𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟎

Suara shower berhenti. Maya menahan napas, jantungnya berdegup kencang mendengar langkah-langkah berat mendekat. Pintu kamar mandi terbuka perlahan, mengeluarkan kepulan uap hangat yang beraroma sabun mahal.

"Ahh...." Maya berbisik tanpa sadar. Pak Karyo berdiri di ambang pintu, handuk putih hotel melilit rendah di pinggangnya. Air mengalir dari rambutnya yang hitam pekat, menetes turun melewati dada bidangnya yang berotot, mengikuti lekuk-lekuk keras yang terbentuk dari bertahun-tahun kerja fisik. Setiap tetes air yang meluncur di kulit gelapnya yang mengkilap membuat Maya semakin sulit bernapas.

"Bu..." Suara Pak Karyo terdengar dalam dan serak. Maya bisa melihat bagaimana otot-otot di lehernya bergerak saat ia menelan ludah. "Boleh saya mendekat?"

Maya mengangguk lemah, tubuhnya gemetar. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh basah Pak Karyo memenuhi ruangan, membuat kepalanya pusing. Ini bukan lagi aroma pekerja kasar yang biasa ia hindari - ada sesuatu yang primitif dan menggairahkan.

Pak Karyo melangkah mendekat, setiap langkahnya membuat otot-otot di tubuhnya bergerak seperti predator yang mengintai mangsa. Handuk di pinggangnya terlepas, jatuh tanpa suara ke karpet tebal suite.

"Oh!" Maya terkesiap, matanya melebar melihat apa yang tersembunyi di balik handuk. Pak Karyo ternyata... Maya menelan ludah. Jauh, jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Lebih besar dari Irwan, lebih besar dari pria manapun yang pernah ia lihat. Teksturnya yang keras dan berurat, ukurannya yang luar biasa... Maya merasakan campuran ketakutan dan gairah yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

"Maaf, Bu..." Pak Karyo berbisik, suaranya rendah dan penuh hasrat yang tertahan. "Saya udah nggak tahan lagi..."

Maya merasakan napasnya tercekat. Dengan ukuran seperti itu, penetrasi langsung pasti akan sangat menyakitkan. Ia butuh persiapan... butuh sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.

"Tunggu," Maya berbisik, suaranya bergetar. Valium di sistemnya mulai bekerja, memberinya keberanian untuk berbicara. "Kita... kita perlu pemanasan dulu."

Tapi Pak Karyo sepertinya sudah tidak bisa menahan diri. Matanya yang biasanya selalu tertunduk hormat kini menatap Maya dengan tatapan lapar. Ia melangkah maju, membuat Maya mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.

"Pak Karyo, tolong..." Maya memohon, tangannya terangkat mencoba menahan dada bidang di hadapannya. "Aku belum... aku butuh waktu..."

"Maaf, Bu," suara Pak Karyo terdengar serak dan dalam, sangat berbeda dari nada hormatnya sehari-hari. "Tapi saya udah nunggu kelamaan." Tangannya yang kasar mencengkeram pinggang Maya, membuat wanita itu terkesiap.

"Paling nggak... paling nggak buat aku basah dulu," Maya berbisik panik, merasakan tubuh keras Pak Karyo semakin mendekat. "Kalau langsung... bakal sakit banget."

Pak Karyo menggeram rendah, hasratnya yang tertahan selama bertahun-tahun akhirnya meledak. "Bu Maya jangan khawatir," bisiknya di telinga Maya. "Saya bakal bikin Bu Maya siap... basah banget..." Tangannya mulai menelusuri tubuh Maya dengan tidak sabar, membuat wanita itu gemetar.

Maya merasakan lututnya melemas. Ini bukan lagi Pak Karyo yang penurut dan sopan. Di hadapannya kini berdiri seorang pria yang dipenuhi hasrat primitif, yang telah menahan nafsunya terlalu lama. Dan Maya, dengan segala status sosialnya, kini tidak lebih dari objek hasrat pria itu.

Tangan Pak Karyo yang kasar menyusuri paha Maya, membuat wanita itu tersentak. Tapi alih-alih kasar seperti yang ia bayangkan, sentuhan itu terasa mengejutkan lembut. Setiap gesekan kulit kasarnya menciptakan sensasi yang membuat Maya menggigil.

"Tenang, Bu," Pak Karyo berbisik di telinganya, suaranya dalam dan menenangkan. "Biar saya tunjukin gimana bikin wanita puas."

Maya hendak protes - bagaimana mungkin seorang pembantu mengklaim bisa membuatnya lebih puas? Tapi kata-katanya tertelan desahan saat bibir Pak Karyo menelusuri lehernya. Aroma maskulinnya yang kuat membuat kepala Maya berputar.

"Tidak—" Maya menolehkan wajahnya saat Pak Karyo mencoba menciumnya. Ciuman terlalu intim, terlalu personal untuk dibagi dengan pembantu. Ini hanya prosedur medis, Maya mengingatkan dirinya. Hanya... donor sperma.

"Maaf, Bu," Pak Karyo berbisik di telinganya, napasnya panas dan berat. "Saya bakal fokus ke tujuan kita." Tangannya yang kasar mulai menelusuri tubuh Maya dengan kelembutan yang mengejutkan. Maya menggigit bibir, menahan desahan saat jemari kapalan itu menemukan titik sensitifnya.

"Hmmpphh..." Maya tersentak, pinggulnya bergerak tanpa sadar saat Pak Karyo menyentuhnya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Rasa jijik yang tadinya memenuhi benaknya perlahan berubah menjadi gelombang kenikmatan yang membuatnya malu. Tubuhnya mengkhianatinya, menjadi semakin basah dan siap.

"Bu Maya cantik banget," Pak Karyo menggeram rendah, suaranya dipenuhi pemujaan yang membuat Maya merinding. Jemarinya yang terampil membuat Maya mengerang, melupakan status sosialnya. "Biar saya bikin Bu Maya siap."

Maya mencengkeram sprei saat orgasme pertamanya menghantam - begitu kuat hingga pandangannya memutih. "Ah! Pa-pak... Kar..." Ia bahkan tidak sanggup menyelesaikan nama pria yang kini memberinya kenikmatan.

"Sekali nggak cukup," Pak Karyo berbisik serak, tangannya terus bergerak dengan tekanan yang tepat. "Bu Maya harus bener-bener siap nerima saya. Harus bener-bener basah."

Maya hanya bisa mengangguk lemah, tubuhnya masih bergetar pasca orgasme pertama. Lingerie tipis yang masih melekat di tubuhnya terasa seperti penghalang yang tak perlu lagi.

Tangan kasar Pak Karyo menelusuri tubuh Maya, berhenti di tali tipis lingerie-nya. Dengan satu gerakan cepat, ia menariknya turun. Maya merinding merasakan udara dingin AC suite mewah menyentuh kulitnya yang panas.

"Bapak..." Maya mencoba bicara, tapi kata-katanya terputus saat jari-jari Pak Karyo kembali bergerak di kemaluannya. Kali ini, sentuhan itu berbeda - lebih dalam, lebih menuntut.

"Bu Maya cantik banget," gumam Pak Karyo, matanya menelusuri setiap lekuk tubuh Maya yang kini hampir sepenuhnya terekspos. "Beda sama istri saya yang di desa."

Maya tak mampu menjawab. Tubuhnya menggeliat tak karuan di bawah sentuhan Pak Karyo yang semakin berani. Jari-jari kasar itu kini bergerak masuk dan keluar dengan ritme yang membuat Maya menggigit bibir.

"Pak... di... di situ," Maya terengah, kepalanya terlempar ke belakang. "Jangan berhenti... please..."

Pak Karyo tersenyum. Tangannya yang bebas kini menyusuri paha dalam Maya, naik perlahan hingga mencapai payudaranya. Ia memainkan puting Maya dengan kasar, membuat wanita itu menjerit tertahan.

Maya tak peduli lagi dengan suaranya yang menggema di ruangan luas suite itu. Pinggulnya bergerak seirama dengan jari-jari Pak Karyo yang kini bergerak semakin cepat. Sensasi membara di perutnya semakin intens.

"Aku... aku mau..." Maya tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

"Iya, Bu," Pak Karyo mendorong jarinya lebih dalam. "Keluar lagi."

Maya menjerit tertahan saat orgasme keduanya menghantam, lebih kuat dari yang pertama. Tubuhnya mengejang, kakinya menjepit tangan Pak Karyo erat-erat. "Ahh... Pak... Pak Karyo..."

Belum selesai dengan gelombang keduanya, Maya merasakan sesuatu yang hangat dan basah menggantikan jari-jari Pak Karyo. Matanya terbuka lebar saat menyadari Pak Karyo telah bergerak turun, wajahnya kini berada di antara kakinya.

"Oh!" Maya terkesiap saat lidah kasar Pak Karyo menyentuhnya. Sensasi itu begitu intens hingga tubuhnya otomatis mencoba menjauh, tapi tangan kuat Pak Karyo menahannya tetap di tempat.

"Pak... apa yang... ahh..." Maya tak mampu berpikir jernih. Lidah Pak Karyo bergerak dengan terampil, mencari titik-titik yang membuat tubuhnya menggelinjang. Tangannya refleks mencengkeram rambut Pak Karyo, mendorongnya lebih dalam.

Pak Karyo bergumam pelan, vibrasi suaranya mengirim gelombang kenikmatan ke seluruh tubuh Maya. Kedua tangan kekarnya kini mengangkat paha Maya, membuatnya semakin terbuka dan tak berdaya.

"Pak... Kar... ahh..." Maya meracau. Seorang eksekutif yang terbiasa mendikte orang lain, kini tak mampu membentuk satu kalimat utuh. Otaknya seperti meleleh dengan setiap jilatan dan hisapan.

Maya merasakan gelombang ketiga mulai membangun, lebih kuat dan dalam dari sebelumnya. "Saya... saya mau... lagi..."

Pak Karyo semakin bersemangat, lidahnya bergerak cepat dan presisi, tangannya mencengkeram paha Maya erat-erat. Maya bisa merasakan dunianya mulai berputar.

Orgasme ketiganya datang seperti tsunami, menyapu seluruh tubuhnya tanpa ampun. Maya menjerit, punggungnya melengkung sempurna. "Ya... he-eh... iya..." Ia mendesah putus-putus, pandangannya mengabur sepenuhnya.

Setelah orgasme ketiga itu, Maya mendapati dirinya mencari bibir Pak Karyo. Kali ini, ia yang mencium duluan, lidahnya dengan malu-malu menyentuh bibir tebal pria itu. Pak Karyo menggeram rendah, membalas ciumannya dengan gairah yang membuat lutut Maya lemas.

"Sekarang," Maya berbisik di sela ciuman mereka. Tangannya gemetar menyentuh kejantanan Pak Karyo. "Aku mau... program kita."

Maya menelan ludah. Ukurannya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Beda banget sama Irwan. Tubuhnya memang sudah sangat basah, tapi tetap saja...

"Buka lebih lebar, Bu," Pak Karyo berbisik di telinganya. Tangannya yang kasar mendorong paha Maya. "Kayak gini... biar gampang."

Maya menurut, membuka kakinya lebih lebar. Dia nggak pernah melakukan ini dengan Irwan. Selalu sama posisi, selalu di tempat tidur dengan lampu mati. Tapi sekarang di suite hotel mewah ini, di bawah cahaya terang, dengan pembantu rumah tangga menatapnya lapar...

"Ahhh..." Maya mendesah keras saat ujung kejantanan Pak Karyo mulai memasukinya. Rasa penuh itu asing tapi bikin ketagihan.

"Bu Maya sempit banget," Pak Karyo menggeram. Tangannya mencengkeram pinggul Maya. "Istri saya di desa udah nggak sesempit ini."

Maya harusnya tersinggung, tapi kata-kata kasar itu justru membuatnya semakin terangsang. "Pelan... ah... gede banget..."

Pak Karyo mendorong lebih dalam, membuat Maya menjerit tertahan. Sakit, tapi enak. Terlalu penuh, tapi Maya nggak mau berhenti.

"Mau berenti dulu, Bu?" Pak Karyo bertanya, napasnya berat.

Maya menggeleng cepat, kukunya menancap di lengan berotot Pak Karyo. "Jangan! Jangan berhenti... terus..."

Pak Karyo mulai bergerak, awalnya pelan. Keluar masuk dengan hati-hati, memberi waktu bagi Maya untuk menyesuaikan diri. Kejantanannya yang besar membuat setiap gerakan terasa intens bagi Maya.

"Ooohh..." Maya mendesah, kepalanya terlempar ke belakang. "Aku... aku nggak pernah... ngerasain kayak gini."

"Bu Maya suka?" Pak Karyo bertanya, suaranya rendah dan serak. Tangannya yang kasar menyusuri pinggul Maya, naik ke perutnya yang rata, lalu meremas payudaranya.

"Suka... banget..." Maya menjawab di sela desahan. Pinggulnya mulai bergerak mencari ritme. "Lebih... lebih cepet, Pak."

Pak Karyo mempercepat gerakannya, membuat ranjang suite mulai berderit. Tubuh Maya terguncang dengan setiap dorongan. Dia bisa merasakan Pak Karyo menyentuh tempat-tempat yang belum pernah terjamah sebelumnya.

"Mau yang lebih enak, Bu?" tanya Pak Karyo, napasnya berat.

Maya hanya bisa mengangguk. Dalam sekejap, Pak Karyo menarik tubuhnya, membaliknya hingga Maya kini tengkurap. Tangannya yang kuat menarik pinggul Maya ke atas.

"Pak?" Maya bertanya bingung, tidak pernah melakukan posisi seperti ini sebelumnya.

"Istri saya di desa paling suka posisi gini," Pak Karyo menjelaskan sambil memposisikan dirinya di belakang Maya. "Enak dan gampang buat bikin hamil."

Kata-kata itu mengingatkan Maya akan tujuan awalnya. Bukan untuk kesenangan, tapi untuk mendapatkan anak. Tapi saat Pak Karyo kembali memasukinya dari belakang, Maya tidak bisa berpikir jernih lagi.

"Aaaah!" Maya menjerit, mencengkeram sprei. Dari posisi ini, Pak Karyo bisa masuk lebih dalam, menyentuh titik yang membuat tubuhnya gemetar. "Di situ... ah! Di situ terus, Pak!"

Pak Karyo memegang pinggang Maya dengan kedua tangannya, mendorong semakin kuat dan dalam. Suara kulit bertemu kulit memenuhi ruangan, bercampur dengan desahan Maya dan geraman rendah Pak Karyo.

"Bu Maya cantik banget," Pak Karyo menggeram, tangannya meraih dan menarik rambut Maya dengan lembut, membuat kepala wanita itu mendongak. "Dari belakang juga cantik."

Maya tak mampu menjawab, hanya desahan dan erangan yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya bergetar, menyadari betapa berbedanya ini dari semua pengalaman seksualnya selama ini. Dengan Irwan selalu sama - di tempat tidur, lampu mati, posisi misionaris, selesai dalam beberapa menit.

"Pak... Pak Karyo..." Maya mendesah saat merasakan gelombang kenikmatan baru mulai membangun. "Kayaknya... aku mau keluar lagi..."

"Jangan ditahan, Bu," Pak Karyo berbisik, satu tangannya meraih ke depan, jemarinya menemukan titik sensitif Maya. "Keluarin aja."

Kombinasi dari penetrasi dalam dan sentuhan di klitorisnya membuat Maya mencapai puncak kembali. "Ahhhh!" Tubuhnya mengejang, dindingnya mencengkeram kejantanan Pak Karyo dengan kuat. "Aku... ahhh!"

Pak Karyo memperlambat gerakannya, membiarkan Maya menikmati orgasmenya. Setelah gelombang itu mereda, ia membalikkan tubuh Maya lagi hingga telentang, tanpa melepaskan penyatuan mereka.

"Bu Maya mau lihat saya?" Pak Karyo tersenyum, keringat mengalir di tubuh berototnya. "Mau lihat siapa yang bakal kasih anak ke Bu Maya?"

Maya mengangguk, matanya setengah terpejam. Dia menatap pria di atasnya - kulit gelap, otot-otot keras, wajah yang biasanya selalu tertunduk hormat kini memancarkan dominasi. Tangannya yang halus menyentuh dada Pak Karyo yang bidang, merasakan kekerasan yang tak pernah ia rasakan dari Irwan.

"Bu Maya sempurna banget," Pak Karyo menggeram, mulai bergerak perlahan lagi. Tangannya yang kasar mengelus setiap inci kulit Maya dengan pemujaan. "Saya bakal pastiin Bu Maya hamil malem ini."

Kata-kata itu membuat Maya semakin terangsang. Ini yang ia inginkan - seorang anak. Dan Pak Karyo akan memberikannya. "Ya," Maya mendesah. "Kasih... kasih aku anak, Pak!!"

Gerakan Pak Karyo semakin cepat, napasnya semakin berat. Maya bisa merasakan kejantanannya semakin membesar, tanda ia semakin dekat. Sensasi itu memicu gelombang kenikmatan baru dalam tubuh Maya, membuatnya kembali mendekati puncak.

"Bu... saya nggak tahan lagi..." Pak Karyo menggeram, gerakannya menjadi tidak beraturan. "Saya mau..."

"Ya!" Maya mencengkeram punggung berotot Pak Karyo. "Di dalam! Buat aku hamil!" Ia menjerit saat orgasmenya menghantam bersamaan dengan Pak Karyo yang mengeluarkan benihnya jauh di dalam.

Maya terbaring lemas, napasnya terengah. Ia bisa merasakan kehangatan Pak Karyo memenuhinya, dan alih-alih merasa kotor, ia merasa... puas. Tapi Pak Karyo belum selesai.

"Sekali nggak cukup buat mastiin kehamilan, Bu," bisiknya serak, jemarinya kembali bermain di titik sensitif Maya. "Kita harus pastiin benihnya... tertanam dengan bener."

Maya, yang masih sensitif pasca orgasme, mengerang saat jemari kasar itu membangkitkan gairahnya lagi. "Ta-tapi..." Protesnya lemah saat merasakan Pak Karyo yang sudah keras kembali.

"Percaya sama saya," Pak Karyo menciumnya dalam, dan Maya mendapati dirinya membuka mulut, menyambut lidah pria itu. "Saya bakal bikin Bu Maya hamil malem ini."

 BERSAMBUNG ... 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com