat. "Saya udah nggak ngitung lagi... Lima? Enam? Tapi saya baru dua kali. Masih kurang buat bikin bayi." Dia berhenti sejenak, pinggulnya bergerak maju.

Iki ora mung soal metteng. Aku kepengin ndelok Bu Maya pasrah total. (Ini bukan cuma soal hamil. Aku ingin melihat Bu Maya pasrah total.) Pak Karyo semakin bergairah membayangkan Maya yang sepenuhnya takluk.

Maya merasakan kejantanan Pak Karyo berkedut dalam mulutnya. Sensasi aneh namun tidak sepenuhnya tidak menyenangkan. Dia menyadari bahwa tubuhnya merespon – vaginanya berdenyut, seolah cemburu pada mulutnya.

Bayi. Ya, itu tujuan awal mereka. Tapi Maya tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar program hamil yang membuat napasnya tertahan seperti ini. Sensasi saat Pak Karyo menyentuhnya, saat dia menghujam dalam-dalam, saat dia menekan titik-titik yang bahkan Maya tidak tahu ada di tubuhnya sendiri — semua itu berputar dalam benaknya.

"Ayo, Bu," Pak Karyo mendorong lebih dalam, membuat Maya terbelalak. "Buka tenggorokannya. Nanti saya kasih yang Bu Maya mau."

Tangan Pak Karyo menekan kepala Maya semakin menuntut. Maya menemukan dirinya bergerak maju, mencoba mengakomodasi lebih banyak dari Pak Karyo dalam mulutnya. Perlawanannya semakin melemah dengan setiap detik berlalu.

Wong wedok sugih kaya ngene, saiki ndegek nang ngisorku, ngelakoni apa sing tak perintahke. (Perempuan kaya seperti ini, sekarang berlutut di bawahku, melakukan apa yang kuperintahkan.) Pak Karyo merasakan gelombang kepuasan yang tidak hanya seksual tapi juga psikologis. Ini bukan hanya tentang kenikmatan fisik, tapi juga tentang bagaimana dia bisa membuat wanita yang biasanya memberinya perintah kini pasrah di bawah kendalinya.

Bukan hanya karena bayi yang dia impikan. Bukan hanya karena program hamil yang mereka rencanakan. Tapi karena bagian liar dalam dirinya kini menginginkan ronde ketiga, menginginkan sensasi Pak Karyo di dalam dirinya lagi, menginginkan ledakan kenikmatan yang membuat seluruh tubuhnya mengejang dan pikirannya kosong.

Dengan napas dalam, Maya membuka mulutnya lebih lebar dan bergerak maju. Kejantanan Pak Karyo menyentuh langit-langit mulutnya, membuatnya tersedak.

"Mmphh..." Maya menarik mundur, matanya berair. "Nggak bisa... kegedean..."

Mesthi durung tau nyoba sadurunge. Seneng rasane dadi wong lanang pertama sing diladeni karo lambene. (Pasti belum pernah mencoba sebelumnya. Senang rasanya jadi lelaki pertama yang dilayani dengan mulutnya.) Sensasi menjadi yang pertama bagi Maya dalam hal ini membuat Pak Karyo semakin bergairah. Mengajari majikannya sesuatu yang begitu intim memberikan rasa kuasa yang memabukkan.

"Bisa kok, Bu," Pak Karyo tersenyum, ibu jarinya mengusap bibir Maya yang basah. "Caranya, Bu Maya rileks dulu tenggorokannya. Tarik napas..." dia menunggu Maya menarik napas dalam, "...terus pas masuk, Bu Maya nelen kayak lagi minum air."

Maya menatapnya ragu, tapi kembali membuka mulutnya. Pak Karyo mengarahkan kejantanannya perlahan.

Maya bertanya-tanya dalam hati bagaimana dia bisa sampai di titik ini—berlutut di hadapan pembantunya sendiri, berusaha memuaskannya dengan cara yang selama ini dia anggap merendahkan. Namun ketakutan akan kegagalan program hamilnya lebih besar dari harga dirinya.

"Nah... pelan-pelan..." Pak Karyo membimbing, tangannya di belakang kepala Maya. "Rileks aja... kayak yang saya bilang tadi..."

Ora tau nyangka yen majikanku sing anggun iki kerso mbukak lambene kanggo kontolku. Ora ono sing ngerti yen Bu Maya sing terhormat iki seneng ngemut kontol tukang kebone? (Tidak pernah menyangka bahwa majikanku yang anggun ini mau membuka mulutnya untuk kemaluanku. Siapa lagi yang tahu kalau Bu Maya yang terhormat ini suka mengulum penis tukang kebunnya?) Pak Karyo merasakan kekuasaan yang semakin besar, menikmati ironi situasi ini.

Maya mencoba mengikuti instruksi, menelan saat Pak Karyo mendorong lebih dalam. Tapi refleks tersedaknya langsung bekerja, membuatnya menarik diri dengan mata berair.

"Uhuk! Uhuk!" Maya terbatuk, menutup mulutnya dengan tangan. "Nggak... nggak bisa..."

"Sabar, Bu," Pak Karyo tertawa kecil, tidak marah sama sekali. "Istri saya di desa juga awalnya gitu. Butuh latihan." Dia mengusap pipi Maya. "Coba lagi ya? Kali ini, Bu Maya atur napasnya dulu."

Dadi guru kanggo wong wedok iki... Irwan mesthi ora tau ngajari bojone koyo ngene. Saiki aku sing ndidik. (Menjadi guru untuk perempuan ini... Irwan pasti tidak pernah mengajari istrinya seperti ini. Sekarang aku yang mendidik.) Ada kebanggan tersendiri bagi Pak Karyo menjadi "mentor" dalam hal yang begitu intim bagi wanita yang statusnya jauh di atasnya.

Maya mengangguk setelah batuknya mereda. Dia menarik napas dalam beberapa kali, lalu kembali melanjutkan. Kali ini Pak Karyo lebih berhati-hati, membiarkan Maya yang mengontrol seberapa dalam dia menerima.

Maya merasakan dilema di dalam dirinya—di satu sisi ada rasa malu yang mendalam, namun di sisi lain ada kepuasan aneh saat melihat reaksi Pak Karyo. Pria ini begitu berbeda dari Irwan—lebih dominan, lebih menuntut, tapi juga anehnya lebih sabar mengajarinya.

"Bagus... dikit-dikit dulu," Pak Karyo berbisik, mendorong sedikit lebih jauh setiap kali Maya terlihat nyaman. "Nah... makin dalem... tahan napasnya..."

Tak latih terus nganti iso. Iki kudu dadi langganan, ora mung nggo program hamil wae. (Akan kulatih terus sampai bisa. Ini harus jadi kebiasaan, bukan cuma untuk program hamil saja.) Pak Karyo sudah membayangkan bagaimana hal ini bisa berlanjut bahkan setelah Maya hamil.

Maya merasakan kejantanan Pak Karyo menyentuh belakang tenggorokannya lagi. Matanya melebar, tapi kali ini dia tidak langsung menarik diri. Air liurnya mulai menetes dari sudut bibir, membuat segala sesuatunya menjadi lebih licin dan sedikit lebih mudah. Sebagian dirinya merasa terhina, tapi ada bagian lain yang mulai menemukan kepuasan dalam ketaatan ini.

"Nah, gitu..." Pak Karyo menggeram puas. "Terus coba lebih dalem lagi, Bu."

Yen wong wedhok pinter koyo Bu Maya iso dadi koyo ngene, mesthi wadon liyane yo iso tho yo. (Kalau perempuan pintar seperti Bu Maya bisa jadi penurut begini, pasti perempuan lain juga bisa.) Pak Karyo merasakan kemenangan psikologis yang luar biasa. Memiliki kendali atas wanita berpendidikan tinggi seperti Maya, membuatnya berlutut dan berjuang keras untuk memuaskannya, memberikan rasa kepuasan yang jauh melampaui kenikmatan fisik belaka.

Irwan bisa mendengar suara-suara basah dan tersedak dari atas, diselingi geraman puas Pak Karyo.

"Lebih dalem, Bu," perintah Pak Karyo terdengar jelas. "Jangan cuma ujungnya. Telan sampe tenggorokan."

Suara tersedak Maya diikuti dengan tawa rendah Pak Karyo. "Pelan-pelan aja, Bu. Nanti lama-lama terbiasa."

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com