𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟕𝟓

Jari-jari kasar Pak Karyo bergerak perlahan di punggung Maya. Ruang keluarga sudah sepi, tidak ada lagi keramaian pesta keluarga yang baru saja usai. Maya berbaring tengkurap di sofa, mendesah lega saat tekanan di otot-otot tegangnya mulai terlepas.

"Mmm... enak, Pak," gumam Maya, matanya terpejam. "Punggung rasanya pegel banget habis berdiri seharian."

Pak Karyo mengangguk, tangannya bergerak metodis menekan titik-titik tegang. Kulite Bu Maya alus tenan. Saiki iki wetenge wis ono bayine, bayiku. (Kulitnya Bu Maya halus sekali. Sekarang perutnya sudah ada bayinya, bayiku.)

Pak Karyo sedikit menunduk, menghirup aroma shampo Maya. Rambute wangi koyok biasane. Aku kangen nyiumine rambut kuwi. (Rambutnya wangi seperti biasanya. Aku kangen mencium rambut itu.)

"Turun sedikit, Pak," Maya bergumam. "Pinggang bawah paling pegel."

"Baik, Bu," Pak Karyo menurunkan tangannya, memijat area pinggang Maya dengan lebih intens.

Di ruang kerjanya, Irwan bukannya membuka laptop, malah mengambil tablet dari laci meja. Dengan jantung berdebar, dia menyalakan perangkat itu dan membuka aplikasi kamera tersembunyi. Layarnya menampilkan pemandangan jelas—Maya berbaring dengan Pak Karyo di sampingnya.

Apa yang aku lakukan? Ini gila. Tapi dia tetap memperhatikan.

"Ahh..." Maya mendesah saat jempol Pak Karyo menekan titik yang tepat di bawah tulang belakangnya. "Di situ sakit banget."

"Tenang, Bu. Saya tau cara mengatasinya," Pak Karyo meningkatkan tekanan, jari-jarinya bergerak melingkar. Dhisik aku iso mayokke wetengku neng punggunge, saiki ora iso. Wetenge wis ana isine, ora mungkin. (Dulu aku bisa menempelkan perutku di punggungnya, sekarang tidak bisa. Perutnya sudah ada isinya, tidak mungkin.)

Tangannya perlahan turun, sedikit lebih rendah dari biasanya, hampir mencapai garis pantat Maya. Keberanian ini baru—sejak program kehamilan berakhir, Pak Karyo selalu menjaga jarak profesional, tak ingin melewati batas. Tapi malam ini, setelah melihat Maya begitu memesona sepanjang pesta, pertahanannya melemah.

"Ibu tegang di bagian sini juga," gumamnya, tangannya bergerak ke sisi tubuh Maya, jarinya sengaja menyapu sisi payudara Maya saat memijat area di bawah ketiaknya.

Maya tersentak kecil, tapi tidak protes. Bahkan matanya tetap terpejam. "Mmm... iya, pegel semua."

Jantung Pak Karyo berdetak kencang. Dhisik aku iso ndemek susune kanthi bebas, saiki mung bisa nyenggol nganggo pawadan mijeti. (Dulu aku bisa menyentuh payudaranya dengan bebas, sekarang hanya bisa menyenggol dengan alasan memijat.)

Irwan mengamati dengan napas tertahan. Setiap sentuhan tangan Pak Karyo yang semakin menjelajah, setiap desahan pelan Maya, membuat darahnya berdesir. Tangannya tanpa sadar bergerak ke selangkangannya sendiri.

"Bu, coba miring dikit," Pak Karyo mengarahkan dengan lembut. "Biar saya bisa mijat bagian samping."

Maya menurut, setengah berbaring miring, memberi akses lebih ke tubuhnya. Pak Karyo memanfaatkan kesempatan ini untuk merambah ke area yang lebih berani—paha bagian dalam Maya.

"Di sini juga tegang, Bu," katanya, suaranya sedikit serak. "Kalau hamil, peredaran darah di kaki sering tidak lancar."

"Mmm... iya..." Maya bergumam, matanya masih terpejam. Tapi tubuhnya mulai bereaksi pada sentuhan Pak Karyo—nipple-nya mengeras, terlihat jelas dari baju tidurnya yang tipis.

Koyo jaman semono, susune dadi atos nek takdemek. (Seperti waktu itu, payudaranya jadi keras kalau kusentuh.)

Di ruang kerjanya, Irwan semakin tidak bisa menahan diri melihat reaksi tubuh istrinya. Dengan tangan gemetar, dia menurunkan resleting celana, membebaskan kejantanannya yang sudah mengeras.

"Ahh..." Maya mendesah lagi, kali ini lebih dalam, saat Pak Karyo memijat paha dalamnya semakin tinggi. "Pak... mungkin sudah... cukup..."

Suaranya terdengar ragu, seolah dia sendiri tidak yakin ingin pijatan berhenti.

"Maaf, Bu," Pak Karyo menjauhkan tangannya sedikit. "Apa terlalu sakit?"

"Bukan, bukan sakit..." Maya membuka mata, menatap Pak Karyo. Ada sesuatu dalam tatapannya—kebingungan, gairah yang tidak pada tempatnya. "Cuma... cukup untuk malam ini."

Pak Karyo mengangguk, menarik tangannya. "Baik, Bu. Memang sudah cukup lama. Nanti terlalu capek tidak baik untuk..." dia melirik perut Maya, "...untuk bayinya."

Maya perlahan bangkit, merapikan bajunya yang sedikit tersingkap. "Makasih ya, Pak."

"Sama-sama, Bu," Pak Karyo mengangguk hormat, meski matanya dengan lapar mengikuti setiap gerakan Maya. Dheweke tetep ayu, luwih ayu malah saiki. Wetenge sing mblendhuk dadi bukti yen aku tau nduweni dheweke. (Dia tetap cantik, lebih cantik malah sekarang. Perutnya yang membuncit jadi bukti kalau aku pernah memiliki dia.)

Begitu Maya meninggalkan ruangan, Pak Karyo menghela napas berat, mengusap wajahnya kasar. Ora bisa ngene terus. Kabeh wis rampung. Bu Maya dudu duwekku. (Tidak bisa begini terus. Semua sudah selesai. Bu Maya bukan milikku.)

Di ruang kerjanya, Irwan buru-buru mematikan tablet saat mendengar langkah Maya mendekat. Dengan tangan gemetar, dia merapikan pakaiannya, menekan gairah yang belum tersalurkan.

Maya masuk sambil menguap. "Udah selesai emailnya, Yang?"

"Belum... masih banyak," Irwan berusaha terdengar normal. "Kamu tidur duluan aja."

"Oke," Maya mengangguk, tapi tidak beranjak. "Yang..."

"Kenapa?"

"Nggak... nggak jadi," Maya tersenyum tipis. "Cuma mau bilang jangan begadang. Kamu juga capek habis pesta."

Setelah Maya keluar, Irwan kembali menyalakan tablet. Bukan untuk melihat live feed, tapi untuk membuka rekaman yang sudah dia simpan—saat Maya dan Pak Karyo bercinta di kamar tamu beberapa minggu lalu. Dengan napas memburu, dia kembali menurunkan resleting celananya.


Wangi kopi mengisi dapur saat Maya melangkah masuk dengan langkah pelan. Semalam dia tidur gelisah, mimpi-mimpi aneh tentang tangan kasar yang menjelajahi tubuhnya membuatnya terbangun beberapa kali. Dia melihat Pak Karyo sudah sibuk menyiapkan sarapan, sementara Irwan duduk di meja makan membaca berita di tabletnya.

"Pagi, Yang," Maya mencium pipi Irwan sebelum duduk.

"Pagi, Sayang." Irwan tersenyum, tapi matanya cepat kembali ke tablet. "Tidur nyenyak?"

Maya melirik sekilas ke arah Pak Karyo yang sedang memotong buah. "Lumayan," dustanya.

Bohong. Aku hampir nggak bisa tidur semalam. Pijatan itu... kenapa tubuhku bereaksi seperti itu?

"Saya buatkan teh khusus untuk Ibu," Pak Karyo mendekat, meletakkan secangkir teh berwarna kecoklatan di hadapan Maya. "Teh jahe, kunyit, dan sedikit kayu manis. Bagus untuk ibu hamil."

"Makasih, Pak," Maya tersenyum tipis, berusaha menghindari kontak mata.

"Dulu istri saya selalu minum ini waktu hamil," Pak Karyo menambahkan, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Membantu mengurangi mual dan memberi energi."

Maya hanya mengangguk, tangannya terulur mengambil cangkir. Pada saat yang sama, Pak Karyo menyesuaikan posisi cangkir, dan jari-jari mereka bersentuhan.

Hanya sentuhan ringan, tidak lebih dari sedetik, tapi rasanya seperti aliran listrik menjalar di tubuh Maya. Dia cepat-cepat menarik tangannya, sedikit teh tumpah ke meja.

"Maaf, Bu," Pak Karyo buru-buru mengambil lap.

"Nggak apa-apa," Maya menjawab terlalu cepat, suaranya sedikit bergetar.

Kenapa? Kenapa hanya sentuhan biasa bisa bikin tubuhku bereaksi begini? Ini tidak normal.

Irwan mengangkat pandangan dari tabletnya, matanya tajam mengamati interaksi itu. Di bawah meja, kakinya bergerak gelisah. Dia melihat bagaimana Maya tersentak saat Pak Karyo menyentuhnya, bagaimana wajah istrinya sedikit memerah.

Menarik... reaksinya semakin intens dibanding sebelumnya.

"Kamu keliatannya lelah," Irwan berkata sambil meletakkan tabletnya. Maya tidak menyadari bahwa layarnya menampilkan gambar dari kamera tersembunyi, bukan berita seperti yang dia kira.

"Iya, pesta semalam bikin capek," Maya mengusap pelipisnya. "Kayaknya aku mau kerja dari rumah aja hari ini."

"Ide bagus," Irwan mengangguk, mengambil sepotong roti. "Aku ada meeting sampai malam nanti. Kemungkinan pulang telat."

"Meeting apa lagi?" tanya Maya, mengernyit.

"Presentasi untuk klien baru," jawab Irwan sambil mengunyah. "Kalau kamu perlu pijat lagi, minta aja sama Pak Karyo. Nggak perlu nunggu aku pulang."

Maya hampir tersedak tehnya. "Apa?"

Apa maksudnya? Setelah yang terjadi semalam?

"Pijatan kan bagus buat ibu hamil," Irwan melanjutkan santai. "Dan Pak Karyo jelas tau caranya. Kemarin kelihatannya kamu nikmatin banget."

Maya menatap suaminya, mencari tanda-tanda kecurigaan atau kemarahan, tapi yang dilihatnya hanya ketulusan. Atau setidaknya, apa yang tampak seperti ketulusan.

"Benar kan Pak?" Irwan menoleh ke arah Pak Karyo yang masih berdiri tidak jauh dari mereka.

"Iya, Pak," Pak Karyo mengangguk sopan. "Pijat bisa melancarkan peredaran darah dan mengurangi bengkak yang sering dialami ibu hamil."

Kendhel tenan Pak Irwan iki. Apa dheweke ora ngerti aku seneng banget mijeti bojone? (Berani benar Pak Irwan ini. Apa dia tidak tahu aku sangat suka memijat istrinya?)

"Tuh kan yang? Pak Karyo paham betul," Irwan tersenyum, kembali pada sarapannya.

Maya memandang kedua pria itu bergantian, kebingungan. Apakah Irwan benar-benar tidak menyadari apa yang terjadi semalam? Atau mungkin dia melihat sesuatu tapi menafsirkannya berbeda?

"Mungkin lain kali," Maya akhirnya berkata pelan.

Sarapan berlanjut dalam keheningan canggung. Maya lebih banyak mengaduk-aduk makanannya daripada makan, sementara Pak Karyo mondar-mandir di dapur dengan gerakan yang tampak lebih waspada dari biasanya. Beberapa kali Maya menangkap Pak Karyo melirik ke arahnya, tatapannya sulit diartikan.

Irwan berpaling pada Maya. "Kamu istirahat saja hari ini, jangan terlalu dipaksain kerjanya."

"Aku cuma perlu review beberapa proposal," Maya menjawab. "Nggak terlalu berat."

Irwan bangkit, menghabiskan kopinya dengan cepat. "Aku mandi dulu."

Begitu Irwan menghilang ke lantai atas, atmosfer di dapur berubah. Maya bisa merasakan Pak Karyo mendekat, membersihkan meja di dekatnya.

"Ibu perlu sesuatu lagi?" tanya Pak Karyo, suaranya rendah.

"Nggak, makasih," Maya menjawab cepat, hampir defensif.

Pak Karyo mengangguk, tapi tidak beranjak. "Maaf soal semalam, Bu. Saya... terlalu lama mijatnya."

Maya mendongak, menatap mata Pak Karyo untuk pertama kalinya pagi itu. Ada sesuatu di sana—pengakuan tak terucap tentang apa yang sebenarnya terjadi semalam.

"Nggak apa-apa, Pak," Maya akhirnya berkata. "Kita semua capek semalam."

"Benar, Bu," Pak Karyo menyetujui, tapi mereka berdua tahu percakapan ini tentang sesuatu yang lebih dalam.

Dheweke isih mikir soal program biyen, ketok saka matane. Aku yo ora bisa lali. (Dia masih memikirkan program dulu, terlihat dari matanya. Aku juga tidak bisa lupa.)

Maya beranjak dari kursinya. "Aku mau siap-siap dulu."

Saat melewati Pak Karyo, aroma tubuhnya—campuran minyak kelapa dan keringat samar yang maskulin—membuat perut Maya seolah jungkir balik. Napasnya tertahan tanpa sengaja.

Ya Tuhan, kenapa? Aku sudah hamil. Program itu selesai. Seharusnya perasaan ini juga selesai.


Siang menjelang, dan rumah terasa sepi setelah Irwan berangkat kerja. Maya duduk di ruang kerjanya, laptop terbuka menampilkan spreadsheet yang sama selama satu jam terakhir tanpa kemajuan berarti. Konsentrasinya buyar, pikirannya terus kembali pada interaksi pagi tadi.

Suara mesin pemotong rumput dari halaman belakang mengalihkan perhatiannya. Maya berjalan ke jendela, menyibak tirai. Dari sini dia bisa melihat Pak Karyo sedang membersihkan halaman, punggungnya membelakangi rumah.

Irwan memang selalu meminta Pak Karyo bekerja tanpa baju saat merawat kebun. Alasannya praktis—agar tidak perlu mencuci baju kotor. Tapi sekarang, saat Maya memperhatikan otot-otot punggung Pak Karyo yang bergerak di bawah sinar matahari, dia tahu alasan lain Irwan mungkin meminta itu.

Apa yang terjadi pada kami? Pada pernikahan kami?

Maya menyentuh perutnya yang mulai membuncit sedikit. Lima minggu kehamilannya terasa seperti mimpi. Kadang dia masih tidak percaya program itu benar-benar berhasil.

"Program," bisiknya pada diri sendiri. Kata itu seharusnya klinis, steril. Tapi kenyataannya penuh dengan kenangan yang jauh dari klinis—desahan, sentuhan, dan momen-momen intim yang tidak seharusnya terjadi dengan pria selain suaminya.

Pak Karyo berbalik, dan untuk sesaat Maya yakin dia menatap langsung ke jendela tempatnya berdiri. Dia cepat-cepat mundur, jantungnya berdebar tak beraturan.

Aku harus bicara dengan Irwan. Semua ini... tidak sehat.

Maya kembali ke mejanya, menutup laptop. Dia tidak bisa bekerja dalam kondisi seperti ini. Mungkin berendam air hangat bisa membantunya menjernihkan pikiran.

Saat melangkah ke kamar mandi, dia berpapasan dengan Pak Karyo di koridor. Lelaki itu baru masuk dari halaman, tubuhnya berkilau oleh keringat, handuk kecil tersampir di bahunya.

"Maaf, Bu," Pak Karyo menepi, memberi jalan.

"Nggak apa-apa, Pak," Maya menjawab, matanya tanpa sengaja menelusuri dada Pak Karyo yang telanjang. Bekas luka di sana mengingatkannya pada malam-malam "program"—bagaimana jarinya pernah menelusuri luka itu, bagaimana Pak Karyo bercerita mendapatkannya saat bekerja di perkebunan dulu.

Kenapa aku masih ingat detailnya?

"Ada yang Ibu perlukan?" suara Pak Karyo membuyarkan lamunannya.

"Ah, nggak," Maya menggeleng cepat. "Aku mau berendam sebentar."

"Kalau perlu pijat punggung lagi setelah mandi, Ibu bisa panggil saya."

Tawarannya terdengar profesional, tapi mata mereka bertemu dan ada kilatan di sana—pengingat akan keintiman yang pernah mereka bagi.

"Liat nanti ya," jawab Maya pelan, tangannya mencengkeram handuk dengan lebih erat dari yang seharusnya.

Aku harus bicara sama Irwan, pikir Maya sambil membuka keran, membiarkan uap air hangat memenuhi kamar mandi. Ini nggak sehat.

Maya melepaskan pakaiannya perlahan, matanya menangkap bayangannya di cermin—perut yang mulai membuncit, payudara yang membesar dan lebih sensitif sejak kehamilan. Tangannya bergerak menyentuh perutnya.

Di dalam sini... ada anak Pak Karyo.

Pikiran itu membuat tubuhnya merinding aneh. Maya cepat-cepat masuk ke bathtub, berusaha menenggelamkan pikiran-pikiran itu bersama tubuhnya.

Air hangat membantu menenangkan pikirannya, tapi hanya sebentar. Begitu dia memejamkan mata, bayangan tangan kasar Pak Karyo kembali menghantuinya—bagaimana tangan itu menjelajahi tubuhnya dulu, bagaimana tangan itu semalam menyentuh paha dalamnya dengan dalih pijatan.

"Cukup!" Maya membuka mata, menenggelamkan wajahnya ke air sejenak.

Setelah hampir satu jam berendam, Maya akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia mengenakan kimono mandi, rambutnya masih lembap. Dia duduk di tepi ranjang, memandangi ponselnya. Haruskah dia menghubungi Irwan sekarang?

Tapi apa yang mau aku katakan? 'Yang, tolong suruh Pak Karyo berhenti mijat aku karena aku takut masih suka sama dia?' Konyol.

Maya menghela napas panjang. Mungkin dia hanya terlalu sensitif. Kehamilan memang membuat hormonnya kacau. Mungkin apa yang dia rasakan saat dipijat semalam hanya reaksi normal tubuh hamil yang sensitif.

Atau mungkin... aku masih punya perasaan untuknya?

Pikiran itu menakutkan. Maya menggelengkan kepala kuat-kuat.

Satu-satunya cara memastikan... adalah dengan mengulang situasi semalam.

Maya mengambil ponselnya, mengetik pesan untuk Irwan: "Meeting sampai jam berapa? Miss you."

Balasan datang beberapa menit kemudian: "Paling cepat jam 9. Miss you too. Jaga bayinya ya."

Maya menelan ludah, meletakkan ponsel. Keputusannya sudah bulat. Dia akan meminta Pak Karyo memijatnya sekali lagi—hanya untuk memastikan. Jika dia tidak merasakan apa-apa, berarti semalam hanya kebetulan, hanya reaksi fisik biasa. Tapi jika ternyata masih ada... sesuatu, maka dia harus benar-benar bicara dengan Irwan.

"Ini cuma eksperimen," Maya bergumam pada dirinya sendiri sambil mengeringkan rambut. "Cuma buat mastiin."


 

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟕𝟒

Setelah Irwan berangkat, Maya mengikuti Pak Karyo ke ruang keluarga yang sudah disiapkan dengan bantal-bantal nyaman di sofa.

"Silakan berbaring, Bu," Pak Karyo mempersilakan dengan sopan.

Maya menurut, berbaring tengkurap dengan hati-hati, bantal kecil menopang perutnya. Tangan Pak Karyo mulai bekerja di punggungnya, lebih percaya diri dari sebelumnya.

"Bagian mana yang sakit, Bu?" tanyanya.

"Di sini," Maya menunjuk area pinggang bawahnya. "Kursi rumah sakitnya keras banget."

Pak Karyo mengangguk, tangannya bergerak ke area yang ditunjuk. "Saya mengerti. Dulu istri saya selalu mengeluh tentang kursi rumah sakit setiap habis periksa."

"Pak Karyo seneng ya lihat foto USG tadi?" Maya bertanya, matanya terpejam menikmati pijatan.

Ada jeda sejenak sebelum Pak Karyo menjawab, "Tentu, Bu. Saya ikut bahagia melihat bayi Bapak dan Ibu sehat."

"Bapak sempet lihat detak jantungnya tadi?" Maya melanjutkan dengan nada kasual. "Kecil tapi kuat, kayak..." dia berhenti, hampir kelepasan mengatakan 'seperti ayahnya'.

"Kayak apa, Bu?" Pak Karyo bertanya, tangannya masih bergerak metodis.

"Kayak... harapan baru," Maya meralat cepat. "Kecil tapi penuh harapan."

Pak Karyo hanya mengangguk. Pijatan berlanjut dalam keheningan yang nyaman, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Maya tentang kebahagiaan melihat bayinya untuk pertama kali, dan Pak Karyo... entah apa yang dia pikirkan saat melihat foto USG bayi yang secara biologis adalah anaknya, tapi tidak akan pernah bisa dia akui.

"Pak Karyo?" Maya memecah keheningan.

"Ya, Bu?"

"Makasih ya," ucapnya tulus. "Buat semuanya. Teh herbal, pijatan, bahkan kedondong tengah malam."

Tangan Pak Karyo berhenti sejenak, sebelum melanjutkan dengan lebih lembut. "Sama-sama, Bu. Saya senang bisa membantu."

Jari-jari kokohnya bekerja dengan terampil di sekitar tulang ekor Maya, menekan titik-titik yang tegang dengan tekanan yang tepat. Maya mendesah pelan, merasakan kelegaan dari nyeri yang sudah mengganggunya seharian.

"Bagus, Pak," gumam Maya, matanya terpejam. "Emang bener-bener pegel banget di situ."

Saat konsentrasi Pak Karyo semakin dalam pada pekerjaannya, tangannya perlahan bergerak turun. Tanpa sengaja, jemarinya menekan lembut area pantat Maya. Dia hampir menarik tangannya, tapi Maya tidak bereaksi negatif—justru mendesah lega.

"Terusin, Pak," ucap Maya tanpa membuka mata. "Bagian situ juga sakit gara-gara duduk kelamaan."

Ragu sejenak, Pak Karyo akhirnya melanjutkan, mengurut dengan hati-hati bagian yang lebih rendah. Tangannya yang kasar kini memijat lembut bagian pantat Maya, tetap profesional meski jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Dia menelan ludah saat Maya sesekali mengerang kecil.

"Udah jarang pegel-pegel seperti ini ya, Bu?" Pak Karyo bertanya, berusaha mengalihkan pikirannya sendiri.

"Hmm... sejak hamil malah lebih sering," jawab Maya, suaranya mengantuk. "Apalagi pinggang sama pantat. Nggak tahu kenapa."

Setiap gerakan jarinya di pantat Maya memicu ingatan yang bikin tubuh Pak Karyo memanas. Bokong yang sama yang dulu dia remas, tampari, dan pegangi erat saat menggenjot Bu Maya dari belakang berjam-jam. Bokong yang montok itu, yang dulu bikin dia gila, yang sering dia cium dan jilat sampai Bu Maya menjerit-jerit.

Kepadatannya masih seperti yang dia ingat. Bedanya dulu dia bisa menikmati tanpa batas, sekarang cuma bisa nyentuh dengan alasan pijat. Pak Karyo menelan ludah saat ingatan Bu Maya nungging di depannya, bokongnya terbuka lebar, memohon untuk diisi muncul jelas di benaknya.

"Ahh, enak Pak," desah Maya pelan, bikin selangkangan Pak Karyo langsung bereaksi.

Keringatnya udah bukan cuma di dahi, tapi mengucur di punggung. Celananya mulai terasa sempit, dan dia harus berjuang keras nyembunyiin tonjolan yang makin membesar. Tiap kali jarinya menekan dan memijat pantat Maya, ingatan tentang pantat itu bergerak naik turun di pangkuannya bikin napasnya makin berat.

Setelah lima belas menit yang terasa seperti siksaan, Pak Karyo sengaja mengakhiri pijatannya. "Sepertinya sudah cukup, Bu," suaranya sedikit serak. "Nanti kalau dipijat terlalu lama bisa bahaya untuk kandungan." Pak Karyo terpaksa berbohong, yang bahaya sebenernya buat dirinya sendiri—takut nggak bisa nahan diri buat nggak nindih Bu Maya saat itu juga.

Maya membuka mata dan tersenyum. "Nggak apa-apa, pasti kamu juga capek. Makasih ya, Pak." Dia perlahan bangkit, merapikan bajunya yang sedikit tersingkap.

"Sama-sama, Bu. Saya... permisi dulu," Pak Karyo bergegas menuju kamarnya di bagian belakang rumah.

Begitu pintu tertutup, Pak Karyo duduk di tepi ranjang, napasnya berat. Celananya terasa sempit, reaksi tubuhnya sulit dikendalikan. Dia mengusap wajahnya kasar, merasa bersalah sekaligus frustasi.

"Astaghfirullah," bisiknya pada diri sendiri.

Bokong e Bu Maya kok iso alus banget, lan montok e ra karuan. Awakku dadi panas kabeh. (Bokong Bu Maya kok bisa halus banget, dan montoknya nggak karuan. Badanku jadi panas semua.)

Jarinya yang kasar masih terasa panas setelah menyentuh bagian tubuh majikannya yang tak seharusnya dia sentuh. Otaknya terus mengulang reaksi Maya yang tak menolak, malah memintanya meneruskan.

Setan! Iki mesti ditekan! Nek ora, mengko aku malah nggawe masalah. (Setan! Ini mesti ditekan! Kalau nggak, nanti aku malah bikin masalah.)

Malam semakin larut. Dengan tangan masih gemetar, Pak Karyo mengeluarkan ponsel dari laci dan mengirim pesan pada istrinya. Dia butuh pelampiasan sebelum nafsunya menguasai akal sehatnya. Tak lama, panggilan video masuk.

"Mas?" Wajah Ratih muncul di layar, tersenyum melihat suaminya. "Kok durung turu?" (Kok belum tidur?)

"Kangen," jawab Pak Karyo singkat, suaranya sedikit serak. "Dani wis turu?" (Dani sudah tidur?)

"Wis kawit mau. Ana apa ta, Mas? Kok raine aneh?" (Sudah dari tadi. Kenapa, Mas? Kok wajahnya aneh?)

Pak Karyo menggeleng pelan. Awakku panas, tapi aku ora iso ngomong nek iki mergo bokong e Bu Maya. (Badanku panas, tapi aku nggak bisa ngomong kalau ini gara-gara bokongnya Bu Maya.)

"Ratih... aku... kangen banget karo kowe." (Ratih... aku... kangen banget sama kamu.)

Ratih tersenyum malu, mengerti maksud tersirat suaminya. "Aku ya kangen, Mas," bisiknya. "Dani wis turu angler kok." (Dani sudah tidur pulas kok.)

Pak Karyo mengunci pintu kamarnya dan duduk di tepi ranjang sempit. Ponsel digenggam erat, jantungnya berdebar.

"Ratih, Dani tenan wis turu angler?" tanyanya, suara makin serak. (Ratih, Dani beneran sudah tidur pulas?)

"Wis tenan kok, Mas. Wis turu angler." (Udah beneran kok, Mas. Udah tidur pulas.)

Pak Karyo menelan ludah. "Awakmu iso bukak klambimu saiki?" (Kamu bisa buka bajumu sekarang?)

Ratih terkikik malu. "Mas nakal ah. Tapi iya wis, sebentar." (Mas nakal ah. Tapi iya deh, sebentar.)

Layar bergoyang saat Ratih meletakkan ponsel. Samar-samar Pak Karyo bisa melihat kamar sederhana mereka di desa. Ratih kembali ke layar, kini hanya mengenakan kain jarik yang dililitkan di dada.

"Kangen banget karo awakmu, Nduk," bisik Pak Karyo. (Kangen banget sama kamu, Sayang.)

"Aku yo kangen, Mas," jawab Ratih, pipinya merona. (Aku juga kangen, Mas.)

Jari-jari Pak Karyo mulai membuka kancing celananya. "Deloken aku, Nduk. Awakku wis ora kuwat." (Lihat aku, Sayang. Badanku udah nggak kuat.)

Ratih menutup mulutnya, tertawa kecil melihat Pak Karyo mengeluarkan kejantanannya yang sudah mengeras. "Mas, iku wis gedhe banget." (Mas, itu udah gede banget.)

"Mergo awakmu, Nduk. Delok awakmu..." (Gara-gara kamu, Sayang. Lihat badanmu...)

Dengan malu-malu Ratih menurunkan jariknya, menampakkan dadanya yang kecil namun kencang. Pak Karyo mengerang pelan, tangannya mulai bergerak naik turun.

"Buka kabeh, Nduk. Aku pengen weruh kabeh." (Buka semua, Sayang. Aku pengen lihat semua.)

Ratih menuruti permintaan suaminya, kini sepenuhnya telanjang di depan kamera. Dia duduk dengan kaki terbuka lebar, memperlihatkan kewanitaannya yang basah.

"Mas, mau tak keloni ngene." (Mas, mau aku belai begini.) Tangannya turun menyentuh bagian sensitifnya. "Rasane koyo iki lho, Mas." (Rasanya kayak gini lho, Mas.)

"Iya... teruske... oyee... awakmu apik tenan." (Iya... terusin... oyee... badanmu bagus banget.)

Gerakan tangan Pak Karyo semakin cepat, matanya tak lepas dari layar di mana Ratih juga semakin cepat menggerakkan jarinya. Desahan mereka bersahut-sahutan.

"Nduk... deloken... iki mergo awakmu." (Sayang... lihat... ini gara-gara kamu.) Pak Karyo semakin dekat dengan klimaksnya.

"Mas, aku melu, Mas... ahh..." (Mas, aku ikut, Mas... ahh...) Ratih menggelinjang, tubuhnya melengkung.

Dalam kepalanya, bayangan Ratih tiba-tiba berganti dengan Maya yang tadi mengerang di bawah pijatannya. Pak Karyo menutup mata, nafasnya semakin cepat.

"Ratih... ahhh!"

Cairan putih menyembur ke tangannya, sebagian mengenai seprai. Pak Karyo terengah-engah, perlahan membuka mata. Di layar ponsel, Ratih tersenyum puas.

"Mas... wis suwe ora koyo ngene." (Mas... udah lama nggak kayak gini.)

Pak Karyo tersenyum lelah. "Iya, Nduk. Aku tresno kowe tenan." (Iya, Sayang. Aku cinta kamu beneran.)

Setelah berbisik-bisik beberapa menit, mereka mengakhiri panggilan dengan janji akan segera bertemu. Pak Karyo membersihkan diri dengan tisu, lalu berbaring menatap langit-langit.

Perasaan bersalah menghinggapinya. Bukan karena apa yang baru saja dia lakukan dengan istrinya, tapi karena saat klimaks tadi, yang ada di benaknya adalah wajah Maya, bukan Ratih.

"Gusti, ampunilah hamba," bisiknya sebelum memejamkan mata.


Malam itu, ketika Irwan pulang, Maya dengan antusias menceritakan ulang pengalaman USG mereka. Dia memberikan rekaman yang diputar di laptop, dan mereka berdua duduk terpesona mendengarkan detak jantung bayi mereka.

"Ini keajaiban, Yang," bisik Maya, matanya berkaca-kaca lagi. "Setelah semua yang kita lalui...akhirnya..."

Irwan mengangguk, merangkul bahu Maya erat. "Kita akan jadi orangtua terbaik untuknya."

"Kamu nggak keberatan kan tadi Pak Karyo mijitin aku lagi?" Maya bertanya hati-hati.

"Nggak," jawab Irwan, ada sedikit keraguan dalam suaranya. "Tekniknya emang bagus. Bikin kamu nyaman."

"Kamu...aneh akhir-akhir ini," Maya menelengkan kepalanya. "Beberapa hari lalu kamu cemburu, sekarang malah kamu sendiri yang nyuruh Pak Karyo mijit aku. Aku jadi bingung."

Irwan mengalihkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala di kejauhan. "Aku... cuma nggak mau egois aja."

"Maksudnya?" Maya mengerutkan kening.

"Ya, aku sadar kalau teknik pijatnya emang bikin kamu nyaman," Irwan mengedikkan bahu, berusaha terdengar kasual meski jantungnya berdebar kencang. "Daripada kamu kesakitan, mending ada yang bisa bantu. Buat kebaikan kamu dan bayi kita juga."

Maya menatap Irwan dengan penuh tanya, masih belum sepenuhnya yakin. "Jadi kamu beneran nggak keberatan?"

"Nggak," Irwan tersenyum tipis, meski ada sesuatu yang aneh dalam senyumnya. "Tekniknya ngebantuin kamu. Itu yang penting. Lagi pula, ini kan cuma pijat terapeutik."

"Hmm," Maya mengangguk pelan, masih merasa ada yang tidak dia pahami dari perubahan sikap suaminya.

"Lagian," Irwan menambahkan sambil merangkul bahu Maya, "aku mau kamu nyaman selama hamil. Ini kehamilan yang kita tunggu-tunggu bertahun-tahun. Aku nggak mau kamu stress atau nggak nyaman cuma gara-gara... gara-gara aku nggak bisa mijit dengan teknik yang tepat."

Maya menyandarkan kepalanya di bahu Irwan, merasa lega namun tetap bingung. "Aku cuma nggak mau bikin kamu nggak nyaman, Yang. Kalau kamu keberatan, bilang aja."

"Tenang aja," Irwan mencium puncak kepala Maya, berusaha menyembunyikan gejolak aneh dalam dadanya. "Aku baik-baik aja."

Malam itu, saat Maya tertidur pulas, Irwan diam-diam menyelinap ke ruang kerjanya. Irwan diam-diam bangun dari tempat tidur. Dari laci meja kerjanya, dia mengeluarkan dua kamera mini yang dibeli secara online minggu lalu. Dengan langkah tanpa suara, dia menuju ruang keluarga tempat Maya biasa dipijat.

Tangannya gemetar ketika memanjat kursi dan membuka penutup ventilasi. Dengan hati-hati, dia memasang kamera pertama, mengarahkan lensanya tepat ke sofa. Kamera kedua dipasang di sudut berbeda untuk mendapatkan angle lebih lengkap. Setelah mengecek koneksi ke tabletnya dan memastikan semua berfungsi, Irwan menutup kembali ventilasi.

"Sempurna," bisiknya, menelan ludah. Campuran rasa bersalah dan antisipasi aneh membuatnya mual sekaligus berdebar.

Ia kemudian kembali ke ruang kerjanya. Dengan tangan sedikit gemetar, dia menyalakan tablet dan membuka folder tersembunyi yang berisi rekaman saat hari terakhir Maya bersetubuh dengan Pak Karyo.

Dengan gerak yang terbiasa, ia kembali meraih resletingnya dan…


Akhir pekan tiba dengan cepat. Keluarga besar mereka berkumpul untuk makan malam spesial merayakan kehamilan Maya. Rumah penuh dengan suara obrolan dan tawa. Orangtua Irwan, orangtua Maya, beberapa sepupu dan bibi dari kedua belah pihak datang dengan hadiah dan ucapan selamat.

"Akhirnya!" ibu Maya memeluk putrinya erat. "Tujuh tahun menunggu, akhirnya Mama bakal punya cucu."

"Enam tahun, Ma," Maya mengoreksi dengan senyum, "kami baru nikah enam tahun."

"Tetep aja lama," ibu Irwan ikut menimpali. "Adikmu yang baru nikah dua tahun aja udah mau punya anak kedua."

Maya dan Irwan bertukar pandang, keduanya tersenyum tipis mendengar komentar yang dulu selalu menyakitkan tapi kini tidak lagi terasa menyengat. Mereka sudah berhasil—Maya hamil, dan itu yang terpenting.

"Gimana rasanya, War?" ayah Irwan menepuk bahu putranya. "Jadi calon ayah?"

"Seneng banget, Pah," Irwan menjawab tulus. "Kayak... mimpi jadi kenyataan."

"Udah USG kan? Sehat?" tanya salah satu bibi.

"Udah, sehat sekali," Maya tersenyum bangga, mengeluarkan foto USG dari dompetnya. "Detak jantungnya kuat."

Foto itu berpindah tangan, diikuti dengan "oooh" dan "aaah" dari para tamu. Di sudut ruangan, Pak Karyo bergerak tenang menyajikan minuman untuk para tamu. Matanya sesekali melirik ke arah foto USG yang kini dipegang oleh ibu Maya.

Saat hidangan penutup disajikan, Andi, sepupu Maya, menariknya ke sudut ruangan yang lebih sepi.

"Jadi..." Andi berbisik, matanya penuh rasa ingin tahu, "kalian akhirnya jadi pakai donor?"

Maya menatap sepupunya dengan hati-hati. Andi adalah satu-satunya anggota keluarga yang tahu tentang rencana donor karena Maya pernah memintanya untuk menjadi donor, sebelum ditolak oleh Andi – dan semua calon donor yang mereka approach – sehingga akhirnya Pak Karyo mengajukan diri beberapa bulan lalu.

"Ya," jawab Maya singkat, matanya memastikan tidak ada yang mendengar.

Andi tersenyum, "Aku ikut seneng. Setelah semua yang kalian lewatin..."

"Makasih," Maya mengangguk.

"Jadi..." Andi melanjutkan dengan suara nyaris berbisik, "kalian jadi pake donor? Siapa? Bukannya waktu itu kalian minta sama aku?"

Maya langsung mencengkeram lengan sepupunya, matanya waspada mengawasi tamu lain. "Ssst! Kamu gila ya ngomong begitu di sini?"

"Santai, nggak ada yang denger kok." Andi melirik ke sekeliling. "Tapi donor dari mana? Klinik? Atau... temen kalian yang lain?"

Wajah Maya memucat. "Andi, please. Jangan bahas ini lagi, ya? Dan jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia aku dan Irwan. Kamu satu-satunya keluarga yang tahu soal... metodenya."

"Ya iyalah aku nggak akan bilang siapa-siapa," Andi mendengus pelan. "Tapi aku penasaran banget. Jadi siapa? Orang yang aku kenal?"

"Andi," suara Maya bergetar, tangannya meremas lengan sepupunya lebih kuat, "aku mohon, ini rahasia kita. Aku nggak bisa kasih tahu siapa orangnya. Kalo sampe ketahuan keluarga... entah gimana nasib pernikahan aku sama Irwan."

Andi menatap Maya lama, kemudian menghela napas. "Oke, oke. Rahasia kita. Tapi metodenya pakai... um... cara medis atau...?"

Maya melepaskan genggamannya, wajahnya menegang. "Udah, ya. Jangan dibahas lagi. Yang penting sekarang aku hamil. Tolong rahasiakan ini dari siapapun."

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Suara percakapan yang tadinya riuh kini mereda. Ibu Irwan menguap diam-diam di balik telapak tangannya.

"Kita pamit dulu ya, Maya, Irwan," ujar ayah Maya sambil merangkul istrinya. "Besok masih ada acara di rumah Tante Siska."

Satu persatu kerabat mengikuti, pelukan dan kecupan pipi bertukar dengan janji akan bertemu lagi segera. Pintu depan terus terbuka dan tertutup, suara-suara pamitan bergema di teras depan.

Maya tersenyum dan melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum pintu tertutup. Begitu sendirian, senyumnya langsung luntur. Dia meregangkan leher yang kaku, lalu menghempaskan diri ke sofa. Jari-jarinya dengan susah payah melepas sepatu hak 7 cm yang sudah menyiksa kakinya selama berjam-jam. Dia mengerang lega saat kaki telanjangnya akhirnya menyentuh lantai dingin.

"Capek?" tanya Irwan, duduk di sampingnya.

"Banget," Maya mendesah. "Tapi seneng."

Pak Karyo sudah mulai membersihkan sisa-sisa pesta, mengumpulkan gelas-gelas kosong dengan gerakan efisien. Maya mengamatinya sejenak, lalu tanpa sadar mengusap pinggangnya yang terasa nyeri.

"Punggung sakit lagi?" tanya Irwan, mengikuti arah pandang Maya.

"Iya," Maya mengangguk. "Kebanyakan berdiri tadi."

Irwan melirik Pak Karyo, lalu kembali ke Maya. "Pak Karyo," panggilnya, "sepertinya istri saya butuh pijatan rutin Bapak lagi."

Pak Karyo menoleh, mengangguk sopan. "Baik, Pak. Saya siapkan tempatnya dulu."

Maya menatap Irwan dengan alis terangkat. "Kamu yakin? Kamu nggak perlu... apa... berusaha mijit sendiri?"

"Tekniknya lebih bagus dari aku," Irwan tersenyum, mengusap rambut Maya lembut. "Lagian, aku mau beresin beberapa email dulu. Ada yang urgent dari kantor."

Irwan menuju ruang kerjanya, sementara Maya mengikuti Pak Karyo ke ruang keluarga yang sudah disiapkan untuk pijatan. Tanpa dia sadari, Irwan telah memasang kamera tersembunyi, dengan sudut yang jelas menangkap seluruh aktivitas di sofa.


 

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟕𝟑

 

Keesokan harinya, matahari sudah tinggi ketika Maya terbangun. Irwan sudah pergi ke kantor, meninggalkan catatan kecil di nakas: "Meeting pagi, nggak mau ganggu tidur kamu. Istirahat yang cukup ya. Love you."

Maya tersenyum membaca pesan itu, merasa bersalah karena membuat Irwan terbangun tengah malam. Dia beranjak ke kamar mandi, mencuci muka, dan turun ke dapur. Pak Karyo sedang merapikan halaman belakang, terlihat dari jendela dapur.

Di meja makan sudah tersedia sarapan ringan dan segelas teh herbal yang masih hangat. Ada catatan kecil di sebelahnya: "Untuk Bu Maya. Teh hal untuk energi. - Pak Karyo."

Maya menyesap teh itu perlahan, merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Punggungnya masih terasa sedikit nyeri. Tanpa pikir panjang, dia berjalan ke halaman belakang.

"Pagi, Pak," sapanya pada Pak Karyo yang sedang menyapu dedaunan kering.

Pak Karyo menoleh, langsung berhenti bekerja dan membungkuk sopan. "Selamat pagi, Bu. Ibu sudah merasa lebih baik?"

"Lumayan," Maya tersenyum. "Terima kasih untuk tehnya. Dan untuk kedondong semalam."

"Sama-sama, Bu," Pak Karyo mengangguk. "Saya senang bisa membantu."

Maya mengusap pinggangnya yang masih terasa nyeri. "Pak Karyo, punggung saya masih agak sakit. Apa... apa Bapak bisa pijat seperti kemarin?"

Ada keraguan sekilas di mata Pak Karyo sebelum dia menjawab, "Tentu, Bu. Tapi... apa Pak Irwan tidak keberatan?"

"Oh, dia sudah berangkat kerja," Maya menjawab cepat. "Dia bahkan bilang mau belajar teknik pijat dari Bapak."

Pak Karyo tampak lega. "Baik, Bu. Saya akan siapkan ruang keluarga untuk pijatnya. Saya cuci tangan dulu."

Lima belas menit kemudian, Maya berbaring tengkurap di sofa ruang keluarga, dengan bantal kecil menyangga perutnya. Pak Karyo mulai memijat bahunya dengan gerakan profesional namun percaya diri. Tangannya yang kasar dari kerja fisik bertahun-tahun bergerak terampil, menemukan titik-titik ketegangan di tubuh Maya.

"Mm, enak banget," Maya bergumam, merasakan otot-ototnya melemas di bawah tekanan tangan Pak Karyo. "Bapak bener-bener berbakat."

"Hanya pengalaman, Bu," Pak Karyo menjawab rendah hati. "Titik di pinggang bawah ini yang bikin Ibu nggak nyaman ya?"

Ketika ibu jari Pak Karyo menekan satu titik di pinggang bawahnya, Maya tak bisa menahan desahan lega. "Iya, tepat di situ. Rasanya nyeri banget dari tadi pagi."

"Ini titik yang sering bermasalah untuk ibu hamil," Pak Karyo menjelaskan, tangannya terus bergerak metodis. "Tubuh mulai menyesuaikan diri dengan kehamilan, meskipun masih sangat awal."

Maya hanya mengangguk, terlalu nyaman untuk bicara. Tangan Pak Karyo bergerak dengan percaya diri, berbeda dengan sentuhan ragu-ragu Irwan semalam. Tanpa sadar, Maya membandingkan keduanya—bagaimana Irwan selalu terlalu lembut, takut menyakitinya, sementara Pak Karyo tahu persis berapa banyak tekanan yang dibutuhkan.

"Pak Irwan sangat perhatian ya, Bu," Pak Karyo berkomentar tiba-tiba.

"Hmm? Kenapa Bapak bilang begitu?" Maya bertanya tanpa membuka mata.

"Semalam. Beliau sangat khawatir saat Ibu ngidam. Langsung mencoba berbagai cara untuk memenuhi keinginan Ibu," Pak Karyo menjawab sambil memijat area bahu Maya. "Itu tanda suami yang baik."

Maya tersenyum. "Iya, dia selalu begitu. Kadang terlalu khawatir malah."

"Wajar, Bu. Ini kehamilan pertama setelah menunggu lama. Pasti Pak Irwan sangat bahagia dan ingin semuanya sempurna."

Maya terdiam, merenungkan kata-kata Pak Karyo. Ada perasaan hangat menyelimuti hatinya, mengingat betapa Irwan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuknya, meski kadang tidak berhasil.

Pijatan berlanjut dalam keheningan yang nyaman. Maya hampir tertidur ketika suara ketukan di pintu depan mengejutkannya. Pak Karyo langsung menghentikan pijatannya.

"Saya akan lihat siapa, Bu," katanya, buru-buru berdiri.

Maya duduk dengan enggan, merasa kecewa pijatan menyenangkan itu harus terhenti. Dia bisa mendengar Pak Karyo membuka pintu dan berbicara dengan seseorang. Tak lama, Pak Karyo kembali dengan ekspresi sedikit tegang.

"Pak Irwan pulang, Bu," dia memberitahu dengan suara pelan.

Belum sempat Maya merespon, Irwan muncul di ambang pintu ruang keluarga. Dia terdiam sejenak, matanya bergerak dari Maya ke Pak Karyo, lalu kembali ke Maya.

"Oh, hai sayang," Maya menyapa, berusaha terdengar kasual. "Kok pulang jam segini?"

"Meeting-nya batal," Irwan menjawab, masih berdiri di ambang pintu. "Jadi aku pikir mending pulang, ngecek keadaan kamu."

"Aku baik-baik aja kok," Maya tersenyum, menepuk sofa di sampingnya. "Sini."

Irwan melangkah masuk, duduk di samping Maya. Matanya melirik Pak Karyo yang masih berdiri dengan sikap formal.

"Pak Karyo lagi mijitin punggung aku," Maya menjelaskan, merasa perlu mengklarifikasi situasi. "Masih sakit dari semalam."

Irwan mengangguk pelan. "Oh." Hanya itu responnya, tapi Maya bisa merasakan ada sesuatu di balik kata singkat itu.

"Saya permisi dulu, Bu, Pak," Pak Karyo membungkuk sopan. "Masih ada pekerjaan di halaman belakang."

"Jangan berhenti karena saya, Pak," kata Irwan tiba-tiba, mengejutkan baik Maya maupun Pak Karyo. "Saya lihat istri saya menikmati pijatan Bapak. Teruskan saja."

Maya menatap Irwan dengan campuran bingung dan terkejut. "Kamu... yakin?"

"Tentu," Irwan mengangguk, senyum tipis di bibirnya. "Aku lihat kamu kesakitan tadi malam, dan aku nggak bisa banyak bantu. Kalau Pak Karyo bisa bikin kamu nyaman, kenapa enggak?"

Pak Karyo masih berdiri ragu, matanya berpindah antara Maya dan Irwan. "Saya bisa lanjutkan nanti saja, Pak."

"Nggak apa-apa, Pak," Irwan bersikeras. "Saya justru mau lihat tekniknya, biar saya bisa belajar juga. Buat jaga-jaga kalau saya sendirian dengan istri saya."

Dengan canggung, Pak Karyo kembali ke posisinya. Maya berbaring tengkurap lagi, sementara Irwan duduk di kursi tunggal di dekat sofa, mengamati dengan seksama. Atmosfer ruangan terasa berbeda—ada ketegangan halus yang sebelumnya tidak ada.

Tangan Pak Karyo mulai bergerak lagi di punggung Maya, meski gerakannya terlihat lebih hati-hati dan formal sekarang. Maya sendiri juga tidak serileks sebelumnya, sadar akan tatapan Irwan yang tidak lepas dari mereka.

"Jadi tekniknya seperti itu, Pak?" Irwan bertanya, matanya mengikuti setiap gerakan tangan Pak Karyo. "Menarik."

"Ini hanya pijat tradisional untuk ibu hamil, Pak," Pak Karyo menjawab sopan. "Titik-titik tertentu yang membantu meredakan ketidaknyamanan."

Irwan mengangguk, mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat lebih jelas. "Apa itu juga yang Bapak lakukan untuk istri-istri Bapak?"

"Iya, Pak," Pak Karyo menjawab, tangannya terus bergerak metodis. "Terutama Ratih, istri kedua saya. Dia sering sakit punggung selama hamil."

Maya memejamkan mata, berusaha menikmati pijatan meski situasinya kini terasa aneh. Dia bisa mendengar Irwan bergeser di kursinya, sekali-sekali mendehem atau berkomentar, "Oh, jadi di situ titiknya," atau "Ah, saya mengerti sekarang."

Setelah lima belas menit yang terasa panjang, Pak Karyo akhirnya selesai. "Sudah, Bu. Semoga Ibu merasa lebih baik."

Maya duduk, mengangguk pada Pak Karyo. "Terima kasih, Pak. Jauh lebih nyaman sekarang."

"Sama-sama, Bu," Pak Karyo membungkuk, lalu beralih ke Irwan. "Ada yang ingin Bapak tanyakan tentang tekniknya?"

"Tidak sekarang, Pak," Irwan tersenyum tipis. "Saya perhatikan dengan baik tadi. Mungkin lain kali saya akan mencoba sendiri."

Setelah Pak Karyo kembali ke pekerjaannya, Maya mengamati Irwan yang kini duduk di sampingnya di sofa. Ada sesuatu yang berbeda dalam ekspresinya—sebuah campuran emosi yang sulit dibaca.

"Kamu nggak keberatan?" tanya Maya hati-hati, masih bingung dengan sikap Irwan yang tidak biasa. "Tadi...maksud aku soal pijatan Pak Karyo."

Irwan menggeleng pelan, matanya masih menerawang. "Nggak. Kenapa harus keberatan? Dia bantu mengurangi sakitmu, itu yang penting."

"Tapi kamu...aneh," Maya menggeser duduknya menghadap Irwan sepenuhnya. "Biasanya kamu nggak gitu. Ada apa sih?"

Irwan menghela napas panjang, akhirnya menatap Maya. "Aku cuma...baru sadar aja kalau ada banyak hal yang nggak bisa aku kasih ke kamu langsung."

"Maksudnya?"

"Teh herbal, pijatan yang bikin nyaman, bahkan kedondong tengah malam," Irwan tersenyum tipis, ada kesedihan dalam senyumnya. "Pak Karyo tau semua itu dari pengalaman. Lima kali jadi ayah. Sementara aku..."

"Hey," Maya menggenggam tangan Irwan. "Itu semua hal sepele. Yang penting itu kamu, Yang. Aku nggak peduli siapa yang ngasih pijatan atau nyariin kedondong, selama kamu tetap di sampingku."

Irwan mengangguk, tapi Maya bisa melihat ada sesuatu yang masih mengganjal di benaknya. Namun, alih-alih mendesak lebih jauh, Maya memilih mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Irwan.

"Aku seneng kamu pulang," bisiknya. "Kangen."

Irwan melingkarkan tangannya di bahu Maya, mencium puncak kepalanya. "Aku juga."

Mereka duduk seperti itu beberapa saat, menikmati keheningan yang nyaman. Dari jendela, mereka bisa melihat Pak Karyo yang sibuk membersihkan kolam ikan kecil di sudut taman, punggungnya yang lebar dan kokoh bergerak teratur saat dia bekerja.

"Besok jadwal USG pertama kita ya?" tanya Irwan tiba-tiba.

"Iya," Maya tersenyum lebar, tangannya bergerak ke perutnya yang masih rata. "Aku nggak sabar banget. Katanya kita udah bisa denger detak jantungnya lho."

"Beneran?" mata Irwan melebar, ekspresinya berubah jadi kegembiraan murni. "Secepat itu?"

"Iya, aku baca di buku kehamilan yang kamu beliin. Di minggu keenam atau ketujuh, jantung bayi udah mulai berdetak."

Irwan mengusap perut Maya dengan lembut. "Halo jagoan, besok Papa sama Mama mau dengerin detak jantung kamu ya."

Maya tertawa kecil. "Dasar. Baru tau jenis kelaminnya aja belum."

"Feeling Papa sih cowok," Irwan nyengir. "Tapi Papa tetep sayang kalau ternyata cewek cantik kayak Mama juga."

Malam itu, mereka tidur dengan perasaan antisipasi yang menggebu-gebu. Besok akan jadi hari besar—hari pertama mereka melihat bukti nyata kehidupan kecil yang tumbuh dalam rahim Maya. Pertama kalinya bayi mereka terlihat sebagai lebih dari sekadar garis pada test pack.

Keesokan paginya, Maya bangun lebih awal dari biasanya, terlalu bersemangat untuk bisa tidur lebih lama. Dia menemukan Irwan sudah duduk di tepi tempat tidur, tampak rapi dengan kemeja biru muda kesukaannya.

"Udah siap dari tadi?" Maya tersenyum geli.

"Meeting jam sebelas," Irwan mengusap rambutnya yang masih basah. "Tapi lebih penting nemenin kamu USG dulu."

Suasana sarapan pagi itu lebih ceria dari biasanya. Pak Karyo menyiapkan menu spesial—bubur ayam dengan kuning telur setengah matang dan teh herbal yang kini menjadi rutinitas Maya. Bahkan Pak Karyo pun terlihat tersenyum lebih lebar saat Maya memberitahunya tentang janji USG hari ini.

"Semoga bayinya sehat, Bu, Pak," ucap Pak Karyo dengan tulus saat mereka bersiap berangkat.

"Makasih, Pak," Irwan menepuk bahu Pak Karyo singkat. "Doain aja semua lancar."

Di rumah sakit, Maya dan Irwan duduk berdampingan di ruang tunggu, jari-jari mereka bertaut. Ada kegembiraan sekaligus kegugupan yang jelas terlihat di wajah keduanya.

"Bu Maya?" seorang perawat memanggil dari pintu.

Mereka berjalan beriringan ke ruang USG, hati berdebar kencang. Dr. Ratna menyambut dengan senyum hangat.

"Selamat pagi, Maya, Irwan. Hari besar ya?" sapanya ramah. "Hari ini kita akan coba lihat si kecil untuk pertama kalinya."

Maya berbaring di ranjang pemeriksaan, mengangkat blus bagian bawahnya sementara dokter mengoleskan gel dingin di perutnya. Irwan berdiri tegang di sampingnya, tangannya menggenggam tangan Maya erat.

"Nah, kita mulai ya," Dr. Ratna menggerakkan alat di perut Maya, matanya fokus pada layar monitor.

Beberapa detik berlalu dalam ketegangan. Kemudian, suara itu terdengar—detak cepat dan teratur, seperti kuda kecil yang berlari.

"Itu dia!" Dr. Ratna tersenyum, menunjuk titik kecil yang berkedip di layar. "Detak jantung bayinya. Bagus dan kuat."

Mata Maya langsung berkaca-kaca. "Oh Tuhan...itu..."

"Anak kita," Irwan berbisik, suaranya tercekat oleh emosi. Tangannya yang menggenggam tangan Maya semakin erat.

"Detak jantungnya sekitar 140 kali per menit, normal untuk usia kehamilan ini," jelas Dr. Ratna. "Semuanya tampak baik. Perkembangannya tepat waktu."

Mereka menghabiskan sepuluh menit penuh keajaiban itu—memandangi titik kecil yang berkedip, mendengarkan detak jantung yang kini menjadi suara paling indah di dunia mereka. Dr. Ratna memberikan beberapa cetakan gambar USG dan rekaman untuk dibawa pulang.

"Terima kasih, Dok," Maya mengusap air mata harunya saat pemeriksaan selesai. "Ini... hari terbaik dalam hidup kami."

Sepanjang perjalanan pulang, Maya terus menggenggam amplop berisi foto USG. Dia membukanya berulang kali, memandangi titik kecil yang baru saja mereka lihat di layar monitor.

"Kecil banget ya," gumamnya takjub. "Tapi udah punya detak jantung sendiri."

Irwan mengangguk, masih terlalu terharu untuk bicara banyak. Tangannya yang memegang kemudi sesekali mengusap air mata yang hendak jatuh.

Sampai di rumah, Pak Karyo menyambut mereka di teras. Dia cepat-cepat menghampiri saat melihat Maya turun dari mobil.

"Bagaimana, Bu?" tanyanya, matanya memancarkan kekhawatiran dan antisipasi.

Maya tersenyum lebar, mengeluarkan foto USG dari amplop. "Lihat, Pak. Bayinya."

Tangan Pak Karyo sedikit gemetar saat menerima foto itu. Dia menatapnya lama, matanya bergerak menelusuri gambar hitam putih dengan titik kecil di tengahnya. Ada emosi mendalam yang sulit dijelaskan di wajahnya.

"Sehat?" tanyanya pelan.

"Sangat sehat," Irwan yang menjawab, menepuk bahu Pak Karyo. "Detak jantungnya kuat. Dokter bilang perkembangannya sempurna."

Pak Karyo mengangguk, masih memandangi foto itu. "Syukurlah." Hanya itu yang dia ucapkan, tapi suaranya sarat makna.

Maya menyadari perubahan sikap Pak Karyo. Ada sesuatu yang berbeda dalam caranya memandang foto USG itu—sebuah kelembutan dan kebanggaan yang tak pernah dia tunjukkan sebelumnya. Untuk sesaat, Maya hampir bisa melihat sosok ayah dalam diri Pak Karyo, bukan sekadar pembantu rumah tangga mereka.

"Aku capek," Maya bergumam, sengaja memecah momen itu. "Punggungku mulai sakit lagi gara-gara kursi rumah sakit yang keras."

Irwan melirik Pak Karyo, lalu kembali ke Maya. "Kenapa nggak minta Pak Karyo pijitin kamu lagi? Kursi-kursi di rumah sakit emang nggak nyaman."

Maya menatap Irwan dengan terkejut. "Kamu... nggak keberatan?"

"Kenapa harus keberatan?" Irwan tersenyum tipis. "Teknik pijatnya bagus. Bikin kamu nyaman."

Maya masih ragu, tapi punggungnya memang terasa nyeri. "Bapak nggak keberatan?" tanyanya pada Pak Karyo.

"Sama sekali tidak, Bu," Pak Karyo menjawab sopan, mengembalikan foto USG pada Maya. "Saya bisa siapkan tempat pijatnya sekarang."

"Saya tinggal dulu ke kantor ya," Irwan mencium kening Maya. "Meeting nggak bisa ditunda. Nanti sore aku pulang."

"Tapi..." Maya menatap Irwan penuh tanda tanya.

"Nggak apa-apa," Irwan tersenyum meyakinkan. "Mumpung ada Pak Karyo yang bisa bantu. Aku nggak mau kamu kesakitan nungguin aku pulang."


Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟕𝟐

Keesokan paginya, suara muntahan membangunkan Irwan dari tidurnya. Maya tidak ada di sampingnya. Suara itu berasal dari kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka.

"Sayang?" Irwan melompat dari tempat tidur, berlari ke kamar mandi.

Di sana, Maya berlutut di depan toilet, wajahnya pucat dan berkeringat. Dia baru saja muntah untuk yang ketiga kalinya pagi itu. Irwan langsung berlutut di sampingnya, memegang rambutnya ke belakang dan mengusap punggungnya.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.

"Huek!" Maya kembali muntah, tubuhnya terguncang. "Nggak... nggak enak banget, Yang," keluhnya di sela napas yang terengah.

"Morning sickness ya?" Irwan bertanya, meski jawabannya sudah jelas. "Bentar, aku ambil air."

Irwan berlari ke dapur untuk mengambil air dan bertemu Pak Karyo yang sedang menyiapkan sarapan.

"Bu Maya kenapa, Pak?" tanya Pak Karyo, mendengar suara muntahan dari kamar mandi.

"Morning sickness, Pak. Muntah-muntah. Parah banget," jawab Irwan, mengisi gelas dengan air putih. "Saya harus cari cara untuk membantu dia."

"Saya bisa buatkan minuman khusus untuk mengurangi mual, Pak," tawar Pak Karyo. "Dulu istri saya juga sering mual hebat saat hamil muda."

"Tolong ya, Pak," Irwan mengangguk cepat. "Saya panik banget nih. Nggak tega lihat Maya kayak gitu."

Irwan bergegas kembali ke kamar mandi dengan segelas air. Maya masih terduduk di lantai, bersandar lemah pada dinding keramik dingin. Wajahnya pucat pasi dengan peluh membasahi dahinya.

"Minum dulu, sayang," Irwan menyodorkan gelas dengan hati-hati.

Maya mengambil gelas dengan tangan gemetar dan menyesap air perlahan. "Makasih." Suaranya lemah dan serak. "Aku nggak pernah ngerasain mual separah ini."

"Pak Karyo lagi bikin minuman buat ngurangin mual," Irwan mengelus rambut Maya yang basah oleh keringat. "Katanya resep tradisional yang dia kasih ke istrinya dulu."

Maya mengangguk lemah. Irwan membantunya berdiri dan perlahan-lahan membimbingnya kembali ke tempat tidur. Baru saja Maya berbaring, Irwan sudah sibuk dengan ponselnya, mencari informasi online tentang morning sickness.

"Di sini ditulis kamu harus makan biskuit asin sebelum bangun tidur," ucapnya sambil menggulir layar. "Terus hindari bau-bauan yang bikin mual. Gimana kalau aku beliin gelang akupresur? Katanya ampuh buat mual."

"Aku mau pil anti mual aja, Yang," Maya mengeluh, menarik selimut hingga dagu.

"Kamu yakin mau itu aja?" Irwan menatapnya khawatir. "Kondisi kamu gini..."

Ketukan pelan di pintu memotong ucapan Irwan. Pak Karyo berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi minuman beruap dan sepiring roti panggang tipis.

"Maaf mengganggu," ucapnya sopan. "Ini minuman untuk Bu Maya. Jahe merah, madu, dan beberapa rempah. Bisa membantu mengurangi mual."

Irwan langsung mengambil gelas dari nampan dan membantunya kepada Maya yang masih terlihat menderita. "Coba minum, sayang."

Maya meneguk minuman itu perlahan. Rasanya hangat, sedikit pedas dari jahe, dengan manis alami dari madu. Sensasi hangat itu seolah langsung menjalar ke perutnya yang tegang, memberikan ketenangan yang cepat. Dia meneguk lagi, lebih banyak kali ini.

"Enak," Maya bergumam, suaranya lebih kuat dari sebelumnya. "Dan... mualnya mulai berkurang."

Irwan menatap Pak Karyo dengan ekspresi lega dan takjub. "Minuman apa ini, Pak? Kok bisa secepat itu efeknya?"

"Hanya resep desa, Pak," Pak Karyo tersenyum tipis. "Nenek saya dulu dukun beranak. Beliau mengajarkan cara membuat ini untuk membantu ibu hamil yang mual."

"Ini ampuh banget, Pak," Maya duduk lebih tegak, wajahnya sudah tidak sepucat tadi. "Kalau ibu-ibu di desa Bapak minum ini selama hamil, pasti mereka nggak sesusah aku."

"Oh, tetap susah, Bu," Pak Karyo tertawa kecil. "Istri pertama saya muntah terus sampai bulan keempat dengan anak pertama kami. Dengan anak kedua lebih baik. Tapi istri kedua saya, Ratih, justru muntah sampai tujuh bulan."

Maya dan Irwan bertukar pandang, sedikit terkejut mendengar Pak Karyo berbicara tentang keluarganya. Selama ini dia jarang sekali menceritakan kehidupan pribadinya.

"Tapi minuman ini bisa membantu?" tanya Irwan, matanya penuh harap.

"Ya, Pak. Tidak langsung sembuh, tapi lumayan membantu meringankan," Pak Karyo menjawab. "Saya bisa buatkan setiap pagi untuk Bu Maya."

"Terima kasih, Pak," Maya tersenyum tulus. "Saya sangat menghargai—" Ucapannya terhenti saat dia tiba-tiba meringis, tangannya memegang bagian bawah punggungnya.

"Kenapa, sayang?" Irwan bertanya cemas.

"Punggung aku sakit," Maya mengadu. "Kebanyakan ngebungkuk waktu muntah tadi."

Pak Karyo yang sudah akan meninggalkan kamar berhenti dan berbalik perlahan. Dia tampak ragu sejenak sebelum bicara, "Maaf, Bu... saya juga tahu teknik pijat tradisional untuk ibu hamil. Bisa membantu dengan sakit punggung."

"Teknik pijat?" Irwan menaikkan alisnya.

"Ya, Pak. Saya pernah diajari cara memijat istri selama kehamilan. Ada titik-titik tertentu yang bisa meredakan mual dan sakit punggung," Pak Karyo menjelaskan dengan hati-hati, seolah takut melewati batas.

Maya menatap Irwan penuh harap. Rasa sakit di punggungnya semakin mengganggu.

"Kamu harus ke kantor kan, Yang?" Maya bertanya pelan.

Irwan melihat jam tangannya dan menghela napas. "Iya, ada meeting yang nggak bisa aku tinggal." Dia menatap Pak Karyo, mengukur pria itu dari ujung kepala sampai kaki. "Apa... apa nggak apa-apa kalo Pak Karyo yang mijit kamu?"

Maya mengangguk lemah. "Kalau bisa mengurangi sakitnya, kenapa enggak?"

Irwan tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk pada Pak Karyo. "Tolong ya, Pak. Bantu istri saya. Saya akan segera kembali setelah meeting."

"Baik, Pak," Pak Karyo membungkuk hormat. "Saya akan sangat hati-hati. Ini hanya pijatan terapeutik."

Setelah Irwan berangkat ke kantor dengan berat hati, Pak Karyo membantu Maya ke ruang keluarga dimana ada sofa panjang yang lebih nyaman untuk pijatan. Maya duduk tegang, masih tidak yakin dengan keputusannya. Bagaimana pun, ini pertama kalinya dia akan disentuh oleh Pak Karyo sejak... program kehamilan mereka.

"Ibu bisa berbaring miring, lebih nyaman," Pak Karyo menyarankan, suaranya profesional dan sopan.

Maya menurut, berbaring miring di sofa. Pak Karyo mengambil bantal kecil dan menaruhnya di bawah perut Maya untuk menopang.

"Saya akan mulai dari bahu turun ke punggung bawah, Bu," Pak Karyo menjelaskan. "Kalau ada yang tidak nyaman, Ibu langsung bilang."

Tangan besar Pak Karyo mulai bergerak di bahu Maya, menekan titik-titik tertentu dengan ibu jarinya. Sentuhannya terasa berbeda—tidak intim seperti dulu, tapi murni terapeutik. Maya merasakan ketegangan di tubuhnya perlahan mencair.

"Bagian bawah punggung Ibu tegang sekali," Pak Karyo berkomentar saat tangannya bergerak ke area tersebut. "Ini wajar untuk ibu hamil, terutama setelah episode mual."

"Mmm," Maya hanya bergumam, matanya terpejam menikmati sensasi lega yang menjalar dari titik-titik yang dipijat. Tanpa sadar, dia mendesah pelan saat Pak Karyo menemukan satu titik yang sangat tegang.

"Di sini, Bu?" tanya Pak Karyo, menekan titik itu lagi.

"Iya, tepat di situ," Maya menjawab. "Sakit tapi enak."

Pak Karyo tersenyum kecil, melanjutkan pijatannya dengan lebih percaya diri. "Istri saya selalu bilang begitu. Sakit tapi enak."

Maya membuka matanya, menatap Pak Karyo dari posisinya. "Bapak sering mijit istri Bapak waktu hamil?"

"Setiap hari, Bu," jawab Pak Karyo sambil terus memijat. "Rutinitas pagi kami. Saya sebelum kerja, pijat istri dulu."

Ada keheningan nyaman yang meyelimuti mereka saat Pak Karyo melanjutkan pijatannya. Maya merasakan dirinya rileks sepenuhnya, sakit punggungnya hampir lenyap.

"Terima kasih ya, Pak," Maya bergumam, hampir tertidur karena kenyamanan pijatan itu. "Bapak benar-benar tahu cara membantu ibu hamil."

"Pengalaman, Bu," jawab Pak Karyo rendah hati. "Lima anak banyak mengajarkan banyak pengalaman."

Pijatan berakhir setelah sekitar dua puluh menit. Maya merasa jauh lebih baik, mualnya hilang dan punggungnya tidak lagi sakit. Dia duduk dengan segar, meregangkan tubuhnya.

"Luar biasa, Pak. Saya seperti orang baru," pujinya tulus.

"Senang bisa membantu, Bu," Pak Karyo mengangguk, kembali ke sikap formalnya. "Kalau nanti sakit lagi, saya siap membantu."

Maya tersenyum, "Saya akan ingat itu."


Ketika Irwan pulang sore itu dan mendapati Maya segar dan bahkan sedang memasak di dapur, dia tampak takjub.

"Lho? Bukannya tadi pagi kamu sakit banget?" tanyanya heran.

"Minuman Pak Karyo ampuh banget," Maya tersenyum, mengaduk sup ayam di panci. "Terus pijatannya juga ngebantu, Yang. Aku langsung seger lagi."

Irwan melingkarkan tangannya di pinggang Maya dari belakang, mencium pipinya. "Syukurlah. Aku khawatir banget tadi."

"Kamu lebay deh," Maya tertawa kecil, menyandarkan kepalanya ke bahu Irwan. "Cuma morning sickness biasa kok."

"Biasa gimana? Kamu muntah-muntah kayak kesurupan gitu," Irwan menggeleng. "Untung ada Pak Karyo."

Maya terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam cara Irwan menyebut nama Pak Karyo yang membuatnya menoleh. "Kenapa? Kamu... nggak nyaman Pak Karyo bantuin aku?"

"Bukan gitu," Irwan menggeleng cepat. "Aku malah bersyukur ada dia. Aku nggak tau harus ngapain tadi pagi."

Maya mengangguk pelan dan kembali fokus pada sup yang hampir matang. Irwan melepaskan pelukannya, bersandar pada konter dapur.

"Jadi... pijatan Pak Karyo membantu?" tanyanya dengan nada yang berusaha terdengar kasual.

"Banget," Maya menjawab tanpa menoleh. "Dia tau persis titik-titik yang bikin nyaman. Katanya pengalaman dari mijit istri-istrinya waktu hamil."

"Hmm." Hanya itu respon Irwan, tapi matanya tidak lepas dari Maya. "Kamu nyaman dipijit dia?"

Maya menoleh, alisnya terangkat. "Maksudnya?"

"Ya, maksudnya... kamu nggak risih gitu?"

Maya mematikan kompor dan berbalik menghadap Irwan sepenuhnya. "Kenapa harus risih? Dia cuma bantuin aku waktu sakit."

"Iya sih," Irwan menggaruk belakang kepalanya. "Cuma... kalau kamu butuh pijat lagi, mungkin aku bisa belajar dari dia. Jadi aku yang mijit kamu."

Maya tersenyum, mengelus pipi Irwan lembut. "Kamu cemburu ya?"

"Nggak lah," Irwan menjawab terlalu cepat. "Aku cuma pengen lebih terlibat. Ini kehamilan kita kan."

"Iya sayang," Maya mencium bibir Irwan singkat. "Kamu boleh belajar mijit dari Pak Karyo kalau mau. Tapi jangan dipaksain juga. Kamu udah sibuk banget dengan kerjaan."

Makan malam berlangsung dengan tenang. Pak Karyo sudah kembali ke kamarnya di bagian belakang rumah setelah membereskan dapur. Maya dan Irwan duduk berhadapan, membicarakan perkembangan bayi dan rencana check-up pertama minggu depan. Malam itu, mereka tidur dengan nyaman, Maya terlelap dalam pelukan Irwan.

Jam digital di nakas menunjukkan pukul 02:47 ketika Maya terbangun dengan mata terbuka lebar. Perutnya tidak terasa mual, tapi ada sensasi aneh yang mendera—sebuah keinginan kuat akan rasa tertentu.

"Yang," Maya mengguncang bahu suaminya. "Sayang, bangun."

Irwan menggeliat, matanya terbuka sedikit. "Mmm? Kenapa sayang? Kamu mual lagi?"

"Nggak," Maya duduk di tepi tempat tidur. "Aku... aku pengen makan sesuatu."

"Hah?" Irwan memaksakan matanya terbuka lebih lebar, melirik jam. "Jam tiga pagi?"

"Aku nggak bisa tidur kalau nggak makan itu sekarang," Maya berkata, suaranya serius.

Irwan menguap, tapi kemudian duduk juga. "Oke, oke. Kamu mau apa? Ada roti di dapur. Atau mau aku hangetin sup tadi?"

"Bukan," Maya menggeleng kuat. "Aku mau kedondong muda pake bumbu rujak."

Irwan mengerjap beberapa kali, yakin dia salah dengar. "Kamu mau apa?"

"Kedondong muda pake bumbu rujak," ulang Maya dengan ekspresi serius. "Yang masih hijau, asem-asem seger itu."

"Sayang," Irwan menghela napas panjang. "Ini jam tiga pagi. Dari mana aku bisa dapetin kedondong muda? Apalagi pake bumbu rujak?"

"Aku butuh itu, Yang," Maya merengek, tangannya mengelus perutnya. "Kayaknya si kecil pengen itu banget."

"Si kecil baru segede kacang polong, sayang," Irwan tertawa lelah. "Belum bisa pengen-pengen makanan."

"Pokoknya aku mau itu sekarang," Maya bersikeras, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku BUTUH itu. Bayinya butuh!"

Irwan meraih ponselnya, membuka aplikasi ojek online. "Coba aku cek dulu ada nggak yang masih buka—"

"Harus yang masih muda banget," Maya menambahkan. "Yang kayak dijual sama ibu-ibu di pasar tradisional. Bukan yang di supermarket."

Irwan mengusap wajahnya frustasi. "Sayang, nggak bakal ada yang jual kedondong jam segini. Apalagi yang spesifik muda banget."

"Tapi aku nggak bisa tidur kalau nggak makan itu," Maya mulai terisak. "Rasanya perut aku kayak kosong banget kalau nggak makan itu sekarang."

Irwan mencoba beberapa aplikasi pengiriman makanan, tapi tidak ada yang menawarkan buah itu, apalagi di jam selarut ini. "Coba kamu makan yang lain dulu? Besok pagi baru aku cariin kedondong."

"Kamu nggak ngerti!" suara Maya meninggi, air matanya kini mengalir bebas. "Kamu nggak ngerti apa yang aku butuhin!"

Tangisan Maya semakin kencang, membuat Irwan panik. Suara ketukan halus di pintu mengalihkan perhatian mereka.

"Maaf, Pak, Bu," suara Pak Karyo terdengar dari balik pintu. "Saya dengar Ibu menangis. Ada yang bisa saya bantu?"

Irwan menghela napas dan membuka pintu. Pak Karyo berdiri di sana dengan kaos oblong dan sarung, jelas baru bangun tidur.

"Bu Maya tiba-tiba pengen makan kedondong muda pake bumbu rujak, Pak," jelas Irwan lelah. "Dan harus sekarang juga."

Pak Karyo mengangguk paham. "Ah, ngidam." Dia tersenyum kecil. "Dulu istri kedua saya juga begitu, Pak. Tengah malam minta dicarikan mangga muda pake garam."

"Tapi dari mana kita bisa dapat kedondong jam segini?" Irwan menggaruk kepalanya frustasi.

"Saya tau tempat, Pak," Pak Karyo menjawab, mengejutkan keduanya. "Ada pasar tradisional 24 jam di Pasar Minggu. Ibu-ibu desa saya banyak yang jualan buah di sana."

Maya langsung menyeka air matanya, wajahnya berbinar. "Beneran, Pak? Ada yang jual kedondong muda? Yang masih hijau itu?"

"Ada, Bu," Pak Karyo mengangguk yakin. "Dan bumbu rujaknya juga bisa dapat di sana. Banyak ibu-ibu desa yang jual bumbu rujak khusus."

"Tapi Pasar Minggu jauh, Pak," Irwan mengerutkan kening. "Dari sini butuh hampir satu jam kalau lancar."

"Tidak apa-apa, Pak. Jam segini jalanan sepi. Paling setengah jam sampai," Pak Karyo meyakinkan. "Saya bisa pergi sekarang kalau Bapak izinkan."

Irwan menatap Maya yang kini penuh harap, lalu kembali ke Pak Karyo. Ada rasa tidak enak membiarkan pembantu mereka pergi tengah malam begini, tapi juga lega ada solusi untuk keinginan mendadak istrinya.

"Saya akan ikut, Pak Karyo," Irwan memutuskan.

"Tidak perlu, Pak," Pak Karyo menolak sopan. "Bapak temani saja Bu Maya. Saya sudah biasa keluar malam. Lagi pula, saya kenal baik dengan penjual-penjual di sana."

Irwan ragu sejenak, tapi Maya menarik tangannya. "Udah, biarin Pak Karyo aja, Yang. Kamu nemenin aku di sini."

"Baiklah," Irwan akhirnya menyerah. Dia merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu. "Ini, Pak. Untuk beli kedondong dan ongkos taksi pulang pergi."

Pak Karyo menerima uang itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Pak. Saya akan segera kembali."

Setelah Pak Karyo pergi, Maya kembali berbaring di tempat tidur, tangannya masih mengelus-elus perut. "Makasih ya, Yang."

"Untuk apa?" Irwan ikut berbaring di sampingnya.

"Untuk nggak marah waktu aku minta yang aneh-aneh," Maya tersenyum kecil. "Dan untuk staying here with me."

Irwan mengangguk, tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Rasa tidak nyaman saat menyadari dia tidak bisa memenuhi keinginan Maya, tapi Pak Karyo bisa. Dia mengelus rambut Maya perlahan.

"Punggung kamu masih sakit?" tanyanya, mencoba mengalihkan pikiran.

"Udah mendingan," Maya menjawab. "Pijatan Pak Karyo ampuh banget. Dia ngerti persis titik-titik yang bikin nyaman."

Irwan terdiam sejenak. "Ajarin aku dong, biar aku juga bisa mijit kamu kayak dia."

Maya tertawa kecil. "Boleh. Tapi kamu sering salah tempat waktu mijit aku. Tanganmu nggak sekuat Pak Karyo."

Ucapan itu terasa seperti tamparan kecil bagi Irwan. "Maksudnya aku kurang kuat?"

"Bukan gitu," Maya menggeleng, tidak menyadari perubahan nada Irwan. "Kamu terlalu lembut. Kadang mijit tuh butuh tenaga juga. Pak Karyo kan terbiasa kerja fisik, jadi tangannya lebih kuat dan terampil."

Irwan mengangguk pelan, matanya menatap langit-langit. Ada campuran emosi yang rumit dalam dadanya—kecemburuan, ketidakberdayaan, dan anehnya, sedikit rasa... terangsang? Dia menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran itu.

"Kamu kenapa? Sakit?" Maya bertanya, melihat Irwan menggeleng.

"Nggak, cuma agak pusing," Irwan berbohong. "Efek bangun tiba-tiba."

Hampir satu jam kemudian, suara mobil taksi terdengar berhenti di depan rumah. Tak lama, Pak Karyo masuk dengan kantong plastik berisi kedondong muda hijau dan wadah kecil bumbu rujak.

"Ini, Bu," Pak Karyo menyerahkan bawaannya pada Maya yang kini duduk bersemangat di tepi tempat tidur. "Kedondong muda pilihan. Ibu penjualnya bilang ini yang paling bagus untuk ibu hamil. Dan bumbu rujaknya spesial, tidak terlalu pedas."

Maya menerima kantong itu dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang baru diberi mainan. "Makasih banyak, Pak Karyo! Bapak penyelamat banget!"

Pak Karyo tersenyum, membungkuk sedikit. "Sama-sama, Bu. Saya senang bisa membantu."

"Terima kasih, Pak," Irwan mengangguk, menyerahkan beberapa lembar uang lagi. "Ini untuk Bapak. Maaf merepotkan tengah malam begini."

"Tidak merepotkan, Pak," Pak Karyo menolak sopan tambahan uang itu. "Ini sudah kewajiban saya membantu Bapak dan Ibu."

Setelah Pak Karyo kembali ke kamarnya, Maya langsung memotong kedondong hijau itu menjadi irisan tipis dan mencelupkannya ke dalam bumbu rujak. Wajahnya memancarkan kenikmatan luar biasa saat gigitan pertama.

"Mmm, enak banget," desahnya tertahan. "Ini persis yang aku mau, Yang. Asem, manis, pedes, asin... sempurna."

Irwan mengamati istrinya menikmati makanan tengah malamnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada kebahagiaan melihat Maya senang, tapi juga ada sesuatu yang mengganjal—kenyataan bahwa bukan dia yang berhasil memenuhi keinginan istrinya.

"Kamu mau coba?" Maya menawarkan sepotong kedondong yang sudah dicelup bumbu rujak.

Irwan menggeleng pelan. "Aku pass. Asem-asem gitu nggak enak dimakan tengah malam."

"Lebih enak dari yang aku bayangin," Maya melanjutkan makannya dengan nikmat. "Emang bener ya kata orang, ngidam tuh nggak bisa ditahan."

Irwan hanya tersenyum tipis, memperhatikan Maya yang dengan lahap memakan buah dan bumbu yang baru saja dibawakan Pak Karyo. Ada sesuatu yang aneh dalam perasaannya—campuran antara lega melihat istrinya bahagia dan kecewa karena bukan dia yang bisa memenuhi keinginan Maya.

"Aah!" Maya tiba-tiba meringis, tangannya memegang pinggang bawah.

"Kenapa?" Irwan langsung bergeser mendekatinya.

"Pinggang aku sakit lagi," Maya mengeluh. "Kayaknya gara-gara duduk tegang waktu nungguin kedondong tadi."

"Sini, aku pijitin," Irwan menawarkan, mengarahkan tangannya ke pinggang Maya.

Maya mengangguk, membiarkan Irwan memijat pinggangnya. Tapi setelah beberapa saat, dia meringis ketika jari Irwan menekan satu titik.

"Aduh, jangan di situ," Maya menarik diri sedikit. "Sakit."

"Maaf," Irwan menjauhkan tangannya. "Aku nggak tau harus mijit di mana."

Maya menghela napas. "Bukan gitu, Yang. Tapi... nggak kayak gitu caranya. Pak Karyo nunjukin titik tekanan yang bener, yang bikin rileks bukan tambah sakit."

Irwan terdiam, raut wajahnya menunjukkan campuran rasa terluka dan cemburu, meski dia berusaha menyembunyikannya. "Oh... maaf, aku nggak sepengalaman dia."

"Eh, aku nggak maksud nyakitin kamu," Maya cepat-cepat menambahkan, menyadari perubahan ekspresi suaminya. "Cuma... aku lagi sensitif banget. Maaf ya?"

Irwan mengangguk, tapi hatinya masih terasa tidak nyaman. "Nggak apa-apa. Mungkin besok aku bisa minta Pak Karyo ngajarin cara mijit yang bener."

"Itu ide bagus," Maya tersenyum, lega Irwan tidak marah. Dia melanjutkan makan kedondongnya.

Keduanya terjaga sampai jam empat pagi—Maya menghabiskan kedondongnya sementara Irwan berbaring di sampingnya, pikirannya berkecamuk dengan berbagai emosi yang tidak bisa dia jelaskan bahkan pada dirinya sendiri.

BERSAMBUNG ...

 

Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com