𝐂𝐚𝐥𝐨𝐧 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚 𝐃𝐚𝐧 𝐂𝐚𝐥𝐨𝐧 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐏𝐚𝐫𝐭 𝟑

 


Hari nampak cerah dan jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Namun berbeda denganArban yang baru saja sampai di parkiran gedung kampus tempatnya harus mengajar hari ini. Sejak menjadi asisten dosen di sebuah jurusan, Arban harus pandai-pandai dalam membagi waktunya dalam keseharian agar dirinya mampu bekerja, kuliah, dan mengajar tanpa harus bertabrakan antara kegiatan satu dan lainnya.

 Namun, karena persetubuhan hebat antara dirinya dan Bu Dewi sebelumnya maupun tadi pagi mengakibatkan Arban harus terlambat masuk dan menjadi pertanyaan bagi Ana yaitu kekasih Arban. Ketika Arban baru saja keluar dari ruangan tempatnya mengajar dirinya dicegat oleh Ana.


"Kok kamu tadi telat sih datangnya??" Tanya Ana spontan. Ana sendiri adalah seorang wanita yang sangat baik, perhatian, dan penyabar serta selalu menurut apa yang diucapkan oleh Arban karena Arban memang tipikal seseorang yang keras. Namun dilain sisi, dirinya sangatlah tegas kepada Arban terhadap hal-hal tertentu seperti waktu makan, sopan santun Arban yang terkadang kasar dan terkadang sifatnya yang cemburuan. 

Hal ini dikarenakan Arban adalah seseorang yang sulit untuk diatur untuk berbagai aspek. Selain itu, Arban adalah seorang yang bisa dikatakan sukses berkarir di usia muda sehingga sering diincar oleh banyak wanita-wanita baik mahasiswa dan dosen, bahkan tidak jarang dirinya digoda oleh wanita tidak dikenal ketika keluar. Tidak heran Ana harus menjaga Arban agar tidak berpindah hati dengan cara berusaha menjadi yang terbaik.

"Nggak kok sayang, semalam aku harus keluar ke proyek jam 11 terus pulangnya udah larut banget. Jadi telat deh bangunnya." Sergah Arban berbohong kepada Ana.
"Mamah semalam pulang jam berapa emangnya??" Tanya Ana kembali berusaha menjebak Arban dengan jawabannya.

"Nggak tau, aku lupa. Soalnya mamah kamu pulang aku lagi fokus kerja, jadi nggak liat jam." Tentu saja Arban tidak akan terkecoh, karena dirinya sudah menyiapkan jawaban dari pagi karena takut Ana curiga tentang permainannya semalam dengan Bu Dewi.

"Kan kamu keluar ke proyek jam 11 ih, kok bisa lupasih. Kamu bohong lagi ya!!??" Sembur Ana yang merasa kesal karena Arban sangat sulit untuk dijebak dengan pola pertanyaan.
"Ngapain sih aku bohong sayang, akukan gamungkin macam macam kalau diluar." Jawab Arban sambil mengelus buah pantat Ana dari luar ketika situasi dirasa aman oleh dirinya karena koridor gedung yang sepi.

"Ih apasih Arban, nanti diliat orang tau." Sergah Ana yang terkejut dan takut ketahuan oleh mahasiswa yang lewat.
"Udah dong jangan marah mulu." Bujuk Arban kepada Ana sambil terus mengelus-elus buah pantat Ana dengan lembut agar Ana berhenti marah dan terangsang.
"Jangan Arban, disini banyak orang. Kamu kok nakal banget sih." Larang Ana agar Arban menghentikan aksinya, dilain sisi dirinya mulai terangsang karena elusan Arban yang begitu lembut disertai dengan remasan-remasan di kedua buah pantatnya.

"Tapikan gada yang liat sayang." Bisik Arban di telinga Ana sambil menjilat leher jenjang Ana yang putih mulus seperti kulit Bu Dewi.
"Shhh sayang, udah ah. Ini masih di kampus tau." Ucap Ana yang ternyata terangsang dan terus melarang Arban.
"Dih, malah desah. Kamu sange ya?? Hahaha." Ejek Arban kepada Ana yang sangat mudah terangsang kepada Arban.

"Nggak tuh." Jawab Ana sok jual mahal.
"Masa sih sayang??" Lanjut Arban sambil meremas-remas pantat Ana dan menepuknya.
"Ahhh shh iya." Bantah Ana.
"Memek kamu becek ya??" Tanya Arban berusaha memancing Ana.
"Ngh shh aah mhh." Mendengar hal tersebut, Ana justru makin terangsang dan lemas.
"Lonte aku ini keknya butuh kontol deh." Ucap Arban sambil mengelus elus kepala Ana.
"Ngh udah ah, aku diminta menghadap ke Ibu Aini." Cegah Ana yang teringat harus menyelesaikan sesuatu.

"Ngapain kesana Ana sayang???" Tanya Arban yang merasa aneh, selama Ibu Aini adalah dosen yang sering berseberangan dengannya karena Ibu Aini selalu merasa bahwa Arban masih terlalu muda dan sombong serta sering pencitraan di depan orang-orang. Umurnya yang masih tergolong muda sempat menarik perhatian Arban dikarenakan tubuhnya yang cukup menarik dengan tinggi badan yang tergolong pendek dan tubuhnya yang kurus namun memiliki payudara yang sangat besar yang tidak bisa ditutupi oleh hijab lebarnya. Namun Arban malas berurusan dengan Ibu Aini tersebut karena takut akan repot dikemudian hari.

"Katanya tugas aku bermasalah di bidang studinya, terus dia nuduh aku yang enggak enggak tau. Katanya aku dapat soal ujian semester di bidang dia itu dari kamu, makanya nilai aku bagus." Keluh Ana yang cukup kesal dengan sifat Ibu Aini tersebut.

"Nggak usah kesana deh, aku pengen ngentotin memek kamu nih." Larang Arban sambil mengelus memek Ana sekali dengan cepat.
"Shhh ah sayang tapikan itu penting." Jawab Ana yang tidak mau masalah tersebut membesar.
"Nanti aku ngomong sama Ibu Aini soal masalah itu." Jawab Arban berusaha menenangkan kepanikan Ana.

"Yakin??" Tanya Ana yang antusias.
"Yakin sayang." Ucap Arban sambil menampar pantat Ana.
"Shhh yaudah deh, mau dimana emang??" Pasrah Ana yang akhirnya mau dengan ajakan Arban.
"Di hotel mau??" Tawar Arban mengajak Ana untuk ke hotel.
"Kamu nggak kerja hari ini??" Selidik Ana kepada Arban.

"Nggak kok, aku cuman dapat lembur aja dikit sama masuk kelas malam." Jawab Arban.
"Yaudah makan dulu yuk." Ajak Ana karena hari sudah menunjukkan waktu makan siang.
"Makan aja pas dihotel, nanti pesen." Tolak Arban karena malas dan merasa cukup lelah dari malam.
"Hmm ok deh." Jawab Ana mengiyakan.

Mereka berdua pun segera meninggalkan lingkungan kampus menggunakan motor trail milik Arban dan motor milik Ana sudah dititipkan kepada teman Ana. Mereka berdua memutar area kota untuk mencari hotel yang berada dipinggiran kota agar tidak ada yang mengenali mereka, wajar saja karena Arban cukup terkenal di daerah tersebut akibat menjadi ketua organisasi dan menjalankan kegiatan yang cukup bermasyarakat sehingga mereka harus menjauhi persepsi buruk tentang hubungan mereka.

 Ketika sampai di hotel yang dirasa cocok, mereka segera check-in sebuah ruangan dan berjalan menuju kamar tersebut. Sepanjang perjalanan di koridor, area tersebut sangat sepi dan tidak ada CCTV sehingga tangan Arban terus meremas remas pantat Ana yang menyebabkan Ana menjadi semakin horni dan sange. Ketika sampai tepat di dalam kamar, Ana segara mencumbu bibir Arban dan tangan meremas kontol Arban dari luar.

"Ngh shhh mphhh." Desah Ana yang nafsu.
" Mphh... Santai aja sayang." Ucap Arban yang menyambut bibir Ana yang lembut.
"Ngh mhhh shh ah." Nafsu Ana semakin memuncak ketika tangannya masuk kedalam celana Arban dan menggenggam kontol yang sebentar lagi akan masuk kedalam alat kelaminnya sendiri.
"Nakal ya, dasar lonte." Gemas Arban karena Ana sudah melepas celana Arban dan menggenggam kontol miliknya.

"Ah kontol kamu sial banget. Ah ngh kontol kamu hangat terus gede, bikin memek aku gatal tau." Ucap Ana sambil mengocok kontol Arban.
"Dipuasin dong memek kamu sayang, kasihan tuh banjir gitu memek kamu udah kek memek pelacur aja. Hahaha." Ejek Arban sambil menikmati kocokan tangan Ana yang sangat halus.

Karena tidak tahan menahan nafsu, Ana langsung mendorong Arban ke kasur dan segera menenlanjangi dirinya tanpa melepas hijab miliknya. Tanpa berlama lama kemudian, Ana segera mengambil posisi diatas kontol Arban yaitu posisi WOT dan segere memasukkan kontol tersebut perlahan lahan.
"Shhh ouuh gede banget sayaaang." Erang Ana yang kesulitan memasukkan kontol Arban kedalam memeknya sendiri.

"Terus sayang, jangan berhenti." Perintah Arban sambil menggapai payudara Ana dan meremasnya.
"Ngh aaaah kontol, shh ah ah ah ah ah ah." Desah Ana setelah kontol Arban masuk seluruhnya kedalam memeknya.

"Enak ya sayang??" Tanya Arban memancing.
"Enaaak, ngh ah ah ah shhh mpsh ah ah kontol kontol." Nafsu Ana semakin menjadi-jadi setelah memompa kontol milik Arban. Walaupun rutin berhubungan sex hingga hampir setiap hari, namun memek milik Ana masih sangat sempit.

"Terus sayang, kompanya yang benar dong. Emang mau aku cabut??" Ancam Arban sambil menampar buah pantat Ana.
" Ngh iyaaa, kontol kontol shh ah ah ah ah kontol ngh shhhh." Ana terus memacu dirinya untuk semakin cepat dan lihai untuk memuaskan memeknya sekaligus kontol Arban.
"Dasar lonte, memek kamu kok kek longgar gini ya??" Tanya Arban sambil terus menampar pantat Ana semakin kuat.

" Aaah kontol kamu yang kegedean shh ah ah ngh shhh ouh." Bantah Ana yang makin nafsu dan sange.
"Tapi enakkan?? Memek kamu sampe banjir gitu." Tanya Arban sambil mengelus memek Ana yang banjir oleh lendir miliknya sendiri.

" Enaaaaak, memek aku nagiih, ouh sayaaaaaang memek aku gateeeeeeeel." Racau Ana yang semakin menjadi jadi dan menggila akibat kontol Arban yang bersarang di dalam memeknya sambil keluar masuk secara terus menerus tanpa jeda.

"Hahaha, parah banget kalau udah ketemu kontol aku nih kamu." Ejek Arban sambil merubah posisi menjadi doggy style tanpa mencabut kontol miliknya.
"Shhh ouh sayang uh ah ah ah ah ah." Desah Ana yang keenakan karena digenjot oleh Arban dari belakang secara liar.

" Ayo muncratin sayang." Perintah Arban sambil terus menusuk memek Ana dengan kontolnya yang cukup besar.
"Aaaaah shh ouuhhh sayaaang aku keluaaaaar....." Erang Ana ketika memeknya mengalirkan lendir bening cukup deras.

"Dasar sialan lonte, memek kamu kaya memek lacur aja tiap aku pake." Melihat hal itu bukannya berhenti justru Arban malah menghentakkan kontolnya semakin kedalam sehingga lendir tersebut terhambat untuk mengalir.

"Ah ah ah sayang ampun, memek aku ngilu aku mohon shh ah ngh mphhhh." Mohon Ana yang terkejut dengan perlakuan Arban.
" Persetan, nih tadi mau kontol akukan." Jawab Arban sambil terus memompa memek Ana semakin kuat dan cepat.
"Shhh ouh sayaang ah ah ah ah kontol kontol kontol shh ah ah sayang terus uh mphhh." Racau Ana semakin liar

"Aku cabut ya??" Tanya Arban sambil mencabut kontolnya hingga setengah.
"Ngh aaah jangaan, shh ah ah ah ngh mphhh." Mohon Ana yang merasa nanggung dan tidak ingin benda tersebut tercabut dari memeknya sendiri.

"Kok jangan sih sayang??" Tanya Arban kembali sambil memasukkan kontolnya secara perlahan.
"Kontol kamu punya akuu." Teriak Ana histeris karena merasa keenakan dan nikmat yang sangat di area memeknya.

"Iya sayang iya, kontol aku punya kamu apa memek kamu???" Ucap Arban yang terus memancing kebinalan Ana.
"Aaah punya aku buat puasin memek aku, shh mphhh ah ngh shhh ngh ah ah ah enak kontol." Jawab Ana yang merasa tidak kuat hingga terpaksa dirinya harus menggoyangkan pantatnya keatas dan kebawah agar memeknya semakin puas.

"Kamu muncrat lagi ya???" Tanya Arban yang lagi lagi melihat cairan bening mengalir dengan deras.
"Ah ah shhh iya, nghmemek aku ngilu enak banget sayang maaf uh shhh enaak." Erang Ana terus menerus.

"Dasar lonte." Melihat hal itu, Arban segera mengambil handphone miliknya dan merekam kegiatan Ana yang menarik turunkan pantatnya untuk memompa kontol Arban yang berada dalam memeknya. Karena gemas melihat pantat Ana, tangan Arban melayang dan menampar kedua pantat Ana bergantian.
"Shhh aah ampuuun." Mendapat perlakuan tersebut, Ana langsung mengerang kesakitan dan malah memompa kontol Arban secara lebih liar.

"Pantat kamu kok gede banget sih sayang." Tanya arban sambil lagi lagi menampar pantat Ana.
"Ngh gatau sayang, shh ah ah ah pelan pelan aku mohon shh ngh aah sayaaang." Ucap Ana memohon.
"Kalau aku nggak mau??" Setelah merasa cukup dengan rekamannya, Arban segera mematikan rekaman tersebut dan kembali fokus memompa memek Ana.

"Shh aaah ampun sayang ampun shh uuh mphhh ah ah ah ah enak banget shh ngh aah ah aaah." Desah Ana yang sangat keenakan dengan kontol kekasihnya tersebut.

Hampir 1 jam berlalu sejak kedatangan mereka dan persetubuhan mereka. Memek Ana menjadi merah dan terasa ngilu bagi Ana, namun berbeda dengan Arban yang dasarnya merupakan seorang atlet sehingga stamina miliknya begitu besar.

"Enak nggak???" Tanya Arban menghentikan genjotannya.
"Ngh enaaak shh aaah ngh mphhh shh ah." Jawab Ana menanggapi pertanyaan Arban.
"Aku crot dalam nih, lagi pengen." Ucap Arban tanpa menunggu persetujuan dari Ana dan memompa kontolnya semakin cepat. Tidak lupa Arban kembali menyalakan handphone miliknya dan bersiap untuk merekamnya.

"Mphh mphhh shh ngh mphhh." Mulut Ana dibekap oleh Arban agar dirinya tidak banyak bicara dan melarangnya untuk menumpahkan sperma miliknya kedalam memek Ana.
"Shhh terima sperma aku sayang." Ucap Arban dengan satu hentakan penuh seluruh kontolnya terbenam kedalam memek Ana dan menumpahkan seluruh spermanya kedalam memek Ana.
"Shhh aaah fuck, aku lagi subur uuhhh aku muncraaaat." Mendapati hal tersebut, memek Ana justru semakin terangsang karena ini adalah pertama kalinya Arban menumpahkan sperma kedalam memeknya.

Arban segera mencabut kontolnya dan berbaring disisi Ana yang masih nungging menikmati sisa sisa persetubuhan tadi.
"Bersihin kontol aku, cepat." Perintah Arban lemas.
"Aaah sperma kamu banyak bangetloh ini, sampe 2 kali lipat dari biasanya." Keluh Ana yang mendapati sperma Arban sampai meluber keluar.

"Ah aku nafsu banget tadi liat pantat kamu." Sanggah Arban yang sebenarnya merasa horni akibat mengingat persetubuhanya semalam dengan Bu Dewi yaitu ibu dari Ana sendiri.

30 menit telah berlalu dan Arban terbangun dari tidurnya, tepar disisinya terdapat Ana yang masih tertidur. Mereka berdua nampaknya kelelahan akibat permainan tadi yang sangat menguras tenaga setelah hampir 2 jam permainan. Setelah cukup mengumpulkan tenaga, Arban segera mengambil handphone miliknya dan mengirim video persetubuhannya berusan kesebuah nomor melalui aplikasi pengirim pesan.

"Ibu sama anak nggak beda jauh, sama sama lonte." Ketik Arban di miliknya dan lanjut menekan tombol kirim. 5 menit kemudian terdapat tanda bahwa pesan tersebut telah dibaca dan ada pesan balasan.

"Kamu ngapain sama Ana!!? Jangan macam-macam kamu ya, kamu jangan apa apain Ana!!" Isi dari balasan pesan tersebut cukup membuat Arban tertawa kecil dan segera mengirim pesan kembali.
"Saya ga ngapa ngapain Ana kok, malah Ana yang ngapai ngapain saya. Wkwkwkwkw." Jawab Arban menanggapi pesan barusan.

" Apa maksud kamu!!?" Melihat balasan tersebut, Arban berpikir sepertinya Bu Dewi hanya melihat background video tersebut dan tidak menontonnya.
"Di nonton dong videonya tante, biar tante tau binalnya anak tante tu ga beda jauh sama tante." Balas Arban yang mengidentifikasi bahwa anak dari Bu Dewi yaitu Ana memiliki sifat yang sama seperti Bu Dewi. Setelah pesan tersebut terkirim, tidak nampak lagi balasan dari WA tersebut. Melihat hal itu, Arban segera menghapus pesan pesan tadi dan memutuskan untuk melanjutkan tidurnya sambil memeluk Ana.

BERSAMBUNG

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com