𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐓𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐏𝐀𝐑𝐓 𝟏𝟗 [𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐈𝐍𝐈 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐈𝐌𝐀𝐔 (𝐃)]

 


HMMM… MASIH JUGA POV LIDYA
Setelah meninggalkan area Squash, Koh Freddy mengajakku untuk makan terlebih dahulu di Resto yang masih di area gedung itu, setelah tahu aku belum sarapan dari tadi pagi. Sambil berjalan aku sempat menanyakan kenapa tempat ini sepi. Koh Freddy bilang kalau ia sengaja menyuruh menutup dulu tempat ini sampai jam 2…… dia bilang lagi ga mau ketemu banyak orang. Bisa gini ya orang kaya?

Waktu itu baru pukul 11.28, masih ada waktu 1 jam sebelum aku bertemu Vina di Mall sesuai janji. Sebenarnya janji awalnya sih jam 12, tapi aku sempat mengatakan takut telat jadi sekitar jam 12 atau jam 1’an saja, dan Vina menyetujuinya. Sementara Koh Freddy akan berangkat ke Singapore pukul 3 sore, tapi ia harus mandi dan menyiapkan keperluan trip-nya terlebih dahulu di rumahnya, sehingga Koh Freddy pun masih memiliki waktu yang kurang lebih sama sepertiku.

Begitu masuk ruangan Resto, ada empat orang karyawan yang sedang duduk-duduk santai lalu segera bangkit ketika Boss-nya tanpa mereka duga masuk ke Resto ini.

Dua orang karyawan dengan setengah berlari langsung masuk ke sebuah ruangan yang mungkin dapur atau entah lah, sementara dua orang lagi sedikit membungkukkan badan sambil mengucapkan selamat siang. Salah satu dari pelayan kemudian mengikuti langkah kami sambil membawa buku daftar menu.

Bentuk Resto ini seperti huruf L, Koh Freddy memilih meja di ujung ruangan setelah membelok. Aku dan Koh Freddy duduk berdampingan di sofa yang sangat empuk dan cukup lebar kira-kira berukuran 2 meter. Dengan bentuk ruangan seperti ini, maka di posisi meja kami tidak akan ada siapapun lagi jika karyawan kembali bekerja ke posisi semula, karena ujung ruangan disana dari meja kami duduk, kalau berbelok ke kanan adalah tempat resepsionis tempat karyawan-karyawan tadi berkumpul.

Kami pun memesan makanan dan berbincang ringan sambil menunggu makanan datang. Pembicaraan kami terjeda oleh Koh Freddy yang harus menerima telepon.

Aku pun memperhatikan sekeliling ruangan. Meskipun masih siang, tapi di dalam Resto ini terasa hangat karena pencahayaan ruanganya sedikit redup dan didesain sedemikian rupa sehingga terkesan romantis dan artistik. Begitupun desain lainnya seperti furniture yang bergaya elegan minimalis, menciptakan kesan mewah meskipun Resto ini sebenarnya tak terlalu besar.

Dari tempatku duduk, jika kutengok ke arah kanan, disana ada dua buah toilet, sedangkan masih di sisi kanan… tepat lurus 90 derajat dari meja kami adalah bilik cuci tangan yang tersekat oleh kayu-kayu yang bercelah dan dipasang secara vertikal. Di belakang tempat aku duduk, tembok ujung dari Resto ini. Sementara di satu dindingnya yang panjang di sisi kiri menggunakan kaca dengan view ke arah taman yang tadi kami sempat berfoto disana. Sepertinya kaca yang gelap ini one way, kami yang di dalam bisa jelas melihat ke arah taman, tetapi yang berada di taman tak bisa melihat ke dalam ruangan Resto.

Setelah makanan datang yang disajikan secara cepat, kami langsung menyantap makanan… dari rasa makanannya, aku yakin chef di Resto ini dipilih dari yang sudah berpengalaman. Rasanya lezat melebihi ekspektasiku, sehingga aku makan dengan lahap dan habis dalam waktu sekejap… atau mungkin juga karena lapar.

Selama makan tidak ada lagi sentuhan fisik kecuali duduk kami yang berdekatan tapi tak pernah bersentuhan. Libidoku pun kini sudah turun, tak ada lagi pikiran yang aneh-aneh di kepalaku.

Kini waktunya pulang, walau waktu sebenarnya masih jam 12 kurang, biarlah aku menunggu di Mall kalau Vina belum datang. Sebelumnya aku terlebih dahulu ke tempat cuci tangan, aku merapikan tatanan rambutku di kaca cermin besar yang terpasang disana. Aku juga mengoleskan lipstik lagi… tipis saja, hanya agar terlihat tetap segar, juga menyemprotkan spray khusus wajah untuk membuat wajahku tetap glowing.

“Uudaaah cantik koq, kesayangan Koko….”, ucap Koh Freddy yang tiba-tiba masuk dan mencuci tangannya tepat di sampingku.

Aku yang merasa kegiatanku mempercantik diri ini diketahui oleh Koh Freddy, langsung memukul lengan atas kekasihku itu saking malu dengan ledekannya.

“Tuh kan masih baasah… padahal tadi beli di toko olahraga ya buat ganti, aku ga kepikiran tadi….”, ucapku ketika baru menyadari baju Koh Freddy ternyata masih basah.

“Ga apa-apa lah, bentar lagi juga pulang..”, ucap Koh Freddy yang sudah mengakhiri cuci tangannya.

“Ih bandel, Kokoh-nya aku…… kan bisa masuk angin, Sayaang”, balasku penuh perhatian dan sedikit manja sambil telapak salah satu tanganku menyelusup ke dalam bajunya, untuk memeriksa apakah kulit didalam kaosnya juga masih basah.

Aku mengusap-usap dadanya yang bidang… bahkan kali ini dengan gerakan usapanku itu, ikut tersentuh juga kedua puting kekasihku ini. Sepertinya gairah di diriku bangkit lagi. Sementara Koh Freddy diam saja sambil menatap diriku erat.

“Tuh kan di dalem jadi lembab… Kokoh buka aja dulu, aku lari bentar ke toko… beli baju buat ganti”, lanjutku.

Koh Freddy langsung membuka bajunya. Kini di hadapanku badan atletis yang masih sedikit menyisakan keringat itu terpampang jelas, di lengan kanannya tampak tattoo bergambar naga. Darahku berdesir kencang, tapi aku alihkan pandanganku dan bermaksud untuk bergegas ke toko olahraga di samping Resto ini. Tapi tangan Koh Freddy segera menggenggam tanganku menahan untuk pergi.

“Dikeringin disini aja dulu..”, ucap Koh Freddy sambil menyimpan bajunya di atas meja, tepat di bawah hand dryer.

Akupun menghampiri Koh Freddy sambil kupegang kedua pipinya, mataku dan matanya saling beradu. Ada hasrat yang bergelora terpancar dari kedua mata ini.

“Bandel banget ya ternyata Sayangnya aku ini…. ga bisa dikasih tau”, ucapku pelan. Rasanya ingin sekali kugigit pipinya karena tak tahan melihat wajahnya yang sangat menggemaskan ini. Sambil terus berpandangan dan mengelus perlahan kedua sisi wajahnya. Tak disadari, wajah kami semakin dekat… hingga mataku terpejam dan…… kurasakan sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Aku balas kecupan itu, bibir luar kami saling menempel, kubiarkan bibir ini bersentuhan.

Hembusan nafas yang hangat seolah bergantian menerpa wajah kami. Saat masih kupejamkan mata, kini kurasakan lidah basah kekasihku masuk menyelusup ke dalam sela-sela bibirku ini. Lidah itu seperti mencari pasangannya di dalam mulutku.

Lidahku akhirnya menyambut lidah kekasihku ini.. hingga lidah kami saling menari-nari disana. Kumiringkan sedikit kepalaku dan kusembunyikan lagi lidahku tapi lidahnya itu terus mengejar seolah rindu lama tak berjumpa. Kuremas-remas bagian kepala Koh Freddy yang rambutnya sedikit basah karena keringat, sementara kedua telapak tangan Koh Freddy memegangi belakang kepalaku dan leherku. Bibir dan lidah kami berpagutan mesra… cukup lama, terkadang diselingi oleh ciuman yang sedikit panas yang membuat kelenjar di dalam mulut kami ini mengeluarkan air liur yang lebih banyak dari biasanya.

Air liur kami pun semakin menghangat, setiap pertemuan lidah yang saling membelit, juga disertai hisapan mengeluarkan suara yang semakin memanaskan gairah seksualku.

Mmmmphh aaupff ccllllkk ssrrrppp auumpph cclllkkk ssrrrpp ssrrruuopp mmmphhh….. aahhhhhh

“Kokoh Sayang…”, ucapku pelan sedikit mendesah, ketika bibir kami sejenak rehat setelah berpagutan.

“Iya Lidya-nya Koko……”, ucap Koh Freddy juga membalas dengan setengah berbisik.

Cccllllllkk uuuumph ssrrrppp ccclllkk auumpph ssrrrpp….. ccllkk ssrrropphh mmmphhh….. mmphhhhh

Bibir kami pun berpagutan lagi seolah tak pernah mau untuk terpisahkan.

Aku mungkin pernah merasakan beratus ciuman dengan suamiku, namun entah mengapa yang kali ini kurasakan hangat dan begitu nikmat…. Inikah yang disebut dengan kenikmatan dari sensasi perselingkuhan?

Karena tubuh Koh Freddy jauh lebih tinggi daripadaku, mungkin ia sedikit pegal jika kepalanya terus merunduk. Akhirnya ia angkat tubuhku ini dengan sebelah tanganya yang kekar berotot itu. Seperti mudah dan ringan saja ia melakukan itu dengan sekali angkatan. Telapak tangannya menopang bokongku dan ia sedikit meremas-remas bokong padatku, sementara tangannya yang satu diletakkan di belakang leherku.

Posisi tubuhku yang terangkat ini menjadi sedikit tak nyaman karena dress sepanjang lututku ini menggangu pergerakan kakiku ketika aku ingin membelitkannya ke tubuh kekasihku yang begitu gagah dan membuatku dilanda gairah.

“Kokoh Sayaaang….. kain dressnya ngehalaangiin”, ucapku merengek manja. Di hadapan kekasih baruku ini aku memang selalu merasa ingin bersikap manja, mungkin karena ia memiliki pembawaan yang sangat dewasa dan seperti yang selalu siap untuk melindungiku.

Koh Freddy meresponnya, kini tangan yang menyentuh leherku itu ia alihkan untuk menyingkap perlahan ujung dress ku sampai ke perut. Gerakan menyibakan dress itu tentu saja membuat telapak tangannya mengusap pahaku hingga ke pinggul. Sentuhan itu membuat tubuhku sedikit bergelinjang merasakan geli akibat usapan itu. Getaran tubuhku ini membuat kepalaku refleks terdongak ke atas, memperlihatkan leher putihku yang jenjang.

Ia lakukan hal yang sama untuk menyibakan kain dress di kaki sebelahku, kali ini yang menopang bokongku berganti tangan menjadi tangan kirinya. Semua itu ia lakukan dengan cukup mudah dan sangat tenang sehingga membuatku merasa sangat nyaman walaupun ia sedang melakukan gerakan. Saat ini vaginaku sepertinya sudah sangat basah sekali.

“Sayang… ini ga akan ada orang yang ngeliat kita?”, aku baru sadar bahwa bilik cuci tangan ini hanya terhalang sekat yang jarang-jarang dan tak ada pintu. Koh Freddy menggelengkan kepalanya, “Ga akan ada yang berani ngedeketin, Sayang”.

Kakiku yang sudah terbebas dari kain dress yang menggangu itu, akhirnya bisa membelit ke tubuh Boss yang sangat aku cintai ini. Tubuhku kini tertopang oleh belitan erat kakiku di tubuhnya, sehingga tangannya yang tadi menopang bokongku kini bisa bebas bergerak mengelus-elus punggungku dan merayap hingga ke leher belakangku.

Kami saling berciuman lebih liar dari sebelumnya. Air liur yang menetes dari sudut bibirku kemudian ia kejar dengan lidahnya, lalu kini lidahnya menjilati bagian bawah telingaku sampai ke leher, sapuan lidahnya itu membuat leherku basah karena liurnya dan juga peluhku mulai menghiasi kulitku yang putih ini akibat permainan lidahnya yang liar.

“Aayaang gelliiiii…. iiiih uuuh sssshhhh gel…. li banget sayaaaang”, ucapku begitu mendapatkan sensasi jilatan lidahnya di leherku. Suaraku masih mendesah pelan, aku masih bisa mengontrol volume suaraku agar tak terdengar karyawan Resto.

Vaginaku yang masih terbalut celana dalam Victoria Secret berbahan sutra tipis ini, kini tepat bersentuhan di bagian tonjolan batang kemaluan Koh Freddy. Tapi lipatan kain tebal penutup resleting dari celana olahraga pendek kekasihku ini lagi-lagi menggangu, sehingga sentuhan vagina dan penisnya menjadi seolah terhalang. Aku harus menekan lebih dalam untuk benar-benar merasakan sentuhan pertemuan vagina dan penis ini. Kutekan-tekan pinggulku dengan kuat, kemudian Koh Freddy juga membantu gerakanku dengan mengembalikan kedua tangannya ke posisi bokongku, ia pun menekan-nekan bokongku ke arah tubuhnya agar dua kelamin kami sentuhannya menjadi terasa.

Meskipun sudah ditekan dengan lebih kuat, tetap saja aku tak bisa menemukan titik yang benar-benar pas karena terhalang lipatan kain tebal penutup reseltingnya itu. Akhirnya menjadi kesal sendiri dan tertawa mengingat usahaku yang masih gagal ini.

“Kenapa ketawa?”, tanya Koh Freddy heran sambil menghentikan gerakannya.

“Belom kerasa aja ih.. kesel!”, jawabku jujur.

“Mau yang kerasa?”, tanya Koh Freddy sambil bersiap membuka celananya. Tapi segera aku tahan tangannya. Jujur aku takut melakukan yang lebih jauh lagi. Memang, apa yang sudah terjadi ini aku sadar telah jauh melampaui batas…. Tapi untuk melakukan ML sampai penetrasi? aku belum siap melakukannya. Bukan ini yang dimau!!! Aku berpikir jika melakukan sampai begitu, aku akan merasa bersalah sekali pada suamiku di rumah.

“Aku belom siap Koh…”, jawabku pelan, aku tak perlu menjelaskan maksud belum siap itu kepadanya, Koh Freddy pasti sudah bisa menebak maksudku itu.

Koh Freddy tersenyum dan mengangguk sepertinya dia mengerti maksud perkataan dan juga perasaanku.

“Koko ga akan pernah maksa sama kamu, apa yang ngebuat kamu ga nyaman, bilang aja ya…. Koko pasti ngejaga nafsu Koko… Koko bakal jagain kamu… Kalo kamu ga mau, ga akan sampe Koko ngelakuinnya…. Tapi kalo kamu tadi bilang belom siap, berarti suatu saat ada siapnya dong ya?”, ujar Koh Freddy sambil tersenyum. Ucapanya itu membuatku tenang. Tapi akhir kalimatnya seolah ia masih menyimpan harap.

Aku menggeleng pelan. Koh Freddy kemudian membelai rambutku, “ya udah ga apa-apa…. Meskipun sampe kapanpun kamu ga akan pernah siap….. Koko bisa ngerti koq dan Koko bakalan tetep sayang sama kamu”, ucap Koh Freddy dengan begitu sabar.

“Ga tau Koh…. udah ah, aku jadi bingung mikirinnya…. Maksudku aku ga tau ke depannya kita kaya gimana”, balasku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Aku rasakan keningku dikecup oleh kekasihku ini, lama sekali.

“Iya… Koko ngerti….. kalo itu belom siap… trus yang udah siap sekarang… apa aja?”, tanya Koh Freddy sepertinya masih penasaran.

“Pokoknya, asal jangan sampe dimasukin…. ke belakang juga ga boleh…. sama badan aku jangan dimerah-merahin”, jawabku mulai kembali merajuk manja, kini aku memberi rules yang tak boleh dilanggarnya.

“Selain dari itu boleh?”, tanya Koh Freddy seperti mendapat kesempatan baru. Aku pun mengangguk sambil menatap lekat matanya dan tersenyum.

Koh Freddy langsung melangkahkan kakinya, lalu melepaskan perlahan tubuhku dari gendongannya, kini aku didudukan pada salah satu space yang ada di meja washtafel. Meja marmer ini cukup panjang, diantara satu bak cuci ke bak cuci yang lain memang ada space yang cukup luas, sepertinya diperuntukan untuk menaruh barang bawaan, disitulah aku duduk sekarang. Aku tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Koh Freddy terhadapku.

Ternyata ia menyibakan sedikit pahaku, lalu menundukan badannya sambil mengarahkan wajahnya tepat ke arah selangkanganku. Mataku terpejam, jika benar ini terjadi…. ini adalah pengalaman pertamaku merasakan jilatan di vaginaku.

Tapi kepalanya justru sedikit naik sehingga mulutnya tepat di ujung tepian atas celana dalamku yang berwarna putih berbahan tipis menerawang…. Seharusnya bulu-bulu halus di sekitar vaginaku bisa terlihat samar, namun karena terlalu basahnya celana dalamku ini… sepertinya membuat pemandangan indah di hadapan mata kekasihku itu menjadi semakin kabur. Tangan Koh Freddy yang satu mengarah ke belakang, memegang ujung celana dalam di bagian belakang tubuku.

Ia benamkan lembut kepalanya dan menggigit ujung celana dalamku yang kemudian diturunkan perlahan menggunakan gigitannya. Mulutnya yang sedang menggigit itu kini tepat di depan vaginaku, bibir atasnya tentu saja menyentuh vagina bagian bawahku, sementara hidungnya tepat menyentuh bagian sekitar klitorisku. Cukup lama dia disitu dan lelaki yang sudah benar-benar kucintai ini kemudian menggerak-gerakan pelan kepalanya ke kanan dan ke kiri, hal itu membuat aku bergelinjang.

"uuughh... sayaaang... na…kal baangeeet kesayangann…. aakuuu ahhhhh", ucapku mengerang, kakiku sedikit mengejang menahan kenikmatan ini, sementara tanganku terus membelai-belai bagian belakang kepalanya dengan penuh kasih sayang yang telah bercampur nafsu.

Lalu ia turunkan bagian belakang celana dalam yang terhalang oleh bongkahan bokongku, kunaikan pinggulku agar lebih mudah meloloskan celana dalamku ini. Setelah itu turunlah celana dalamku sampai ke paha, dari paha ia mulai menggunakan kedua tangannya untuk benar-benar melepas celana dalamku itu. Sementara kepalanya tetap ia benamkan di vaginaku, kali ini kepalanya itu tanpa gerakan apapun, hanya hembusan nafasnya begitu terasa di vaginaku membuat mulutku menganga dengan kedua mataku yang terbuka dan terpejam menahan perasaan yang sepertinya baru kali ini aku rasakan.

“uuuufffff….. Kooh…. ge..liii….. Koooh… gelliiii.. naffaaas Kokooh”, suara desahanku kali ini sedikit agak keras. Aku langsung menutup mulutku dengan telapak tanganku agar tak mengeluarkan suara lagi.

Wajah Koh Freddy terangkat melihat ke arahku yang sedang menutup mulutku.

“Kenapa Sayang?.... koq ditutupin mulutnya? Padahal Koko pengen denger desahannya…”, ucap Koh Freddy, lalu tangannya menarik telapak tangan yang sedang menutup mulutku ini.

“Ih Kokoo… ntar kedengeran!!!”, ucapku kesal sambil melotot karena kekasihku ini tak peka pada keadaan sekitar.

“Bentar ya Sayang, jangan kemana-mana”, balas Koh Freddy sambil membalikan badan lalu melangkah ke luar ruangan. Tapi segera aku panggil lagi.

“e…eh Sayang….. mau kemana?”, tanyaku bingung.

“Mau suruh mereka keluar dulu….”, jawab Koh Freddy cuek.

“Kokoo!!! Dipake dulu ih bajunya..”, ucapku sambil geleng-geleng melihat kelakuan kekasihku ini.

Diapun kembali lagi mengambil bajunya yang tergeletak di sebelahku, “bawel ih pacarnya Koko..”, sambil mengecup bibirku, lalu ia mengenakan kaosnya.

“ih tunggu duulu… jangan dulu pergi! Kunciin juga pintunya kalo bisa…”, ucapku lagi, agar aku merasa lebih tenang. Aku tak sadar kalau lelaki di depanku yang kuperintah itu adalah Boss besar di tempat kerjaku.

“Iya sayaaang”, jawab Koh Freddy dengan sabar sambil kembali mengecup-ngecup bibirku.

Mmmhh mmmuah mmmuah

“Ih katanya mau keluar…. malah sun sun aku….. sama matiin CCTV nya ya Sayang”, aku memerintahkannya lagi.

Koh Freddy mendongakkan kepalanya ke atas, memeriksa setiap inchi di ruangan ini. “disini ga ada lah….. “, jawab Koh Freddy dengan matanya yang masih melihat ke sekeliling ruangan.

“iiiih…..itu yang diluar maksudnya….”, kataku lagi sambil menunjuk ke arah ruangan makan di luar.

“ga akan ketangkep ke ruangan ini, Sayaaang”, jawab Koh Freddy yang mulai kesal dengan kecerewatanku.

“Iya siapa tau kita lanjutinnya di luar…”, jawabku sambil memeletkan lidah.

“Siap Boss!”, jawab Koh Freddy langsung segera berlari keluar, seolah mendapatkan ide baru tentang permainan liar kami selanjutnya.

Tak lama kemudian kudengar suara Koh Freddy sedang berbicara pada karyawannya, kemudian kudengar suara pintu tertutup dan suara ‘ceklek ceklek’ seperti bunyi mengunci pintu. Namun kutunggu sekitar 3 menit setelah bunyi pintu terkunci, Koh Freddy belum juga kembali, kuyakin dia sedang mematikan CCTV dari ruangan kontrol. Sementara aku masih terduduk di atas meja marmer membayangkan yang tadi terjadi, sungguh nikmat… padahal itu baru permulaan.

Kudengar suara langkah kaki mendekat, dan kulihat Koh Freddy masuk lagi ke ruangan ini dengan keadaan sudah telanjang bulat!

“Iiiih Sayaaang…. aneh ih, koq dibukanya diluar sih?!?!”, tanyaku setengah teriak saat melihat kekasihku yang sudah bugil. Koh Freddy tak menjawab hanya tersenyum sambil mendekatiku.

Yang aku lebih kaget lagi yaitu ketika kulihat ‘milik’ kekasihku yang menggantung bebas… hmmmm sedikit diluar dugaanku, ternyata putihnya seputih kulit Koh Freddy dan lebih besar dari yang kuduga. Lebih panjang dari milik suamiku. Yang membuatku terbelalak lagi adalah diameternya yang gemuk dan bentuknya yang masih berkulup…. Yang seperti ini baru kulihat seumur hidupku…

“Koq ngeliatin sih?... iya.. iya ntar kalo nikah sama kamu, disunat deh hehehe”, ujar Koh Freddy seperti yang tak percaya diri dengan miliknya yang tak bersunat.

“iih nikah….. kejauhan mikirnya ah, Sayang”, jawabku yang gemas melihat ekspresi orang yang kucintai ini. Koh Freddy yang terlihat kesehariannya tegas, percaya diri, judes, cool dan sedikit angkuh, kini tampak ceria di hadapanku.

Koh Freddy berdiri di depanku yang masih duduk di atas meja marmer, kedua tangannya merangkul pinggangku, sementara kedua tanganku dirangkulkan di lehernya. Kamipun saling berbicara pelan dan mesra dengan wajah yang saling berhadapan, dalam jarak yang cukup dekat

“Ternyata kesayangan aku nakal yah….. jadi gemes.. pengen…… gigit”, ucapku sudah kembali terbakar gairah.

“kalo Sayang gigit… ntar Koko bales loh”, jawab kekasihku dengan suara sama pelannya, suara nafasnya terdengar menderu. Matanya kini melihat ke arah payudaraku yang memang masih terhalang oleh dress dan bra.

Kulepaskan pelukannya, dan mendorong pelan tubuh Koh Freddy. Tanpa dipinta, aku mengangkat dressku.. membukanya melalui kepala. Namun ketika dress sudah sampai kepala, tangan koh Freddy menahan tanganku… aku tak bisa melihat apapun karena mataku tertutup oleh kain dress.

Kurasakan jilatan lidah Koh Freddy liar menyapu leher, pundak, dan juga ketiakku yang memang dalam posisi terangkat karena sedang menarik dress.

Slrrrpp mmmhh sllrrrp srrrpppp mmmmuahh sllllrrrppp

“aaaah…. pffffeeeuufffff….. Kooh…. aku ga bi…ssaaa..naafas Koooh… gelliiii… aaaaah”, aku menjerit keras menahan geli, namun sepertinya tak terlalu keras terdengar, karena mulutku juga terbungkam oleh kain dress.

Slrrrpp mmmhh sllrrrp srrrpppp mmmmh

Koh Freddy sepertinya masih liar mengecup dan menjilati setiap inchi tubuhku, kanan dan kiri, tangannya yang menahan tanganku akhirnya terlepas saat kini ia dengan cepat membuka pengait bra ku. Kini kami sudah sama-sama telanjang… dan gairah makin menerjang.

Dress ku akhirnya terbuka lepas, saat telah terbuka itu kini aku lihat kepala koh Freddy sudah menjilati payudaraku, bergantian kanan dan kiri, lidahnya menari-nari di puting merah mudaku yang sudah sangat mencuat dan mengeras.

“ahhhhh Koooh.. aaaaahhhh pfffff… aaaaaah mmmhhhhhh... udaaaah.. geliiiiiii…. gak kuaat! Uuff... ahhhh...”, aku berteriak dengan keras, kini aku bebas mengekspresikan kenikmatan yang kurasakan, aku tak sanggup menerima sapuan lidahnya yang begitu liar di puting kananku, sementara dua jari di tangan yang satunya memutar-mutar puting kiriku.

Setelah itu Koh Freddy menghentikan jilatannya dan menghisap dalam-dalam payudaraku lalu menghisap-hisap kecil dengan ujung mulutnya, sementara lidahnya kali ini hanya sesekali disapukan ke putingku. Aku menggelinjang berkali-kali menerima permainan mulut dan lidah selingkuhanku ini. Aku mengatur nafas, kubelai-belai rambut Koh Freddy yang tak juga berhenti bermain-main dengan payudaraku.

“ooouuufggg Kokkooooo Sayaaaang, suka mimi yyaaaah Saaaayang… terussssh mimi-in nya Kooooh….kalloo Koko suuka.”, kataku dengan nada suara yang rendah dan nafas tersengal. Aku pindahkan kepala kekasihku ini agar ia melakukan hal serupa pada payudaraku yang satunya lagi. Aku terus membelainya dengan penuh kasih sayang, dengan tatapan mataku yang mulai meredup… ku tatap terus wajah tampannya yang terbenam dalam payudaraku yang kenyal ini dengan penuh nafsu.

Setelah berlangsung beberapa lama, secara tiba-tiba kepala Koh Freddy terangkat dan cepat memburu mulutku. Kali ini kekasihku melakukan ciumannya dengan sangat ganas, sepertinya dia sudah sangat-sangat terbakar gairahnya

Errrghmm mmmmphh cccllllkkkk aaupff cccllllk…. ssrrrppp auumpph ssrrrpp ssrrruuopp cccclllkk mmmphhh….. aahhhhhh

Air liur kami bertetesan sampai ke luar mulut kami yang terus berpagutan secara liar. Koh Freddy kini menjilat-jilatii seluruh wajahku, termasuk area belakang telingaku… tak ada satupun kulit di wajahku yang terlewat oleh sapuan lidahnya dengan gerakan kepalanya yang seperti mengangguk-angguk.

Sementara lidahku pun yang penuh liur kini menjulur sedang menunggu giliran untuk menjilati wajah tampan kekasihku ini. Jika tak kuhentikan, pasti kekasihku ini terus tak akan memberikanku kesempatan, maka aku pun segera membalasnya tanpa menunggunya selesai, jilatanku kini menyapu wajahnya seakan tak mau kalah. Kini kami terlihat seperti berlomba dalam membasahi wajah pasangannya.

Aku pun berhenti di salah satu pipinya, kuciam, kuhisap, dan kumainkan lidahku disana sebelum kugigit dengan keras saking gemasnya. Kekasihku mengaduh, lalu kujilati bekas gigitanku yang meninggalkan jejak di pipinya itu sambil tertawa.

“Kokoh nakal banget sih hari inii… jadi kugigit!”, ucapku manja dengan nafas tak teratur saat menghentikan sejenak permainan liar kami.

“Abis pacarnya Koko cantik banget…. Ga bosen-bosen Koko ciumin.. pengen terus jilatin…”, ucap kekasihku dengan sorot mata yang redup namun penuh gairah, baru pertama aku lihat tatapan Koh Freddy yang seperti ini.

Kini sapuan lidah Koh Freddy turun lurus dari wajah, ke leher, dada, payudara, perut, pusar, sampai tiba ke vaginaku… aku buka kakiku lebar-lebar agar kepala kekasihku ini bebas bermain-main disana. Ketika kepalanya ada di depan vaginaku, kedua tangannya meremas payudaraku.

Dia menyapukan lidahnya perlahan dari bawah ke atas mengikuti garis belahan vaginaku hingga tiba di area klitoris ia menghisap, mengulum dan menjilat-jilatinya berulang kali, lalu ia kembali lagi ke bawah dan begitu terus ia mengulanginya beberapa kali dengan gerakan yang sama, aku mendesah-desah tak karuan menikmati kegelian bercampur nikmat yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Apalagi saat lidah Koh Freddy kini bergerak ke kanan dan kiri dengan sangat cepat menyentuh kedua sisi dinding vaginaku.

"uuughh... Sayaaang... ge…liii… enn..naak baangeeet KOKOOOOH…. aakuuu ahhhhh…… Ter….russss uuuufffff….. Kooh…. E..NAAAAK….. Koooh… gelliiii”, volume suaraku sudah tak terkontrol…. dan aku sudah tak peduli.

Kini kutekan kepalanya kuat-kuat agar makin terbenam di vaginaku. Entahlah, mungkin kini dia sulit bernafas akibat tekanan tanganku ini, tapi sepertinya dia menyukainya. Kepalanya masih bergerak seolah meronta dari kuatnya tekanan tanganku. Hembusan nafas, bibir dan lidahnya masih bermain-main disana.

"pfffhfhfffh…. aaaaah... Kokoh suka ini?? ….. te…ruus… jilatiiin yang ee..nak Sayaang…. ituu punya nya Kokoooh…. cummaaa buaaat Kokoh aakuuu ahhhhh…… iyaaaa….aaha sshhh….. Kooh…. Kookoooh suka ng…nggaaaa???....OOOOOHHHH”, eranganku yang diakhiri dengan suara seperti lolongan.

Koh Freddy bangkit, kepalanya melepaskan diri dari cengkraman eratku, dan menciumi lagi bibirku, kemudian berkata "suka.. suka banget Sayang… Koko.. suka banget, itu punya Koko kan?”, ucapnya dengan nafas terpatah-patah sambil melirik ke arah vaginaku. Aku mengangguk senang, bahagia melihat kekasihku merasa bahagia.

“iyaa.. Sayang….. semuanya… semuanya buat Koko kesayangan aku…”, jawabku yang sudah memberikan seluruh jiwa dan seluruh ragaku kepada kekasihku ini.

Kini jari tangannya bermain-main di vaginaku, permainan jarinya jauh lebih enak dari permainan jariku sendiri saat bermasturbasi. Kini kurasakan satu jari Koh Freddy yang jauh lebih besar dari jari tanganku itu mulai masuk menyelusup kedalam vaginaku, dan aku sempat tersentak. Koh Freddy menghentikan dan mencabut jarinya itu.

“ma’af Sayang…. jari ga boleh masuk juga ya?”, tanya Koh Freddy, ada nada cemas dan tampak takut apa yang dilakukannya barusan itu salah.

Aku menarik kepalanya dan kubisikan di telinganya, “ga apa-apa Sayang….. masukin aja….. enakin aku Koh…”.

Setelah mendengar persetujuanku, dia kembali memagut bibirku dan memainkan jarinya kembali. Setelah beberapa lama dia lepaskan pagutannya dan gerakan keluar masuk jarinya semakin cepat, matanya menatap wajahku dari jarak dekat. Ekspresi wajahku sudah tak menentu, aku sudah tak peduli lagi jika mungkin aku tak terlihat cantik di hadapannya… aku sudah tak bisa mengontrol ekspresiku lagi….

“Koooooh! Aaahhh ahhhh ahhhhhh... peelaan aaahh…. Ugghhh uff..ceeepeeetin Saaayaaang... uff.. aaaahhh.. peelaan Kokoh aaakuuu... ga tauuu ahhhh. cepeeet …. Aaaaahhhhhh ceeepeeetiin akuu...... maauuu... aahhh”, racauku saat aliran darah seakan mengalir deras dan seluruhnya mengumpul di satu titik, yaitu vaginaku…. aku hampir mencapai klimaks.

Koh Freddy mencabut jarinya dengan segera kemudian dua jarinya kini tepat berada di klitorisku, dengan kedua jarinya itu dia menekan sedikit kuat sambil memutarnya dengan sangat cepat, sedang satu tangannya yang memeluk tubuhku meremas dan memilin puting payudaraku sama cepatnya dengan gerakan jarinya di klitorisku.

"aku keeluaaaar Koooh... ooohhh...... sedii….kittt laaagiii Sayaaang.... uuooooghh.... KOKOOOOOH SAAYAAAAAAANG.... oooohhh... uuuoogghhh... upppffhmmm... KOOOHHHHH.... ini KOOOH SAAAAMPEEEE........ OOOHHHHHHHHHH…..OOOOOHH… AAAAAAAAHHHHH.......", jeritku sangat keras sambil kuangkat pinggulku.

Aku menatap hampir tak percaya dengan apa yang terjadi… saat kulihat dari vaginaku menyembur cairan dengan begitu derasnya, aku lihat beberapa kali semburan melesat dan meluncur hingga jauh. Squirt!!!

Mataku sayu, mulutku terbuka terengah, kucoba menarik nafas lebih dalam. Sesekali vaginaku masih berkedut yang membuat pinggul ini terangkat otomatis. Aku benar-benar tak berdaya. Lalu aku sandarkan belakang kepalaku ke lengan kekar kekasihku. Ekspresi wajah kekasihku tampak tenang saat menatapku, senyuman tersungging di bibirnya… sepertinya dia sangat sayaaaaaaang banget kepadaku.

Kulihat kekasihku ini menganggukan kepalanya pelan kepadaku, mungkin ini gestur untuk bertanya….. Apakah yang terjadi barusan membuatku enak dan nyaman? Apakah aku puas?

“Sayang-nya aku…. Makasih… yaah… barusan… enak… eenaaaak baangeet…..”, ucapku pelan, berterima kasih untuk yang tadi ia lakukan untukku. Kekasihku ini hanya tersenyum dan mengecup lembut keningku.

“aku…. baru ngerasain yang kaya barusan….. aku ga pernah………….……”, lanjutku lagi, masih dengan nafas tersengal maksud menceritakan tentang squirt yang pertama kalinya aku rasakan seumur hidupku.

“bohong banget”, jawab Koh Freddy memotong ucapanku sambil tertawa dan mencubit hidungku.

“Ih beneran Ayaaaang… sumpaaaah!!”, balasku manja. Kali ini nafasku sudah mulai teratur. Apa yang kuucapkan jujur tadi untuk mengisyaratkan bahwa Koh Freddy adalah satu-satunya lelaki di dunia ini yang bisa memuaskan aku seperti itu.

“Pulang yuk…. ntar kita telat..”, ucap Koh Freddy mengajakku untuk bersiap pulang,

“masih leeemes Kokooooo… bentar lagi iiiihh….. lagian jarak dari sini ke Mall trus ke rumah Koko deket kaaaan?”, rengekku semakin manja seperti anak kecil. Aku menolak ajakannya untuk pulang sekarang. Koh Freddy mengangguk dan tersenyum, telapak tangannya menyeka keringat yang mungkin telah bercampur dengan air liurnya di dahiku.

“lagian kasian punya Sayang aku….. belom dimainin….. hihihi”, lanjutku sambil kulirik batang kemaluannya yang sudah tak lagi berdiri. Kupegang penisnya itu dengan ragu, khawatir Koh Freddy menolak karena harus buru-buru pulang.

Koh Freddy tersenyum lebar, aku pun merasa lega. Sepertinya nafsu kekasihku ini kembali bangkit ketika kurasakan penisnya perlahan membesar lagi di tanganku. Aku memberinya sentuhan kecil….. hasratku pun sama…. muncul lagi.

“di dalem yuk…. kasian Pacarnya Koko dingin… duduk terus di meja ini”, ucap Koh Freddy sambil mengecup lagi keningku.

“geendoong tapinya”, kataku manja, kulepaskan genggaman di penisnya itu untuk sementara. Kubentangkan kedua tanganku, gestur meminta kekasihku untuk mengangkat tubuhku. Koh Freddy lalu membopongku masuk ke ruangan makan.​

BERSAMBUNG ...


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com