Di hari Minggu pagi aku begitu serius berdandan, sedikit ingin tertawa melihat tingkahku sendiri. Kali ini aku begitu total berdandan seolah ingin menunjukkan penampilan yang terbaik untuk Koh Freddy.
Saat aku asyik berdandan di kamar, terdengar nada dering ponselku… dan begitu kulihat itu dari Koh Freddy. Sedikit ragu untuk kuangkat karena ada suamiku di luar kamar. Tapi karena takut ada perubahan acara mendadak, kuangkat telepon itu namun dengan suara yang pelan-pelan agar tak terdengar oleh suamiku.
“Jadi kan hari ini Sayang? anter aku ke tempat Squash”, Koh Freddy langsung mengawali pembicaraan dengan pertanyaan.
“iya… iyaaaa…..”, aku menjawab dengan suara manja dan tak mau memberi jawaban yang panjang-panjang. Deg-degan banget ternyata ditelepon oleh ‘kekasih gelap’ di depan suami itu, meskipun sudah kulakukan dengan setengah berbisik.
“Pokoknya Koko jam 10 udah jemput di rumah, kamu tunggu aja di luar…. udah siap-siap kan sekarang?”, ucap Koh Freddy memberikan arahan akan rencana perselingkuhan ini.
“ini juga udah ampir beres koq”, jawabku masih dengan nada manja.
“Pake dress yang biru itu kan?”, lagi-lagi Koh Freddy bertanya untuk memastikan, ternyata cerewet sekali kesayanganku ini.
“iya, ini juga pake yang waktu itu…. Ga bosen emangnya?”, ucapku merajuk diakhiri pertanyaan basa-basi.
“Jadi ga sabar nih…”, ucap Koh Freddy kali ini dengan nada yang sepertinya memiliki hasrat yang menggebu.
Aku tak menjawab, hanya tertawa mendengar ucapan Koh Freddy. Namun bukan tawa yang lepas karena aku tahan agar suara tak terdengar keluar kamar.
“Pasti cantik deh sayangnya Koko”, Koh Freddy melanjutkan pembicaraan dan lagi-lagi sudah tak ragu memposisikan diriku sebagai kekasihnya.
Entah itu diucapkannya dengan tulus atau sekedar nafsu, aku tak tahu. Jangan-jangan Koh Freddy sudah memiliki hasrat dan gairah yang sama sepertiku? Ya, sejak awal kudengar suara Koh Freddy, sebenarnya aku langsung merasakan gairah yang luar biasa, namun aku tahan dan sembunyikan.
“ih, dasaaaar”, ucapku semakin manja mendengar ucapannya itu.
“ya udah deh ditutup ya teleponnya, ntar kalo udah mau nyampe Koko telepon lagi ngabarin…” ucap Koh Freddy mengakhiri pembicaraan “
“iya udah…..”, akupun mengakhiri pembicaraan.
“I Love You, Sayang………………………………………….... ih mana koq ga pernah dibales tiap Koko bilang I Love You?”, Koh Freddy ternyata masih memberikan ucapan terakhir yang membuat jantungku hampir copot.
“….. iiiih jangan disini ah”, kali ini aku langsung menolak keinginan Koh Freddy untuk membalas ucapan mesranya itu.
“Sekaliiii aja Sayang, Koko pengen denger…..”, lagi-lagi Koh Freddy memintaku setengah memaksa.
“iya, iya… nanti aja… kan ketemu”, aku masih menolak permintaan itu, tapi seolah akan aku ucapkan saat bertemu nanti, terlalu beresiko jika aku ucapkan hal itu disini, ketika suamiku berada di satu atap yang sama. Apakah nanti saat bertemu aku berani mengatakan ucapan itu? Entahlah.
“Janji ya nanti pas ketemu, Sayang mau bilang itu ke Koko….”, ucap Koh Freddy seperti meminta kepastian.
“ssst, udah ah ga beres-beres aku dandannya”, kali ini nada suaraku sedikit tegas, ingin mengakhiri topik itu.
“Tuh kan ga yakin, makanya sekarang aja dulu….”, Koh Freddy seperti yang ingin sekali mendengar ucapan itu dariku sekarang. Iiiih gemesin banget Kokoh-nya aku ini.
“ih, ngga… ngga di telepon… udah ah”, ucapku pura-pura kesal mendengar kebandelan Koh Freddy ini.
“Ya udah deh, tapi janji yaa…. berarti kalo ngomong langsung, ntar bilangnya harus sambil cium tangan Koko”, ucap Koh Freddy semakin genit dan mulai meminta lebih.
“iya janji…. Pokoknya terserah aja mau gimana hiihihihi”, kujawab itu dibarengi tawa kecil. Sial, kenapa aku barusan mengatakan hal itu! Padahal sebenarnya maksudku hanya ingin segera pembicaraan di telepon ini berakhir dan aku bisa menyelesaikan dandanku. Benarkah nanti aku akan siap melakukan hal itui?
***
Rasanya campur aduk perasaanku pagi ini, aku menjadi tiba-tiba panik di kondisi seperti ini. Maklum ini adalah pengalaman pertamaku berbuat seperti ini.
Di sela-sela aku mengobrol dengan suamiku, Vina men-chatku. Dia memang sudah kuberitahu bahwa aku akan mengantar Koh Freddy dulu. Aku memberitahukannya karena aku tak ingin menyimpan rahasia terlalu besar kepada Vina, walaupun tentu saja aku tak akan menceritakan soal perasaanku kepada Koh Freddy yang sudah teramat besar ini. Bahkan aku mengatakan pada Vina bahwa hari ini aku mau mengantar Koh Freddy karena alasan terpaksa, tak tahu harus menolak dengan alasan apa lagi.
Pada awalnya Vina menggodaku sambil tertawa-tawa dan menyebut bahwa acaraku dengan Koh Freddy ini dengan sebutan ‘kencan’. Vina mengerti dengan kondisiku yang sudah tak bisa menolak, tapi di akhir pembicaraan ia memberikanku nasihat….
“Ya udah, ati-ati yaa Lid, sampe ketemu ntar siang di Mall……. Awas lho jangan sampe kebawa perasaan…… tapi aku percaya banget sama kamu koq, Lid……. You’re the best wife ever that I know”, begitulah ucapnya. Sebenarnya aku selalu mendengarkan setiap nasihat Vina, tapi kali ini.. Bukan ini yang dimau!!! Nasihat ini sangat menohok perasaanku yang sudah bertekad untuk berkhianat.
Perasaanku semakin panik ketika Koh Freddy men-chat, sepertinya sudah hampir sampai, mungkin seperti itu…. karena aku tak membuka chat-nya, sebab di waktu bersamaan suamiku tiba-tiba ingin mengantarkanku ke Mall. Ya, suamiku tahu karena aku sudah memberitahukannya bahwa pagi ini akan pergi bersama Vina ke Mall, padahal faktanya bukan… ke Mall itu sebenarnya siang.
Disaat kepanikan menolak tawaran antar suamiku ini, tiba-tiba ponselku berbunyi… langsung kuangkat telepon itu sambil berjalan ke posisi yang bisa melihat ke arah luar jendela. Kukira itu telepon dari Koh Freddy yang memberitahukan sudah sampai, ternyata bukan. Hanya temanku yang iseng menelepon, aku tak memperhatikan apa yang dibicarakannya, aku sibuk melihat ke arah luar takut Koh Freddy datang.
Seharusnya memang aku sudah menunggu di luar saat ini, tapi suamiku tadi terus mengajak bicara dan kali ini aku harus menerima telepon, akhirnya aku terjebak di dalam rumah dengan segala kepanikannya. Aku pun hanya menjawab telepon dari teman itu dengan sekedarnya saja dan ingin segera kututup telepon itu. Bahkan ketika suamiku bertanya siapa yang menelepon, kujawab dengan sangat panik dengan jawaban yang asal, entah apa jawabanku saat itu, aku lupa saking paniknya.
Mungkin hanya dalam hitungan detik, aku lihat dari kaca jendela rumah, mobil Koh Freddy berhenti di depan rumahku, aku langsung berjalan keluar rumah dengan tergesa. Bahkan aku sampai lupa untuk memberi salam kepada suamiku.
***
Begitu sampai di dalam mobil, aku langsung terduduk masih dalam keadaan panik dan denyut jantung yang masih berdetak kencang. Melihat hal ini, Koh Freddy sepertinya bertanya-tanya dengan keanehanku ini.
“Kenapa, Lid?”, tanya Koh Freddy.
“Kokoh sih nakal, pake jemput aku di rumah segala….. aku kan jadi tegang banget”, jawabku sambil cemberut saking kesalnya.
Koh Freddy sambil menyetir langsung membelai rambutku dengan tangan kirinya. Ini adalah sentuhan pertama dari Koh Freddy pada diriku!!!!! Tapi aku sama sekali tak menolaknya, aku merasa nyaman dan menjadi lebih tenang. Walau tetap saja jantungku berdetak kencang, deg-degan yang tadi terjadi karena kepanikan, kini berubah jadi deg-degan karena sentuhan. Belaian lembut dari laki-laki selain suamiku yang baru kurasakan seumur pernikahanku.
“Maafin Koko ya…. Koko ga bermaksud buat kamu panik kaya gini. Koko janji ga akan minta kamu kaya gini lagi”, ucap Koh Freddy sambil melirik ke arahku. Tampak ada penyesalan dari nada suaranya. Tangannya masih dengan lembut membelai rambutku yang pagi ini sudah kutata begitu indah khusus untuk Koh Freddy.
“Senyum dong Sayang….. Koko kan udah minta maaf, Koko udah ngakuin kesalahan”, lanjut Koh Freddy yang melihat aku terdiam. Mungkin dia sangka aku terdiam karena marah, sebenarnya aku sedang menikmati belaiannya.
Bahkan kali ini Koh Freddy seperti melambatkan laju mobilnya dan berjalan di lajur lambat. Kini tangan Koh Freddy diarahkan ke arah wajahku, dia pegangi dagu sampai ke pipiku, posisi tangan yang seolah-olah memaksaku untuk tersenyum. Dan akupun tersenyum, kuberikan senyuman termanis untuknya di pagi ini.
“Tuh kan cantik banget kalo senyum gini…..”, Koh Freddy antara memuji dan menggodaku.
Mobil kembali berjalan dengan kecepatan normal kembali. Kali ini Koh Freddy melihat ke arah tubuhku, seperti yang sedang memperhatikan sesuatu.
“Kenapa sih, Koh? ngeliatnya gitu banget…”, tanyaku penasaran dengan pandangannya itu. Takut ada yang salah dengan penampilanku.
“Koko baru sadar, koq bajunya beda ya sama yang di undangan?”, jawab Koh Freddy.
“Saama koq…”, balasku lagi dengan sedikit bingung.
Koh Freddy kembali memperhatikan pakaianku… “ooh waktu itu ga pake cardigans ya… pantesan keliatannya beda”, ujar Koh Freddy mengangguk-angguk menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri.
Lalu kami berpandangan dengan sorot mata yang seperti mengungkapkan perasaan tertentu dan diakhiri dengan saling tersenyum.
Setelah pandangan Koh Freddy kembali menatap jalan. Kubuka seat belt, lalu kulepaskan cardigan putih yang menutupi dress favorit Koh Freddy ini, kemudian cardigan itu kulipat sekedarnya.
“Titip disini ya Koh….”, ucapku pelan sambil meletakkan cardigan di kursi belakang.
Koh Freddy menatapku lagi di saat tubuhku masih miring ke arahnya usai gerakan menyimpan cardigan di jok belakang, kami pun bertatapan lagi sambil tersenyum. Sekarang tatapan Koh Freddy tak hanya menatap ke wajahku, tapi juga ke bagian dress-ku dimana kulit putih pada lengan, bahu, dada tampak jelas terlihat. Belum lagi belahan payudara dan bentuknya yang tercetak ketat, sudah barang tentu kini terlihat lebih jelas setelah kuputuskan untuk membuka cardigan.
Seharusnya aku risih dengan tatapan itu, memang biasanya aku begitu jika ada lelaki lain yang menatap ke tubuhku. Tapi kali ini tidak, seperti ada kepuasan dariku dipandangi oleh lelaki yang ada di sampingku ini, aku merasa bangga telah memberikan kebahagiaan untuknya.
Koh Freddy pun kemudian mengalihkan kembali tatapannya ke arah jalan sambil menahan senyum dan kepalanya manggut-manggut.
“Iiiiih, kenapa senyum-senyum gitu Kooh???”, tanyaku manja. Kali ini punggung telunjuk dan jari tengahku mengelus lembut dahi dan pipi Koh Freddy. Inilah sentuhan pertamaku kepadanya. Aku melakukan itu dengan penuh kesadaran. Aku memang benar-benar telah jatuh cinta.
Melihat aku melakukan hal itu, tangan Koh Freddy mengambil tanganku yang sedang mengelus itu, lalu dia mengecup punggung tanganku dengan begitu penuh perasaan… “I Love You, Lidya…..”, ucapnya dengan mata yang tetap menatap jalan.
Setelah tanganku dikecupnya dengan ucapan yang membuatku berbunga-bunga, kini aku langsung mengarahkan kedua tanganku untuk mengapit kedua pipinya, dan mengarahkan pandangannya sejenak agar menatap ke arah mataku….. “I Love You too, Koko……”, balasku mengucapkannya dengan nada yang mesra.
***
Kami pun sampai ke tempat Squash, sejak turun dari mobil hingga pintu masuk, tangan Koh Freddy merangkul pundakku. Meskipun kami tidak berjalan berhimpitan, tapi dengan sentuhan itu saja membuat bulu halus di sekujur tubuhku ini meremang.
Tempat Squash ini ternyata besar dan mewah, sepertinya ini tempat yang sangat exclusive. Begitu sudah melewati pintu masuk ternyata tidak langsung ke dalam ruangan, melainkan melewati terlebih dahulu taman yang sangat luas yang ditata begitu cantik. Juga ada kolam renang disana yang didesain begitu indah, padu menyatu dengan taman ini. Terlihat beberapa kursi makan taman yang diatur dengan penuh estetik.
Namun anehnya di tempat sebagus ini, terlihat sepi… padahal ini hari Minggu. Mungkin karena mahal kali ya?
Hanya ada beberapa karyawan yang terlihat dan selalu menyapa dan menyambut Koh Freddy dengan ramah saat berpapasan. Bahkan seorang lelaki setengah baya dengan pakaian berbeda dengan karyawan lainnya menyapa dengan menyebut nama ‘Koh Freddy’. Namun seperti biasa Koh Freddy hanya membalas sapaan mereka dengan anggukan kecil dengan wajah datar. Sepertinya Koh Freddy sudah rutin bermain Squash disini sehingga semua karyawan sudah pada mengenalnya.
Di taman ini pun Koh Freddy menghentikan langkahnya, ia mengambil kamera DSLR-nya dan memintaku untuk memulai sesi fotonya. Aku yang tidak bisa bergaya tentu saja merasa canggung. Biasanya aku hanya difoto melalui ponsel biasa, asal saja, terkadang hanya dibuat seolah candid. Kalau harus bergaya seperti model, mana aku bisa? Beberapa kali Koh Freddy mengarahkan gaya, tapi tetap saja aku kaku. Paling hanya beberapa jepretan, lalu aku meminta Koh Freddy untuk menyudahi acara fotonya karena aku malu, apalagi kalau ada yang melewat memperhatikanku. Aku pun langsung minta dilihatkan hasil fotonya melalui kamera belakang DSLR itu. Posisi tubuh kami bersentuhan cukup erat saat melihat foto-foto itu. Aku pun merasa malu melihat diriku sendiri melalui hasil fotonya.
“foto yang ini hapus Koh ah, malu…. Jelek banget”, rengekku manja.
Koh Freddy menggeleng dan seolah menyembunyikan kamera DSLR-nya di belakang tubuhnya. Akupun mencoba meraih kamera itu untuk men-delete sendiri foto yang kuanggap memalukan tadi. Bukan ini yang aku mau, Koh!!!
Dengan tangan yang menggapai-gapai bagian belakang tubuh Koh Freddy, posisi tubuh kami akhirnya berdempetan semakin erat. Kedua payudaraku menekan-nekan dada Koh Freddy, karena gerakanku yang berusaha mengambil paksa DSLR itu. Kemudian dengan sebelah tangannya, Koh Freddy memeluk tubuhku, tangan kirinya kini ada di punggungku dan mengelus-elus lembut.. kami pun kembali bertatapan dengan jarak wajah kami yang begitu dekat.
“Haapus…. Kooooh”, aku merengek manja seperti anak kecil, sambil menatap matanya lekat dengan sorot mataku yang sendu.
Koh Freddy menggeleng lagi sambil tersenyum, “Koko ga akan pernah menghapus semua hal tentang kamu, Lid”.
“Ih ga nyambung, apaan coba?”, tanyaku dengan muka cemberut. Jika bukan orang yang kucintai mengucapkan hal yang baru saja aku dengar itu, bagiku hanya seperti gombalan murahan. Tapi berbeda jika kalimat itu diucapkan oleh Koh Freddy, aku merasa tersanjung dan makin jatuh cinta padanya.
Aku menghirup aroma parfum dari tubuh Koh Freddy yang begitu maskulin, itu membuatku menjadi makin bergairah dengan posisi erat berdekapan seperti ini. Namun tak lama kemudian Koh Freddy melepaskan pelukannya itu.
“Harum banget parfum kamu, Lid…. Koko suka”, ucap Koh Freddy sambil mengajakku untuk berjalan lagi dan masuk ke dalam sebuah gedung bergaya minimalis modern. Ternyata tadi kami memikirkan hal yang sama, tentang aroma parfum. Ah, sepertinya chemistry mulai terbangun diantara kami.
Di gedung itu kami melewati Resto, tempat fitness, sampai akhirnya kita sampai ke area Squash.
“Koh, kan kalo Squash mainnya harus berdua?”, tanyaku heran.
“Kan ada kamu…”, jawab Koh Freddy tersenyum sambil mencubit hidungku.
“Ih ga mau, ga bisa…. lagian masa pake dress gini?”, ucapku yang memang sejak awal tak berniat untuk ikut bermain.
“Beli aja dulu pakaiannya disana, kalo raket Koko bawa 2”, ujar Koh Freddy menunjuk sebuah toko olahraga yang sepertinya menyediakan berbagai peralatan Squash dan gym.
Aku kembali menolaknya dan memilih untuk duduk di balik kaca penghalang yang memisahkan lapangan dan tempat penonton, untuk menonton Koh Freddy yang mulai memantul-mantulkan bola ke tembok. Aku pandangi kekasih baruku itu lekat-lekat, terpana pada segala yang ada pada kekasihku ini.
Kekagumanku padanya semakin menguat, meski tubuhnya tinggi besar, Koh Freddy tampak lincah bergerak. Setiap dia mengayunkan raketnya dan memukulkan bola dengan begitu kencang, entah mengapa dada ini berdebar-debar dan sepertinya libidoku meningkat tajam. Apakah di ranjang Koh Freddy memiliki kekuatan sebesar itu juga? AH LIDYA!!! Kenapa mikirnya jadi kesitu sih!
Entahlah, seumur hidupku aku tak pernah merasakan hal yang seperti ini pada siapapun bahkan pada suamiku. Jika kali ini aku berpikiran mesum pada Koh Freddy, apakah aku termasuk perempuan murahan?
Lamunanku dibuyarkan oleh teriakan Koh Freddy yang memanggil namaku, namun aku ragu untu masuk ke area lapangan karena pakaianku begini. Dan aku lihat ada seorang penjaga yang sedang memperhatikan ke arah lapangan. Namun Koh Freddy kembali memanggilku, akhirnya dengan terpaksa aku masuk ke lapangan.
“Malu tau Koh, pakeannya gini”, ujarku pada Koh Freddy yang sejenak menghentikan permainannya.
“Ah ga ada aturannya juga pake dress ga boleh maen Squash”, jawab Koh Freddy cuek.
“Tapi si mas itu ngeliatin tadi pas aku masuk”, ucapku sambil memberikan tanda dengan gerakan mataku pada Koh Freddy mengenai letak keberadaan seseorang yang sedang berjaga.
“Halah cuekin aja, lagian tempat ini yang punya Koko”, jawab Koh Freddy datar, sambil menyerahkan raketnya kepadaku seolah memintaku untuk mencoba. Dari ucapannya tadi tak terdengar sedikitpun ada maksud untuk menyombongkan diri.
Jika perempuan ‘matre’ mendengar hal yang barusan Koh Freddy ucapkan, pastilah perempuan itu bersorak gembira, sambil bergumam ‘hmmm pacarku kaya bangeeet!’. Tapi jujur, tidak begitu denganku, yang ada di pikiranku sekarang adalah ‘kenapa ya orang-orang bisa sekaya ini?’.
Akupun mulai mencoba bermain, ternyata tak semudah yang dilihat. Bagiku bolanya terlalu lincah. Melihatku yang kebingungan Koh Freddy kemudian berdiri kebelakang badanku, sambil mengajarkan bagaimana cara memegang raket dan teknik memukul yang benar.
Seperti sebuah dekapan dari belakang, tangannya memegang lembut tanganku, sementara batang kemaluannya kini menyentuh bokongku yang tercetak jelas lekukannya malalui dress yang aku pakai. Akupun sedikit tersentak begitu tersentuh ‘kepunyaannya’ yang menurut perasaanku sepertinya cukup besar. Tapi aku kembali berpura-pura tak merasakannya dan mulai berkonsentrasi pada raketku. Namun tetap saja aku sulit berkonsentrasi, hanya mencoba beberapa pukulan lagi aku pun memutuskan untuk keluar lapangan.
“udah ah ga bisa”, ucapku kesal sambil melangkah keluar.
Setelah duduk di tempat semula, nafasku menderu, bukan karena capek karena baru saja mencoba permainan Squash, tapi aku masih membayangkan kejadian ketika aku merasakan batang kemaluannya menyentuh bokongku. Nafsuku sepertinya sudah semakin menggila.
Tak sampai 30 menit Koh Freddy mengakhiri permainannya, kemudian duduk di sampingku.
“Istirahat dulu Koh?”, tanyaku setelah Koh Freddy duduk.
“Udahan aja ah, ga rame kalo sendiri… lagian kasian kamu kesel nungguinnya”, jawab Koh Freddy.
Aku melihat tas olahraga Koh Freddy yang terbuka karena sejak dia simpan raketnya resletingnya belum ditutup lagi, kulihat disana ada handuk putih kecil, lalu aku mengambilnya.
“Padahal aku ga apa-apa, aku pasti nungguin koq, Sayang”, ucapku sambil menyeka dengan lembut wajah sampai leher Koh Freddy yang bercucuran keringat ini dengan handuk putihnya. Untuk panggilan ‘Sayang’, mulai saat ini memang aku sudah memutuskan untuk tak akan malu-malu lagi mengungkapkan semua perasaanku.
Kemudian aku juga membentangkan kedua tangan Koh Freddy, ku-lap juga keringatnya dengan penuh kelembutan. Ketika kuangkat kepala, kulihat Koh Freddy menatapku seperti yang terpana dengan perlakuanku saat ini kepadanya yang begitu perhatian. “Apa Koko ga salah denger gitu, barusan? kamu manggil Koko ‘Sayang’?”, tanyanya dengan wajah yang seolah tak percaya.
“Emang ga boleeh?”, balasku sambil mengerlingkan mata, manja.
“Emang kamu beneran sayang Koko?”, ucap Koh Freddy balik bertanya.
“Lebih dari sayang kali, Koh….”, jawabku sambil menatapnya penuh gairah.
Entah spontan atau Koh Freddy juga sudah sama-sama sudah sangat bernafsu, dia langsung memelukku, namun aku lepaskan pelukan itu karena kaos olahraga yang dipakainya basah.
“Basah Koh…. Koko bawa baju ganti?”, tanyaku sambil memegang baju yang melekat di tubuhnya yang basah oleh keringat. Koh Freddy menggelengkan kepala tanda ia tak membawa baju cadangan.
“Ih…. Joroook, jadi ga akan diganti?!”, lanjutku, perhatianku kini sudah seperti seorang istri kepada suami.
“Ga apa-apa lah…. bentar lagi juga kering, lagian kan ntar abis nganterin kamu ke Mall langsung pulang…”, jawab Koh Freddy cuek dengan gestur mengecek aroma badannya, sepertinya untuk memastikan apakah dia bau atau tidak.
“Koko bau ya, Lid?”, tanya Koh Freddy senyum namun tampak tak percaya diri.
Aku melihat ke sekeliling, tak kulihat satupun orang yang berada disana. Akupun langsung menempelkan wajahku ke arah badan Koh Freddy untuk memeriksa apakah bau atau tidak. Koh Freddy sedikit terperanjat dan menggeser duduknya karena merasa tak percaya diri.
Tapi aku justru menggeser posisi dudukku mendekati Koh Freddy, bahkan kini lebih dekat dari sebelumnya. Kembali kutempelkan wajahku ke badannya untuk menghirup aroma tubuhnya. Gairahku memuncak kembali setelah menghirup-hirup aroma peluh Koh Freddy, memang sedikit ada aroma tak sedap tapi tertutupi oleh harumnya parfum Koh Freddy.
Aku mengambil handuk putih kembali lalu kusibak baju Koh Freddy sampai sebatas dada, ku lap seluruh badannya termasuk punggungnya. Ketika kaosnya tersibak, tampak dada yang bidang, juga perut six pack dari Koh Freddy…. rasanya membuatku ingin memeluknya.
Setelah ku-lap keringat itu sampai lumayan kering, kali ini kudekatkan lagi wajahku ke tubuhnya yang kini tanpa kain penutup karena kaosnya masih kutahan di sekitar lehernya. Bahkan aku menempelkan hidungku juga setengah bibirku ke kulitnya.
“Emang ga bau, Sayang?’, tanya Koh Freddy masih tak percaya diri. Aku menggelengkan kepala tanpa suara. Saat itu juga aku mendengar detak jantung Koh Freddy terasa berdetak kencang di dadanya yang bidang ini.
Kusibak sedikit lagi kaosnya ke atas, kini kubenamkan kepalaku ke area di sekitar ketiak kanannya. Masih ada keringat disana karena memang bagian ini tadi tak sempat ku-lap. Tapi aku tak peduli, aku hirup dalam-dalam dengan ujung hidung dan bibir yang menempel pada kulitnya, aroma yang sungguh membangkitkan gairah dan nafsu.
Nafsu semakin menggila, kujilati sisa keringat yang ada disana. Memang bukan rasa yang layak di lidah, tapi kini aku semakin bergairah. Aku dengar Koh Freddy mendesah kegelian saat lidahku menjilat-jilat area sekitar ketiaknya.
Tapi akal sehatku kembali muncul, aku langsung menghentikan perbuatanku ini. Kugeser kembali tempat dudukku sedikit menjauhi Koh Freddy. Mukaku merah, antara nafsu dan malu atas apa yang telah kuperbuat.
“Maaf Koh…..”, ucapku dengan wajah merunduk.
“Ga apa-apa, Sayang…. ga perlu minta ma’af”, jawab Koh Freddy sambil tangannya membelai rambutku.
“Aku seperti….. perempuan murahan ya, Koh? …… ma’afin aku Koh”, kataku pelan dan merasa sangat menyesal sekaligus khawatir kalau kekasihku ini berubah penilaiannya kepadaku.
Koh Freddy bangkit dari kursinya lalu memelukku sambil berdiri. “Ga pernah terlintas sedikitpun di pikiran Koko nganggap kamu seperti itu….”, jawab Koh Freddy menenangkanku.
BERSAMBUNG
