𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟗 𝐊𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢

Aku kembali mengenakan celana dalam dan kemudian gamis abu-abuku yang licin dan mencetak siluet tubuhku. Gamis yang tadi sukses membuat Pak Bayu gagal menjaga pandangannya. Aku memakai jilbab lebar dan cadarku. Aku mengambil dompet dan handphoneku untuk berjaga-jaga.

Saat merias diri di depan cermin, aku hanya fokus pada eyeliner dan memastikan mata indahku terlihat memikat di balik cadar. Namun, karena terburu-buru oleh hasrat yang membakar, aku lupa satu hal, aku tidak memakai bra.

Yaudah gpp, pikirku. Justru lebih baik. Payudaraku yang besar dan padat akan berayun bebas, dan gamis abu-abu yang licin ini akan mencetak bentuknya dengan lebih jelas.

Dengan hati yang berdebar kencang, aku melangkah keluar rumah, mengunci pintu perlahan. Aku berjalan menuju gerbang utama, tempat Pos Satpam berada. Malam terasa sunyi dan gelap, hanya diterangi oleh cahaya remang lampu jalan.

Di perjalanan, keraguan sempat menyergap. Apa yang kulakukan? Aku Ukhti Zahra, guru ngaji ! Aku menggumamkan istighfar , tetapi bayangan tonjolan di celana Pak Rahmat kembali menghapus semua doa.

Saat aku hampir mencapai pos, jantungku mencelos. Pria yang duduk di kursi plastik, terbungkus seragam security berwarna gelap, bukan Pak Rahmat.

Sial.

Yang berjaga adalah seorang aki-aki tua. Wajahnya terlihat lelah, ia duduk membungkuk, sesekali menguap. Aku tidak tahu namanya.

Aku bingung. Apakah aku harus putar balik? Atau haruskah aku menuntaskan hasratku yang sudah di ujung tanduk ini kepada lelaki tua itu?

Tidak. Aku menggelengkan kepala di balik cadar. Hasratku memang liar, tetapi aku butuh pria yang berani dan kuat, seperti Pak Rahmat dengan tubuh tegapnya atau Pak Bayu dengan lengan kekarnya. Aku tidak mau dengan aki-aki tua.

Aku memutuskan untuk terus berjalan, melewati pos.

"Permisi, Pak," ucapku, suaraku kuusahakan tetap lembut dan sopan.

"Iya, Ukhti Zahra," jawab pria tua itu, nadanya ramah dan penuh hormat, tanpa ada nada genit sedikit pun.

Hanya itu percakapan kami. Ia melihatku sebagai guru ngaji, bukan sebagai wanita yang sedang mencari pelampiasan.

Aku terus melangkah, tidak tahu arah. Aku berjalan menuju jalan besar di luar kompleks, jalan yang lebih ramai, tetapi juga lebih gelap. Rasa frustrasi karena hasratku terpotong, bercampur dengan gairah yang tak tertahankan, membuatku gila.

Aku berharap diculik oleh seorang laki-laki ganteng di sini. Pikiran kotor itu melintas tanpa sadar. Aku ingin seseorang menarikku, mendambaku, dan menunjukkan padaku bahwa aku seksi, seperti yang Pak Rahmat katakan.

Tangan kananku kuselipkan di dalam jilbab lebarku, melipatnya di depan dada. Jari-jariku yang gelisah mulai bermain-main, terkadang sedikit menyentuh puting payudaraku yang kini menegang di balik kain gamis, tanpa bra yang menopang. Sentuhan kecil itu mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhku.

Aku terus berjalan pelan, menundukkan pandangan, melihat jalanan yang sepi. Aku adalah Ukhti Syar'i yang sedang berjalan sendirian di kegelapan malam, dengan hati yang penuh dosa dan payudara yang berdenyut kencang, mencari sentuhan liar yang baru saja kurasakan dan kini kutagih.

Aku terus menyusuri jalanan yang sepi. Angin malam yang dingin bergesekan dengan gamis licinku, membuat putingku semakin menegang dan berdenyut. Tangan kananku masih tersembunyi di balik jilbab, memilin-milin puting payudaraku sendiri, sebuah tindakan refleks dari hasrat yang tak tertahankan.

Aku frustrasi. Ke pos Pak Rahmat gagal. Aku butuh pelampiasan. Aku butuh pengakuan liar. Aku butuh sentuhan nyata.

Tiba-tiba, aku teringat pada Pak Hasan, penjual nasi goreng.

"Kalau Ukhti butuh pelampiasan lagi, kalau Ukhti butuh teman bicara, ke sini saja, ya,"

Tawaran itu, yang dulu kuabaikan karena rasa malu, kini terngiang seperti janji surga. Aku berharap tawaran itu masih berlaku. Warung nasi goreng itu adalah tempat kehancuranku pertama, dan kini, itu adalah tujuanku.

Aku mengubah arah langkahku. Aku berjalan lebih cepat menuju ujung kompleks, tempat warung nasi goreng Pak Hasan berada.

Saat aku mendekat, lampu temaram warung itu menyambutku. Aku melihat Pak Hasan duduk di kursi plastik di dekat gerobaknya, sibuk memainkan handphonenya. Dia terlihat santai, menunggu pelanggan. Ku lihat warungnya sepi tidak ada pembeli.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengatur detak jantungku, dan melangkah mendekat.



Pak Hasan mendongak. Matanya yang ramah langsung berubah, menyiratkan keterkejutan dan sesuatu yang lain begitu melihatku.

“Ehh, ada Ukhti Zahra. Assalamualaikum. Malam-malam begini, mau makan, Ukh?” sapanya, nadanya ramah, tetapi aku menangkap getaran serak yang tersembunyi. Ia pasti mengingat apa yang terjadi semalam.

“Wa’alaikumsalam, Pak,” jawabku, suaraku kuusahakan senormal mungkin. Aku butuh alasan. “Iya, Pak. Saya lapar.”

“Mau bungkus apa makan sini?” tanyanya, ia berdiri tegap.

Aku menelan ludah. Jika kubungkus, aku harus segera pulang. Jika aku makan di sini... aku bisa punya waktu.

"Emm... makan sini aja, Pak," kataku, sebuah keputusan yang didorong oleh gairah liar, bukan rasa lapar.

“Oh, iya. Ukhti duduk dulu, ya,” balasnya, ia tersenyum, senyum yang kini terlihat lebih lebar, lebih tahu segalanya.

Aku berjalan ke arah kursi plastik. tetapi anehnya, kakiku menuntunku ke pojokan. Aku memilih kursi yang berada di balik gerobak, di tempat yang paling gelap dan paling jauh dari sorot lampu jalan raya.

Duduk di sana, di pojokan yang remang-remang, membuatku merasa tidak terlihat, atau setidaknya, sulit terlihat dari arah jalan raya. Itu adalah tempat yang sempurna untuk melanjutkan permainan terlarangku.

Aku duduk, tanganku yang gemetar langsung beraksi. Aku menyandarkan punggung ke tembok, dan tanpa ragu, aku menyelipkan tangan kiriku ke balik jilbab lebar. Gamis abu-abuku yang licin terasa begitu tipis dan menghangatkan.

Aku mulai meremas payudaraku yang besar dan padat. Sengaja. Aku menekan putingku yang kini menegang keras karena sentuhan tanganku dan udara malam yang dingin.

“Mmmhh…” rintihan lirih lolos dari bibirku yang tertutup cadar. Kenikmatan itu langsung menghantam, diperkuat oleh sensasi bahaya karena melakukannya di depan umum atau setidaknya, di depan Pak Hasan.

Aku semakin berani. Aku meremas lebih kuat, memilin putingku, membiarkan tubuhku melengkung di kursi plastik itu. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku sepenuhnya hanyut, tidak peduli dengan Pak Hasan yang kini sibuk meracik bumbu di gerobak di depanku.

Suara sreng-sreng spatula di wajan Pak Hasan beradu dengan rintihan tertahanku.

Tiba-tiba, suara wajan itu berhenti. Sunyi.

Aku membuka mata, terkesiap.

Pak Hasan tidak lagi di depan wajan. Dia sudah berdiri di sampingku. Matanya langsung menatap ke dadaku. Ia memergokiku.

Meskipun tanganku tersembunyi di balik jilbab, gamis abu-abu yang kupakai, yang licin dan mencetak tubuh, membuat siluet payudaraku yang sedang kuremas terlihat jelas. Payudaraku terlihat menonjol dan bergetar di bawah remasan tanganku, aku tidak berhenti meremas payudaraku sendiri.

Pak Hasan tersenyum. Senyumnya bukan lagi ramah, melainkan seringai kemenangan yang sama mengerikannya dengan semalam. Ia tahu, aku kembali karena tawaran liarnya.

“Ukhti Zahra,” bisiknya, suaranya serak dan sangat dekat. Napasnya terasa panas di telingaku.

“Selamat datang kembali.”

Ia mencondongkan tubuhnya, sedikit mengintip ke arah tanganku yang tersembunyi dibalik jilbab.

Aku tersentak. Suara Pak Hasan yang serak dan penuh arti itu seolah menelanjangiku di pojokan gelap ini. Tanganku yang tadinya liar meremas payudara, seketika terhenti.

“Nasi gorengnya belum matang, Ukhti,” katanya, nadanya penuh arti. “Tapi... sepertinya ada makanan lain yang lebih enak. hehe”

Aku menatapnya. Jantungku berdebar kencang, Ekspresinya penuh kemenangan, tahu bahwa aku datang kepadanya karena hasrat yang tak tertahankan.

Pak Hasan tidak menunggu persetujuanku. Ia berjalan santai ke kursi plastik di sampingku, menariknya hingga jarak kami begitu dekat. Bahu kami hampir bersentuhan. Bau asap nasi goreng bercampur dengan aroma keringat khas nya.



“Ukhti Zahra lagi sange?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi. Pertanyaan itu begitu telanjang, begitu vulgar, membuat pipiku terasa panas di balik cadar.

Aku hanya bisa menunduk, memilin kain gamis di pangkuanku. Aku menarik tanganku dari payudaraku. “Emm...” hanya kata itu yang bisa keluar dari bibirku, sebuah pengakuan tanpa suara.

“Ukhti butuh pelampiasan sama Bapak?” godanya, suaranya serak, penuh janji.

Aku hanya diam, menunduk dalam-dalam. Aku merasa kotor. Aku adalah guru ngaji, dan aku berada di warung nasi goreng pada jam sepuluh malam, ditawari perzinahan oleh penjual nasi goreng. Namun, tubuhku yang basah dan berdenyut sangat membutuhkan pelampiasan.

Tiba-tiba, tangan Pak Hasan bergerak dari belakang punggungku. Tangannya yang hangat dan kasar merangkul pundakku. Sentuhan itu ringan, tetapi terasa begitu intim.

“Terusin aja, Ukhti. Remas payudara Ukhti,” bisiknya, suaranya kini terdengar seperti perintah yang dominan. “Aku suka lihat Ukhti keenakan gini.”

Aku nurut. Aku segera menyelipkan tanganku kembali ke dalam jilbab, menuju payudaraku yang besar dan menuntut sentuhan. Aku mulai meremas, lebih pelan di awal, tetapi hasrat yang kembali memuncak membuat remasanku semakin kuat.

“Ahh… Mmmhh…” rintihan lirih lolos dari bibirku.

Pak Hasan tertawa kecil, tawa yang penuh arti. Tangan di pundakku mulai bergerak, mengusap bahuku dengan lembut, gerakannya naik turun. Elusan itu terasa menenangkan.

“Gitu, Sayang. Jangan malu. Bapak di sini akan jaga Ukhti. Bapak suka lihat Ukhti yang berani main di pojokan begini,” bisiknya, napasnya terasa panas di telingaku.

Aku semakin berani. Remasanku pada payudaraku sendiri kini menjadi brutal. Aku mencubit putingku yang menegang di balik kain gamis. Sensasi sakit dan kenikmatan yang beradu membuat tubuhku melengkung.

“Pak… enak… Aku… aku suka… sentuhan Bapak,” rintihku, suaraku parau dan basah. Aku telah melupakan etika, melupakan kesucian tubuhku.

“Iya, Sayang. Bapak juga suka lihat Ukhti begini,” balas Pak Hasan, suaranya semakin berat. “Nenen Ukhti Zahra memang besar benget ya. Kenceng banget. Coba Ukhti goyang-goyangin pinggulnya, kayak semalam. Biar Bapak juga ikut ngaceng.”

Mendengar kata-kata vulgar itu, aku merasa malu, tetapi sensasi bahwa aku mampu membuat seorang pria terangsang begitu besar membuat gairahku naik. Aku menggerakkan pinggulku perlahan, memaju-mundurkannya di kursi plastik itu. Gamis licinku bergesekan dengan vaginaku yang sudah basah dari tadi.

“Ahhh… Basah, Pak… Aku basah banget… Mmmhh…” desahku, tanpa sadar mengucap pengakuan itu.

Pak Hasan mendesah keras. Tangannya di bahuku kini turun, bergerak ke pinggulku, mencengkeramnya kuat-kuat. “Gila, Ukhti. Kamu liar banget. Bapak enggak tahan.”

“Aku juga enggak tahan, Pak… Aku mau, Ahhh., Sentuh aku pak…” rintihku, suaraku bergetar hebat.

Tangannya yang mencengkeram pinggulku kini bergerak lebih agresif. Dia kini menghadap ke arahku, Ia menekan pinggulku ke arahnya, membuat pinggulku merasakan tonjolan keras di celananya. Dia benar-benar sudah ngaceng.

Pelukan di pinggang itu terasa begitu memabukkan, sementara kedua tanganku masih brutal meremas payudaraku sendiri.

“Ahh… Pak… Aku… Aku mau…” rintihku, suaraku pecah, penuh gairah dan keputusasaan.

Pak Hasan mendesah keras. Tangannya yang mencengkeram pinggulku kini bergerak, tidak ke depan, melainkan ke belakang. Sentuhan itu terasa naik turun, mengelus lembut pinggangku yang besar, tepat di atas area bokongku, semuanya dari luar gamis abu-abuku yang licin ini.

“Mmmh... Gila, Ukhti Zahra. Gamis ini bagus banget, pas banget di tubuh ukhti” bisiknya serak, napasnya memburu di telingaku.

Ia berhenti mengelus. Tangan kanannya kini menekan sedikit ke area pantatku. Aku bisa merasakan pantatku yang besar dan padat tercetak jelas di balik kain licin gamis itu.

“Aku sudah lihat dari belakang Ukhti pas jalan tadi. Pantat Ukhti ini gede banget, ya? Kenceng, padat… Masya Allah, aku enggak nyangka, Ukhti Zahra yang alim ternyata punya body sebagus ini.”

Pujian vulgar itu menghantamku seperti gelombang. Pantat. Bagian tubuh yang selama ini kuanggap sebagai aib dan kusembunyikan, kini menjadi objek pujian liar. Aku merasa hina, tetapi di saat yang sama, dadaku membusung karena pengakuan itu.

“Mmmhh…” Aku hanya bisa mendesah, tidak mampu menanggapi, terlalu tenggelam dalam gairah.

“Ukhti Sayang,” bisik Pak Hasan, suaranya kini terdengar memohon, tetapi penuh perintah. “Aku mau. Aku pengen banget, Ukh.”

Aku menelan ludah. Aku tahu maksudnya.

“Bapak boleh pegang pantat Ukhti? Cuma sebentar aja kok.. ya? Aku janji. Aku pengen rasain seberapa padat pantat Ukhti yang cantik ini.”

Permintaan itu begitu telanjang. Rasa takut kembali menyergap, tetapi hasrat liar yang memuncak menuntut pelepasan. Aku terdiam. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung di kursi.

Jika ini bisa menuntaskan hasratku, jika ini bisa membuatku merasa didamba untuk malam ini...

Aku menarik tanganku dari payudaraku, meletakkannya di pangkuan. Sebuah isyarat penyerahan diri yang total.

Aku hanya mengangguk pelan, anggukan yang hampir tak terlihat, sebuah pengakuan yang membebaskan namun memalukan.

“I-iya, Pak…” bisikku, suaraku nyaris tak terdengar. terasa seperti penyerahan diri total. Aku membiarkan Pak Hasan mengendalikan permainan ini.

“Terima kasih, Ukhti,” bisik Pak Hasan, nadanya penuh kemenangan. “Biar lebih enak, Ukhti coba hadap sana, membelakangi Bapak, Biar lebih leluasa.”

Aku menurut. Dengan gerakan kaku, aku memutar tubuhku, membelakangi Pak Hasan, menghadap ke dinding belakang warung. Posisi ini, di pojokan gelap, membuatku semakin merasa tersembunyi, sekaligus semakin terekspos di hadapan Pak Hasan.

Deg!

Seketika, tangan Pak Hasan mendarat di pantatku. Tangannya yang kasar dan hangat, langsung terasa di balik kain licin gamis abu-abuku. Ia tidak meremas, hanya mengelus perlahan, gerakannya naik turun di atas pantatku yang besar dan padat.

“Ahh…” rintihku, desahan lirih itu lolos tanpa bisa kutahan.

Elusan itu begitu intim, begitu nyata, jauh lebih memuaskan daripada sentuhan tanganku sendiri atau gagang kuas tadi. Aku mencengkeram tepi kursi plastik itu erat-erat.

“Ahh… Bagus banget pantat Ukhti,” bisiknya, suaranya serak, penuh kekaguman. “Pinggul Ukhti juga ramping. Bagus banget tubuhnya kalo dilihat dari belakang gini..”

Ia menekan sedikit telapak tangannya.

“Mmmhh… Ahhh…” Desahanku semakin keras, suaraku parau.

“Iya, Ukhti. Apalagi gamis Ukhti juga lebih ketat dari biasanya, ya?” godanya, nadanya semakin berani. “Bapak jadi lebih jelas ngerasainnya.”

Pak Hasan terus mengelus pantatku. Sentuhan itu memicu gelombang panas ke seluruh tubuhku. Aku memejamkan mata, melengkungkan punggung, membiarkan hasrat liar itu memuncak. Vaginaku terasa banjir, celana dalamku terasa basah dan lengket.

Tiba-tiba, suara asing memecah keheningan.

“Pakk, nasi goreng!”

Aku terkesiap, seluruh tubuhku menegang. Jantungku serasa mau copot.

Pak Hasan juga kaget. Tangan di pantatku seketika terlepas.

Bersambungg...


 

Read More

𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟖 𝐀𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐈𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐝𝐚 𝐏𝐚𝐤 𝐁𝐚𝐲𝐮

Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa takut, tetapi gairah untuk melakukan hal terlarang jauh lebih besar. Setelah shalat Subuh, aku menghabiskan waktu dengan merias diri, sesuatu yang jarang kulakukan. Bedak tipis, lipstik warna natural di balik cadar, dan eyeliner yang membuat mata indahku terlihat lebih tajam dan memikat.

Sore hari, Saat tiba waktunya mengajar di TPQ, aku mengenakan gamis abu-abu baruku. Gamis itu terasa dingin, licin, dan membalut tubuhku dengan sempurna. Payudaraku terasa padat dan menonjol, membuatku sadar akan setiap langkah yang kuambil.

Aku juga mengenakan jilbab lebarku, tetapi kali ini, aku sengaja menyampirkannya sedikit ke belakang, agar siluet lekukan dada dan payudaraku sedikit lebih terlihat.

Aku meninggalkan rumah. Aku berjalan dengan langkah yang lebih percaya diri. Setiap gesekan kain gamis di tubuhku memicu sensasi aneh.

TPQ itu berada di pinggir komplek perumahan elit, tidak jauh dari pos security. Saat aku berjalan melewati pos, aku melihat Pak Rahmat sedang bertugas.

Deg!

Melihat Pak Rahmat membuatku teringat akan penis tegangnya semalam. Rasa malu itu masih ada, tetapi rasa menang karena kehadiranku bisa membuatnya ngaceng juga ikut membuncah.

Pak Rahmat, yang tadi sibuk mengutak-atik ponselnya, mendongak. Matanya langsung tertuju padaku. Tatapannya berbeda dari biasanya. Dia menatapku dari kepala hingga kaki, seolah menelanjangiku di balik gamis baruku. Matanya menyipit, bibirnya menyunggingkan senyum yang penuh arti.

Aku tidak menyapanya. Aku hanya berjalan melewatinya dengan langkah anggun. Aku merasakan gamis licinku yang mencetak payudaraku dan pinggulku seolah berteriak.

"Assalamualaikum, Ukhti Zahra," sapa Pak Rahmat, suaranya serak, nadanya sedikit menggoda.

Aku membalas salamnya singkat tanpa berhenti, "Wa’alaikumsalam, Pak," jawabku, suaraku kuusahakan tetap tenang.

Aku tidak menoleh ke belakang, tetapi aku tahu, Pak Rahmat pasti sedang menatap punggungku dan pantatku yang tercetak jelas oleh gamis abu-abu ini. Aku menyeringai di balik cadar. Aku mendapatkan pengakuan liar pertamaku hari ini, dan itu membuatku merasa berkuasa.

Sekitar jam empat, kegiatan mengaji di TPQ selesai. Aku berdiri di depan pintu, mengawasi murid-muridku dijemput.

Aku berdiri tegak. Gamis abu-abu ini terasa memeluk tubuhku. Aku membiarkan cahayanya yang lembut menerangi sedikit lekuk tubuhku. Aku merasakan tatapan orang tua murid yang menjemput anak-anak mereka. Biasanya, mereka melihatku sebagai Ustadzah yang dihormati, kini, tatapan mereka terasa sedikit lebih lama.

Semua murid telah bubar, kecuali satu. Aisyah, dan bapaknya, Pak Bayu.

Pak Bayu berjalan mendekat ke arahku. Ia mengenakan kemeja yang sama seperti kemarin, kemeja yang lagi-lagi memperlihatkan urat kekar di lengannya.

“Assalamualaikum, Ukhti Zahra,” sapa Pak Bayu, suaranya dalam dan ramah, tulus seperti biasa.

“Wa’alaikumsalam, Pak Bayu,” jawabku, suaraku kuusahakan selembut mungkin, tetapi ada getaran yang tidak bisa kusembunyikan.

"Terima kasih sudah mengajar Aisyah hari ini, Ukhti. Maaf merepotkan," katanya.

"Sama-sama, Pak. Itu sudah kewajiban saya. Aisyah hari ini sudah bagus hafalannya," kataku.

Aku berdiri di depannya. Aku sengaja tidak menjaga jarak terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Cukup dekat untuk membuat ia melihat perbedaan pada diriku.

Pak Bayu mengangguk, senyumnya tulus. Namun, kali ini, senyum itu perlahan memudar. Matanya, yang biasanya hanya menatap mataku, kini turun.

Matanya terfokus pada gamis abu-abuku. Lebih tepatnya, pada siluet payudaraku yang besar yang tercetak jelas di balik kain licin itu. Aku bisa merasakan tatapannya menelanjangiku, meskipun ia mencoba menyembunyikannya. Pemandangan ini jauh lebih nyata dan membuatku merasa deg-deg an daripada sentuhan Pak Hasan atau erangan Pak Rahmat.

Jantungku berdebar kencang. Ia melihatku! Tatapannya tidak lagi tulus, melainkan bercampur dengan hasrat yang tersembunyi.

Pak Bayu segera mengalihkan pandangan, wajahnya sedikit memerah. Ia berdeham, mencoba menguasai dirinya. Ia mencondongkan tubuhnya, sedikit ke arahku.

“Ukhti… gamisnya… bagus sekali,” bisiknya, suaranya serak, bukan lagi karena keramahan, melainkan karena getaran hasrat yang tertahan. “Warnanya bagus.”

Aku menelan ludah. Pujian itu, meskipun terdengar sopan, terasa sangat vulgar. Ia tidak memuji gamisku, ia memuji apa yang dicetak gamis itu.

Aku tersenyum lembut di balik cadar. “Alhamdulillah, Pak. Ini gamis baru.”

Pak Bayu kembali mengangguk, matanya kembali turun sejenak, lalu cepat-cepat kembali menatap mataku.

“Ukhti… emm… kelihatan… ya… lebih… segar hari ini,” katanya, mencoba mencari kata-kata yang aman, tetapi kegugupannya begitu kentara.

Dia gagal menjaga pandangan. Yess Aku menang.

“Terima kasih, Pak Bayu,” jawabku, suaraku penuh kemenangan.

Pak Bayu segera berbalik, seolah takut akan dirinya sendiri. Ia menarik tangan Aisyah. “Kami permisi dulu, Ukhti. Assalamu’alaikum.”

Aku hanya bisa tersenyum. "Wa’alaikumsalam, Pak Bayu."

Aku menatap punggungnya yang tegap menjauh. Aku tahu. Aku tidak perlu menjadi Ukhti liar di Toktok. Aku hanya perlu membuat diriku sedikit menggoda, dan pria-pria di dunia nyata akan mendambaku, seperti Pak Bayu.

Sensasi damba itu kini terasa nyata, Aku berhasil. Aku telah membuat Pak Bayu, pria yang selama ini kusukai dan begitu menjaga dirinya, melanggar pandangannya.

Ini belum berakhir. Aku akan membuat Pak Bayu lebih liar lagi. Aku akan menjadi wanita yang di inginkan.

Aku pulang dan masuk ke dalam rumah kontrakan, menutup pintu, dan langsung merebahkan diri di kamar. Gamis abu-abu yang kupakai terasa licin dan dingin, tetapi tubuhku terasa panas. Aku masih bisa merasakan getaran dari tatapan Pak Bayu yang gagal menjaga pandangan. Aku telah menciptakan celah pada tembok yang kubangun sendiri.

Sensasi damba itu begitu kuat, begitu nyata, hingga membuatku melupakan kehinaan yang kurasakan semalam waktu bersama pak hasan dan pak rahmat. Aku telah membuat Pak Bayu terpengaruh oleh ke seksian tubuhku. Kemenangan ini memabukkan.

Setelah shalat Maghrib dan Isya, bukannya rasa tenang yang kudapatkan, hasrat itu malah semakin membuncah. Aku berusaha mencari kajian di Toktok, mencoba mengisi jiwaku dengan kesucian. Aku merebahkan diri di sofa yang sunyi , mulai nge-scroll aplikasi itu.

Awalnya, aku melihat live streaming kajian-kajian Islami. Aku mencari ketenangan yang kudapatkan setelah shalat tadi. Aku mencoba fokus, tetapi bayangan wajah Pak Bayu yang memerah dan tatapan liar Pak Rahmat terus mengganggu.

Tiba-tiba, saat aku men-scroll ke bawah, mataku menangkap sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih vulgar dari Ukhti bercadar liar yang kulihat kemarin. Layar ponselku menampilkan seorang wanita yang mengenakan pakaian yang sangat minim, hanya memakai tanktop, dengan bra-nya sedikit terlihat. Wajahnya penuh senyum genit, dan ia berbicara dengan nada manja kepada para penonton.

Aku merasa jijik, tetapi anehnya, aku tidak bisa mengalihkan pandangan. Aku terpaku. Wanita itu, dengan payudara yang besar dan padat, terlihat sangat percaya diri dengan pakaian terbukanya.

Kolom komentar dipenuhi oleh pujian vulgar dan gift yang berdatangan. Setiap kali ada gift yang besar, seperti Singa atau Paus, hadiah mahal yang kukenal dari live streaming Ukhti kemarin, wanita itu akan tertawa genit dan mulai menggoyangkan payudaranya yang besar dengan gerakan sensual.

"Aduh, terima kasih banyak, Ko Budi! Kamu memang yang terbaik!" serunya dengan suara parau, sambil menggoyangkan payudaranya sendiri.

Pemandangan itu begitu telanjang, begitu liar. Nafsu yang selama ini terpendam, yang baru saja kupercikkan pada Pak Bayu, kini meledak tak terkendali.

Aku mematikan suara ponselku, tetapi mataku tidak bisa lepas dari gerakan liar wanita itu. Aku menyaksikan bagaimana pria-pria di kolom komentar memuja dan mendamba, dan bagaimana wanita itu memanen hadiah.

Aku tidak butuh uangnya. Tetapi aku butuh sensasi yang ia berikan. Sensasi liar, pengakuan total atas kecantikan dan tubuh indahku.

Aku merasakan payudaraku sendiri mulai berdenyut di balik gamis. Tanganku bergerak refleks, menyelipkan ke balik kain. Jari-jariku yang gemetar menyentuh payudaraku yang besar dan padat.

Tekanan lembut pada payudara sendiri, sambil menyaksikan kebiadaban di layar, mengirimkan gelombang panas ke seluruh tubuhku. Aku mulai meremas, lebih kuat dari yang kulakukan di warung nasi goreng Pak Hasan. Aku ingin menirukan gerakan si host live itu, aku manggoyangkan dadaku ke kanan dank e kiri, aku ingin merasakan sensasi damba yang sama.

“Mmmhh... Ahhh...” rintihan lirih lolos dari bibirku, meskipun aku sudah berusaha keras menahan suara.

Aku semakin bernafsu. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung di sofa. Semua yang suci, semua rencana untuk menjadi Ustadzah Kajian Online, semua itu runtuh di hadapan hasrat yang membara ini.

Aku tahu ini salah. Ini adalah dosa besar.

Aku tidak tahan lagi. Nafsu ini begitu tinggi. Aku ingin meredakannya, ingin menghentikannya. Aku butuh pelampiasan, tetapi aku takut sendirian. Aku takut akan kembali terjerumus pada perbuatan liar seperti di warung nasi goreng atau pos security.

Aku ingin suci, tetapi aku ingin didamba.

Apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan hasrat nafsuku ini?

Tubuhku berkata, Sentuhan! Aku harus menemukan cara untuk meredakan hasrat ini, untuk menemukan pelampiasan yang terlarang namun memuaskan, tanpa harus mengundang pria lain ke dalam rumahku atau diriku lagi.

Aku menekan payudaraku lebih kuat, meremas putingku hingga menegang. Desahan parau lolos dari bibirku.

Aku butuh udara. Aku butuh kendali.

Aku bangkit, berjalan ke kamar mandi, membuka semua pakaianku, lalu membuka pancuran air dingin. Air dingin menghantam tubuhku, tetapi api hasrat ini tidak kunjung padam.

Aku keluar dari kamar mandi, tubuhku basah, terbungkus handuk. Aku berjalan ke cermin. Aku membuka handukku yang menutupi tubuhku, Aku menatap tubuhku yang terekspos. Payudaraku yang besar, pinggulku yang bagus, wajahku yang cantik dan hidung mancung. Inilah sumber dosa dan gairahku.

Aku harus mengunci hasrat ini. Aku harus meredakannya.

Aku mengambil handphone ku, mencari nomor telepon temanku yang dulu sering mengajakku keluar. Tidak. Aku tidak mau ganggu.

Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah benda di meja rias: sebuah kuas makeup dengan gagang plastik yang panjang dan ramping.

Sebuah ide gila, sebuah pelampiasan yang kotor, melintas di benakku.

Jika aku tidak bisa mendapatkan sentuhan pria, aku akan menyentuh diriku sendiri.

Aku tidak tahan lagi. Aku harus mengunci hasrat ini.

Aku segera mematikan ponselku. Aku berjalan ke kasur. Aku hanya ingin memuaskan hasrat ini sendirian.

Aku meraba-raba area vaginaku, yang sudah terasa gatal dan basah sejak tadi. Aku menggerakkan tanganku. Aku membayangkan bukan tanganku, tetapi tangan Pak Bayu yang berurat kekar, atau tangan Pak Hasan yang kasar.

“Ahh… Mmmhh…” rintihku, memejamkan mata. Aku sepenuhnya hanyut, berusaha keras meredakan gejolak nafsu yang memuncak. Aku hanya ingin damai.

Aku telah menemukan cara untuk menghilangkan hasrat nafsuku: dengan melampiaskannya, sendirian.

Aku kembali meraih handphoneku. Aku tahu ini adalah langkah yang salah, tetapi aku butuh dorongan, butuh visualisasi, butuh pembenaran atas kegilaanku. Aku mencari akun host live yang berpakaian minim tadi. Aku scroll, scroll, dan terus scroll.

Aku tidak menemukannya. Namun, mataku menangkap live streaming lain yang jauh lebih berani, bahkan lebih aneh. Seorang wanita muda, wajahnya dirias tebal, mengenakan kostum Spiderman yang sangat ketat, mencetak seluruh lekuk tubuhnya yang sintal. Ia tertawa, berjoget, dan merespons komentar genit para pria.

Dan yang membuatku terkesiap, di tangan kanannya, ia memegang sebuah benda.

Benda itu terbuat dari silikon atau plastik tebal, berbentuk panjang, berurat, dan berwarna kulit. Itu adalah benda yang didesain agar mirip sekali dengan kemaluan pria. Aku yakin. Benda itu mirip sekali dengan penis Pak Rahmat yang kulihat semalam, tegang, membesar, dan sangat nyata. Hanya saja, benda di tangan wanita itu terlihat jauh lebih besar.

Ahh! Aku terkesiap, napasku tertahan.

Melihat visualisasi yang begitu vulgar, begitu nyata, langsung menghantamku. Rasa malu itu hilang ditelan gairah yang memuncak. Aku terangsang hebat.

Tanganku yang tadi sempat terdiam, kini bergerak liar. Aku mencengkeram payudaraku yang besar dan padat. Remasanku brutal, mencoba meniru setiap desahan yang keluar dari bibir wanita berkostum Spiderman itu.

Aku menyentuh area vaginaku. Jari-jariku yang gemetar mengelus vaginaku dari luar gamis yang kurasakan kini sudah sangat basah. Gesekan itu memicu desahan tertahan, tetapi itu tidak cukup. Aku butuh sentuhan yang lebih dalam, yang lebih menuntut.

Mataku kembali melirik ke meja rias. Di sana tergeletak sebuah benda yang tadi kulihat: gagang kuas makeup plastik yang panjang dan ramping.

Aku segera meraihnya. Bentuknya yang panjang mengingatkanku pada penis. Ya, pada penis Pak Rahmat. Aku tahu gagang kuas ini sedikit lebih kecil, lebih halus, tetapi di dalam imajinasiku, itu adalah dia. Itu adalah penis pak rahmat.

Aku memegangnya. Aku memejamkan mata. Sambil meremas payudaraku dengan tangan kiriku, aku mulai menggerakkan gagang kuas itu di area pangkal pahaku, menekan dan menggesek-geseknya di atas vaginaku yang basah dan berdenyut di balik kain gamis.

"Ahhh... Pak Rahmat... Lebih dalam..." rintihku, memanggil nama yang seharusnya kubenci.

Sensasi itu begitu kuat, begitu terlarang. Aku tidak peduli lagi. Aku ingin hasrat ini tuntas.

Aku meningkatkan ritme remasanku pada payudara. Aku menggesekkan gagang kuas itu lebih cepat. Aku melengkungkan tubuhku, membiarkan kenikmatan itu menguasai. Aku mencoba keras mencapai batas, mencoba keras meredakan gejolak nafsu ini.

Tetapi, meskipun aku sudah mencoba melampiaskannya, nafsu ini tak kunjung tuntas. Justru, sentuhan halus dari gagang kuas ini membuatku sadar akan satu hal: Aku butuh sentuhan yang nyata, dari kulit, dari seorang pria.

Aku membuka mata, napasku memburu. Air mata mengalir di pipiku, bukan karena penyesalan, tetapi karena frustrasi. Aku merasa terpenjara dalam hasratku sendiri.

Aku butuh pelampiasan nyata.

Aku bingung. Aku berdiri, mondar-mandir di kamar.

Ke mana aku harus pergi?

Apakah aku harus ke Warung Nasi Goreng Pak Hasan? Di sana, aku mendapatkan sentuhan fisik. Dia mengelus paha dan pinggulku. Dia menyingkap jilbabku dan melihat besarnya payudaraku. Dia membenarkan perbuatanku. Dia menawarkanku kenyamanan dan kepuasan.

Atau, apakah aku harus ke Pos Satpam Pak Rahmat? Dia menunjukkan hasratnya yang paling telanjang di hadapanku. Dia mengacungkan kemaluannya. Dia berbicara kotor tentang tubuhku. Dia melihatku sebagai wanita liar yang ingin dia setubuhi. Aku ingin kembali melihat tonjolan itu, ingin kembali mendengar erangan cabulnya.

Aku tidak butuh uang, aku butuh pengakuan liar, sentuhan terlarang, dan sensasi damba yang hanya bisa diberikan oleh salah satu dari mereka.

Aku menelan ludah. Jantungku berdebar kencang, memilih di antara dua pria yang telah meruntuhkan kesucianku.

Pikiranku sudah bulat. Aku ingin melihat penis lagi. Aku ingin ke Pos Satpam Pak Rahmat sekarang juga. Sensasi melihat tonjolan nyata itu, mendengar erangan cabulnya yang memanggil namaku, terasa lebih mendominasi daripada sentuhan Pak Hasan. Aku butuh pengakuan liar, dan Rahmat adalah orang yang paling berani memberikannya.

Aku melihat jam di dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Waktu yang sempurna. Aku segera bergerak.

Bersambungg...


 

Read More

𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟕 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐖𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐢𝐝𝐚𝐦𝐛𝐚 𝐃𝐢 𝐋𝐢𝐯𝐞 𝐒𝐭𝐫𝐞𝐚𝐦𝐢𝐧𝐠

Keesokan harinya, aku bangun pagi hari. Setelah malam yang penuh gejolak dan kehancuran batin, aku memaksa diriku kembali pada rutinitas yang teratur, mencoba membangun kembali benteng kesucian yang hampir runtuh.

Seperti biasa, aku shalat Subuh. Suara lirihku melantunkan ayat-ayat suci, namun kali ini terasa berbeda. Di setiap rakaat, aku merasakan beratnya dosa yang kubawa. Aku berusaha keras agar ibadah ini bisa sedikit menghapus bayangan Pak Rahmat dan sentuhan Pak Hasan.

Selesai shalat, aku segera membersihkan rumah kontrakanku yang sederhana namun cukup bagus, berusaha mengalihkan pikiranku dari kehancuran semalam. Aku menyapu lantai, merapikan sofa di ruang tamu yang sunyi.

Lalu, aku menuju dapur untuk masak dengan bahan-bahan yang ada di kulkasku. Keseharianku memang sangat monoton dan teratur , dan aku sangat jarang keluar rumah. Aku berusaha keras untuk kembali ke rutinitas ini, berharap kesibukan ini bisa membungkam suara hasrat yang masih berbisik di dalam diriku.

Pukul sembilan pagi, setelah menyelesaikan semua rutinitas rumah yang dingin, aku duduk di depan meja rias. Aku telah membuka aplikasi Toktok, bukan sebagai penonton pasif, tetapi sebagai Ustadzah Zahra. Sebuah tripod kecil aku dirikan, memastikan hanya bagian atas tubuh dan wajah ber-cadarku yang tertangkap kamera, sesuai dengan niat awalku, menyebarkan kebaikan, mengumpulkan pengakuan yang murni, dan secara licik membungkam suara hasrat yang masih mendengung setelah perbuatan cabul semalam.

Aku menarik napas panjang. Jemariku yang halus, tertutup kain gamis longgar, menekan tombol LIVE.

"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapaku dengan suara yang kuusahakan selembut dan setenang mungkin, meskipun jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang kurasakan, antara ketakutan dilihat dan harapan untuk benar-benar dilihat.

Topik pertamaku kubuat se aman mungkin: "Menjaga Izzah dan Iffah: Etika Berpakaian dalam Timbangan Syariat." Ironi yang menusuk. Aku membahas keutamaan jilbab dan cadar, keharusan menjaga pandangan, dan pentingnya pakaian longgar agar tidak menampakkan lekuk tubuh, sementara aku teringat betapa lekukan tubuhku sendirilah yang hampir menjerumuskanku pada perbuatan nista di warung nasi goreng dan pos satpam.

Penonton yang masuk hanya sedikit. Sepuluh, kemudian lima belas, lalu turun lagi menjadi dua belas. Komentar yang muncul adalah:

Barakallah, Ukhti.

Jazakillah khair.

Semoga istiqomah.

Semua komentar itu sopan, alim, dan penuh hormat. Itu adalah pengakuan yang seharusnya aku cari. Namun, di sudut hatiku yang paling gelap, aku diam-diam kecewa. Tidak ada satu pun komentar yang liar, tidak ada pujian cabul, tidak ada yang berani memintaku melakukan gerakan sensual, apalagi mengirim Singa atau Paus seperti yang Akun Bims lakukan pada Ukhti nakal itu.

"Ini murni dan berkah," bisik akal sehatku, berusaha menenangkan. "Ini membosankan sekali," sahut suara hasratku yang licik. "Mereka melihatmu sebagai patung suci, bukan wanita yang didamba."

Akhirnya, dengan alasan keterbatasan waktu, aku mengakhiri siaran langsung itu hanya setelah lima belas menit.

“Baik, karena keterbatasan waktu, kita sudahi dulu kajian hari ini. Semoga Allah memberkahi ilmu yang kita dapatkan. Wallahu a’lam bishshawab. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Aku menutup aplikasi. Ruangan kembali sunyi. Tidak ada gejolak hasrat liar, juga tidak ada euforia kemenangan. Itu hanya rutinitas baru. aku hanya merasa... tenang.

“Aku akan menjadi Ustadzah,” bisikku pada diriku sendiri. Sebuah komitmen yang terasa seperti pelarian.

Di sisi lain Aku merasa hampa. Usahaku kembali ke jalan yang benar terasa seperti kegagalan, karena niatku ternyata tidak seputih yang kuira. Aku kembali ke rutinitas rumah, mencuci piring, menyiram tanaman hias di teras, berusaha keras menyibukkan diri agar tidak lagi teringat bayangan penis Pak Rahmat dan sentuhan Pak Hasan.

Sore menjelang, udara di kompleks perumahan elit terasa hangat dan berdebu. Aku memutuskan untuk menyapu halaman depan, memastikan tidak ada daun kering yang mengotori teras rumah kontrakanku yang tampak asri.

Dengan sapu lidi di tangan, aku berdiri di balik pagar rumah, tetap mengenakan gamis dan cadar, bergerak perlahan. Aku adalah pemandangan yang biasa di sana: Ukhti Syar'i yang selalu tampak tenang dan khusyuk. Beberapa warga yang lewat menyapaku, dan aku membalasnya dengan anggukan sopan.

"Assalamualaikum, Ukhti Zahra, Apa kabar.." sapa Bu Ratih, tetangga di seberang jalan. "Waalaikumussalam, Bu. Alhamdulillah, sehat," jawabku singkat.

Sensasi pengakuan yang aku dapatkan saat ini adalah pengakuan hormat. Mereka memuji kesucianku. Namun, di dalam hati, aku merindukan pengakuan yang berbeda, pengakuan yang liar pengakuan yang kudapatkan dari mata Pak Hasan dan Pak Rahmat.

Tiba-tiba, suara mesin sepeda motor memecah ketenangan. Aku mengangkat kepala, dan jantungku langsung berdegup. Sepeda motor sport berwarna gelap melaju perlahan, kemudian berhenti tepat di depan pagar rumahku.

Itu Pak Bayu.

Dia adalah ayah dari murid mengajiku. Pria mapan, tampan, dan sopan. Pria yang, beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja telah menyalakan api hasratku hanya dengan memperlihatkan urat-urat lengannya yang tegang.

Pak Bayu mematikan mesin motornya. Senyumnya ramah, sempurna, tanpa celah, berbeda jauh dengan seringai cabul Pak Hasan atau Pak Rahmat.

“Assalamualaikum, Ukhti Zahra,” sapanya, suaranya yang dalam namun ramah itu kembali memicu sedikit debaran aneh di dada Zahra.

“Wa’alaikumsalam, Pak Bayu. Baru pulang kerja, Pak?” tanya Zahra, berusaha mengendalikan suaranya agar tetap lembut.

"Iya, Ukhti. Baru saja. Kebetulan lewat sini, mumpung Ukhti ada di depan, saya mau tanya sedikit tentang perkembangan Aisyah," ujar Pak Bayu, matanya yang teduh menatapku dengan tulus. Pria ini memang selalu menjaga jarak, selalu bersikap sopan, dan tidak pernah sedikit pun menunjukkan nada genit. "Gimana, Ukh? Sejak diajar Ukhti, Aisyah jadi semakin rajin shalat sekarang."

Aku menjelaskan dengan sabar, seperti biasa, fokus pada kebaikan muridku, berusaha menenangkan diriku sendiri.

"Alhamdulillah, Pak. Aisyah anak yang cerdas dan penurut. Sedikit demi sedikit sudah mulai hafal surat-surat pendek. Tinggal ditingkatkan lagi istiqomahnya," jelasku, membalas senyumnya dari balik cadar.

"Masya Allah, terima kasih banyak, Ukhti. Saya bersyukur sekali anak saya bisa diajar oleh Ukhti," puji Pak Bayu, senyumnya semakin tulus.

Pujian itu kembali terasa menenangkan. Pujian yang murni, yang seharusnya aku hargai. Namun, kali ini, pandanganku tidak bisa lepas dari pemandangan di depanku. Pak Bayu berdiri dengan tangan bertumpu pada jok motor, membuat lengan kemejanya tertarik ke atas, dan sekali lagi, urat-urat kekar di lengan bawahnya terlihat begitu jelas dan nyata.

Deg.

Pemandangan itu begitu nyata, begitu maskulin, begitu hidup , membangkitkan kembali memori sentuhan, erangan, dan hasrat liar dari semalam, dari Pak Hasan dan Pak Rahmat. Tatapanku terpaku, menelusuri setiap lekuk otot yang menonjol di kulitnya yang bersih. Pria ini, yang begitu tulus dan menjaga kehormatannya , kini tanpa sadar menjadi pemicu nyata bagi nafsu yang ku kira sudah ku kubur dengan shalat Taubat.

Pak Bayu sepertinya menyadari tatapanku yang berbeda. Ia menoleh ke lengannya, lalu kembali menatapku, sedikit bingung.

"Ukhti Zahra… Kenapa? Ada kotoran di lengan saya, ya?" tanyanya, suaranya sedikit khawatir, tetapi tatapannya masih penuh kesopanan.

Aku tersentak. Wajahku terasa panas di balik cadar. Aku buru-buru menunduk, mencengkeram erat gagang sapu di tanganku.

"Emm, tidak, Pak," jawabku, suaraku sedikit bergetar, berusaha menenangkan detak jantungku yang kembali memburu. "Hanya… saya lihat jam di motor Bapak. Maaf, Pak. Sudah sore, Bapak harus segera pulang dan istirahat," aku berbohong, berusaha mengalihkan perhatian, padahal aku ingin beristighfar dalam hati untuk mengusir iblis yang baru saja terbangun karena otot di lengannya.

Pak Bayu tersenyum lembut. "Oh, iya, Ukhti. Kalau begitu, saya pamit dulu. Ukhti juga jangan lupa istirahat ya. Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumsalam, Pak," jawabku, suaraku lirih.

Aku berdiri kaku di depan gerbang, menatap punggung Pak Bayu yang kokoh hingga motornya menghilang di tikungan. Punggung yang seharusnya kulihat sebagai ayah dari muridku, kini kulihat sebagai objek hasrat liar yang sempurna. Pria santun yang dihormati ini, justru jauh lebih mematikan bagi kehormatanku daripada rayuan pak Rahmat. Padahal Pak Bayu sudah punya istri dirumah, tapi entah kenapa aura nya sangat membuatku ingin dekat dengan nya dan menggodanya.

Rasa malu yang begitu besar kembali menghantam. Nafsu itu tidak mati, ia hanya tertidur. Dan Pak Bayu, dengan kesucian dan ketulusannya, adalah racun yang paling mematikan bagiku.

Aku menutup pintu rumah rapat-rapat, bersandar di baliknya, dan memejamkan mata. Napasku memburu, jantungku berdebar tak karuan. Bau maskulin dari aftershave Pak Bayu seolah masih tertinggal di udara.

"Aku tidak bisa jadi Ustadzah yang mengisi kajian online," bisikku, suaraku parau, penuh keputusasaan. Rencana membuat kajian di Toktok terasa begitu hampa.

"Aku... ingin dia."

Rencana suci yang kubuat semalam kini terasa konyol. Aku mencoba kembali ke jalan yang benar, tetapi Pak Bayu, dengan ketulusan dan ketampanannya yang tersembunyi di balik kesopanan, menarikku kembali ke jurang hasrat.

Aku berjalan terhuyung ke kamar, langsung menuju cermin. Aku menatap pantulan diriku. Di balik gamis longgar ini, aku tahu aku menarik. Payudaraku besar, pinggulku bagus, dan kulitku putih mulus. Inilah yang membuat Pak Rahmat ngaceng. Inilah yang membuat Pak Hasan menyingkap jilbabku. Dan inilah yang, secara tak langsung, membuatku menginginkan sentuhan nyata dari seorang pria.

Aku mencengkeram payudaraku sendiri dari luar gamis. Sensasi itu, yang baru kutemukan semalam bersama Pak Hasan, langsung menjalar. Hangat. Terlarang. Enak.

Aku tidak butuh pujian vulgar dari live streaming lagi. Aku tidak butuh gift Paus dari Bims. Aku butuh pengakuan yang nyata, dari pria yang nyata, yang kuinginkan. Dan pria itu adalah Pak Bayu.

Dia melihatku sebagai guru ngaji , sebagai teladan bagi anaknya. Dia menghormatiku , tapi tidak pernah mendambaku.

Aku harus membuat Pak Bayu mendambaku.

Aku menjatuhkan diri di kasur, mengambil ponsel. Aku tidak membuka Toktok untuk mencari kajian agama, tetapi mencari akun Ukhti liar itu lagi. Aku perlu tontonan itu, aku butuh cara untuk membenarkan kegilaanku, dan aku butuh inspirasi.

Aku memutar ulang rekaman live streaming Ukhti bercadar itu. Dia sedang menggoyangkan pinggulnya dengan sensual di balik gamis ketat.

Gamis ketat.

Kata-kata itu berputar di kepalaku. Gamisku yang sekarang terlalu longgar. Aku harus mengubah citraku, sedikit. Aku tidak bisa sepenuhnya melepas Syar'i-ku, tetapi aku bisa sedikit menggoda.

Aku bangkit, berjalan ke lemari pakaian. Di sana tergantung rapi koleksi gamis longgar dan jilbab lebar yang kubeli di toko-toko Muslimah terkemuka. Semuanya sempurna, semuanya menutupi.

Mataku tertuju pada sebuah gamis yang baru kubeli beberapa minggu lalu, warnanya abu-abu gelap. Saat kucoba di rumah, gamis itu terasa sedikit lebih... mencetak tubuhku daripada yang lain. Bahannya licin, sedikit lentur, dan potongan di bagian dada dan pinggul terasa lebih pas. Meskipun masih jauh dari ketatnya Ukhti di Toktok, gamis ini bisa menjadi langkah pertama.

Aku segera mengganti pakaianku. Gamis abu-abu itu terasa berbeda di kulitku. Ketika aku berjalan, kain itu berayun dan mencetak siluet payudaraku yang besar dan pinggulku yang bagus. Itu tidak vulgar, tetapi sangat... mengundang.

Aku berjalan ke cermin. Aku memutar tubuhku. Ya. Siluetnya terlihat jelas. Payudaraku menonjol, dan pinggulku tercetak. Ini adalah Ukhti Syar'i yang Berani. Ini adalah cara untuk mendapatkan pengakuan liar yang kucari, tanpa sepenuhnya melepas cadar dan jilbab. Aku ingin menjadi Ukhti yang yang diidam-idamkan para lelaki.

Aku mengambil cadarku. Besok, aku ada jadwal mengajar mengaji di TPQ di sekitar komplek rumah kontrakan. Pak Bayu pasti akan datang menjemput Aisyah.

Ini adalah kesempatanku.

Aku akan mengenakan gamis ini. Aku akan berjalan dengan percaya diri. Aku akan memastikan Pak Bayu melihatku, tidak hanya sebagai guru ngaji yang alim, tetapi sebagai wanita yang menarik, yang diidamkan, yang harus ia gapai. Tembok yang kubangun sendiri harus kuberi celah.

Aku memejamkan mata. Bayangan lengan kekar Pak Bayu kembali terlintas. Aku tersenyum. Senyum yang penuh rahasia, senyum yang tidak pernah ditunjukkan oleh Ukhti Zahra si guru ngaji.

"Besok, Pak Bayu," bisikku pada diriku sendiri. "Aku akan tunjukkan padamu."

Aku harus bersiap untuk penampilan pertamaku sebagai Ukhti Zahra yang Menggoda.

Bersambungg...


 

Read More

𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟔 𝐏𝐞𝐫𝐛𝐮𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐆𝐢𝐥𝐚 𝐒𝐞𝐜𝐮𝐫𝐢𝐭𝐲

Aku hanya bisa mengangguk pelan, anggukan yang hampir tak terlihat, sebuah pengakuan yang memalukan namun membebaskan.

Namun, akal sehatku yang tersisa segera berteriak. Aku segera menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

"Engg... enggak, Pak," ucapku, suaraku nyaris tak terdengar, berusaha menarik kembali pengakuan yang baru saja terlepas.

Pak Rahmat tersenyum. Senyumnya penuh pengertian, ia seperti tahu aku berbohong. Ia tahu, penolakanku hanyalah formalitas. Ia merespons dengan suara yang lebih serak dan dominan.

"Aku udah ngaceng banget nih, Ukhti..." bisiknya, menekan kata-kata itu. "Aku boleh gak nuntasin di sini sambil lihat Ukhti?"

"Nuntasin gimana, Pak?" tanyaku, suaraku sangat pelan. Meskipun aku tahu maksudnya, ada bagian diriku yang ingin memastikan, ingin mendengar pengakuan vulgar itu sekali lagi.

"Aku pengen coli sambil lihat Ukhti," jawabnya, tanpa basa-basi, suaranya mengandung gairah yang tebal.

"Gak mau, Pak. Aku malu," ujarku, rasa malu yang memuncak beradu dengan hasrat yang mendominasi.

"Ukhti cuma diam aja, kok. Gak perlu ngapa-ngapain," rayunya, nadanya membujuk, seolah meyakinkanku bahwa aku tetap suci meskipun menjadi saksi bisu perbuatan cabulnya.

Aku bingung harus mau apa tidak. Tubuhku berkata iya, tetapi otakku berteriak jangan. Aku hanya bisa diam terpaku, terjebak dalam pusaran antara gairah dan etika.

Tiba-tiba, Pak Rahmat bergerak. Ia berdiri. Aku mendengarnya menarik napas dalam-dalam. Aku bisa mendengar suara gesekan kain yang kasar. Ia membuka resleting celananya dan kemudian menurunkan celananya.

Deg!

Aku tersentak hebat, seluruh tubuhku menegang. Aku segera memalingkan badanku menghadap meja. Aku tak lagi menghadap ke Pak Rahmat yang ada di sampingku. Aku memunggungi dirinya.

Wajahku kututupi dengan tanganku dan kutundukkan ke meja, agar aku tidak melihat kegiatan Pak Rahmat yang cabul itu. Aku memejamkan mata erat-erat.

Dalam kepanikanku, aku tidak menyadari bahwa perbuatanku itu justru menarik kain gamisku. Tubuhku yang menunduk membuat gamisku tertarik ke atas, sehingga terlihat siluet lekuk tubuhku di kain gamisku, terlihat sangat jelas dari samping arah Pak Rahmat. Dan payudaraku yang besar juga tertekan oleh pojokan meja itu, membuat siluetnya terlihat jelas dari angle Pak Rahmat.

Tiba-tiba, Pak Rahmat mendesah, desahan yang berat dan tertahan.

"Ahhh... Ukhti Zahra..."

Aku merinding hebat. Aku tahu penisnya pasti sudah dia keluarkan. Suara desahan itu, yang memanggil namaku, terasa begitu nyata dan liar. Aku tidak berani melihat,

Sensasi ditonton oleh pria yang sedang melakukan perbuatan cabul, apalagi dia terangsang karena tubuhku, terasa begitu mematikan. Rasa malu dan hasrat itu kembali beradu, menciptakan sensasi yang tak tertahankan.

"Ahhh... Ukhti Zahra... Gila! Ukhti seksi banget kalau malu-malu begini," erang Pak Rahmat, suaranya serak dan memburu, terdengar sangat dekat di belakangku.

"Nenen Ukhti bikin aku makin gak tahan, Ukh! Gede, padat banget! Aku yakin, payudara Ukhti enak banget kalo dipegang Ahhh..!"

Pujian vulgar itu membuat seluruh tubuhku gemetar hebat. Payudaraku terasa berdenyut, seolah merespons erangan Rahmat. Rasa takutku perlahan mulai dikuasai oleh gairah aneh. Aku mencengkeram kepalaku dengan kedua tangan, berusaha keras untuk tidak melihat.

"Ahhh... Enak banget, Ukhti. Aku gak nyangka, di balik Ukhti yang alim ini, ada tubuh seksi begini," desahnya lagi. Aku masih gak nyadar bahwa dia bisa melihat siluet lekuk tubuhku yang nyeplak akibat gamisku ketarik karena tanganku keatas kepalaku untuk menutupi mata.

kini suaranya terdengar lebih kencang, disertai suara erangan yang lebih menjijikkan. "Bayangin, Ukh... Aku pengen banget ngentot Ukhti Zahra! Aku pengen rasain ketatnya Memek perawan Ukhti! Aku pengen Ukhti teriak di bawahku, bukannya malu-malu begini!"

Napas Rahmat terasa panas di telingaku. Kata-kata kotornya, yang selama ini hanya kutemukan di kolom komentar Toktok , kini menjadi kenyataan diucapkan di sampingku. Dan objeknya adalah aku sendiri , Aku merasa dihina, dicabuli, tetapi di saat yang sama, pengakuan vulgar itu begitu memuaskan hasrat liarku yang ingin diakui oleh lelaki.

"Ukhti," bisiknya, suaranya kembali serak, kini terdengar lebih tenang namun penuh perintah. "Buka mata Ukhti, dong. Lihat ini. Bapak pengen Ukhti lihat, seberapa besar tubuh Ukhti bikin Kontolku ngaceng. Aku mau Ukhti lihat sendiri, Ukhti cantik, Ukhti seksi, Ahhh..."

"Enggak, Pak. Aku gak mau," ucapku, suaraku parau, penuh penolakan yang rapuh. Aku ingin, tapi aku takut. Aku takut kehancuranku menjadi semakin nyata jika aku melihatnya.

"Gak usah takut Ukhti," katanya lembut, namun tangannya bergerak tiba-tiba. Tangan kasarnya meraih pergelangan tanganku yang menutupi kepalaku, menariknya perlahan. "Cuma sebentar. Aku cuma mau Ukhti tahu, aku gak bohong soal hasratku sama Ukhti."

Aku menolak, mencengkeram kepalaku lebih kuat. Tapi hasrat liar yang menggelegak, rasa ingin tahu yang tak tertahankan, dan kelelahan mental setelah seharian penuh gairah terlarang, membuat pertahananku runtuh.

Tangan kiriku yang memegang kepala perlahan terbuka sedikit. Aku menundukkan kepala lebih dalam ke meja, dan dari balik celah sempit di antara lenganku dan meja, aku mengintip ke arah Pak Rahmat.

Jantungku serasa berhenti berdetak.

Di hadapanku, di dalam pos security yang remang-remang itu, penis Rahmat yang tegang dan membesar berdiri tegak. Aku hanya bisa melihatnya sekilas, di antara bayangan celananya yang melorot sampai lutut. Itu adalah pemandangan paling cabul yang pernah kulihat, jauh lebih nyata dan mematikan daripada gambar atau video di ponselku.

ku perhatikan lagi penisnya yang sedang tegang sempurna, berurat, dan terlihat besar, sebuah pemandangan yang sangat nyata, sangat vulgar, dan sangat mengancam. Itu adalah pemandangan paling cabul yang pernah dilihat oleh mata Ukhti Zahra si guru ngaji.

Rahmat menyeringai. "Gimana, Ukhti? Gede, kan?" tanyanya, suaranya penuh kemenangan.

Aku tersentak, seluruh tubuhku menegang. Aku segera menutup mata lagi dan buru-buru menundukkan kepala, membiarkan tubuhku membeku dalam posisi memalukan itu. Aku telah melihatnya. Aku telah melewati batas terakhir.

Aku menarik tanganku kembali, tubuhku kaku. Aku telah melihatnya . Aku telah melewati batas terakhirku, dan kehinaan itu terasa nyata dan panas. Aku segera melompat berdiri, menarik bungkusan nasi gorengku , dan berlari tanpa menoleh. Aku bahkan tidak tahu apakah Rahmat sudah merapikan diri atau belum. Yang kupikirkan hanyalah melarikan diri dari apa yang baru saja ku lihat.

Langkah kakiku tergesa-gesa menyusuri jalanan kompleks yang sepi.

Sesampainya di kontrakan, aku membanting pintu. Bungkusan nasi gorengku terlepas dari tangan, tergeletak begitu saja di lantai. Aku tidak peduli. Aku langsung berlari ke kamar mandi.

Aku kotor. Kata-kata itu berputar di kepalaku.

Aku membuka cadarku, melempar jilbab lebarku, dan langsung berdiri di bawah pancuran. Air dingin menghantam tubuhku, namun tidak mampu memadamkan api rasa malu dan jijik yang membakar di dalam. Aku menyabuni tubuhku berkali-kali, menggosok kulitku hingga memerah, seolah ingin menghilangkan setiap jejak kata-kata kotor Rahmat, setiap desahan cabulnya, dan setiap pandangan matanya yang menelanjangiku.

Setelah mandi, aku berwudhu dan menggelar sajadah. Aku menunaikan shalat Taubat, sebuah ritual penyucian yang penuh keputusasaan. Aku bersujud lama, air mataku membanjiri sajadah.

"Ya Allah... aku kotor... aku berdosa besar..." bisikku, rintihanku pecah. Aku memohon ampun atas hasrat liar yang telah menghancurkan prinsip yang kupegang teguh menjaga kesucian hingga pernikahan.

Namun, di tengah ratapan itu, muncul suara kecil yang licik. Suara yang mengatakan, "Bukankah kau menyukainya?"

Aku menyelesaikan shalat dan berganti dengan baju tidurku, jiwaku terasa sedikit lebih nyaman. Aku berjalan ke cermin di kamarku. Aku menatap pantulan diriku, Hidung mancung, kulit putih mulus, dan payudara besar yang kini terlihat begitu penuh dan berdenyut di balik kaus tidurku.

Dulu, aku melihatnya sebagai anugerah yang harus dijaga rapat, hadiah untuk suamiku kelak. Sekarang, aku melihatnya sebagai kutukan, di umurku yang sudah 24 tahun justru nafsuku semakin menggebu gebu dan badanku sangat mendukung untuk di nakalin para lelaki jika mereka melihatnya tanpa gamis lebarku.

"Ini... ini yang mereka inginkan," bisikku, mencengkeram payudaraku sendiri, teringat sentuhan Pak Hasan dan erangan Pak Rahmat. "Ini yang membuat mereka berani."

Kebencian pada diri sendiri perlahan berubah menjadi pemikiran yang sakit. Jika tubuh ini adalah sumber dosa, kenapa aku tidak menggunakan dosa itu untuk membalaskan dendam atas kehinaan yang kualami? Aku membutuhkan kendali. Aku butuh pengakuan liar yang bukan datang dari hasrat tersembunyi, melainkan dari kekuasaan yang terang-terangan.

Aku merebahkan diri di kasur. Kuambil handphone-ku. Aku melihat video-video kajian. Aku membuka aplikasi Toktok dan beralih dari konten Ukhti liar.

Di layar, aku melihat seorang Ustadzah muda, berpenampilan rapi dengan jilbab yang menutup dada, sedang memberikan ceramah singkat. Ustadzah itu berbicara dengan suara yang lembut namun tegas, menjelaskan pentingnya menjaga hati dari bisikan setan. Ia mengutip ayat Al-Qur'an dan Hadits dengan fasih. Kolom komentar dipenuhi pujian dan ucapan terima kasih dari para penonton yang mengagumi ilmunya.

Aku sangat kagum dengan penceramahnya. Aku berpikir, ilmu agamaku juga cukup untuk memberikan kajian-kajian seperti ini. Aku juga sudah terbiasa mengajar mengaji di TPQ dan di rumah kontrakanku. Aku juga punya keinginan untuk dihormati, dikagumi, dan dilihat sebagai wanita yang alim dan pendiam.

Aku jadi ingin membuat kajian di Toktok. Sebuah ide lain muncul, ide yang terasa sangat suci. Jika aku bisa mendapatkan perhatian melalui ceramah agama, maka pengakuan itu akan terasa lebih murni dan menenangkan jiwaku yang hancur.

Besok aku berencana membuat kajian di Toktok. Aku akan memulai dengan topik ringan, mungkin tentang etika berpakaian atau keutamaan menjaga pandangan.

Keputusan itu, meskipun terlalu dini, tapi terasa menenangkan. Aku memejamkan mata, membiarkan rencana mulia itu mengusir bayangan cabul Pak Rahmat dan Pak Hasan. Aku akan kembali ke jalan yang benar. Aku akan menjadi Ukhti Syar'i yang sempurna yang tidak hanya dihormati di komplek, tetapi diakui secara luas di media sosial. Aku akan menjadi Ustadzah, tetapi aku juga tidak akan melupakan sensasi damba dari para lelaki.

Kemudian aku tidur.

Bersambungg...
Read More

𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟓 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐂𝐨𝐥𝐢 𝐃𝐢 𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐏𝐨𝐬 𝐒𝐞𝐜𝐮𝐫𝐢𝐭𝐲

Matanya menatap lekat payudaraku yang terekspos di bawah cahaya remang. Tangan kirinya yang tadinya memegang ujung jilbabku kini bergerak, dengan lembut namun tegas, menyampirkan jilbab lebarku ke pundakku. Kain itu kini hanya menutupi sebagian kecil dadaku dan kepalaku, sementara tangan kananku yang masih meremas payudaraku terlihat semakin jelas dibalik gamisku. Aku kini terasa setengah terbuka di hadapannya.

"Nah, begitu, Ukhti Zahra," bisiknya, suaranya serak dan penuh kekaguman. "Jangan disembunyikan. Pemandangan ini terlalu indah untuk ditutup. Payudara Ukhti ini adalah anugerah yang harus dilihat lelaki, jangan disembunyikan dibalik jilbab lebar kamu."

Tangannya, yang tadi sempat berhenti, kini kembali bergerak. Ia mengelus lembut pahaku, gerakannya naik turun di atas gamis.

"Sekarang, Sayang," lanjutnya, suaranya kini semakin memabukkan. "Lanjutkan yang tadi. Aku suka melihat tangan Ukhti meremas payudara sendiri. Lakukan lagi, ya? Biar Pak Hasan tahu, Ukhti benar-benar suka kegiatan ini."

Aku menelan ludah, tubuhku gemetar. Aku tahu, penolakan hanyalah formalitas. Ia telah meruntuhkan semua tembokku, dan ia tahu aku menginginkan ini. Aku menatap matanya, yang kini memancarkan gairah yang membara.

Aku mengangguk pelan, sebuah penyerahan diri yang tak terhindarkan. Aku kembali memejamkan mata, dan mencengkeram payudaraku lebih kuat.

"Ahh… Mmmhh… Pak… Ahh!" rintihku, desahan itu kini keluar dengan lebih bebas, tak lagi tertahan. Aku meliukkan tubuhku di kursi, mengikuti setiap tekanan yang kuberikan pada diriku sendiri.

Pak Hasan merespons setiap rintihanku. Tangan kirinya yang mengelus pahaku kini bergerak lebih dalam, tangan nya terasa semakin mendekati pangkal pahaku, di mana celana dalamku terasa semakin basah.

"Gila, Ukhti Zahra…!" erangnya, suaranya berat. "Terus, Sayang, remas lebih kencang! Aku mau lihat Ukhti keenakan sampai lupa diri. Aku janji, aku akan jaga rahasia ini. Aku akan jadi pelindung liarmu."

Aku memaju-mundurkan pinggulku sedikit, merespons sentuhan di paha dan payudaraku. "Ahh… Pak… enak banget… terus! Lebih cepat, Pak! Ahh!" Aku memohon, suara lirihku kini dipenuhi hasrat yang menggebu-gebu.

Pak Hasan Tangannya yang mengelus pahaku kini bergerak lebih agresif. Kali ini, Tangannya yang mengelus pahaku, sentuhannya semakin naik ke arah mendekati vaginaku dari luar gamis. Tangannya terasa hangat dan kasar, terasa begitu menelanjangi, membuatku menjerit tertahan.

"Aahh! Pak! Jangan!" rintihku, sebuah rintihan yang terdengar putus asa.

"Aku cuma mau lihat seberapa basah memek Ukhti," bisiknya serak, penuh kemenangan. Ia tahu aku sudah di ambang batas.

Aku hanya bisa mendesah, tak bisa lagi berkata-kata. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung, sepenuhnya menyerah pada kendali Pak Hasan. Di balik cadar, Ukhti Zahra si guru ngaji kini berubah menjadi wanita liar yang haus sentuhan.

Tiba-tiba, jari kasarnya menyentuh tepat di depan vaginaku dari luar gamis. Sentuhan yang tidak terduga itu membuatku tersentak kaget hebat. Tubuhku melompat sedikit dari kursi. Aku membuka mata, panik.

Saat itulah, pandanganku jatuh pada layar HP-ku yang tergeletak miring di kursi. Layarnya mati.

Sial! Rekamannya sudah selesai!

Seketika, otakku kembali normal. Rasa malu, rasa bersalah, dan akal sehatku menghantamku seperti ombak besar. Apa yang baru saja kulakukan? Aku baru saja berbuat zina di tempat umum, di hadapan seorang Pak Hasan! Diriku yang selama ini kujaga, hampir saja hancur karena nafsu sesaat.

Aku segera menarik tanganku yang masih tersembunyi di balik gamis dan menarik kakiku yang tadinya sedikit mengangkang. Aku melompat berdiri dari kursi plastik itu, merapikan gamisku dan jilbab lebarku dengan gerakan panik.

"Pak," ucapku, suaraku kembali kaku dan formal, penuh ketegasan yang dibuat-buat. "Berapa nasi gorengnya? Saya mau bayar."

Pak Hasan, yang terkejut karena aksiku terhenti mendadak, menatapku dengan mata penuh kekecewaan. Ia bangkit perlahan, wajahnya terlihat frustrasi karena kehilang an kendali atas diriku.

"Ehh… Rp15.000, Ukhti," jawabnya serak, melirik ke bungkusan nasi goreng di meja yang masih utuh.

Aku segera mengeluarkan uang Rp20.000 dari dompet, meletakkannya di meja tanpa menunggu kembalian. Aku berbalik, siap untuk pergi membawa nasiku.

"Ukhti Zahra!" panggilnya, suaranya kini terdengar memohon, bukan lagi memerintah.

Aku berhenti, membelakanginya.

"Kalau Ukhti butuh pelampiasan lagi, kalau Ukhti butuh teman bicara, ke sini saja, ya," ucapnya, nadanya penuh arti. "Aku janji, aku akan buat Ukhti Zahra nyaman dan puas. hehe."

Aku merasakan panas menyelimuti wajahku. Aku tahu maksudnya. Dia menawarkan diri sebagai pelampiasan bagi hasrat liarku. Aku malu luar biasa. Aku tidak menjawab sepatah kata pun aku merasa kotor.

Aku hanya mengangguk kaku, lalu meninggalkan Pak Hasan dan warung nasi goreng itu dengan langkah tergesa, menjauh dari tempat yang hampir menjadi saksi bisu kehancuranku.

Aku berjalan dengan membawa bungkusan nasi gorengku menuju rumahku. Jantungku masih berdebar kencang. Meskipun akal sehatku sudah kembali, aku masih bisa merasakan sisa-sisa gairah liar yang baru saja kurasakan di warung Pak Hasan. Aku merasa kotor, sangat malu, tapi di dalam hati, sisa gairah dari remasan dan sentuhan Pak Hasan masih terasa begitu nyata. Aku berusaha berjalan cepat, menundukkan pandangan, dan menggumamkan istighfar berulang kali.

Aku harus melewati pos Satpam. Terlihat bapak security yang tadi masih di sana, kini berdiri di depan pos, merokok, matanya mengawasi gerbang yang sepi.

Aku melangkah menunduk, berusaha melewatinya dengan cepat, menggumamkan istighfar untuk menenangkan jantungku yang masih berdebar kencang. Meskipun akal sehatku sudah kembali, sisa-sisa gairah liar dari warung Pak Hasan masih terasa memabukkan.

Tiba-tiba, suara serak dan familiar itu menyapa, memecah kesunyian malam.

“Sudah selesai beli makannya, Ukhti?”

Aku mengangkat kepala sedikit, memaksakan senyum yang pasti terasa kaku di balik cadar. “Sudah, Pak. Ini pulang,” jawabku singkat.

Pria itu membuang puntung rokoknya ke tanah, lalu berjalan mendekat, langkahnya pelan, penuh arti, persis seperti saat ia menggodaku tadi. Aku merasakan tatapannya menyapu tubuhku, dari kepala hingga bungkusan nasi goreng di tanganku.

“Buruk-buru amat, Ukhti,” godanya, nadanya lebih rendah dari yang kuingat. “Temenin Bapak di sini dulu, dong. Biar gak kesepian, hehe.”

Aku merasa gamisku kembali terasa ketat dan terbuka di bawah sorot matanya. Rasa malu bercampur dengan sensasi terlarang yang mulai menjalar lagi. Ini adalah tatapan yang kuinginkan, tatapan yang melihatku bukan hanya sebagai guru ngaji yang alim, tetapi sebagai wanita yang menarik yang ingin dia dapatkan.

“Emang mau ditemenin ngapain, Pak?” tanyaku, suaraku sedikit bergetar, sebuah pertanyaan yang lebih bersifat ajakan daripada penolakan.

Pria itu tertawa pelan, tawa yang terdengar serak dan menggoda. “Temenin tidur, Ukh. Hehe. Becanda, Ukhti. Jangan diambil hati.”

Aku menelan ludah. Jantungku berdebar semakin kencang. Ia tidak tahu, godaan itu begitu dekat dengan batas yang baru saja kulewati bersama Pak Hasan. Aku tahu, gairah liarku yang dipicu oleh Sentuhan Pak Hasan barusan belum sepenuhnya padam. Nafsu itu masih menuntut pelampiasan.

Aku terdiam. Aku deg-degan. Aku memikirkan, tidak ada salahnya aku menemani ngobrol dengan Pak Security di sini. Aku tidak butuh uang, tetapi aku butuh pengakuan atas kepintaranku. Aku butuh sensasi di inginkan para lekaki. Dan tatapan Pak Security ini adalah pengakuan yang liar, tatapan ini yang aku inginkan.

"Yaudah, Pak. Aku temenin sebentar, ya..." ucapku, sebuah keberanian kedua dalam satu malam. Aku melangkah mendekat, berdiri di samping pos, di bawah lampu remang yang sama tempat ia menggodaku tadi.

"Yaudah, ukhti, kita ngobrol di dalam pos, yuk." katanya, suaranya terdengar lembut, namun terasa mendesak.

"Emm... di luar aja deh, Pak. Gak enak kalau di dalam. Nanti jadi fitnah," jawabku, naluri Akal Sehatku masih berusaha melawan, meskipun hasratku sudah bergolak tak karuan.

"Di luar dingin, Ukhti. Enak di dalam," balasnya, nada suaranya semakin meyakinkan.

Dengan polosnya, aku mengiyakan. Tubuhku seolah tak lagi berada di bawah Kendaliku.

Kemudian, aku ikut ke dalam bersama Pak Security. Aku menaruh bungkusan nasi gorengku di meja. Pos security itu kecil dan remang-remang, hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip pelan. Ruangan itu terasa sempit, dan jarak kami pun sangat dekat, menciptakan ketegangan yang membuatku semakin berdebar.


"Omong-omong, nama Bapak siapa, ya?" tanyaku, mencoba mengalihkan fokus dari jarak kami yang intim.

"Namaku Rahmat, Ukhti," jawabnya, ia tersenyum, senyum yang menunjukkan kemenangan.

Rahmat. Nama yang terdengar religius, kontras dengan tatapan liarnya yang baru saja kulihat. Aku kini berhadapan dengan Pak Rahmat, seorang pria yang tadi berjanji akan menjagaku, tetapi kini memintaku menemaninya dalam ruang sempit ini.

Aku memandang Pak Rahmat sekilas. Dia tidak terlalu tua. Badannya tegap dan bagus. Berkulit sawo matang. Postur tubuhnya yang kokoh di balik seragam security itu mengingatkanku pada urat kekar lengan Pak Bayu sore tadi.

"Ukhti ini cantik begini, kok sendirian saja di rumah kontrakan? Belum ada yang punya, ya?" tanyanya tiba-tiba, mencondongkan tubuh sedikit.

Aku terkejut dengan pertanyaan yang begitu terbuka. "Em, memangnya kenapa, Pak?"

"Ya, Bapak cuma penasaran. Ukhti kan alim begini, pasti banyak yang mengantri buat jadi suami. Kok sampai sekarang masih sendirian aja? Apa Ukhti memang tidak pernah dekat dengan laki-laki?"

Aku menunduk, memainkan kain gamisku. Rasa malu dan pengakuan yang kusembunyikan selama ini terpaksa keluar. "Jujur, Pak. Aku... memang belum pernah dekat dengan laki-laki. Jangankan pacaran, ngobrol dekat begini saja, ini baru pertama kali."

Rahmat mendesah pelan, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. "Yahh. Yang bener, Ukhti. Masih suci banget, dong.."

Aku merasakan wajahku memerah di balik cadar. Aku mengangkat kepala sedikit, mencoba tersenyum, tetapi senyum itu pasti terlihat canggung. "Emm, hehe... Insya Allah, Pak," jawabku malu-malu, merasa geli sekaligus bersemangat karena pujian itu, sebuah pengakuan yang memabukkan tentang kesucianku yang aku sendiri tahu sudah ternoda oleh fantasi-fantasi liarku.

"Padahal enak tau, Ukh, pacaran itu. Jangan-jangan Ukhti tidak suka laki-laki, ya? Haha."

"Ihh, enak aja. Aku masih suka laki-laki kali, Pak," balasku cepat, nadaku sedikit merajuk.

"Lha, buktinya sampai sekarang belum dekat sama cowok. Emang sekarang umur berapa, Ukhti Zahra?"

"Emm... aku umur 24, Pak."

"Tuhh kan. Umur segitu lagi puber-pubernya itu, Ukh. Masa gamau cari cowok."

"Mau sih, Pak. Tapi gak ada yang mau sama aku. Hehe," jawabku asal, berusaha mencairkan suasana. Tentu saja itu bohong. Mereka takut mendekatiku, bukan tidak mau. Aku hanya butuh pria yang berani menembus tembok cadar ini.

"Ihh, gak percaya aku, Ukhti..." Pak Rahmat menggeleng, senyumnya semakin lebar, dan tatapannya semakin tajam. "Pasti banyak yang mau sama Ukhti. Apalagii..." Ia menggantungkan kalimatnya, matanya menelusuri lekuk tubuhku sekali lagi.

Jantungku berdebar kencang. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini, dan rasa malu yang seharusnya menguasai, justru bercampur dengan hasrat liar yang ingin mendengar pujian itu.

"Apalagi apa, Pak?" tanyaku, suaraku pelan, penuh antisipasi.

"Apalagi emm... maaf ya, Ukh. Apalagi badan Ukhti Zahra, kalau aku perhatikan kelihatan seksi banget di balik gamis lebar ini," bisiknya, nadanya serak dan langsung menusuk.

"Ihh, apasih Pak Rahmat!" Aku tersentak, berpura-pura terkejut dan malu. Wajahku terasa panas, meskipun tertutup cadar, aku tahu pipiku pasti sudah memerah. Dia melihatku! Dia mengakui tubuh yang selama ini kusembunyikan!

"Iyaa kan, Ukhti Zahra... Bener kan tebakan Bapak?" tanyanya, nada suaranya kini penuh kemenangan. "Aku juga yakin banget wajah Ukhti Zahra cantik. Matanya aja kelihatan cantik. Apalagi wajahnya."

Aku menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan getaran di tubuhku. Pujian itu, pujian vulgar tentang daya tarik fisikku yang kusembunyikan, terasa memabukkan. Itu adalah pengakuan yang kubutuhkan, pengakuan yang tidak pernah ku dapatkan sebelumnya.

"Pak Rahmat ini suka bercanda," bisikku, suaraku tercekat, berusaha terdengar malu-malu. Aku memilin-milin kain gamisku, tidak berani menatapnya.

"Aku gak bercanda, Ukhti. Aku serius," katanya, kini ia menggerakkan tangannya, menyentuh gamis longgar di lengan atasku, gerakannya singkat dan lembut, dan langsung menarik tangan nya kembali, terasa seperti sengatan listrik. "Percaya deh, Ukhti. Kalau Ukhti mau, pasti banyak yang ngantri."

Aku merasakan getaran di dadaku. Sentuhan kecil itu, di ruangan remang ini, membuatku kembali teringat pada sentuhan Pak Hasan tadi, elusan di paha dan pinggulku.

Tapi Pak Rahmat ini lebih halus, tapi efeknya sama liarnya.

"Aku... aku gak seksi, Pak," ujarku, mencoba membela diri, namun suaraku semakin lemah, dipenuhi kepura-puraan yang gagal.

Rahmat tertawa kecil, tawa yang penuh kemenangan. "Ukhti jangan bohong sama Bapak. Gamis lebar ukhti itu justru bikin penasaran, Ukh. Aku yakin, Ukhti kalau gak pakai gamis pasti terlihat lebih seksi dan menggoda daripada cewek-cewek lain."

"Ihh, Bapak sok tahu," sanggahku, suaraku sedikit lebih lantang, mencoba mengusir godaan itu.

"Kelihatan, kok, Ukhti. Hehe," balas Rahmat, matanya menyipit, menatapku tajam.

"Ihh, Bapak suka lihat-lihat badanku diam-diam, ya?" tanyaku, nadaku bercampur antara kesal dan rasa ingin tahu yang besar.

"Hehe... Maap, Ukhti. Habisnya aku penasaran banget," jawabnya, nadanya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali. Ia maju selangkah, menipiskan jarak di antara kami.

"Aku jujur, Ukhti Zahra," bisiknya, suaranya serak, penuh pengakuan dosa. "Sejak Ukhti datang ke sini tadi, ngomong mau beli makan, aku sudah... sudah ngaceng lihat Ukhti."

Aku tersentak, seluruh tubuhku membeku. Kata "ngaceng" yang vulgar itu, yang ku dengar dari Pak Hasan, kini diucapkan langsung oleh pria lain di hadapanku. Aku melirik ke bawah, ke selangkangan celana Rahmat. Terlihat ada tonjolan yang jelas di sana, bukti nyata dari hasratnya.

Rahmat menyadari tatapanku. Ia menyeringai. "Iya, Ukhti. Ukhti lihat, kan? Ini semua karena Ukhti."

"Ihh, Pak..." Aku menutup mataku malu-malu. Rasa malu itu begitu kuat, tetapi di saat yang sama, rasa diinginkan yang kulihat dari tonjolan itu membuat hasratku memuncak.

"Emang Ukhti gak pernah merasa nafsu gitu, Ukh?" tanyanya, suaranya kini terdengar cukup serius.

"Yaa pernah sih, Pak. Tapi gak jorok gitu dong, Pak..." Aku membuka mataku, menatap matanya di balik cadar. Aku berbohong. Aku baru saja melakukan hal yang lebih jorok dari ini di warung nasi goreng Pak Hasan.

"Ukhti sekarang nafsu gak?"

Pertanyaan itu menghantamku. Pertanyaan yang jujur, telanjang, dan langsung ke inti. Aku tidak bisa mengelak lagi. Aku merasakan tubuhku panas, vaginaku basah, dan payudaraku berdenyut. Aku tahu jawabannya, tapi tak sanggup mengucapkannya. Aku hanya bisa menatapnya.

Aku hanya bisa mengangguk pelan, anggukan yang hampir tak terlihat, sebuah pengakuan yang memalukan namun membebaskan.

"I-iya, Pak..." bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.

Bersambungg...


 

Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com