Sinar matahari sore menyusup melalui celah tirai ruang kerja. Debu-debu kecil menari di bawah cahaya keemasan yang jatuh di lantai kayu. Irwan memutar kursinya menghadap jendela, menatap hampa ke halaman belakang.
Dia meneguk sisa kopi dingin dari cangkir yang sudah dia pegang entah berapa lama. Pahit. Seperti kenyataan yang harus dia telan.
Sudah hampir dua jam berlalu sejak Maya naik ke lantai atas. Irwan bahkan tidak tahu apa yang sedang dilakukan istrinya—tidur? Menangis? Atau mungkin... memikirkan Pak Karyo?
"Sial," gerutunya pelan, melempar pulpen ke meja hingga menggelinding jatuh ke lantai. Dia tidak repot-repot memungutnya.
Matanya kembali tertuju ke halaman belakang, di mana Pak Karyo sedang mencuci mobil. Kemeja tipisnya basah, menempel di tubuh atletisnya yang tidak sesuai dengan usianya. Tangan kekarnya bergerak efisien, menggosok permukaan mobil dengan gerakan memutar. Tetes-tetes air dan busa meluncur di kulitnya yang gelap.
Irwan menelan ludah. Pria sederhana dengan pendidikan minim itu justru memiliki apa yang tidak bisa dia berikan—kesuburan. Benih kuat yang berpotensi menghasilkan bayi yang selama ini diimpikan Maya.
Tangannya bergerak mengusap wajahnya yang lelah. Matanya terpejam, mencoba menenangkan napasnya yang terasa berat.
"Aku gagal," bisiknya pada diri sendiri.
Ponselnya bergetar di meja, menampilkan nama "Mama" di layar. Irwan menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.
"Halo, Ma."
"Irwan! Kamu lupa ya hari ini?" suara ibunya terdengar sedikit kesal.
Irwan mengernyitkan dahi. "Lupa apa?"
"Arisan keluarga besok minggu di rumah Om Hadi! Mama udah ingetin kamu dari minggu lalu. Kamu sama Maya jadi dateng, kan?"
Irwan memejamkan mata. Benar, arisan keluarga bulanan. Acara yang selalu dia hindari belakangan ini karena tidak tahan dengan tatapan kasihan dan pertanyaan menyakitkan dari keluarga besar.
"Iya, Ma. Insya Allah kita dateng," jawabnya tanpa keyakinan.
"Jangan cuma iya-iya doang. Nanti tante-tante kamu nanya lagi. Tahun lalu waktu nikahan sepupu kamu, Maya udah janji tahun ini udah gendong bayi."
Irwan menggertakkan giginya. Vena di pelipisnya berdenyut. "Iya, Ma. Kita usahain."
"Usahain gimana? Kalian udah nikah enam tahun! Sepupu-sepupu kamu yang nikah belakangan aja udah pada punya anak dua. Kamu nggak malu?"
Betapa inginnya Irwan berteriak: "Ma, aku nggak bisa! Benihku lemah! Jumlahnya sedikit! Motilitasnya buruk!"
Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kegagalannya sebagai laki-laki, bahkan pada ibunya sendiri.
"Sabar ya, Ma," jawabnya dengan suara yang diusahakan tenang. "Kita masih... proses."
Proses.
Satu kata sederhana yang kini terasa seperti pisau berkarat mengiris hatinya. Baru semalam "proses" berubah makna selamanya. Dulu, "proses" adalah kata penuh harapan—dia dan Maya berpelukan di bawah selimut, berbagi kehangatan, berharap pada keajaiban genetika. Dulu, "proses" berarti mereka berdua.
Sekarang?
Sekarang "proses" berarti Maya baru saja menghabiskan malam di hotel dengan Pak Karyo dan kembali dengan tanda-tanda kemerahan di lehernya. Dan besok malam, "proses" akan berlanjut di rumah mereka sendiri. Di bawah atap yang sama. "Proses" berarti dia harus mengizinkan tangan kasar pria lain menjelajahi setiap inci tubuh istrinya. "Proses" berarti Maya akan mendesah dan mengerang untuk pertama kalinya di rumah mereka—bukan karena sentuhannya—tapi karena pembantu mereka.
Irwan merasakan mual di perutnya. Pahit. Kepalanya berdenyut membayangkan "proses" yang akan terjadi besok malam di kamar tamu. Dia, suaminya, akan bersembunyi di ruang kerja seperti pengecut sementara Maya—istrinya, cintanya—akan terbaring di bawah Pak Karyo.
"Proses" kini terasa seperti penghinaan yang harus dia telan bulat-bulat setiap kali mengucapkannya.
"Proses terus dari tahun ke tahun. Memangnya bikin anak itu bikin skripsi?" Ibunya mendecak. "Maya mana? Mama mau ngomong sama dia."
"Maya lagi istirahat," jawab Irwan cepat. Dia tidak yakin apa yang sebenarnya Maya lakukan di atas, tapi dia tidak ingin ibunya bicara dengan Maya sekarang.
"Ya sudah. Pokoknya nanti kalian dateng ya. Om Hadi udah siap-siap mau nanyain juga katanya. Mama malu kalau ditanya terus. Masa anak satu-satunya nggak bisa kasih cucu?"
"Iya, Ma. Udah dulu ya, ada kerjaan," Irwan memotong, tidak sanggup melanjutkan percakapan ini.
Setelah menutup telepon, Irwan menjatuhkan kepalanya ke meja. Dadanya sesak. Perutnya mual.
Di luar, Pak Karyo kini berdiri tegak, meregangkan otot punggungnya yang kokoh. Tangannya yang kasar mengusap keringat di dahi, kemudian kembali bekerja dengan tekun.
Irwan mengalihkan pandangan, tidak sanggup melihat pria yang dalam waktu dekat akan menyentuh istrinya lagi. Bayangan tentang apa yang terjadi di hotel semalam membuat kepalanya berdenyut nyeri.
Kenapa Maya baru pulang sore tadi? Kenapa dia menyuruh Irwan pulang duluan? Apa yang mereka lakukan semalaman?
Irwan memejamkan mata, tapi justru itu membuatnya melihat gambaran yang semakin jelas—Maya merintih di bawah Pak Karyo. Tubuhnya menggeliat penuh kenikmatan. Rambutnya berantakan di bantal. Matanya terpejam. Bibirnya terbuka, mengeluarkan desahan yang tidak pernah Irwan dengar sebelumnya.
"Cukup!" Irwan bangkit mendadak, menendang kursinya hingga menabrak dinding.
Dia berjalan mondar-mandir, menjambak rambutnya sendiri, mencoba mengusir bayangan-bayangan itu. Namun semakin dia melawan, semakin jelas visualisasi yang muncul—tangan kasar Pak Karyo mencengkeram pinggul Maya dari belakang. Suara tamparan kulit bertemu kulit. Maya yang memohon lebih keras, lebih cepat, lebih dalam.
"STOP!" Irwan berteriak pada dirinya sendiri, memukul dinding hingga buku-buku jarinya terasa sakit.
Napasnya terengah-engah. Wajahnya merah padam. Emosi yang campur aduk—marah, cemburu, malu, dan anehnya... sedikit rasa penasaran yang tidak ingin dia akui—mengaduk-aduk perutnya.
Matanya tertuju pada foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding. Maya terlihat begitu cantik dalam gaun putihnya, tersenyum bahagia ke arah kamera. Jemari Irwan menyentuh wajah Maya di foto itu dengan lembut, seolah takut menyakitinya.
"Maafin aku, Yang," bisiknya pada foto itu.
Pikirannya melayang ke hari pertama mereka bertemu, di acara seminar kampus enam tahun lalu. Bukan sekadar kenangan samar, tapi ingatan yang begitu nyata hingga dia bisa mencium parfum Maya dan mendengar suaranya.
"Para peserta seminar dipersilakan menuju ruang networking untuk sesi diskusi informal."
Irwan merapikan dasi dan dokumen presentasinya. Sebagai pembicara termuda di seminar itu, dia ingin memastikan penampilan dan materinya sempurna. Tapi sejak tadi, perhatiannya terus teralihkan pada seorang wanita di barisan depan.
Wanita itu berbeda. Di antara semua peserta yang tampak bosan atau sibuk dengan ponsel, dia mencatat setiap detail dengan serius. Blazer navy-nya rapi. Rambutnya diikat ke belakang dalam sanggul kecil yang profesional. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya yang mancung.
"Presentasi yang menarik, Pak Irwan," seorang profesor senior menepuk bahunya.
"Terima kasih, Pak," Irwan tersenyum, tapi matanya masih mencari sosok wanita itu.
Di ruang networking, Irwan akhirnya melihatnya lagi. Dia berdiri di dekat meja minuman, membaca ulang catatannya sambil sesekali menyesap jus jeruk. Sendirian.
Irwan mengambil segelas kopi dan berjalan mendekat. Keberaniannya mendadak hilang saat wanita itu mengangkat wajah dan mata mereka bertemu. Mata yang tajam, cerdas, dan entah bagaimana... menantang.
"Permisi," Irwan berdeham. "Saya Irwan Pramudya, pembicara—"
"Saya tahu," wanita itu memotong, tersenyum kecil. "Maya Adisti. Program Magister Manajemen."
"Maya." Irwan mengulang namanya, menyukai bagaimana nama itu terasa di lidahnya. "Bagaimana menurut Anda presentasi saya tadi?"
"Menarik," Maya menjawab diplomatis. "Tapi saya rasa ada beberapa poin yang perlu—"
Dalam gerakan yang tampak seperti kecelakaan, Irwan sengaja menyenggol tangan Maya. Kopi hitam panasnya tumpah, membasahi blazer navy Maya yang sempurna.
"Ya Tuhan!" Maya tersentak mundur. "Panas!"
"Maaf! Maaf!" Irwan berpura-pura panik, mengambil tisu dan mencoba membantu. "Saya nggak sengaja! Biar saya bantu—"
"Nggak usah!" Maya menjauhkan tangan Irwan dari blazernya. Pipinya merah, matanya berkilat-kilat marah. "Saya bisa sendiri."
"Saya benar-benar minta maaf," Irwan memasang wajah paling menyesal yang bisa dia buat. "Biar saya ganti biaya dry cleaning-nya. Atau... mungkin saya bisa mentraktir Anda makan malam sebagai permintaan maaf?"
Maya menatapnya dengan mata menyipit, seolah menilai ketulusan permintaan maafnya. "Oke," dia akhirnya menyetujui, masih sambil mengelap blazernya. "Tapi restoran saya yang pilih ya..."
"Tentu," Irwan tersenyum, menyerahkan kartu namanya. "Silakan hubungi saya kapan Anda ada waktu."
Maya mengambil kartu itu, memasukkannya ke tas. "Akan saya hubungi," ujarnya sebelum berbalik pergi ke arah toilet wanita, meninggalkan Irwan dengan senyum puas yang tidak bisa dia sembunyikan.
***
"Yang..."
Maya melangkah masuk dan melingkarkan tangannya di leher Irwan dari belakang, memeluknya dengan lembut.
Suara lembut Maya menyadarkan Irwan dari lamunannya. Dia berbalik cepat, melihat istrinya berdiri di ambang pintu ruang kerja.
Maya tampak baru bangun tidur. Tubuhnya dibalut jubah tidur sutra, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya masih terlihat sayu. Meski begitu, dia tetap terlihat cantik. Terlalu cantik.
"Udah bangun?" tanyanya pelan, suaranya terdengar lelah bahkan di telinganya sendiri.
Maya mengangguk, masih memeluk Irwan dari belakang. "Kamu ngapain di sini sendirian?"
Irwan tidak langsung menjawab. Jemarinya membelai lembut lengan Maya, matanya masih menatap pemandangan di luar jendela—langit sore Jakarta yang mulai memerah.
"Cuma... mikir," jawabnya akhirnya.
Maya melepaskan pelukannya perlahan, lalu berjalan mengitari kursi untuk berhadapan dengan Irwan. Ia berlutut di depan suaminya, tangannya menggenggam tangan Irwan yang terasa dingin.
"Mikirin apa?" tanya Maya lembut, matanya mencari tatapan Irwan yang masih menerawang.
Irwan akhirnya menatap Maya, senyum tipis yang dipaksakan muncul di bibirnya. "Banyak hal," jawabnya. "Inget pertama kali kita ketemu di acara kampus dulu."
Maya tersenyum, meremas lembut tangan Irwan. "Waktu kamu numpahin minuman ke baju aku?"
"Iya," Irwan tertawa kecil, matanya mulai hidup sedikit. "Kamu marah banget. Padahal aku sengaja."
"Apa?" Maya memukul pelan lengan Irwan. "Ih... Jadi selama ini kamu bohong? Katanya nggak sengaja!"
Irwan mengangkat bahu, senyumnya melebar. "Habis, aku udah ngeliatin kamu dari jauh. Nggak tau gimana caranya kenalan."
Maya menggelengkan kepala, tidak percaya dengan pengakuan suaminya setelah sekian tahun. "Dasar tukang bohong."
Mereka tertawa bersama, menciptakan momen ringan yang terasa berharga di tengah ketegangan yang telah menyelimuti rumah tangga mereka belakangan ini. Tapi tawa itu perlahan memudar, digantikan keheningan yang penuh makna.
"Aku inget juga," Irwan melanjutkan, suaranya kini lebih pelan, "gimana bahagianya kita waktu nikah. Semua rencana kita... rumah impian, karir kita, dan..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "...anak-anak yang bakal kita punya."
Maya menunduk, dadanya terasa sesak. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Yang..." Maya berbisik, suaranya bergetar. "Maafin aku."
Irwan menggeleng cepat. "Bukan salah kamu."
"Bukan salah kamu," Irwan menggeleng, matanya menatap lantai. Rahangnya mengeras saat dia menelan ludah. "Ini salah aku."
Maya mencoba menyela, tangannya meraih tangan Irwan. "Yang—"
"Spermaku yang bermasalah." Suaranya rendah, nyaris berbisik. Irwan mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangan. "Jumlahnya sedikit. Motilitasnya buruk. Kamu denger sendiri apa kata dokternya waktu itu."
Keheningan sesaat menyelimuti mereka. Maya bisa merasakan jari-jari Irwan gemetar dalam genggamannya.
"Ini bukan salah siapa-siapa," Maya berbisik, berlutut di depan Irwan. Matanya berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu. "Bukan salah kamu, bukan salah aku juga."
Setetes air mata jatuh di pipinya. Maya mengusapnya cepat.
"Ini takdir kita," lanjutnya, suaranya tercekat. "Cobaan buat kita."
Irwan menunduk, memandangi tangan mereka yang bertaut. Buku-buku jarinya memutih saking eratnya dia mencengkeram tangan Maya. Di luar, suara air bercipratan samar terdengar—Pak Karyo masih mencuci mobil.
Maya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Irwan yang sembab. "Maafin aku," bisiknya, bibir bawahnya bergetar menahan isak. "Bukan cuma soal ini. Tapi... semalam."
Dia menelan ludah, tatapannya turun ke lehernya sendiri yang masih ada bekas kemerahan. Pipinya memanas.
"Aku terlalu... sibuk sama Pak Karyo," jari-jarinya meremas tangan Irwan lebih erat. "Aku cuma mikirin... rasa. Gimana tubuhku ngerespons dia. Aku nggak... nggak kepikiran perasaan kamu sama sekali."
Irwan diam, napasnya tertahan. Matanya terpejam sejenak, bulu matanya yang basah berkilau tertimpa cahaya. Maya bisa melihat otot di rahangnya berkedut menahan emosi.
"Aku suami kamu," akhirnya Irwan bersuara, tangannya perlahan membelai rambut Maya. "Mungkin aku nggak bisa ngasih kamu anak dengan caraku sendiri. Tapi aku tetep suami kamu."
Dia menarik napas dalam, aroma parfum Maya yang lembut mengisi paru-parunya.
"Aku bisa tahan sakit ini." Dia tersenyum tipis, matanya menatap jauh menembus jendela. "Tapi nggak, nggak gampang."
Bahunya sedikit bergetar, dan Maya bisa merasakan betapa Irwan berusaha keras menahan emosinya. Dia menarik suaminya ke dalam pelukan, merasakan detak jantung Irwan yang kencang di dadanya.
"Aku cuma pengen kamu bahagia," Irwan melanjutkan, tangannya membelai pipi Maya dengan lembut. "Aku tau seberapa besar kamu pengen hamil, punya anak."
Air mata Maya akhirnya jatuh. "Tapi nggak gini caranya, Yang. Aku... aku nggak pernah kepikiran bakal nyakitin kamu kayak gini."
Irwan tersenyum sedih. "Kadang aku mikir, mungkin ini karma. Dulu waktu kuliah, aku pernah ngetawain sepupuku yang nggak bisa punya anak. Bahkan pernah bilang ke temen-temen kalau dia bukan laki-laki beneran."
"Yang..." Maya meremas tangan Irwan lebih erat.
"Sepupuku, Hendra, udah nikah delapan tahun tapi nggak dikaruniai anak. Alasannya nggak jelas, bukan dia yang bermasalah, bukan juga istrinya. Takdir aja mungkin." Irwan mengusap wajahnya. "Awalnya mereka baik-baik aja, tapi lama-lama mulai sering berantem. Terus istrinya ketemu cowok di tempat kerja yang punya anak dari istri pertama."
Irwan terdiam sejenak. "Waktu ketahuan selingkuh, tau apa alasan istrinya? Dia bilang udah capek jadi istri yang nggak bisa kasih keturunan. Dia butuh cowok yang udah terbukti bisa bikin dia jadi 'ibu', bukan cuma sekedar 'istri'."
"Sebulan kemudian mereka cerai. Sekarang istrinya udah punya dua anak, dan Hendra..." Suara Irwan tercekat. "Dia jadi peminum, perusahaannya bangkrut. Hidupnya berantakan."
Irwan menatap Maya dalam-dalam. "Aku takut, Yang. Bukan cuma soal kamu tidur sama Pak Karyo. Tapi aku takut... suatu hari nanti, kamu bakal ngerasa dia lebih bisa bikin kamu bahagia sebagai wanita, dan... kamu bakal pergi."
Maya bangkit, lalu duduk di pangkuan Irwan, memeluknya erat. "Aku nggak akan ninggalin kamu," bisiknya di telinga Irwan. "Nggak akan pernah."
Irwan mencengkeram bahu Maya, mendorongnya sedikit menjauh agar bisa menatap matanya. Wajahnya mengeras, rahangnya berkedut menahan emosi.
"Bahkan..." suaranya pecah, lalu dia menelan ludah dan mencoba lagi. "Bahkan setelah Pak Karyo bisa... memuaskan kamu sebagai wanita dengan cara yang... yang nggak pernah bisa aku lakuin?"
Maya tersentak, matanya melebar mendengar pertanyaan telak itu.
"Yang..."
"Jawab aku, Maya," desak Irwan, jari-jarinya semakin kuat mencengkeram bahu Maya. "Setelah apa yang terjadi semalam, setelah kamu... klimaks berkali-kali seperti yang nggak pernah terjadi sama aku... kamu masih bakal bertahan?"
Air mata menggenang di mata Maya. "Aku minta maaf," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku harusnya nggak cerita detail kayak gitu ke kamu. Aku egois... aku..." Dia menggelengkan kepala, air mata mulai jatuh. "Kita bisa stop sekarang kalo ini terlalu berat buat kamu. Kita cari cara lain aja. Atau kita... kita terima aja hidup tanpa anak."
Irwan melepaskan cengkeramannya, tangannya gemetar saat dia mengusap wajahnya sendiri. Matanya yang merah menahan tangis menatap Maya dengan intensitas yang menakutkan.
"Aku cuma perlu satu hal dari kamu," katanya, suaranya rendah dan dalam. "Janji sama aku. Janji kamu nggak akan pernah ninggalin aku. Nggak. Peduli. Apapun. Yang. Terjadi."
Tiap kata terakhir dia ucapkan dengan penekanan yang menusuk, tangannya kembali mencengkeram tangan Maya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Biarpun nanti kamu hamil dan anaknya mirip dia. Biarpun dia bisa bikin kamu teriak-teriak keenakan tiap malam. Biarpun kamu... mulai ngerasa sesuatu ke dia." Suaranya pecah di kata terakhir. "Janji kamu tetep bakal pulang ke aku. Selalu."



