𝗜𝘀𝘁𝗿𝗶𝗸𝘂 𝗗𝗶𝗵𝗮𝗺𝗶𝗹𝗶 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝘁𝘂 𝗕𝗔𝗕 𝟭𝟱


Sinar matahari sore menyusup melalui celah tirai ruang kerja. Debu-debu kecil menari di bawah cahaya keemasan yang jatuh di lantai kayu. Irwan memutar kursinya menghadap jendela, menatap hampa ke halaman belakang.

Dia meneguk sisa kopi dingin dari cangkir yang sudah dia pegang entah berapa lama. Pahit. Seperti kenyataan yang harus dia telan.

Sudah hampir dua jam berlalu sejak Maya naik ke lantai atas. Irwan bahkan tidak tahu apa yang sedang dilakukan istrinya—tidur? Menangis? Atau mungkin... memikirkan Pak Karyo?

"Sial," gerutunya pelan, melempar pulpen ke meja hingga menggelinding jatuh ke lantai. Dia tidak repot-repot memungutnya.

Matanya kembali tertuju ke halaman belakang, di mana Pak Karyo sedang mencuci mobil. Kemeja tipisnya basah, menempel di tubuh atletisnya yang tidak sesuai dengan usianya. Tangan kekarnya bergerak efisien, menggosok permukaan mobil dengan gerakan memutar. Tetes-tetes air dan busa meluncur di kulitnya yang gelap.

Irwan menelan ludah. Pria sederhana dengan pendidikan minim itu justru memiliki apa yang tidak bisa dia berikan—kesuburan. Benih kuat yang berpotensi menghasilkan bayi yang selama ini diimpikan Maya.

Tangannya bergerak mengusap wajahnya yang lelah. Matanya terpejam, mencoba menenangkan napasnya yang terasa berat.

"Aku gagal," bisiknya pada diri sendiri.

Ponselnya bergetar di meja, menampilkan nama "Mama" di layar. Irwan menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.

"Halo, Ma."

"Irwan! Kamu lupa ya hari ini?" suara ibunya terdengar sedikit kesal.

Irwan mengernyitkan dahi. "Lupa apa?"

"Arisan keluarga besok minggu di rumah Om Hadi! Mama udah ingetin kamu dari minggu lalu. Kamu sama Maya jadi dateng, kan?"

Irwan memejamkan mata. Benar, arisan keluarga bulanan. Acara yang selalu dia hindari belakangan ini karena tidak tahan dengan tatapan kasihan dan pertanyaan menyakitkan dari keluarga besar.

"Iya, Ma. Insya Allah kita dateng," jawabnya tanpa keyakinan.

"Jangan cuma iya-iya doang. Nanti tante-tante kamu nanya lagi. Tahun lalu waktu nikahan sepupu kamu, Maya udah janji tahun ini udah gendong bayi."

Irwan menggertakkan giginya. Vena di pelipisnya berdenyut. "Iya, Ma. Kita usahain."

"Usahain gimana? Kalian udah nikah enam tahun! Sepupu-sepupu kamu yang nikah belakangan aja udah pada punya anak dua. Kamu nggak malu?"

Betapa inginnya Irwan berteriak: "Ma, aku nggak bisa! Benihku lemah! Jumlahnya sedikit! Motilitasnya buruk!"

Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kegagalannya sebagai laki-laki, bahkan pada ibunya sendiri.

"Sabar ya, Ma," jawabnya dengan suara yang diusahakan tenang. "Kita masih... proses."

Proses.

Satu kata sederhana yang kini terasa seperti pisau berkarat mengiris hatinya. Baru semalam "proses" berubah makna selamanya. Dulu, "proses" adalah kata penuh harapan—dia dan Maya berpelukan di bawah selimut, berbagi kehangatan, berharap pada keajaiban genetika. Dulu, "proses" berarti mereka berdua.

Sekarang?

Sekarang "proses" berarti Maya baru saja menghabiskan malam di hotel dengan Pak Karyo dan kembali dengan tanda-tanda kemerahan di lehernya. Dan besok malam, "proses" akan berlanjut di rumah mereka sendiri. Di bawah atap yang sama. "Proses" berarti dia harus mengizinkan tangan kasar pria lain menjelajahi setiap inci tubuh istrinya. "Proses" berarti Maya akan mendesah dan mengerang untuk pertama kalinya di rumah mereka—bukan karena sentuhannya—tapi karena pembantu mereka.

Irwan merasakan mual di perutnya. Pahit. Kepalanya berdenyut membayangkan "proses" yang akan terjadi besok malam di kamar tamu. Dia, suaminya, akan bersembunyi di ruang kerja seperti pengecut sementara Maya—istrinya, cintanya—akan terbaring di bawah Pak Karyo.

"Proses" kini terasa seperti penghinaan yang harus dia telan bulat-bulat setiap kali mengucapkannya.

"Proses terus dari tahun ke tahun. Memangnya bikin anak itu bikin skripsi?" Ibunya mendecak. "Maya mana? Mama mau ngomong sama dia."

"Maya lagi istirahat," jawab Irwan cepat. Dia tidak yakin apa yang sebenarnya Maya lakukan di atas, tapi dia tidak ingin ibunya bicara dengan Maya sekarang.

"Ya sudah. Pokoknya nanti kalian dateng ya. Om Hadi udah siap-siap mau nanyain juga katanya. Mama malu kalau ditanya terus. Masa anak satu-satunya nggak bisa kasih cucu?"

"Iya, Ma. Udah dulu ya, ada kerjaan," Irwan memotong, tidak sanggup melanjutkan percakapan ini.

Setelah menutup telepon, Irwan menjatuhkan kepalanya ke meja. Dadanya sesak. Perutnya mual.

Di luar, Pak Karyo kini berdiri tegak, meregangkan otot punggungnya yang kokoh. Tangannya yang kasar mengusap keringat di dahi, kemudian kembali bekerja dengan tekun.

Irwan mengalihkan pandangan, tidak sanggup melihat pria yang dalam waktu dekat akan menyentuh istrinya lagi. Bayangan tentang apa yang terjadi di hotel semalam membuat kepalanya berdenyut nyeri.

Kenapa Maya baru pulang sore tadi? Kenapa dia menyuruh Irwan pulang duluan? Apa yang mereka lakukan semalaman?

Irwan memejamkan mata, tapi justru itu membuatnya melihat gambaran yang semakin jelas—Maya merintih di bawah Pak Karyo. Tubuhnya menggeliat penuh kenikmatan. Rambutnya berantakan di bantal. Matanya terpejam. Bibirnya terbuka, mengeluarkan desahan yang tidak pernah Irwan dengar sebelumnya.

"Cukup!" Irwan bangkit mendadak, menendang kursinya hingga menabrak dinding.

Dia berjalan mondar-mandir, menjambak rambutnya sendiri, mencoba mengusir bayangan-bayangan itu. Namun semakin dia melawan, semakin jelas visualisasi yang muncul—tangan kasar Pak Karyo mencengkeram pinggul Maya dari belakang. Suara tamparan kulit bertemu kulit. Maya yang memohon lebih keras, lebih cepat, lebih dalam.

"STOP!" Irwan berteriak pada dirinya sendiri, memukul dinding hingga buku-buku jarinya terasa sakit.

Napasnya terengah-engah. Wajahnya merah padam. Emosi yang campur aduk—marah, cemburu, malu, dan anehnya... sedikit rasa penasaran yang tidak ingin dia akui—mengaduk-aduk perutnya.

Matanya tertuju pada foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding. Maya terlihat begitu cantik dalam gaun putihnya, tersenyum bahagia ke arah kamera. Jemari Irwan menyentuh wajah Maya di foto itu dengan lembut, seolah takut menyakitinya.

"Maafin aku, Yang," bisiknya pada foto itu.

Pikirannya melayang ke hari pertama mereka bertemu, di acara seminar kampus enam tahun lalu. Bukan sekadar kenangan samar, tapi ingatan yang begitu nyata hingga dia bisa mencium parfum Maya dan mendengar suaranya.

"Para peserta seminar dipersilakan menuju ruang networking untuk sesi diskusi informal."

Irwan merapikan dasi dan dokumen presentasinya. Sebagai pembicara termuda di seminar itu, dia ingin memastikan penampilan dan materinya sempurna. Tapi sejak tadi, perhatiannya terus teralihkan pada seorang wanita di barisan depan.

Wanita itu berbeda. Di antara semua peserta yang tampak bosan atau sibuk dengan ponsel, dia mencatat setiap detail dengan serius. Blazer navy-nya rapi. Rambutnya diikat ke belakang dalam sanggul kecil yang profesional. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya yang mancung.

"Presentasi yang menarik, Pak Irwan," seorang profesor senior menepuk bahunya.

"Terima kasih, Pak," Irwan tersenyum, tapi matanya masih mencari sosok wanita itu.

Di ruang networking, Irwan akhirnya melihatnya lagi. Dia berdiri di dekat meja minuman, membaca ulang catatannya sambil sesekali menyesap jus jeruk. Sendirian.

Irwan mengambil segelas kopi dan berjalan mendekat. Keberaniannya mendadak hilang saat wanita itu mengangkat wajah dan mata mereka bertemu. Mata yang tajam, cerdas, dan entah bagaimana... menantang.

"Permisi," Irwan berdeham. "Saya Irwan Pramudya, pembicara—"

"Saya tahu," wanita itu memotong, tersenyum kecil. "Maya Adisti. Program Magister Manajemen."

"Maya." Irwan mengulang namanya, menyukai bagaimana nama itu terasa di lidahnya. "Bagaimana menurut Anda presentasi saya tadi?"

"Menarik," Maya menjawab diplomatis. "Tapi saya rasa ada beberapa poin yang perlu—"

Dalam gerakan yang tampak seperti kecelakaan, Irwan sengaja menyenggol tangan Maya. Kopi hitam panasnya tumpah, membasahi blazer navy Maya yang sempurna.

"Ya Tuhan!" Maya tersentak mundur. "Panas!"

"Maaf! Maaf!" Irwan berpura-pura panik, mengambil tisu dan mencoba membantu. "Saya nggak sengaja! Biar saya bantu—"

"Nggak usah!" Maya menjauhkan tangan Irwan dari blazernya. Pipinya merah, matanya berkilat-kilat marah. "Saya bisa sendiri."

"Saya benar-benar minta maaf," Irwan memasang wajah paling menyesal yang bisa dia buat. "Biar saya ganti biaya dry cleaning-nya. Atau... mungkin saya bisa mentraktir Anda makan malam sebagai permintaan maaf?"

Maya menatapnya dengan mata menyipit, seolah menilai ketulusan permintaan maafnya. "Oke," dia akhirnya menyetujui, masih sambil mengelap blazernya. "Tapi restoran saya yang pilih ya..."

"Tentu," Irwan tersenyum, menyerahkan kartu namanya. "Silakan hubungi saya kapan Anda ada waktu."

Maya mengambil kartu itu, memasukkannya ke tas. "Akan saya hubungi," ujarnya sebelum berbalik pergi ke arah toilet wanita, meninggalkan Irwan dengan senyum puas yang tidak bisa dia sembunyikan.

***​

"Yang..."

Maya melangkah masuk dan melingkarkan tangannya di leher Irwan dari belakang, memeluknya dengan lembut.

Suara lembut Maya menyadarkan Irwan dari lamunannya. Dia berbalik cepat, melihat istrinya berdiri di ambang pintu ruang kerja.

Maya tampak baru bangun tidur. Tubuhnya dibalut jubah tidur sutra, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya masih terlihat sayu. Meski begitu, dia tetap terlihat cantik. Terlalu cantik.

"Udah bangun?" tanyanya pelan, suaranya terdengar lelah bahkan di telinganya sendiri.

Maya mengangguk, masih memeluk Irwan dari belakang. "Kamu ngapain di sini sendirian?"

Irwan tidak langsung menjawab. Jemarinya membelai lembut lengan Maya, matanya masih menatap pemandangan di luar jendela—langit sore Jakarta yang mulai memerah.

"Cuma... mikir," jawabnya akhirnya.

Maya melepaskan pelukannya perlahan, lalu berjalan mengitari kursi untuk berhadapan dengan Irwan. Ia berlutut di depan suaminya, tangannya menggenggam tangan Irwan yang terasa dingin.

"Mikirin apa?" tanya Maya lembut, matanya mencari tatapan Irwan yang masih menerawang.

Irwan akhirnya menatap Maya, senyum tipis yang dipaksakan muncul di bibirnya. "Banyak hal," jawabnya. "Inget pertama kali kita ketemu di acara kampus dulu."

Maya tersenyum, meremas lembut tangan Irwan. "Waktu kamu numpahin minuman ke baju aku?"

"Iya," Irwan tertawa kecil, matanya mulai hidup sedikit. "Kamu marah banget. Padahal aku sengaja."

"Apa?" Maya memukul pelan lengan Irwan. "Ih... Jadi selama ini kamu bohong? Katanya nggak sengaja!"

Irwan mengangkat bahu, senyumnya melebar. "Habis, aku udah ngeliatin kamu dari jauh. Nggak tau gimana caranya kenalan."

Maya menggelengkan kepala, tidak percaya dengan pengakuan suaminya setelah sekian tahun. "Dasar tukang bohong."

Mereka tertawa bersama, menciptakan momen ringan yang terasa berharga di tengah ketegangan yang telah menyelimuti rumah tangga mereka belakangan ini. Tapi tawa itu perlahan memudar, digantikan keheningan yang penuh makna.

"Aku inget juga," Irwan melanjutkan, suaranya kini lebih pelan, "gimana bahagianya kita waktu nikah. Semua rencana kita... rumah impian, karir kita, dan..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "...anak-anak yang bakal kita punya."

Maya menunduk, dadanya terasa sesak. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Yang..." Maya berbisik, suaranya bergetar. "Maafin aku."

Irwan menggeleng cepat. "Bukan salah kamu."

"Bukan salah kamu," Irwan menggeleng, matanya menatap lantai. Rahangnya mengeras saat dia menelan ludah. "Ini salah aku."

Maya mencoba menyela, tangannya meraih tangan Irwan. "Yang—"

"Spermaku yang bermasalah." Suaranya rendah, nyaris berbisik. Irwan mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangan. "Jumlahnya sedikit. Motilitasnya buruk. Kamu denger sendiri apa kata dokternya waktu itu."

Keheningan sesaat menyelimuti mereka. Maya bisa merasakan jari-jari Irwan gemetar dalam genggamannya.

"Ini bukan salah siapa-siapa," Maya berbisik, berlutut di depan Irwan. Matanya berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu. "Bukan salah kamu, bukan salah aku juga."

Setetes air mata jatuh di pipinya. Maya mengusapnya cepat.

"Ini takdir kita," lanjutnya, suaranya tercekat. "Cobaan buat kita."

Irwan menunduk, memandangi tangan mereka yang bertaut. Buku-buku jarinya memutih saking eratnya dia mencengkeram tangan Maya. Di luar, suara air bercipratan samar terdengar—Pak Karyo masih mencuci mobil.

Maya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Irwan yang sembab. "Maafin aku," bisiknya, bibir bawahnya bergetar menahan isak. "Bukan cuma soal ini. Tapi... semalam."

Dia menelan ludah, tatapannya turun ke lehernya sendiri yang masih ada bekas kemerahan. Pipinya memanas.

"Aku terlalu... sibuk sama Pak Karyo," jari-jarinya meremas tangan Irwan lebih erat. "Aku cuma mikirin... rasa. Gimana tubuhku ngerespons dia. Aku nggak... nggak kepikiran perasaan kamu sama sekali."

Irwan diam, napasnya tertahan. Matanya terpejam sejenak, bulu matanya yang basah berkilau tertimpa cahaya. Maya bisa melihat otot di rahangnya berkedut menahan emosi.

"Aku suami kamu," akhirnya Irwan bersuara, tangannya perlahan membelai rambut Maya. "Mungkin aku nggak bisa ngasih kamu anak dengan caraku sendiri. Tapi aku tetep suami kamu."

Dia menarik napas dalam, aroma parfum Maya yang lembut mengisi paru-parunya.

"Aku bisa tahan sakit ini." Dia tersenyum tipis, matanya menatap jauh menembus jendela. "Tapi nggak, nggak gampang."

Bahunya sedikit bergetar, dan Maya bisa merasakan betapa Irwan berusaha keras menahan emosinya. Dia menarik suaminya ke dalam pelukan, merasakan detak jantung Irwan yang kencang di dadanya.

"Aku cuma pengen kamu bahagia," Irwan melanjutkan, tangannya membelai pipi Maya dengan lembut. "Aku tau seberapa besar kamu pengen hamil, punya anak."

Air mata Maya akhirnya jatuh. "Tapi nggak gini caranya, Yang. Aku... aku nggak pernah kepikiran bakal nyakitin kamu kayak gini."

Irwan tersenyum sedih. "Kadang aku mikir, mungkin ini karma. Dulu waktu kuliah, aku pernah ngetawain sepupuku yang nggak bisa punya anak. Bahkan pernah bilang ke temen-temen kalau dia bukan laki-laki beneran."

"Yang..." Maya meremas tangan Irwan lebih erat.

"Sepupuku, Hendra, udah nikah delapan tahun tapi nggak dikaruniai anak. Alasannya nggak jelas, bukan dia yang bermasalah, bukan juga istrinya. Takdir aja mungkin." Irwan mengusap wajahnya. "Awalnya mereka baik-baik aja, tapi lama-lama mulai sering berantem. Terus istrinya ketemu cowok di tempat kerja yang punya anak dari istri pertama."

Irwan terdiam sejenak. "Waktu ketahuan selingkuh, tau apa alasan istrinya? Dia bilang udah capek jadi istri yang nggak bisa kasih keturunan. Dia butuh cowok yang udah terbukti bisa bikin dia jadi 'ibu', bukan cuma sekedar 'istri'."

"Sebulan kemudian mereka cerai. Sekarang istrinya udah punya dua anak, dan Hendra..." Suara Irwan tercekat. "Dia jadi peminum, perusahaannya bangkrut. Hidupnya berantakan."

Irwan menatap Maya dalam-dalam. "Aku takut, Yang. Bukan cuma soal kamu tidur sama Pak Karyo. Tapi aku takut... suatu hari nanti, kamu bakal ngerasa dia lebih bisa bikin kamu bahagia sebagai wanita, dan... kamu bakal pergi."

Maya bangkit, lalu duduk di pangkuan Irwan, memeluknya erat. "Aku nggak akan ninggalin kamu," bisiknya di telinga Irwan. "Nggak akan pernah."

Irwan mencengkeram bahu Maya, mendorongnya sedikit menjauh agar bisa menatap matanya. Wajahnya mengeras, rahangnya berkedut menahan emosi.

"Bahkan..." suaranya pecah, lalu dia menelan ludah dan mencoba lagi. "Bahkan setelah Pak Karyo bisa... memuaskan kamu sebagai wanita dengan cara yang... yang nggak pernah bisa aku lakuin?"

Maya tersentak, matanya melebar mendengar pertanyaan telak itu.

"Yang..."

"Jawab aku, Maya," desak Irwan, jari-jarinya semakin kuat mencengkeram bahu Maya. "Setelah apa yang terjadi semalam, setelah kamu... klimaks berkali-kali seperti yang nggak pernah terjadi sama aku... kamu masih bakal bertahan?"

Air mata menggenang di mata Maya. "Aku minta maaf," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku harusnya nggak cerita detail kayak gitu ke kamu. Aku egois... aku..." Dia menggelengkan kepala, air mata mulai jatuh. "Kita bisa stop sekarang kalo ini terlalu berat buat kamu. Kita cari cara lain aja. Atau kita... kita terima aja hidup tanpa anak."

Irwan melepaskan cengkeramannya, tangannya gemetar saat dia mengusap wajahnya sendiri. Matanya yang merah menahan tangis menatap Maya dengan intensitas yang menakutkan.

"Aku cuma perlu satu hal dari kamu," katanya, suaranya rendah dan dalam. "Janji sama aku. Janji kamu nggak akan pernah ninggalin aku. Nggak. Peduli. Apapun. Yang. Terjadi."

Tiap kata terakhir dia ucapkan dengan penekanan yang menusuk, tangannya kembali mencengkeram tangan Maya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Biarpun nanti kamu hamil dan anaknya mirip dia. Biarpun dia bisa bikin kamu teriak-teriak keenakan tiap malam. Biarpun kamu... mulai ngerasa sesuatu ke dia." Suaranya pecah di kata terakhir. "Janji kamu tetep bakal pulang ke aku. Selalu."


 

Read More

𝗜𝘀𝘁𝗿𝗶𝗸𝘂 𝗗𝗶𝗵𝗮𝗺𝗶𝗹𝗶 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝘁𝘂 𝗕𝗔𝗕 𝟭𝟰

"Yang..." Maya memulai, jemarinya memilin ujung syal dengan gelisah. Keringat dingin mengalir di punggungnya meski AC ruangan bekerja maksimal.

Dia melirik ke arah halaman belakang melalui jendela besar, di mana Pak Karyo sedang mencuci mobil. Otot-otot punggungnya bergerak di bawah kemeja tipis yang basah. Maya menelan ludah, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan saat menyadari Irwan memperhatikannya.

"Aku..." Maya mencoba lagi, suaranya nyaris berbisik. Bagaimana mungkin dia mengutarakan ini? Bahwa tubuhnya masih bisa merasakan sentuhan kasar Pak Karyo? Bahwa dia ingin merasakannya lagi? "Aku kepikiran soal program kita."

Irwan duduk kaku di sofa, matanya tertuju pada bekas kemerahan di leher Maya yang gagal disembunyikan syal sutra mahal. Tanda kepemilikan yang jelas, seperti Pak Karyo sengaja meninggalkannya agar semua orang tahu.

"Dokter bilang..." Maya menarik napas dalam, tangannya gemetar memegang cangkir teh. "Sekali belum tentu berhasil. Kita butuh... lebih banyak percobaan."

"Maksud kamu?" Irwan bertanya pelan, meski dari tatapannya, dia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Maya menggigit bibir, matanya tidak berani menatap langsung. "Menurutku... kita perlu lanjutin di rumah." Dia mengucapkannya cepat, sebelum keberaniannya hilang. "Hotel terlalu berisiko. Orang bisa lihat, gosip bisa menyebar."

Irwan terdiam, tangannya mengepal di sisi tubuh.

"Aku nggak percaya aku ngomong gini," Maya melanjutkan, suaranya bergetar. "Tapi aku bener-bener pengen punya anak, Yang. Kamu tau kan kita udah nyoba bertahun-tahun..." Matanya mulai berkaca-kaca, entah karena emosi sungguhan atau manipulasi halus.

"Kamu mau..." Irwan menelan ludah, matanya menyipit tak percaya. "...lakuin lagi? Sama Pak Karyo? Di rumah kita?"

Maya menunduk, jari-jarinya saling bertaut di pangkuan. "Aku tau kedengerannya gila," bisiknya. "Tapi coba pikir, Yang... kalo kita lanjutin di hotel, gimana kalo ada yang liat? Temen kantor kamu? Atau klien aku?"

"Tapi di rumah kita?" Irwan mengacak rambutnya frustasi. "Tempat kita tidur setiap malam?"

"Nggak di kamar kita," Maya cepat-cepat menambahkan. "Mungkin... di kamar tamu? Yang jarang dipake itu."

Irwan bangkit, berjalan mondar-mandir di depan sofa. "Aku nggak ngerti, Maya. Bukannya kita udah sepakat cuma sekali? Satu malam? Itu yang kamu bilang ke aku."

Maya menelan ludah. "Iya, tapi..." Dia melirik ke arah halaman lagi, di mana Pak Karyo kini sedang mengelap kaca mobil. "Dokter bilang peluangnya cuma 30% untuk sekali... percobaan."

"Jadi berapa kali yang kamu mau?" Irwan berhenti, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Dua kali? Tiga? Seminggu penuh?"

"Aku nggak tau," Maya menggeleng, suaranya pecah. "Mungkin selama masa suburku? Seminggu? Atau..." Dia tidak berani melanjutkan.

"Atau sampai kamu hamil?" Irwan menyelesaikan kalimatnya, suaranya datar.

Maya tidak menjawab, tapi ketiadaan jawaban itu sudah cukup bagi Irwan.

"Kamu..." Irwan menatapnya lekat-lekat. "Kamu nikmatin semalam, kan?"

Maya tersentak, matanya melebar. "A-apa maksud kamu?"

"Jangan pura-pura, Maya." Irwan menunjuk ke arah lehernya. "Itu bukan tanda orang yang cuma 'menjalankan program'. Itu tanda orang yang..." Dia tidak sanggup melanjutkan.

"Yang, aku..." Maya mencoba menyangkal, tapi kata-katanya tercekat di tenggorokan. Bagaimana dia bisa menjelaskan sensasi yang dia rasakan semalam? Bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Pak Karyo dengan cara yang tidak pernah terjadi selama enam tahun pernikahannya?

"Jawab aja, Maya," desak Irwan. "Kamu nikmatin?"

Sunyi sejenak. Hanya suara jam dinding yang terdengar.

Maya menyentuh lehernya, pipinya merona. "Nggak, Yang, tapi—"

"Kamu selingkuh." Irwan mendesis, bahunya menegang. "Ini bukan cuma soal punya anak lagi, kan? Kamu nikmatin!"

"Bukan gitu!" Maya bangkit, mendekati Irwan dengan langkah tergesa. Blazer kremnya yang kusut berayun saat dia bergerak. "Yang, aku nggak selingkuh. Ini murni demi baby kita, kamu tau itu."

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku cuma pengen punya anak. Kamu tau kan kita udah nyoba berapa lama..."

Irwan menjauh, tangannya terangkat. "Lalu kenapa kamu nggak pulang semalam?" Suaranya meninggi. "Kenapa harus nginep di hotel? Dan pulang-pulang..." Ia menunjuk bekas kemerahan di leher Maya. "...kayak gini?"

Maya terdiam, matanya tertuju pada lantai marmer yang mengkilap. Napasnya terdengar tidak teratur. "Karena..." Dia menelan ludah. "Karena waktunya mepet, Yang. Aku lagi masa paling subur. Dokter bilang harus dimanfaatin sebaik mungkin."

"Jangan bohong, Maya!" Irwan menggelengkan kepala. "Ada yang lebih dari itu. Aku liat kamu... beda."

Maya duduk di sofa, bahu kecilnya merosot. Setelah beberapa saat sunyi, dia membasahi bibirnya dan berbisik, "Dokter bilang..." Jari-jarinya memainkan ujung blazernya. "Dokter bilang kalo aku... enjoy, peluang hamil lebih tinggi."

Dia mendongak, menatap Irwan dengan mata berkaca-kaca. "Katanya ada hubungan antara... orgasme cewek dan kesuburan. Sesuatu soal kontraksi dan hormon yang bantu... gerak spermanya."

Irwan mengerjap, mencoba mencerna informasi ini. "Jadi kamu..."

"Yang, sejujurnya..." Maya akhirnya mengaku pelan, matanya masih menerawang ke lantai, "Sex sama Pak Karyo tuh... beda."

Irwan mematung. Wajahnya mengeras. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit.

"Beda gimana?" tanyanya pelan, hampir berbisik.

Maya menggeleng cepat. "Nggak penting, Yang. Yang penting adalah—"

"Beda gimana, Maya?" Irwan mengulang, kali ini lebih menuntut. Matanya menatap tajam.

"Yang, please..." Maya memohon, tangannya terkepal di pangkuan.

"Aku perlu tau." Irwan bersikeras. "Apa yang bikin kamu sampe ninggalin bekas kayak gitu di leher?" Suaranya tercekat. "Apa yang bikin kamu sampe rela nginep? Apa yang bikin kamu sampe... nikmatin?"

Maya menelan ludah, tangannya memainkan ujung syal secara gelisah. Matanya melirik ke arah jendela, ke arah halaman belakang, ke arah mana saja asal tidak bertemu pandang dengan Irwan.

"Yang, aku..." Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Aku ngerti ini sakit buat kamu. Tapi kalo kamu mau tau kejujuran..."

Maya mengambil napas pelan, kemudian menatap langsung mata suaminya—keberanian yang terasa dipaksakan.

"Dia jauh lebih kuat. Lebih..." Dia menggeleng, mencari kata yang tepat. "Dia punya stamina yang... luar biasa." Maya menelan ludah lagi. "Berkali-kali, Yang. Tanpa perlu istirahat lama. Tanpa obat atau apa-apa."

Irwan meringis, tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia berpaling, tapi Maya bisa melihat rahangnya mengencang.

"Maaf, Yang, tapi kamu yang tanya," Maya berbisik, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku... gak bisa bohong tentang ini."

Tanpa sadar, jari Maya naik menyentuh bekas kemerahan di lehernya. Matanya tiba-tiba melebar, seolah baru menyadari sesuatu.

"Ini..." dia berkata pelan, nada suaranya campuran antara terkejut dan malu. "Aku bahkan nggak inget kapan ini terjadi, Yang." Dia menggelengkan kepala perlahan. "Dia... mencium aku di mana-mana. Sepanjang waktu."

Maya menelan ludah, pipinya semakin merah. "malam kemarin... tadi pagi... siang… di kasur hotel, di kamar mandi..." Tangannya kini bergerak gelisah ke arah kerah blazernya yang menutupi sebagian tubuhnya. "Aku yakin masih ada tanda lain di... tempat lain."

Irwan terhuyung mundur seperti habis dipukul. Wajahnya memucat dengan cepat, matanya terpejam sejenak sebelum terbuka lagi—penuh rasa sakit dan amarah. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kamu..." Irwan berbisik, suaranya bergetar hebat. "Kamu beneran ngebiarin dia... tandain kamu... di mana-mana?"

Maya menunduk, tidak sanggup menatap mata suaminya. "Aku nggak sadar, Yang. Semua terjadi begitu cepat. Begitu... intens." Dia mendongak, mata berkaca-kaca. "Kayak aku kehilangan kendali atas tubuhku sendiri."

"Aku..." Maya melanjutkan dengan suara pelan, "...nggak pernah ngerasain kayak gitu sebelumnya. Sensasi yang... bikin ketagihan." Dia menelan ludah, tangannya gemetar. "Aku bahkan nggak bisa ngitung berapa kali aku... klimaks. Mungkin puluhan. Tiap kali dia nyentuh tempat yang tepat, aku langsung..."

"Stop." Irwan mengangkat tangannya, wajahnya pucat pasi. Dia berbalik, tak sanggup menatap istrinya. "Aku nggak kuat dengernya."

Maya terdiam sejenak, mengamati punggung suaminya yang tegang. Dia menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang apakah harus melanjutkan atau tidak.

"Yang..." Maya akhirnya berkata lembut. "Aku tau ini berat, tapi..." Dia menarik napas dalam. "Kalau dipikir-pikir, ini sebenernya baik untuk program kita."

Irwan berdiri, mondar-mandir dengan langkah pendek. Napasnya berat dan tidak beraturan.

"Aku benci ngomongin ini ke kamu, tapi..." Maya melanjutkan, matanya mengikuti gerakan suaminya. "Waktu kita di dokter, inget kan dokter bilang orgasme bisa ningkatin peluang kehamilan?"

Maya menunduk, suaranya berubah jadi bisikan. "Aku gak pernah ngerasain kayak gitu sebelumnya. Mungkin karena situasinya, atau karena dia, tapi..." Dia berhenti sejenak. "Tubuhku bergetar, Yang. Bahkan aku masih bisa ngerasain..."

Dia berhenti saat melihat wajah Irwan yang semakin pucat. Matanya berkaca-kaca. "Maaf, aku harusnya gak bilang segamblang ini. Tapi kamu berhak tau."

"Lalu kenapa kamu nginep?" Irwan bertanya dengan suara pelan tapi menusuk.

Maya menghela napas. "Karena... karena kita gak selesai setelah sekali." Dia mengusap pipinya yang basah. "Setelah yang pertama, aku pikir udah selesai, tapi..." Maya menggeleng, tatapannya menerawang. "Aku nggak inget berapa kali... setiap dia menyentuhku lagi, tubuhku langsung... bereaksi."

Irwan memalingkan wajah, tangannya gemetar.

"Yang," Maya meraih tangan Irwan, tapi dia menariknya mundur. "Aku tau ini berat buat kamu. Aku ngerasain bersalah, tapi di saat yang sama..." Dia menarik napas dalam-dalam. "Aku juga ngerasa ini kesempatan terbaik kita buat punya anak."

Dia membuka mata, melihat ekspresi terluka Irwan, dan cepat menambahkan, "Tapi itu murni fisik, Yang. Nggak ada perasaan apa-apa. Aku tetep cinta kamu, cuma kamu."

Meski berusaha mengendalikan diri, Irwan bisa melihat kilatan kepuasan di mata Maya saat membicarakan pengalamannya — sesuatu yang jarang ia lihat setelah sekian lama bersama.

"Kamu tau..." Maya mendekati Irwan, menggenggam tangannya hati-hati. "Ini cuma sementara kok. Nggak lama, cuma sampe aku hamil." Air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku ngelakuin ini buat kita. Buat keluarga kecil kita."

Irwan terduduk lemas di sofa, kepalanya tertunduk dalam. Maya bisa melihat bahunya naik turun menahan emosi. Hening lama, hanya deru AC yang terdengar.

"Baiklah," akhirnya Irwan bersuara, sangat pelan. "Tapi ada syaratnya."

Maya mengangguk, kembali ke mode eksekutifnya. "Apa?"

"Pertama, cuma pas kamu lagi subur." Irwan mengangkat wajahnya, matanya merah. "Kedua, aku harus tau kapan kalian... ketemu. Dan ketiga..." Ia menelan ludah. "Kalian nggak boleh tidur bareng abis itu. Selesai langsung balik ke kamar masing-masing."

Maya menggigit bibir, jelas tidak puas dengan syarat ketiga. "Yang... kamu nggak ngerti. Abis... gitu, tubuhku masih sensitif banget. Aku perlu waktu buat..."

"Itu dia," Irwan memotong tajam. "Aku nggak mau kamu ngabisin waktu lebih dari yang perlu sama dia. Ini buat dapetin bayi, bukan buat... seneng-seneng doang."

Maya bangkit, berjalan ke jendela. Di halaman, Pak Karyo sedang mencuci mobil, otot-ototnya yang kekar berkilau oleh air dan keringat. "Oke deh," ia akhirnya menyetujui, meski matanya tidak lepas dari pemandangan di luar. "Tapi aku juga punya syarat."

Irwan mengangkat alisnya.

"Aku mau pake kamar tamu di atas," Maya berbalik menghadap suaminya. "Yang deket kamarnya Pak Karyo. Biar... lebih gampang." Ia melihat Irwan hendak protes dan cepat menambahkan, "Masuk akal kan, Yang? Daripada bolak-balik dari kamar kita. Dan..." Ia tersenyum tipis. "Bukannya lebih baik kamu nggak denger... semuanya?"

Irwan menelan ludah, bayangan suara-suara yang akan ia dengar membuatnya mual sekaligus... penasaran. "Dan kalian bakal lakuin di sana?"

Maya memiringkan kepalanya, menatap Irwan dengan tatapan menantang. "Atau kamu lebih suka kita lakuin di kamar kita? Di ranjang yang kita tidurin tiap malem?" Ia melangkah mendekat. "Mau sprei kita basah sama keringat kita? Mau bantalmu bau Pak Karyo?"

Irwan memucat, tangannya mencengkeram lengan sofa. "Maya!"

"Atau di kamar Pak Karyo sekalian?" Maya melanjutkan pelan. Matanya menerawang ke arah kamar pembantu mereka di lantai atas. "Di kamarnya..." Ia berhenti sejenak, seolah baru menyadari sesuatu. "Bukan di kamar tamu. Bukan di hotel yang asing. Tapi di kamarnya..." Suaranya mengecil. "Kayak aku... ceweknya dia?"

Ia menatap Irwan, membiarkan kata-katanya meresap. Ada sesuatu yang intim dan personal dalam pilihan lokasi itu - jauh berbeda dari formalitas kamar tamu atau kenetralan hotel. Di kamar Pak Karyo, semuanya akan terasa lebih... nyata.

"Udah cukup!" Irwan bangkit, wajahnya merah padam. "Kamar tamu. Pake kamar tamu aja." Dia menarik napas dalam. "Tapi inget syarat aku tadi. Abis selesai, langsung balik ke kamar."

Maya tersenyum tipis, tahu ia telah memenangkan argumen ini. "Oke, Yang. Aku ngerti."

Suara percikan air dari halaman membuat mereka menoleh. Pak Karyo sedang membilas mobil, kemejanya yang basah menempel di tubuh atletisnya. Maya tanpa sadar menjilat bibirnya.

"Aku mau tidur sebentar," Maya berkata pelan, matanya masih tertuju ke halaman. Dia berjalan pelan-pelan, dan Irwan bisa melihat dia agak meringis - jelas masih merasa sakit gara-gara semalam.

Irwan mengamati istrinya melangkah naik tangga, blazer kremnya yang kusut menegaskan malam panjang yang baru ia lalui. Maya berhenti di tengah, tangannya mencengkeram pegangan tangga saat mendengar suara Pak Karyo bersenandung dari halaman.

"Yang..." Maya berbisik tanpa menoleh. "Kamu... beneran nggak keberatan ya?"

Irwan menatap kosong cangkir kopinya yang sudah dingin. Pertanyaan itu cuma basa-basi - dia tahu Maya tetep bakal lakuin, dia setuju atau nggak. "Yang penting..." dia menelan ludah, "kamu seneng."

Maya mengangguk pelan sebelum melanjutkan langkahnya.


 

Read More

𝗜𝘀𝘁𝗿𝗶𝗸𝘂 𝗗𝗶𝗵𝗮𝗺𝗶𝗹𝗶 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝘁𝘂 𝗕𝗔𝗕 𝟭𝟯

Tubuh Maya mengejang hebat, punggungnya melengkung seperti busur saat gelombang klimaks terakhir menghantamnya dengan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jeritan tertahannya terdengar serak—suaranya hampir habis setelah berjam-jam mendesah dan mengerang.

"Ahhh! Ya Tuhan... Pak... PAK!" Maya mencengkeram bahu Pak Karyo dengan kuku-kukunya, meninggalkan bekas merah di kulit gelap pria itu. "Aku... aku nggak kuat... terlalu... ahhh!"

Pak Karyo menggeram rendah, tubuhnya menegang di atas Maya. Otot-ototnya yang keras bergetar hebat saat ia mencapai puncaknya sendiri, jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Cairan hangatnya menyembur kuat, memenuhi rahim Maya lebih dalam dari yang pernah ia lakukan sepanjang hari.

"Bu... Maya..." Suaranya terdengar serak dan dalam. "Kali ini... pasti... hamil..."

Mereka berdua jatuh lemas, tubuh berkeringat mereka masih menyatu. Napas keduanya terengah-engah, jantung berdegup kencang, kulit lengket oleh peluh. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara—hanya deru napas yang berangsur normal dan detak jantung yang perlahan menenang.

Pak Karyo berguling ke samping, tanpa melepaskan pelukannya. Ia menarik Maya ke dalam dekapannya, satu lengan kekarnya melingkari pinggang ramping wanita itu. Jari-jarinya yang kasar membelai rambut Maya yang berantakan dengan kelembutan yang mengejutkan.

Maya masih terlalu lemas untuk bergerak. Otot-ototnya terasa seperti jeli, tulang-tulangnya seolah meleleh. Ia hanya bisa berbaring pasrah dalam pelukan Pak Karyo, merasakan kehangatan tubuh pria itu yang kontras dengan dinginnya AC kamar.

"Bu Maya nggak apa-apa?" Pak Karyo berbisik, napasnya menyapu telinga Maya.

Maya mengangguk lemah. "Cuma... capek banget." Ia menelan ludah, tenggorokannya kering. "Belum pernah... kayak gini."

Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Maya terkejut dengan betapa mudahnya ia menerima sentuhan intim Pak Karyo sekarang. Kemarin, bahkan tadi pagi, ia tak pernah membayangkan akan berbaring telanjang, berpelukan mesra dengan pembantunya seperti ini. Jangankan berpelukan, membayangkan bersentuhan tangan saja membuatnya bergidik. Sekarang, dalam keadaan sadar penuh tanpa pengaruh Valium, ia malah menikmati belaian jari-jari kasar pria itu di kulitnya.

Jemari Maya tanpa sadar memainkan rambut di dada bidang Pak Karyo, sementara pikirannya berkecamuk dengan kontradiksi antara status sosial mereka dan intimitas yang kini mereka bagi.

"Bapak..." Maya bergumam pelan.

"Hmm?" Pak Karyo masih membelai rambutnya.

"Nggak..." Maya menggeleng pelan. Ia hampir mengatakan betapa anehnya situasi ini, betapa tidak terbayangkan semua ini baginya kemarin, tapi ia memilih diam.

Pak Karyo tersenyum, tangannya turun ke punggung Maya, mengelus kulitnya dengan gerakan melingkar yang menenangkan. "Bu Maya tahu," suaranya rendah dan hangat, "program kayak gini butuh kesabaran."

Maya mendongak, menatap wajah pembantu yang telah memuaskannya berkali-kali hari ini. "Maksudnya?"

"Buat hamil," Pak Karyo mengelus perut Maya dengan lembut. "Kadang butuh waktu. Butuh... banyak percobaan."

Maya menggigit bibir bawahnya. "Ya, tapi..."

"Biasanya," Pak Karyo melanjutkan dengan nada suara seperti berbagi pengetahuan penting, "emang butuh beberapa kali, istri saya juga walau 5 anak, nggak ada yang sekali jadi."

Maya tidak menjawab, hanya merasakan tangan Pak Karyo yang terus membelai perutnya. Ada sesuatu yang menenangkan sekaligus menggairahkan dari sentuhan itu.

"Bu Maya suka kan?" Tangannya naik ke dada Maya, membelai dengan gerakan yang sangat ringan. "Tubuh Bu Maya kayaknya suka sama saya."

Maya merasakan pipinya memanas. Ia tak bisa menyangkal bahwa tubuhnya memang sangat menikmati apa yang Pak Karyo lakukan padanya. Tidak hanya menikmati—ia ketagihan.

"Kalau Bu Maya mau program ini berhasil..." bisik Pak Karyo sambil mencium lembut leher Maya, "kita mungkin perlu lanjutin di rumah juga."

Maya tersentak kecil, tapi tidak menjauh. "Di rumah? Tapi... kita sudah sepakat ini cuma sekali, Pak. Kontraknya jelas. Irwan... suamiku menyetujui program ini karena dia pikir cuma satu malam."

Maya menatap tangannya sendiri, rasa bersalah mulai menyusup di antara sisa-sisa kenikmatan. "Irwan pasti hancur kalau tahu ini berlanjut. Dia sudah cukup terluka dengan semalam." Suaranya bergetar, mengingat ekspresi suaminya saat ia menyuruhnya pulang duluan dari hotel.

"Ini... ini sudah melenceng dari rencana awal. Aku takut kalau kita teruskan, bukan cuma soal program hamil lagi." Maya menelan ludah, tangannya tanpa sadar berhenti mengelus dada Pak Karyo. "Aku masih istri Irwan. Apa yang kita lakukan semalam... itu pengecualian. Bukan untuk jadi kebiasaan."

Pak Karyo mengabaikan penolakan Maya. Dia berbaring miring menghadap wanita itu, kepala ditopang satu tangan, matanya menelusuri tubuh telanjang Maya yang masih berkilau oleh keringat.

"Lihat deh," bisiknya, jari-jari kasarnya dengan lembut menyusuri bekas kemerahan di leher Maya. "Tandanya masih fresh. Masih banyak yang belum kita coba."

Maya mendesah pelan, menepisnya lemah. "Udah cukup, Pak. Kita udah sepakat cuma sekali."

Pak Karyo terkekeh rendah. Alih-alih mundur, jemarinya turun ke tulang selangka Maya, lalu perlahan ke arah payudaranya yang masih sensitif.

"Badan Bu Maya bilang lain," gumamnya, ibu jarinya mengusap puting Maya yang langsung mengeras merespon sentuhannya. "Masih mau lagi."

"Aku...mmh..." Maya menepisnya lagi, tapi tangannya kehilangan tenaga saat Pak Karyo dengan terampil meremas payudaranya. "Serius, Pak. Kita nggak bisa terus-terusan gini."

Pak Karyo tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya bergerak turun, menelusuri perut rata Maya, lalu ke selangkangannya yang masih basah karena aktivitas mereka sebelumnya. Dengan gerakan terlatih, jari kasarnya menemukan klitoris Maya yang masih bengkak.

"Ah!" Maya tersentak, tubuhnya refleks melengkung. Napasnya tercekat saat Pak Karyo mulai menekan dan melingkar di titik sensitifnya.

"Tenang, Bu," Pak Karyo berbisik di telinganya, napasnya panas menggoda kulitnya. "Saya cuma mau bikin Bu Maya nyaman. Abis main kan perlu dibelai juga."

Maya menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan desahan. "Kita...kita udah selesai main," protesnya lemah, meski pinggulnya mulai bergerak mengikuti ritme jari Pak Karyo.

"Tapi badan Bu Maya masih mau," bisik Pak Karyo, suaranya rendah dan menggoda. Dia mempercepat gerakan jarinya, membuat napas Maya semakin tak beraturan. "Masih lapar."

Maya memejamkan mata, tenggelam dalam sensasi yang memenuhi tubuhnya. Pikirannya berkecamuk. Dia tahu seharusnya menghentikan ini, tapi sentuhan Pak Karyo seperti magnet yang menariknya kembali.

"Bu Maya perlu ini," bisik Pak Karyo, bibirnya kini menyusuri leher Maya. Tangannya yang bebas menarik pinggang wanita itu mendekat hingga tubuh mereka menempel. "Perlu saya. Bukan cuma di hotel. Di rumah juga."

Tubuh Maya gemetar merasakan kejantanan Pak Karyo yang kembali mengeras menekan pahanya. Jari pria itu masih bermain di bawah sana, membuatnya sulit berpikir jernih.

"Kita lanjutin di rumah ya?" Pak Karyo menggeram rendah, menambahkan jari kedua ke dalam tubuh Maya. "Bu Maya mau kan? Biar cepet hamil."

Maya terengah-engah, logikanya mulai goyah. Mungkin memang lebih praktis kalau mereka teruskan di rumah. Mungkin memang butuh lebih dari sekali untuk berhasil hamil. Mungkin...

Matanya secara tidak sengaja melirik jam dinding.

"Astaga," Maya terkesiap saat melihat jam dinding. "Sudah jam 11!"

Ia bergegas bangkit, meringis merasakan nyeri nikmat di seluruh tubuhnya. Dengan langkah sedikit pincang, Maya berjalan ke kamar mandi.

"Mau mandi, Bu?" Pak Karyo bertanya dari tempat tidur, matanya mengawasi tubuh telanjang Maya yang berjalan menjauh.

"Iya, Pak. Kita harus segera check out."

"Saya ikut ya." Bukan pertanyaan, tapi pernyataan.

Maya berhenti di depan pintu kamar mandi, ragu. "Tapi..."

Sebelum Maya menyelesaikan kalimatnya, Pak Karyo sudah di belakangnya, mencium lehernya lembut sembari melingkarkan tangan di pinggang Maya yang ramping. Ia menuntun Maya masuk ke kamar mandi tanpa menunggu persetujuan.

Air dingin menyiram tubuh mereka saat Maya mulai menggosok tubuhnya dengan sabun. Busa putih menutupi kulit mulusnya, membuat Pak Karyo yang sedang membasuh tubuhnya sendiri terpaku.

"Bu," suara Pak Karyo mendadak lebih berat. Maya menoleh dan melihat kejantanan Pak Karyo yang kembali mengeras.

"Pak... jangan lagi," Maya menggeleng lemah meski tubuhnya bereaksi. "Kita sudah melakukannya berkali-kali."

"Sekali lagi," Pak Karyo memojokkan Maya ke dinding kamar mandi yang dingin. "Di shower." Tangannya meremas payudara Maya yang licin oleh sabun.

"Aku..." Maya menggigit bibir. "Aku nggak pernah... melakukannya di kamar mandi. Bahkan sama Irwan."

Pak Karyo tersenyum mendengarnya. "Berarti saya yang pertama." Tanpa menunggu, ia mengangkat satu kaki Maya dan memposisikan kejantanannya.

"Ahh!" Maya menjerit saat Pak Karyo mendorong masuk. Sensasinya berbeda—air shower yang mengalir, dinding dingin di punggungnya, dan posisi berdiri yang membuat penetrasi terasa lebih dalam.

"Enak kan, Bu?" Pak Karyo berbisik sambil terus bergerak. "Bu Maya perlu ini terus kalo mau hamil. Kita harus lanjut di rumah nanti."

Maya tersentak. "Di-di rumah?"

"Iya," Pak Karyo mempercepat gerakannya. "Bu Maya mau kan, kita terusin di rumah?"

"Tapi... ahh... ada Irwan..."

"Pak Irwan bisa kita ajak ngomong lagi," Pak Karyo berbisik di telinga Maya. Pinggulnya berhenti bergerak tiba-tiba, membuat Maya mengerang frustasi.

Tangan kasarnya mencengkeram pinggul Maya lebih erat. "Satu malam mana cukup buat bikin hamil, Bu."

Maya menggeleng lemah, air shower masih mengalir di tubuh mereka yang menyatu. "Tapi... kesepakatan kita..."

"Kesepakatan bisa diubah." Pak Karyo menarik rambut Maya lembut, memaksa wanita itu menoleh ke samping. Bibirnya mengecup leher Maya yang basah. "Bu Maya udah ngerasain sendiri kan? Bisa dipastiin Pak Irwan nggak bisa kasih kepuasan kayak gini."

Jarinya turun ke perut Maya, mengelusnya dengan gerakan melingkar. "Di sini bakal ada bayi kalo kita terusin, Bu. Bayi yang Bu Maya impikan bertahun-tahun."

Pinggulnya bergerak sekali, dalam dan keras, membuat lutut Maya lemas.

"Pak Irwan pastinya lebih pilih Bu Maya hamil daripada terus-terusan sedih." Suaranya rendah dan penuh keyakinan. "Bilang aja sama Pak Irwan kalo Bu Maya masih belum yakin. Bilang kalo Bu Maya baru yakin bisa hamil kalo programnya dilanjutin di rumah."

"Aku... ohhh..." Maya mendesah saat Pak Karyo menyentuh klitorisnya, tapi kemudian berhenti.
"Mau Bu? Jawab dulu." Pak Karyo menggoda, tangannya bergerak tapi pinggulnya diam.

"Pak... jangan gini..." Maya menggeliat, mencoba mencari kenikmatan.

"Jawab dulu." Pak Karyo mencium leher Maya tanpa bergerak di bawah sana.

Maya mendesah putus asa. "I-iya... kita lanjut di rumah... tapi..."

Tanpa menunggu Maya menyelesaikan kalimatnya, Pak Karyo kembali bergerak, kali ini lebih kuat. Maya menjerit, kakinya gemetar saat kenikmatan kembali menguasainya. Tubuhnya berguncang di bawah guyuran shower, matanya terpejam menikmati sensasi baru yang membuatnya ketagihan.

"Ahh... ahh..." Maya mendesah, sudah tidak peduli lagi dengan Irwan atau siapapun. Yang ia inginkan hanya kepuasan dan janji bayi yang selama ini ia dambakan.

Siang sudah menjelang ketika mereka akhirnya keluar dari kamar mandi. Maya meringis memakai pakaiannya - tubuhnya terasa pegal dan sensitif, bekas-bekas kemerahan menghiasi leher dan dadanya.

"Saya pulang duluan, Bu," Pak Karyo berkata sambil mengancingkan kemejanya. "Nanti Bu Maya nyusul satu jam kemudian."

Maya mengangguk, masih belum percaya bagaimana pembantunya kini memberinya perintah dengan nada yang begitu dominan. Tapi tubuhnya bereaksi pada nada itu, membuatnya ingin menuruti apapun yang Pak Karyo katakan.

Sinar matahari sore menyusup melalui jendela-jendela tinggi mansion mewah itu ketika Maya akhirnya pulang. Irwan, yang sudah menunggu sejak pagi dengan mata sembab dan tangan gemetar, mengamati bagaimana istrinya melangkah masuk melalui pintu utama. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara Maya bergerak - langkahnya lebih ringan namun lebih mantap, seolah ia telah menemukan kepercayaan diri yang selama ini tersembunyi.

Rambut Maya masih lembab, jelas baru selesai mandi di hotel. Wangi sabun mahal bercampur dengan aroma yang asing - sesuatu yang primitif dan maskulin, sangat berbeda dari parfum Chanel yang biasa ia kenakan ke kantor. Make-up nya minimal, tapi ada rona alami di pipinya dan cahaya di matanya yang membuat ia tampak jauh lebih hidup dari sebelumnya.

"Maaf aku baru pulang," Maya berkata sambil meletakkan tas Hermès-nya di meja ruang tamu. Suaranya terdengar berbeda - lebih dalam, sedikit serak, seperti orang yang habis teriak semalaman. Tidak ada jejak penyesalan dalam nada bicaranya. Bahkan ada sedikit senyum yang tertahan di sudut bibirnya.

Irwan duduk kaku di sofa, tangannya mencengkeram sandaran dengan gugup. Ia telah menghabiskan malam tanpa tidur, membayangkan apa yang terjadi di suite hotel itu. Setiap detik yang berlalu seperti siksaan, terutama setelah Maya mengirim pesan singkat yang menyuruhnya pulang duluan.

"Kenapa baru pulang sekarang?" Irwan akhirnya bertanya, suaranya nyaris berbisik. Dia menelan ludah, matanya tidak berani menatap Maya langsung. "Kalian... ngapain aja sampe selama itu?"

Sebagian dari dirinya tidak ingin mendengar jawabannya, tapi bagian lain - bagian yang membuatnya merasa mual namun penasaran - harus tahu.

Maya duduk di sofa seberang, gerakannya anggun namun ada sedikit ringisan saat ia menyentuh bantalan. Matanya berbinar dengan cahaya yang belum pernah Irwan lihat sebelumnya - campuran antara kepuasan, kebanggaan, dan sesuatu yang lebih dalam... sesuatu yang membuat Irwan merasa semakin kecil.

"Yang..." Maya memulai, tangannya memainkan ujung syalnya dengan gestur yang tidak biasa - lebih feminin, lebih menggoda. "Aku nggak tau harus mulai dari mana."

Irwan menelan ludah, matanya tertuju pada bekas kemerahan yang menyembul dari balik syal sutra itu. Tanda-tanda yang jelas ditinggalkan dengan sengaja, seolah Pak Karyo ingin memastikan semua orang tahu apa yang telah terjadi.

BERSAMBUNG ...

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟐

 


Sinar matahari yang menyusup melalui tirai suite membuat Maya mengerjap. Tubuhnya terasa pegal namun puas, setiap otot mengingatkannya akan aktivitas semalam. Pak Karyo masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan dalam. Maya mengamati pria yang telah mengubah hidupnya dalam semalam - bagaimana otot-otot keras di tubuhnya yang gelap kini tampak rileks, bagaimana wajahnya yang biasanya selalu menunduk hormat kini tampak damai dalam tidurnya.

Bayangan-bayangan semalam memenuhi benaknya. Bagaimana Pak Karyo membawanya mencapai puncak kenikmatan berkali-kali, bagaimana ia memohon dan mendesah tanpa malu di bawah kendali pria yang sehari-hari membersihkan rumahnya. Maya bahkan tidak ingat kapan mereka akhirnya tertidur - yang ia ingat hanya sensasi tubuh kekar Pak Karyo yang terus memuaskannya, suara beratnya yang membisikkan kata-kata kotor yang membuatnya semakin bergairah, dan bagaimana ia berkali-kali memohon untuk dipenuhi lagi... dan lagi.

Maya melirik jam - hampir pukul sembilan. Ponselnya dipenuhi missed calls dari Irwan.

"Udah bangun, Bu?" suara serak Pak Karyo memecah keheningan. Maya menoleh, mendapati mata gelap itu mengawasinya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.

"Iya, Pak... baru aja" Maya menarik selimut menutupi tubuhnya, mendadak sadar akan ketelanjangan mereka.

"Ngapain ditutup-tutupin?" Pak Karyo tertawa pelan, tangannya dengan santai menyusup di bawah selimut, menemukan pinggang Maya. "Semalem aja Bu Maya nggak malu-malu."

Maya merasakan jari-jari kasar itu menelusuri kulitnya dengan familiar, seperti sudah mengenal setiap lekuk tubuhnya. Aneh rasanya, bagaimana tangan yang biasa membersihkan rumahnya kini menyentuhnya dengan begitu intim.

"Gimana tidurnya?" tangan Pak Karyo bergerak naik, membelai sisi tubuh Maya dengan gerakan lambat yang membuat kulitnya meremang. Tidak ada lagi sikap formal atau hormat dalam sentuhannya—hanya kelembutan posesif seorang pria yang merasa berhak.

Maya merasakan pipinya memanas. Semalam, di tengah gairah yang memuncak, sentuhan-sentuhan ini terasa begitu menggairahkan. Tapi pagi ini, dengan pikiran yang lebih jernih, ada sesuatu yang menggelikan sekaligus memalukan. Ini Pak Karyo—pembantunya yang biasa ia perintah untuk mencuci mobil atau membersihkan taman. Pria yang bahkan tidak berani menatap matanya saat berbicara. Sekarang dia berbaring telanjang di sampingnya, menyentuhnya seolah Maya adalah miliknya.

"Baik... tapi kita harusnya udah pulang, Pak." Ia melirik jam di dinding. "Udah pagi gini."

"Nggak usah buru-buru." Pak Karyo menggeleng pelan, tangannya menyusuri rambut Maya yang berantakan. "Saya masih pengen sama Bu Maya."

Maya mengerjapkan mata, kesadarannya kini tajam tanpa pengaruh Valium yang semalam membuatnya sanggup melakukan "program" ini. Seharusnya semalam jadi satu-satunya malam—deposit sekali, selesai. Begitu perjanjian awalnya.

"Pak," Maya menarik selimut menutupi tubuhnya, suaranya lebih tegas sekarang. "Yang semalam itu cukup. Kita udah sepakat cuma sekali."

Alih-alih menjawab, Pak Karyo menarik selimut itu perlahan, matanya tidak lepas dari tubuh telanjang Maya. Tangannya yang kasar mulai menelusuri leher Maya, turun ke tulang selangkanya, lalu dengan gerakan yang mengejutkan, mencengkeram payudaranya.

"Ahh," Maya tersentak, campuran kaget dan—meski ia enggan mengakuinya—gairah. Jari-jari kasar Pak Karyo memainkan putingnya dengan tekanan yang tepat, persis seperti semalam.

"Bu Maya semalam teriak-teriak," bisik Pak Karyo, bibirnya kini menciumi leher Maya. Satu tangannya turun ke perut rata wanita itu, menelusuri kulitnya dengan sentuhan yang membuat Maya bergidik. "Minta lagi... lagi... nggak cukup satu kali."

Maya menggeleng, tapi tubuhnya mengingat—bagaimana Pak Karyo membuatnya menjerit berkali-kali semalam, sensasi yang tidak pernah ia dapatkan dari Irwan. "Itu... itu karena..." Kata-katanya terputus saat Pak Karyo tiba-tiba mendorong dua jarinya masuk, menemukan titik yang membuat pinggul Maya refleks terangkat.

"Bu Maya masih sensitif di sini," gumam Pak Karyo, jari-jarinya bergerak dengan presisi yang membuat napas Maya tercekat. Ibu jarinya dengan terampil menekan klitoris Maya, sementara jari lainnya menekuk di dalam, menyentuh titik G-nya dengan tekanan yang tepat.

"Nggak... ahh... Pak..." Maya berusaha protes, tapi tubuhnya berkhianat. Pinggulnya bergerak mengikuti ritme jari Pak Karyo, mencari kenikmatan yang tubuhnya ingat dari semalam.

"Badan Bu Maya nggak bohong," Pak Karyo tersenyum, merasakan kelembaban yang semakin meningkat di sekelilingnya jarinya. Ia mempercepat gerakannya, membuat Maya menggigit bibir menahan desahan. "Bu Maya masih mau. Masih butuh."

Bayangan semalam berkelebat di benak Maya—bagaimana pria yang ia anggap hanya pembantu tua berkulit hitam itu membuatnya orgasme bertubi-tubi, bagaimana ia memohon untuk lebih, bagaimana ia dengan malu-malu mengirim pesan pada Irwan untuk pulang duluan karena ia tidak bisa berhenti menginginkan Pak Karyo.

"Satu malam?" Pak Karyo tertawa kecil, kini menambahkan jari ketiga, meregangkan Maya yang semakin basah. "Bu Maya masih basah gini... masih pengen lagi, kan?"

"Ahh..." Maya tidak bisa menahan desahannya. Tangannya mencengkeram lengan berotot Pak Karyo. "Tapi... aku beneran ada meeting... penting..."

"Terserah Bu Maya," Pak Karyo menggeram, menggantikan jarinya dengan sesuatu yang lebih besar. Kejantanannya menekan pintu masuk Maya yang sudah basah. "Mau mikirin meeting... atau mau ngerasain... ini..."

Maya hendak protes lagi, tapi tubuhnya berkhianat saat Pak Karyo mendorong masuk dengan satu gerakan tegas. Kejantanannya yang besar mengisi Maya sempurna, membuat matanya berkunang-kunang.

"Ahhh... Pak..." Maya Andini mencengkeram bahu berotot Pak Karyo saat ia mulai bergerak. Napasnya tercekat dengan setiap dorongan. "A-aku harus ke kantor..."

Pak Karyo memperlambat gerakannya, tidak sepenuhnya berhenti—hanya cukup untuk membuat Maya frustasi. "Kalau Bu Maya mau pergi," bisiknya, suaranya rendah di telinga Maya, "saya nggak maksa."

Maya menggigit bibir. Tubuhnya berteriak meminta lebih, tapi harga dirinya masih berusaha bertahan. Dia adalah Maya Andini—eksekutif senior yang bisa membuat pria-pria di ruang rapat gemetar hanya dengan tatapannya. Sekarang, terbaring di bawah kuasa seorang pembantu...

"Aku..." Maya menggeliat saat Pak Karyo sengaja bergerak sangat lambat, membuatnya merasakan setiap inci kejantanannya yang besar. "Aku nggak bisa kayak gini terus..."

"Maunya kayak gimana, Bu?" Pak Karyo tersenyum, tangannya menelusuri sisi tubuh Maya dengan kelembutan yang kontras dengan gerakannya yang kini semakin dalam. "Bu Maya tinggal ngomong aja..."

Tangannya yang kasar menemukan payudara Maya, meremasnya dengan tekanan yang sempurna sementara pinggulnya bergerak dalam ritme yang menyiksa—cukup untuk membuatnya terangsang, tapi tidak cukup untuk memuaskannya.

"Cepetan dikit..." Maya akhirnya berbisik, malu dengan pengakuannya sendiri.

"Apa, Bu? Saya nggak denger," Pak Karyo menggodanya, sengaja memperlambat gerakannya lagi. "Bu Maya mau apa?"

Maya menutup matanya rapat-rapat, pipinya merah padam. Ini memalukan—wanita profesional sepertinya memohon kepada pembantunya. Tapi tubuhnya sudah tidak peduli lagi dengan status atau harga diri.

"Cepetan, Pak," Maya mengulangi, kali ini lebih keras, pinggulnya bergerak mencari kenikmatan yang tertahan. "Please..."

Pak Karyo tersenyum puas, tangannya mencengkeram pinggang Maya lebih erat. "Nanti meetingnya gimana, Bu?" tanyanya, masih belum mengubah temponya yang lambat.

"Bodo amat meetingnya," Maya mengerang, kuku-kukunya menancap di lengan berotot Pak Karyo. Kenikmatan yang tertahan membuatnya lupa siapa dirinya. "Aku cuma mau... ini..."

Seolah menunggu kata-kata itu, Pak Karyo langsung mengubah ritmenya. Gerakannya kini jauh lebih cepat, lebih keras, lebih dalam—membuat tempat tidur berderit protes dan Maya menahan jeritan.

"Ini yang Bu Maya mau?" Pak Karyo menggeram di telinga Maya, napasnya berat dan panas. "Ini yang bikin Bu Maya suruh suaminya pulang semalem?"

Maya tidak sanggup lagi memikirkan rasa malu. Setiap dorongan Pak Karyo mengirimkan gelombang kenikmatan yang membuatnya melupakan segalanya—status sosialnya, pertemuannya, bahkan Irwan.

"Iya... iya..." Maya mendesah, melingkarkan kakinya di pinggang Pak Karyo untuk mendapatkan penetrasi yang lebih dalam. "Enak banget..." Tangannya mencengkeram bahu Pak Karyo semakin erat, napasnya semakin pendek-pendek.

Pak Karyo masih bergerak stabil, napasnya berat di leher Maya. "Bu Maya pinter ya, nahan terus-terusan," godanya, tangannya menyusup di antara tubuh mereka. "Padahal udah basah banget..."

Maya merasakan sensasi panas mulai menyebar dari pusatnya. Pandangannya mulai mengabur, tapi di sela-sela kenikmatan itu, ia mendengar ponselnya bergetar di meja samping—pengingat meeting pertamanya pukul 9.30.

"Pak... ah... ponselku..." Maya mencoba bicara di sela desahannya, matanya melirik ke arah ponsel yang masih bergetar.

"Angkat aja, Bu," Pak Karyo justru mempercepat gerakannya, membuat Maya semakin sulit berfokus. "Tapi saya nggak bakal berhenti..."

Maya melirik ponselnya yang terus bergetar—pengingat meeting pertamanya pukul 9.30. Tapi sensasi Pak Karyo yang mengisi dan menumbuknya tanpa henti membuat semua itu terasa tidak penting. Ia ingin ini—tidak, ia butuh ini. Butuh Pak Karyo menguasai tubuhnya sepanjang pagi.

Dengan tangan gemetar Maya meraih ponselnya, nyaris menjatuhkannya saat Pak Karyo menghujam tepat di titik nikmatnya. Ia menekan nomor sekretarisnya, berusaha mengatur napas.

Dengan tangan gemetar Maya meraih ponselnya, nyaris menjatuhkannya saat Pak Karyo menghujam tepat di titik nikmatnya. Ia menekan nomor sekretarisnya, berusaha mengatur napas.

"Sa-Sarah..." Maya menggigit bibir menahan desahan. "Hari ini aku... ahh... nggak masuk..."

"Bu Maya? Suara Ibu aneh..."

"Cancel... semua meeting..." Maya nyaris tidak bisa fokus saat Pak Karyo semakin mempercepat gerakannya. "Pokoknya... ohhh... aku nggak bisa... masuk..."

Maya membanting ponselnya ke kasur, tidak peduli lagi dengan reaksi sekretarisnya. Yang ia pedulikan hanya bagaimana Pak Karyo terus menggenjotnya, membuat tubuhnya melayang dalam kenikmatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Pak... aku mau keluar..." Maya melingkarkan kakinya di pinggang Pak Karyo, menariknya semakin dalam. "Kontolnya... bikin aku gila..."

"Keluar, Bu," Pak Karyo menggeram, gerakannya semakin brutal. "Keluarin semua di kontol saya."

Maya menjerit, orgasmenya menghantam seperti tsunami. Tubuhnya mengejang hebat, vaginanya mencengkeram erat kejantanan Pak Karyo yang masih menghujamnya tanpa ampun. Tapi alih-alih menyusul, Pak Karyo malah memperlambat gerakannya, membiarkan Maya menikmati gelombang kenikmatannya.

"Pak... ahh..." Maya terengah, masih gemetar pascaorgasme.

"Udah enak, Bu? Bapak belum keluar lho," Pak Karyo menyeringai, kemudian membalik tubuh Maya tanpa mencabut kejantanannya. Posisi mereka berubah dengan Maya di atas, duduk di pangkuannya.

"Coba Bu Maya yang gerak sekarang," perintahnya sambil meremas bokong Maya.

Maya mulai bergerak naik turun dengan lambat. Sensasi yang berbeda membuatnya kembali terbakar gairah.

"Enak kan, Bu?" Pak Karyo mendorong pinggulnya ke atas, membuat Maya tersentak nikmat.

Maya tidak menjawab, tapi desahannya yang semakin keras sudah cukup menjadi jawaban. Tubuhnya bergerak semakin cepat, payudaranya bergoyang naik turun.

"Bu Maya suka kan, diisi sama Bapak?" Pak Karyo berbisik, jarinya memainkan klitoris Maya.

"Ahh... ya..." Maya mendesah tanpa sadar. Matanya terpejam, tubuhnya bergerak semakin cepat.

"Kita perlu terusin ini... biar Bu Maya bisa hamil," Pak Karyo berkata pelan, tangannya di perut Maya.

"Tapi... ohhh... nggak mungkin..." Maya menggeleng meski tubuhnya terus bergerak. "Kita nggak bisa... ini cuma... sekali aja..."

"Kenapa nggak mungkin? Bu Maya mau hamil kan?" Pinggulnya mendorong ke atas lagi, membuat Maya menjerit. "Bu Maya udah lama nunggu punya anak."

"Tapi bukan... begini caranya..." Maya berbisik, suaranya bergetar antara nafsu dan keraguan. "Aku nggak bisa... selingkuh terus..."

"Bukan selingkuh," Pak Karyo menggerakkan tangannya ke payudara Maya, meremasnya dengan tekanan yang tepat. "Ini demi anak... demi keluarga... Bu Maya pantas punya anak."

Maya hanya bisa mendesah, pikirannya berkabut oleh nafsu. Bayangan perutnya yang membuncit dengan bayi yang selama ini dia dambakan membuatnya semakin bergairah.

"Aku... aku..." Maya mulai kehilangan ritme, tubuhnya gemetar menandakan orgasme kedua yang mendekat.

"Bapak juga mau keluar, Bu... Bapak keluar dalem ya..." Pak Karyo menggeram, merasakan dirinya semakin dekat.

"Iya... dalam... dalem aja..." Maya menjerit, lupa siapa dirinya. "Bikin aku hamil... ahhhh!!"

Mereka mencapai puncak bersama - Maya mengejang hebat sementara Pak Karyo menekan Maya ke bawah, membenamkan kejantanannya sedalam mungkin sambil meledakkan benihnya di dalam rahim wanita itu.

Maya bisa merasakan semburan demi semburan cairan hangat Pak Karyo memenuhi rahimnya, membuatnya orgasme berkepanjangan. Tubuhnya terus bergetar, menikmati setiap detik kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Mereka berbaring terengah, keringat membasahi tubuh mereka. Maya bisa merasakan campuran cairan mereka mengalir di pahanya, tapi ia tidak peduli.

"Bu Maya bisa hamil dengan cara ini," Pak Karyo berbisik di telinganya, jarinya mengelus perut Maya. "Kita perlu lanjut kalo Bu Maya mau punya anak."

Maya terdiam, tidak menyangkal. Bagian dari dirinya ingin menolak mentah-mentah, tapi bagian lain tahu bahwa tubuhnya sudah menyerah pada sentuhan pria ini.

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Belum siap menjawab. Tapi bayangan tentang hamil, tentang akhirnya memiliki anak yang selama ini dia impikan, terus berputar di benaknya. Untuk saat ini, dia hanya ingin menikmati momen ini, merasakan perasaan dipenuhi dan dipuaskan.

Sinar matahari bergeser perlahan di lantai suite hotel mewah. Maya terus mendesah di bawah sentuhan Pak Karyo yang tak kenal lelah. Tubuhnya yang sudah sensitif bereaksi pada setiap belaian jemari kasar pria itu. Panas tubuh mereka mengalahkan dinginnya AC kamar.

Jam demi jam berlalu tanpa disadari. Setiap kali Maya berpikir tubuhnya sudah mencapai batas, Pak Karyo menemukan cara baru untuk membangkitkan hasratnya. Posisi berganti, tempat berganti – dari ranjang ke sofa, dari sofa ke meja rias. Tiap permukaan ruangan menyimpan jejak gairah mereka yang tak terbendung.

"Pak... aku nggak bisa lagi..." Maya berbisik lemah saat Pak Karyo membalikkan tubuhnya, memposisikannya menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota. Tapi bibirnya berkata tidak sementara tubuhnya berkata iya, pinggulnya bergerak dengan sendirinya mencari kehangatan yang sudah familiar.

Maya kehilangan jejak waktu, tenggelam dalam sensasi yang menguasai tubuhnya. Perutnya mengencang lagi, gelombang kenikmatan kesekian kalinya menghantam. Erangan lemah lolos dari bibirnya yang memerah karena ciuman tak henti. Pak Karyo, yang tampak tak terpengaruh lelah, terus membisikkan kata-kata kasar yang entah mengapa semakin membuat Maya terangsang. Dunia luar seolah lenyap - hanya ada mereka dan hasrat yang tak kunjung padam.

Peluh membanjiri kulit mereka. Bercak-bercak kemerahan menghiasi tubuh Maya dari leher hingga paha dalamnya, jejak bibir dan tangan Pak Karyo yang posesif. Suara-suara mereka memenuhi ruangan – desahan Maya yang semakin serak, geraman rendah Pak Karyo yang mendominasi. Tidak ada lagi batasan status atau kelas sosial, hanya ada pria dan wanita yang saling memenuhi kebutuhan primitif.

Mereka terus saling memuaskan sepanjang pagi, tubuh mereka seolah tak pernah lelah. Peluh membanjiri seprai hotel saat Pak Karyo membawa Maya mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya.

BERSAMBUNG ...
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com