๐‘ฐ๐’”๐’•๐’“๐’Š๐’Œ๐’– ๐‘ซ๐’Š๐’‰๐’‚๐’Ž๐’Š๐’๐’Š ๐‘ท๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’๐’•๐’– ๐‘ฉ๐’‚๐’ƒ ๐Ÿ”๐Ÿ

Maya melirik jam digital di nakas tempat tidur—lewat tengah malam. Tubuhnya masih menggeliat perlahan di atas Irwan, berusaha menemukan kenikmatan yang terasa sulit diraih.

Keringat tipis mulai terbentuk di pelipis Maya. Mengalir perlahan ke leher dan punggungnya yang mulai lembab. Hampir lima belas menit dia berada di atas Irwan dalam posisi cowgirl ini, tapi tubuhnya belum juga mencapai pelepasan yang dia inginkan.

"Mmhh..."

Maya menggerakkan pinggulnya lebih cepat, mencoba mencari sudut yang tepat. Ke depan, ke belakang. Memutar dalam lingkaran kecil. Naik, turun. Berbagai ritme. Apapun. Kenikmatan ada di sana—berdenyut samar di bawah permukaan—namun selalu menjauh seperti fatamorgana di padang pasir saat dia hampir menggapainya.

Dia menggeretakkan gigi. Ini berbeda dari beberapa hari lalu, ketika dia masih bisa mencapai klimaks bersama Irwan meski tidak seintens bersama Pak Karyo.

"Mmm... ya... terus..." Maya mendesah, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada Irwan.

Pertanyaan Irwan malam sebelumnya terngiang di telinganya. "Ceritain gimana rasanya sama dia. Lebih besar mana? Lebih kasar mana? Lebih puas mana?" Semakin dia mengingat pertanyaan-pertanyaan itu, semakin hidup bayangan Pak Karyo dalam benaknya. Dan semakin sulit pula menemukan kenikmatan dengan Irwan.

Maya menekan telapak tangannya ke dada Irwan, mengubah sudut penetrasi sekali lagi. Jemarinya merasakan otot dada suaminya—kencang namun tak sebesar Pak Karyo. Tubuhnya kini menginginkan sensasi yang telah dia rasakan dengan pembantunya itu—tangan besar dan kasar yang mencengkeram pinggulnya, tubuh berotot yang mendorongnya hingga ke batas.

"Ahhh..." Maya mendesah frustrasi. Dia membuka mata yang sedari tadi terpejam dan mendapati Irwan sedang menatapnya dengan kening berkerut. Ekspresinya campuran antara khawatir dan kecewa.

"Yang, kamu nggak nikmatin ya?" tanya Irwan, tangannya mengelus lembut paha Maya.

Maya menggeleng cepat. "Bukan gitu."

"Terus?"

"Aku..." Maya menggigit bibir, merasa bersalah karena pikirannya terus melayang pada pria lain saat bercinta dengan suaminya. "Aku cuma... nggak bisa fokus. Maaf."

Helaan napas frustrasi terlepas dari bibirnya. Maya menunduk, rambut hitamnya jatuh menutupi sebagian wajahnya yang memerah campuran antara usaha fisik dan rasa malu.

"Udah, nggak usah minta maaf." Irwan tersenyum penuh pengertian. "Mau ganti posisi?"

Irwan tidak menunggu jawaban. Dengan gerakan lembut namun mantap, dia memegang pinggang Maya dan membalikkan posisi mereka dalam satu gerakan mulus. Maya kini terbaring telentang di bawah, rambut hitamnya menyebar di bantal. Irwan memposisikan dirinya di atas, lengannya bertumpu di sisi kepala Maya, menopang berat tubuhnya.

Lampu tidur di nakas menyorot samping wajah Irwan, menciptakan bayangan halus yang menyusuri rahangnya yang tegas. Maya menatap suaminya dengan pandangan yang berbeda kini—campuran cinta dan... sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuatnya merasa bersalah.

Posisi misionaris.

Selama enam tahun pernikahan mereka, inilah cara mereka paling sering bercinta. Posisi yang intim. Aman. Nyaman. Maya selalu menyukainya—wajah mereka berdekatan, napas berbaur, tatapan mata bertemu. Sentuhan Irwan yang lembut dan penuh kasih sayang. Cara dia menjaga agar tubuhnya tidak terlalu berat menekan Maya. Pergerakan pinggulnya yang teratur—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.

Tapi sekarang...

Kilasan memori Pak Karyo dalam posisi yang sama menyeruak dalam benaknya. Wajahnya yang kasar dengan rahang keras hanya beberapa sentimeter di atas wajahnya. Aroma maskulin campuran keringat dan musk yang kuat. Napasnya yang berat dan tidak beraturan. Caranya mendorong—jauh lebih dalam, lebih kasar, seolah ingin mencapai inti tubuh Maya. Lengannya yang kokoh menopang berat tubuhnya, otot-ototnya menegang, urat-urat menonjol di permukaan kulit.

Maya menelan ludah. Sentuhan familiar Irwan kini terasa seperti menonton film hitam putih setelah terbiasa dengan warna.

"Mikirin apa?" tanya Irwan, mulai bergerak perlahan di dalam Maya.

Maya tersentak kembali ke realitas. "Mmm... nggak apa-apa," elaknya, mengalihkan pandangan ke dinding kamar tempat bayangan mereka bergerak samar.

Sentakan saat Pak Karyo menghujam tubuhnya. Suara ranjang yang berderit protestas. Cengkeraman kuat di pinggulnya yang meninggalkan bekas. Sensasi ditaklukkan, dikuasai, dipenuhi hingga ke batas. Tubuhnya yang bereaksi dengan getaran-getaran kenikmatan tanpa bisa dikendalikan.

Irwan berhenti bergerak. Tangannya dengan lembut menyentuh dagu Maya, mengarahkan wajahnya agar mereka bertatapan.

"Kamu bohong," bisiknya. Matanya penuh tanya, tapi tidak menghakimi. Tatapan yang selalu berhasil membuat Maya membuka diri, bahkan ketika dia berusaha keras menyimpan rahasianya.

Maya menggigit bibir bawahnya, merasa tertangkap basah.

"Cuma..." Dia menarik napas dalam. "Pak Karyo terlalu berat buat posisi gini. Dia selalu nopang tubuhnya pake lengan biar nggak nimpa aku, tapi tetep kerasa beda." Maya menelan ludah, mengumpulkan keberanian. "Kayak... dilindungi tapi juga didominasi sekaligus."

Maya mengamati wajah Irwan, mencari tanda-tanda sakit hati atau kemarahan. Jari-jarinya tanpa sadar mencengkeram seprai di kedua sisi tubuhnya.

Tapi bukannya tersinggung, tatapan Irwan justru semakin dalam. Pupilnya membesar dalam cahaya temaram. Dia menelan ludah, jakun di lehernya bergerak naik turun. Ada getaran samar di napasnya saat dia bicara.

"Dia geraknya gimana?" tanya Irwan, suaranya sedikit serak.

Maya menatap langit-langit sejenak, mengumpulkan kata-kata yang tepat.

"Lebih... kasar," jawabnya akhirnya. "Lebih dalem, lebih... mendesak. Kayak dia nggak bisa nahan diri. Kadang aku sampe susah napas karena dia nggak ngasih celah."

Wajah Maya memanas mengingat bagaimana Pak Karyo bergerak liar di atasnya, napasnya menderu, tangannya menelusup ke bawah punggungnya untuk menarik tubuh Maya lebih dekat, lebih rapat. Tidak ada jarak, tidak ada ruang untuk bernafas.

Rahang Irwan mengeras sejenak. Kemudian, tanpa kata, dia mulai bergerak lebih dalam. Dorongannya menjadi lebih kuat, mencoba meniru apa yang Maya gambarkan. Tangannya mencengkeram seprai di samping kepala Maya, otot-otot lengannya menegang menahan berat tubuhnya.

"Gini?" bisiknya, suaranya lebih rendah dari biasanya.

"Hmm... ya... tapi..." Maya ragu melanjutkan.

"Tapi apa?" desak Irwan. "Bilang aja, Yang."

"Lebih... kasar. Dia nggak ragu-ragu."

Irwan mengangguk singkat, lalu mencoba mendorong lebih keras. Napasnya mulai terengah. Keringat menetes dari dahinya ke pipi Maya.

Beberapa menit berlalu dalam usaha Irwan meniru gerakan yang Maya deskripsikan, tapi tetap saja ada sesuatu yang tidak tercapai. Irama yang salah, tekanan yang kurang tepat, atau mungkin... ukuran yang berbeda. Maya mencoba memejamkan mata, berusaha menikmati sentuhan suaminya. Bibirnya mengeluarkan desahan kecil, sebagian demi Irwan, sebagian karena memang ada kenikmatan di sana.

Namun tubuhnya terasa kaku dan tidak sepenuhnya responsif. Pikirannya terbagi antara keinginan untuk menikmati momen ini bersama suami yang dicintainya, dan ingatan-ingatan tentang Pak Karyo yang tak bisa dia tepis—sentuhan kasar namun tepat sasaran, aroma maskulin yang berbeda, ukuran yang membuatnya merasa penuh.

Irwan mengusap peluh di dahinya. Udara kamar terasa panas meski AC menyala. Kipas di langit-langit berputar pelan, mengirimkan semilir angin yang hampir tak terasa di kulit mereka yang lembab. Di luar terdengar deru mobil sesekali melintas di kompleks perumahan mewah mereka.

"Coba nungging," bisik Irwan di telinga Maya.

Maya mengedipkan mata, sedikit terkejut dengan permintaan itu. Suaminya jarang meminta posisi ini. Tanpa bertanya, dia perlahan membalikkan tubuhnya, bergerak dengan anggun meski dalam kondisi telanjang. Dia menempatkan dirinya pada posisi merangkak, bertumpu pada lutut dan lengannya di atas kasur empuk mereka. Rambut hitamnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.

Irwan mengamati punggung mulus Maya, lekukan pinggangnya yang ramping, dan pantatnya yang bulat sempurna. Dia memposisikan dirinya di belakang Maya, kejantanannya yang masih keras menyentuh kewanitaan Maya yang lembab. Tangannya memegang pinggang istrinya dengan lembut, ibu jarinya mengusap kulit halus Maya dalam gerakan melingkar.

Maya menggigit bibir bawahnya. Posisi ini, dengan pantat terangkat dan wajah menunduk, mengingatkannya pada saat-saat paling liar dan tak terkendali dengan Pak Karyo. Saat-saat ketika dia sepenuhnya menyerah pada dominasi pria yang status sosialnya jauh di bawahnya.

"Kalo gini, dia ngapain?" tanya Irwan, mulai memasuki Maya dari belakang.

Maya tersentak kecil merasakan Irwan memasuki tubuhnya dari belakang. Sensasinya berbeda—lebih dalam, tapi tetap tidak sama. Dia mendesah pelan, mencoba menikmatinya.

"Mmm..." Maya menggigit bibir, mengumpulkan keberanian untuk berbicara jujur. "Dia selalu... ahh... pegang pinggangku kuat banget, kayak mau ninggalin bekas jarinya di kulitku."

Maya melirik ke belakang, melihat Irwan menelan ludah mendengar jawabannya. Ada sesuatu di mata suaminya—campuran rasa sakit dan... gairah?

"Terus...?" desak Irwan, cengkeramannya di pinggang Maya mengencang sedikit.

"Dia... mmh... suka narik rambutku, bikin kepalaku mendongak. Kadang dia bilang mau liat wajahku pas dia... pas dia..." Maya tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Irwan mengerti.

Irwan mencoba mengikuti instruksi ini, mencengkeram pinggang Maya lebih kuat dan menarik rambutnya dengan perlahan. Maya mendesah sedikit lebih keras, tapi matanya tetap terbuka, pikirannya masih sadar sepenuhnya bahwa ini Irwan, bukan Pak Karyo. Ada sesuatu yang kurang—intensitas, kekasaran, ukuran—yang membuat Maya tetap tidak bisa tenggelam dalam kenikmatan.

Irwan mendorong lebih kuat, mencoba meniru kekuatan yang Maya deskripsikan. Tapi tubuhnya yang lebih ringan dan otot yang kurang terlatih dibanding Pak Karyo membuat gerakannya tidak sekuat yang Maya inginkan.

"Lebih... lebih keras," bisik Maya, tangannya mencengkeram seprai putih mereka.

Irwan menarik rambut Maya lebih kuat, membuat kepala istrinya mendongak ke belakang. "Gini?"

"Ya... tapi..." Maya tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak tega mengatakan bahwa sensasinya masih jauh berbeda.

Suara dering singkat terdengar dari nakas samping tempat tidur—ponsel Irwan menerima pesan masuk. Keduanya mengabaikannya. Momen ini terlalu penting untuk diganggu oleh dunia luar.

Setelah beberapa menit, Irwan bergerak memeluk Maya dari belakang, tubuh mereka berkeringat dan nafas keduanya sedikit terengah. Dada Irwan menempel di punggung Maya, detak jantungnya terasa jelas. Kejantanannya masih di dalam Maya, meski ritme gerakannya telah melambat. Dia berbisik tepat di telinga Maya, "Yang... aku mau minta sesuatu… tapi mungkin… agak aneh."

"Apa?" tanya Maya, masih mencoba berkonsentrasi pada sensasi fisik yang dirasakan.

"Aku mau kamu tutup mata," Irwan mulai dengan suara rendah, "dan bayangin bukan aku yang di sini... tapi Pak Karyo yang sama kamu sekarang."

Tubuh Maya langsung menegang. Otot-otot kewanitaannya tanpa sadar mengencang, mencengkeram Irwan di dalamnya. Kepalanya menoleh cepat, rambutnya berayun, matanya membelalak menatap wajah suaminya.

"Hah? Serius?" Maya nyaris tersedak kata-katanya sendiri.

"Iya," Irwan mengangguk, tatapannya tenang meski ada getaran aneh dalam suaranya. "Jangan cuma cerita doang. Bayangin dia yang ada di sini sekarang."

"Say, aku nggak bisa gitu!" Maya menggeleng kuat, hampir menarik diri dari posisi mereka. Dia mendorong tubuhnya ke depan, berusaha melepaskan diri dari penetrasi Irwan. Perasaan tidak nyaman yang intens menyerangnya. Bukan karena ide membayangkan Pak Karyo—itu justru membuat tubuhnya berdesir tanpa disadari—tapi karena permintaan itu datang dari suaminya sendiri. "Itu... itu nggak bener. Aku nggak mungkin bayangin pria lain saat sama kamu."

Irwan menghentikan gerakan Maya dengan tangannya di pinggang istrinya. "Kenapa nggak? Cuma kita berdua yang tau."

"Tapi aku yang tau!" Maya bersikeras. Dia memutar tubuhnya hingga setengah menghadap Irwan, matanya berkaca-kaca. Kewanitaannya masih menjepit kejantanan Irwan, menciptakan sensasi yang aneh dalam momen emosional ini.

Jantung Maya berdebar kencang. Bagaimana mungkin dia bisa menerima permintaan itu? Membayangkan Pak Karyo saat bersama Irwan? Tubuhnya menegang, bukan karena gairah tapi karena kecemasan yang mendadak menyerangnya.

Malu. Maya merasa malu luar biasa membayangkan Irwan tahu seperti apa dirinya saat bersama Pak Karyo—bagaimana dia mendesah tanpa kendali, memanggil nama Pak Karyo dengan nada memohon, atau bahkan kata-kata vulgar yang tak pernah dia ucapkan sebelumnya. Dia bahkan memanggil Pak Karyo dengan sebutan "Mas"—sesuatu yang tak pernah dia gunakan untuk Irwan. Bagaimana mungkin dia bisa menunjukkan sisi dirinya yang seperti itu pada suaminya?

"Say, kamu nggak ngerti..." bisik Maya lirih. "Itu... itu terlalu..."

Maya menelan ludah. Dia tak mungkin mengakui kalau tubuhnya mungkin akan bereaksi jauh lebih responsif jika dia membayangkan Pak Karyo—dan itu akan menyakiti Irwan lebih dalam. Cukup sudah rasa sakit yang dia sebabkan pada suaminya. Melihat Irwan menyadari betapa berbedanya reaksi tubuhnya saat membayangkan Pak Karyo akan seperti menusukkan pisau ke jantung pernikahan mereka.

Ada ketakutan lain yang menggerogoti Maya—bagaimana jika dia sampai tidak bisa menikmati bercinta dengan Irwan tanpa bayangan Pak Karyo? Bagaimana jika tubuhnya mulai membutuhkan fantasi itu untuk merasakan kepuasan? Bukankah itu sama saja dengan mengkhianati Irwan dalam pikiran, meski tubuhnya bersama suaminya?

"Aku cinta kamu, Say," Maya akhirnya berkata, suaranya lebih lembut. "Aku nggak mau mikirin pria lain pas lagi sama kamu. Itu... itu nggak adil buat hubungan kita."

Maya mengalihkan pandangannya ke jendela. Lampu taman menyala redup di luar, menciptakan siluet pepohonan yang bergerak pelan tertiup angin malam. Daun-daun pohon mangga di halaman belakang bergemerisik lembut. Suara jangkrik bersahutan samar-samar dari kejauhan, diinterupsi oleh deru mobil yang sesekali melintas di jalan kompleks perumahan mereka.

Pikirannya berkecamuk. Permintaan Irwan terasa seperti jebakan. Jika dia menikmatinya, apakah itu artinya dia mengkhianati Irwan? Tapi jika dia menolak... bukankah itu berarti dia membohongi kebutuhan tubuhnya sendiri? Dia merasa terperangkap dalam dilema moral yang tak terbayangkan sebelumnya.

"Ini nggak adil buat kamu," bisik Maya akhirnya, matanya kembali menatap Irwan. "Aku nggak mau kamu merasa... kurang."

"Yang bikin aku merasa kurang justru kalau kamu nggak bisa nikmatin saat kita bersama," balas Irwan lembut, tangannya masih mencengkeram rambut Maya, tubuhnya bergerak perlahan di belakangnya. "Ini bukan tentang ego aku. Ini tentang kita. Tentang kamu."

Maya mendesah pelan, merasakan gerakan Irwan di dalamnya yang terasa... berbeda. Tidak cukup untuk memberinya kepuasan yang dia butuhkan. "Say, aku nggak bisa," bisiknya, suaranya tercekat. "Aku nggak bisa membayangkan pria lain saat sama kamu. Itu... itu nggak adil buat kamu."

Irwan memperlambat gerakannya, tangannya yang satu melepaskan rambut Maya dan beralih membelai lembut punggungnya. "Kenapa nggak adil?" tanyanya, napasnya hangat di tengkuk Maya. "Aku yang minta, kan?"

Maya menundukkan kepalanya, rambutnya jatuh menutupi wajahnya yang memerah. Dia berusaha mencari kata-kata yang tepat di tengah sensasi tubuh Irwan yang masih bergerak perlahan di dalamnya.

"Tapi Say... kalau aku sampe... mmhh... sampe menikmati bayangan itu," Maya menelan ludah, "apa kamu nggak akan sakit hati? Apa kamu nggak merasa... seperti aku mengkhianatimu?"

Irwan membungkukkan tubuhnya, mencium lembut tengkuk Maya sambil terus bergerak dengan irama yang dipertahankannya. "Yang aku rasakan cuma sakit hati kalau kamu nggak bisa nikmatin saat kita bersama," bisiknya tepat di telinga Maya.

Tangan Irwan bergerak dari punggung Maya ke pinggangnya, menariknya lebih dekat. "Ayo, kita ganti posisi," bisiknya.

Dengan gerakan lembut, Irwan membaringkan Maya ke samping, masih terhubung dengannya, kini dalam posisi side-by-side. Dia memeluk Maya dari belakang, satu tangannya melingkari pinggang istrinya, yang lain mengelus rambutnya.

"Dalam posisi kayak gini," bisik Irwan, "kamu bahkan nggak perlu liat wajahku. Kamu bisa bayangkan siapapun."

Maya merasakan tubuhnya menegang. "Say... aku takut," bisiknya. "Takut kalau aku jadi lebih... lebih responsif pas bayangkan dia. Itu bakal menyakitimu."

Jemari Irwan menelusuri rambut Maya dengan lembut. "Yang, dengar... di tempat tidur ini cuma ada kita berdua. Tubuhmu sama aku. Apa yang terjadi dalam pikiranmu, itu ruang pribadimu. Aku nggak mungkin terluka karena sesuatu yang terjadi dalam ruang pribadimu."

"Tapi... ahh..." Maya mendesah saat Irwan bergerak sedikit di dalamnya. "Tapi tubuhku bakal bereaksi beda... mmhh... kamu pasti sadar."

"Dan itu yang aku mau," bisik Irwan, tangannya kini turun membelai perut Maya, perlahan naik ke dadanya. "Aku mau liat kamu menikmati, Yang. Aku mau liat kamu klimaks."

Maya memejamkan mata, merasakan sentuhan Irwan yang lembut kontras dengan bayangan tangan kasar Pak Karyo yang mulai muncul di benaknya. "Kamu yakin? Kamu yakin nggak akan... mmhh... nggak akan... menyesal?"

Irwan mencium bahu Maya, lalu bergerak ke lehernya. "Yang aku sesali cuma kalau kamu nggak puas," bisiknya. "Aku pengen kamu nikmatin. Kalau harus bayangkan dia... ya nggak apa-apa."

Maya tetap belum yakin. Bayangan Pak Karyo sudah mulai muncul di benaknya, tapi dia menolaknya, karena takut menyakiti Irwan. "Say... aku cinta kamu, bukan dia."

"Aku tau," Irwan mempercepat sedikit gerakannya, tangannya meremas lembut payudara Maya. "Ini bukan soal cinta. Ini soal tubuhmu. Tubuhmu udah merasakan sensasi yang berbeda dengan dia, dan itu normal kalau kamu ingin merasakannya lagi."

Penjelasan Irwan yang terus terang itu memicu campuran perasaan di dada Maya—malu karena Irwan memahami begitu jelas apa yang terjadi pada tubuhnya, tapi juga lega karena dia tidak perlu lagi berpura-pura.

"Say... bagaimana kalau aku jadi ketagihan?" bisik Maya, suaranya bergetar. "Bagaimana kalau... ahh... kalau aku jadi nggak bisa klimaks tanpa bayangkan dia?"

Jantung Irwan berdebar lebih kencang, tapi dia berusaha agar suaranya tetap tenang. "Itu masalah nanti," bisiknya. "Yang penting sekarang kamu nikmatin. Kita pikirkan itu nanti."

Maya terdiam sejenak, merasakan gerakan Irwan yang mulai tidak teratur—tanda dia juga terangsang dengan percakapan ini. "Tapi... mmhh... aku bakal manggil namanya. Aku bakal... ahh... bilang hal-hal yang nggak pernah aku bilang ke kamu."

"Itu cuma kata-kata," balas Irwan, napasnya semakin berat. "Yang penting tubuhmu di sini, sama aku."

Maya membuka matanya, melihat bayangan mereka di dinding—dua tubuh yang menyatu, bergerak dalam satu irama. Dulu, bayangan seperti ini cukup untuk membuatnya terangsang. Tapi sekarang...

"Balik lagi kayak tadi," bisik Maya tiba-tiba. "Aku mau nungging. Dari belakang."

Irwan tertegun sejenak, tapi dengan cepat mengikuti permintaan Maya. Dia kembali memposisikan Maya dalam posisi doggy style, tangannya kembali memegang pinggang Maya.

"Tarik rambutku lagi," pinta Maya, suaranya lebih rendah dari biasanya. "Lebih kuat."

Irwan menelan ludah, lalu tangannya menggenggam rambut Maya, menariknya lebih kuat dari sebelumnya. Maya mendesah lebih keras, tubuhnya mulai bergerak menyambut setiap dorongan Irwan.

"Dan... ahh... tolong..." Maya ragu sejenak, tapi kemudian memutuskan untuk jujur, "tolong jangan marah kalau aku... kalau aku panggil dia 'Mas'. Dia... mmhh... dia selalu minta aku manggil dia gitu."

Perut Irwan seperti dijatuhkan dari lantai sepuluh. Ada rasa sakit yang tajam mendengar pengakuan itu, tapi juga ada desiran aneh yang membuat kejantanannya semakin keras di dalam Maya. "Panggil... panggil aja," bisiknya. "Aku nggak akan marah."

Maya masih ragu. "Kamu yakin? Kamu bener-bener yakin kamu siap dengar aku... mmhh... kayak gitu? Nggak semua orang bisa terima situasi kayak gini, Say."

"Yang," bisik Irwan, sengaja memperlambat gerakannya, "aku mungkin cemburu, mungkin sakit, tapi aku lebih pengen kamu puas. Kalau ini yang kamu butuhkan... aku siap."

Maya merasakan sentuhan Irwan yang melambat, merindukan intensitas sentuhan Pak Karyo yang selalu mendesak, selalu mendominasi. Dia menjilat bibirnya yang kering, masih ragu, tapi tubuhnya semakin menginginkan.

"Oke," bisiknya akhirnya. "Aku... aku coba. Tapi janji, bilang ke aku kalau kamu nggak nyaman."

"Janji," balas Irwan, tangannya kembali mencengkeram pinggang Maya. "Sekarang tutup matamu. Biarkan pikiranmu bebas. Bayangkan itu dia di belakangmu."

Maya memejamkan mata, mencoba membayangkan tangan yang memegang pinggangnya adalah tangan Pak Karyo yang besar dan kasar. Dia menelan ludah, masih merasa bersalah, tapi tubuhnya mulai memberi respons yang berbeda.

"Kamu boleh panggil namanya," bisik Irwan, suaranya sedikit bergetar. "Apa pun yang bikin kamu nyaman, Yang."

Maya menggigit bibir bawahnya, masih berusaha melawan perasaan bersalah yang menghantui. Tapi bayangan Pak Karyo menjadi semakin jelas di benaknya—tubuhnya yang besar dan berotot, tangannya yang kuat mencengkeram pinggangnya, napasnya yang berat di tengkuknya.

"Oke..." bisik Maya akhirnya. "Aku coba."


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com