POV : Edisen
Semalam Mama ngentot dengan om Faiz di kamarnya. Kebetulan aku masih main game online sewaktu om Faiz masuk ke rumah. Pelan2 aku keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. Mama mengajak Om Faiz ke kamarnya tanpa menutup pintu karena mereka pikir aku pasti sudah nyenyak. Kusaksikan permainan Mama dan Om Faiz seperti sedang mabuk birahi. Mama sampai klimaks berkali2 dibuat oleh Om Faiz, benar2 hebat om ini. Kuikuti permainan mereka sampai subuh, sehingga pagi ini rasanya aku masih ngantuk. Kupaksakan diriku untuk berangkat ke sekolah karena harus mengantar ci Velin.
Setelah pulang sekolah, ci Velin dan teman2 kelas ada kegiatan kelompok diskusi di luar sekolah. Setelah ci Velin dan teman2 nya diskusi, mereka sepakat ngumpul di rumah Rizki.
Kutanya ci Velin kenapa harus di rumah Rizki? Lalu ci Velin bilang, soalnya rumah Rizki yang paling besar dan nyaman untuk belajar. Walaupun Rizki bukan sekelas dengan ci Velin, tapi salah satu teman sekelompok adalah teman Rizki, jadi kami diperbolekan untuk pakai rumahnya. Rumah Rizki itu besar sekali tapi yang tinggal di sana hanya dia dan Om Faiz papanya.
Lalu ku tanya lagi, emang nya ci Velin nyaman masih ketemu Rizki setelah kejadian pemaksaan di gudang truk itu. Lalu Ci Velin bilang kalau dia gak punya pilihan, karena teman kelompoknya yang mau. Dia hanya ikuti saja kemauan teman2 lain.
Dalam kelompok itu ada 3 cewek termasuk ci Velin dan 2 cowo. Kebetulan salah satu cowo nya sedang status pacarnya dengan salah satu cewe teman kelompok di Velin. Sepulang sekolah aku membonceng ci Velin langsung menuju ke rumah Rizki bersama teman2 kelompok yang lain.
Sesampai di rumah Rizki aku berkenalan dengan teman2 kelompok ci Velin. Kedua teman cewek kelompok ci Velin itu berjilbab namanya Fitri dan Anisa. Sedangkan yang cowo itu namanya Pratama dan Dicky. Anisa dan Pratama dalam status pacaran. Sedangkan si Dicky sebelumnya sudah ku kenal, karena dia salah satu yang terlibat dalam kejadian pemaksaan di gudang truk itu.
Aku sebenarnya kurang nyaman dengan si Rizki dan si Dicky ini, karena aku pernah dihajar oleh mereka. Kuperhatikan kalau Si Rizki dengan si Dicky ini suka ngomong2 sesuatu yang hanya mereka yang tahu. Entah apa yang mereka rencanakan.
Kegiatan belajar mereka kerjakan di ruang tamu rumah Rizki yang cukup luas. Ada yang menulis di meja tamu ada yang di lantai. Semua sibuk dengan urusan sekolah terutama yang cewe. Sedangkan yang cowo2 kebanyakan hanya duduk nyantai sambil ngobrol2 dan main hp. Aku sendiri dikucilkan duduk agak menjauh dari mereka. Si Pratama dan pacarnya kadang sibuk pacaran sampai tugasnya dibiarkan saja. Yang paling sibuk dengan tugas kelompok itu ci Velin dan Fitri. Berkat kerja keras dari Ci Velin dan Fitri, akhirnya tugas kelompok itu selesai juga dikerjakan.
"Akhirnya selesai juga... makasih ya cewe2 cantik udah bantui kita2 kerjai semua..." kata Pratama
"Parah elu semua, surah kerja tugas kagak mau...."kata Fitri ke cowo2 kecuali aku.
"Urusan kerja PR kalian cewe, ntar urusan hepi2 kami cowo2... jadi adil kan..?!" kata si Dicky
"Hepi apaan...emang mau traktir kami makan bakso...? kata Fitri.
"Ini Rizki mau traktir kita nonton nih...ada film terbaru...hehehe..." kata Dicky
"Betul guys..ini baru gue download semalaman pokoknya mantap coy..." kata Rizki
Si Rizki buka film pakai flashdisk dicolok ke TV LED 50 incinya yang ada di ruang tamu. Cewe2 pada penasaran mau nonton film apa. Si Anisa sudah duduk di sofa lalu sandar di pelukan Pratama menunggu film dimulai seperti di bioskop. Ci Velin, Fitri dan Dicku juga duduk di sofa lainnya menunggu Rizki yang sedang atak atik TV nya sampai film dimulai.
Ternyata film yang ditonton itu adalah film bokep jepang. Cowonya nya pada heboh melihat artis cewenya mempunyai paras yang cantik dan seksi.
"Woiii... mantap coy cewenya...hahahahaha..."
"Toketnya besar banget gaes..."
Dalam film itu ada seorang cowok negro yang tinggal ngekos di rumah sebuah keluarga orang jepang. Keluarga itu terdiri dari seorang Ayah, Ibu dan satu putrinya. Pertama2 si ibu tidak puas ngentot dengan suaminya, lalu tergoda untuk dientot oleh si negro.
"Uihhh...ibunya mirip sama tante Linda tuh, Mamanya Velin...hahaha...." kata si Rizki lalu cowok semua pada tertawa.
"Gila tetek tante Linda gede bangat oi..."
"Tante Linda dientot kontol itam tuh...wkwkwkwkwk..."
"Ayo negro bikin tante Linda ketagihan...!!"
Adegan itu diintip oleh putrinya. Diam2 putrinya terangsang melihat aksi Mamanya dengan si negro.
"Lin...itu anak cewenya mirip lu Lin... cantik juga seksi..." kata si Dicky
"Pernah lu liat mamak lu kena entot Lin...?" tanya Rizki tapi ci Velin diem2 aja.
"Diem berarti pernah tuhhh...hahahahahaha...." ledek Rizki
Pada kesempatan lain putrinya mengajak si negro masuk ke kamarnya lalu mereka ngentot.
"Si Velin udah gatal tuh..."
"Siap2 kena kontol negro si Velin...ahahahahah..."
Ternyata pada saat mereka ngentot ibunya masuk ke dalam kamar putrinya lalu ikut ngentot bersama putrinya.
"Gila tuh tante Linda...binal banget...kayak anaknya si Velin...wkwkwkwkwk..."
Si Negro dapat dua memek sekaligus. Si Ibu dan putrinya berebut kontol negro.
"Enak kali tuh negro dapat dua memek jepang..."kata Rizki
"Gue juga mau la dapat memek kayak gitu..." kata Dicky
Tanpa kami semua sadari si Pratama dan si Anisa udah lagi cumbu2 di belakang. Kancing seragamnya udah terbuka jadi tangan Pratama lagi meremas2 payudara Anisa.
"Asik banget kawan kita ini... punya pacar bisa muas2in..." kata Dicky
"Oi sapa bilang kita gak bisa puas2in Dik...?! kata Rizki
"Ini ada dua cewek nunggu kita puasin juga...hahaha..." tambah Rizki.
"Apa2an ini...lepasin..." kata ci Velin yang sedang dipeluk Rizki dari belakang. Akupun berdiri mau bantu ci Velin tapi ditahan oleh Dicky.
"Lu tenang aja Sen di sana...cici lu bakal gue bikin enak kayak itu cewek jepang..." kata Rizki sambil memeluk ci Velin dari belakang sambil meremas payudara cici yang masih tertutup seragamnya.
Gue dengan Dicky sempat dorong2an gara2 aku mau nolongin ci Velin.
"Udah Sen.. lu pulang aja dulu..nanti aku pulang sendiri..." Aku terkejut mendengar apa kata ci Velin.
"Denger looo apa kata cici luu....pulang lu kalo gak senang cici lu gue mainin..." kata Rizki sambil melepas kancing seragam ci Velin tanpa perlawanan. Ada apa dengan ci Velin, kancing seragamnya dilepaskan satu per satu tapi pasrah. Sepertinya ci Velin terangsang melihat video bokep tadi. Aku tidak mungkin meninggalkan ci Velin sendiri di sini.
Disudut lain baju seragam Anisa sudah lepas sehingga keliatan BHnya dan masih mengenakan rok sedang digrape-grape Pratama. Sedangkan si Dicky sedang merayu si Fitri untuk ngentot dengannya. Dari mereka semua aku pasti lebih fokus kepada ciciku sendiri.
Setelah seragam cici dilepas, Rizki langsung melepaskan BH putih ci Velin lalu dibuang ke lantai. Lalu ci Velin di dorong Rizki ke sofa dengan posisi terlungkup. Kemudian Rizki menarik turun relsleting ci Velin dari belakang lalu melepaskan rok nya.
Kini ci Velin hanya mengenakan celana dalam lalu dibaringkan di sofa lalu menarik celana dalamnya turun ke bawah. Si Rizki lalu menurunkan celananya sendiri lalu naik ke sofa untuk melakukan penetrasi ke Ci Velin.
"AAAAAAHHHHH...." kontol Rizki masuk ke memek ci Velin.
"Ahhhh...aaahhh....aaahhh...." ciciku mendesah sambil melirik ke arahku.
"Haaahh...haaahhh...Linnn gue syang banget sama elu Linnn...aaahh...aaahhh.... Mo gak jari pacar guee...." kata Rizki sambil mengenjot ci Velin.
"Ahhhhh...aaahhh....aaahhh..." ci Velin terus mendesah tanpa memberi jawaban.
"Aahhh aaahh jawabb sayanggg...!!! ucap Rizki
Lalu ci Velin merangkul Rizki lalu mendekatkan bibirnya ke Rizki sehingga mereka berciuman sambil terus melakukan penetrasi.
"Hhhmmm...cuupppp....hhmmmm....aaaahhhh....aaaaahhhh...."
"Ku anggap elu terima permintaan gue Lin...." kata Rizki lalu mempercepat goyangannya.
"AAAAHHH....AAAAHHH.....AAAAHHHH...."
"Enak banget memek lu Linnn...." kata Rizki
"Gue keluarin yaaa..." lalu si Rizki menarik kontolnya lalu crot ke perut ci Velin. Aaaaahhhh.... enakkk bangettt kontol gue Linnn....!!!
"i love you Linn... cupp..." Rizki mencium bibir Velin sekali.
Disana cuma Ci Velin yang sampai penetrasi. Pratama dan Anisa hanya sebatas handjob, sedangkan si Dicky belum berhasil mengoda si Fitri untuk bersetubuh dengannya.
Ci Velin mengenakan baju seragamnya kembali lalu kami berangkat meninggalkan rumah Rizki.
"Kenapa sih cie elu sampe mau main sama si Rizki..." tanyaku sewaktu dalam perjalanan pulang.
"Emang gak bole Sen..? tanyanya balik
"Bukan sih, tapi si Rizki kan pernah perkosa elu cie..." kataku
"Yang lalu biar lalu Sen... jangan diungkit lagi..." katanya.
"Trus lu belum jawab pertanyaan gue, kenapa elu sampe mau dipermainkan si Rizki..? tanyaku lagi.
"Seperti kata Mama Sennn... cewe punya kebutuhan, jujur gue tadi lagi sange Sen..." katanya.
"Maksih cie buat kejujuran loo...moga si Rizki gak menyakiti lu cie...." kataku.
"Iya sen...gue bisa jaga diri koq...ngak usah kuatir ama gue..." katanya.
"........"
Waktu masih belum malam, kami mampir ke toko untuk bantu Mama di toko. Sesampai di toko ternyata Om Faiz sedang ngobrol dengan Mama.
Om Faiz: "Hari Minggu kita jadi jalan ke rumah mertua lu Ling....?"
Mama: "Jadi dongg..aku udah janji sama mertua nih... urusan nikah adat Tionghoa ini memang rumit Bang... jadi harus matang persiapannya..."
Om Faiz: Kapan rencana nikahnya Ling...?
Mama: "Minggu depan acaranya nikahnya Bang...jadi harus cepat2 diurus..."
Om Faiz: "ok Ling...nanti pagi2 abang jemput ya..."
Mama: "Oh ya... nanti anak2 aku ikutan juga ya Bang...."
Om Faiz: "Sekalian diajak saja anaknya Ling..."
Minggu depan ci Erika udah mau nikah. Mama sudah mulai sibuk. Papa akan segera pulang setelah urusan bisnisnya selesai. Keluarga besar sudah sibuk dalam mempersiapkan segala urusan pernikahan ci Erika. Minggu ini aku akan berangkat ke rumah kakek nenek diantar oleh Om Faiz. Baik bener om Faiz ini bela2in antar2 kami ke sana.
Apakah Om Faiz sudah jatuh cinta sama Mama?
Atau dia punya maksud lain terhadap Mama?
Minggu pagi2 kami berangkat ke kota dijemput Om Faiz. Aku dan Ci Velin duduk di baris dua dan Mama duduk depan disebelah Om Faiz. Selama perjalanan Mama begitu aktif ngobrol dengan Om Faiz. Kalau sama Papa, Mama itu kebanyakan diam saja. Mama seperti orang yang sedang kasmaran dengan Om Faiz.
Sesampai di rumah Kakek Nenek, Om Faiz menunggu di mobil selama 2 jam lebih. Waktu nenek bertanya, kami datang dengan siapa. Mama bilang datang dengan supir lagi nunggu di luar. Selama di sana Mama tidak enak hati dengan Om Faiz yang menunggu di luar. Sebentar2 Mama keluar untuk menyapa Om Faiz sambil memberi dia beberapa makanan. Nenek merasa aneh kenapa Mama perhatian sekali dengan supir itu.
Nenek: Ling, kenapa lu perhatian sekali dengan itu supir?
Mama: Gak Ma, kasian dia nunggu lama di luar.
Nenek: Kerja supir ya harus begitu... gak boleh mengeluh kalau menunggu..."
Mama: "Iya sih...tapi supir juga manusia gak boleh diperlakukan sembarangan juga loo..."
Nenek: "Sama supir gak perlu baik2 kali....apalagi dia itu orang asing yang gak jelas asal usulnya, jangan dikasi hati nanti jantung lu diminta Ling..."
Mama: "Gak koq Ma... dia orang baik2 koq..."
Nenek: "Tau dari mama kamu Ling, kamu ini dibilangin ga mau denger... asik bela2 itu supir... ada apa sih?
Mama: "Gak apa2 Ma, aq cuma menghargai supir itu yang sudah mengantar kami ke sini lo Maa..
Nenek: "Ya sudah kalau lu gak mau dengar kataku..benar2 menantu yang keras kepala..."
Nenek marah pada mama karena Mama tidak mau dengar nasehatnya. Sangkin marahnya Nenek bilang ke Kakak, lalu kakek juga ikut2an memarahi Mama. Kejadian ini disaksikan oleh semua anak2nya. Disana selain aku ada ci Velin, ci Erika dan ci Elena. Semuanya tidak ada yang berani membela Mama karena Kakek itu kalau marah seperti Papa, sangat keras suaranya dan kasar perkataannya. Kasian Mama dimaki2 sampai begitu keras. Demi tidak memperpanjang masalah, mama tidak membalas satu katapun hanya tunduk dan menangis.
Setelah kakek puas memarahi Mama, lalu kami pun beranjak dari rumah Kakak. Nenek mengantar kami sampai ke mobil Om Faiz. Sebelum berangkat nenek berkata pada Om Faiz: Ehh..Pak supir tolong bawa mobilnya pelan2 saja ya... lalu kakek memberikan uang tips buat Om Faiz karena mereka pikir Om Faiz itu supir kami. Om Faiz menolak pemberian itu lalu uang tips itu diambil oleh Mama, maksudnya nanti Mama yang berikan setelah sampai di rumah.
Aku melihat tatapan Nenek melihat Mama dengan tatapan curiga, karena Mama duduk disebelah Om Faiz. Tapi karena kami sudah buru2 mau jalan, nenek tidak sempat bertanya lagi.
Setelah perjalanan di mobil Mama hanya terdiam saja membuat Om Faiz bertanya:
Om Faiz: Ling kamu kenapa ?
Mama: Aq abis dimarahi Bang..."
Om Faiz: Dimarahi kenapa?
Mama: Gara2 tadi aq terlalu perhatiin abang...
Om Faiz: Loh emang kenapa kalo Aling perhatian sama abang..?
Mama: Mertuaku gak suka aq terlalu baik sama abang..
Om Faiz: kenapa ga suka?
Mama: Karena mereka pikir abang ini supir...
Om Faiz: Emang gak bole baik sama supir...?
Mama: Itu dia Bang.. mereka ga suka..
Om Faiz: Aneh banget mertua lu itu Ling...
Mama: Abang jangan marah ya... mereka ga suka karena mereka pikir abang ini orang asing dan mereka gak bisa terima perbedaan. Mertuaku itu orangnya tertutup dan kolot bang... maaf ya bang..."
Om Faiz: Ohhh...pantesan gitu Ling... aku bisa ngerti koq Ling...untung Aling gak tertutup sama orang seperti abang ini..
Mama: Sebelum tinggal di kampung kita ini aq juga seperti mertuaku.. tapi akhirnya aku bisa lebih terbuka..."
Om Faiz: Loh..koq bisa Ling...?
Mama: Ternyata perbedaan itu gak seburuk yang kubayangkan bang... dan juga...
Om Faiz: juga apa Ling...?
Mama melihat ke samping lalu melirik ke aku dan ci Velin.
Mama: Udah la, nanti aja bahasnya.."
Sepertinya Mama gak mau bilang karana ada aku dan ci Velin di mobil.
Om Faiz: Jangan sedih lagi Ling... Abang siap menghibur aling koq kapan saja.."
Mama lihat ke Om Faiz sambil tersenyum.
Om Faiz berhasil mencairkan suasana hati Mama. Lambat laun Mama sudah mulai mau ngobrol. Tidak terasa 2 jam perjalanan kami lalui untuk sampai ke daerah pinggiran kota memasuki dusun tempat tinggal kami.
Om Faiz: "Ling, kalian tahu gak kalau di daerah kita ada satu tempat wisata yang orang luar gak tahu..?
Mama: "Oh ya?! Dimana tuh...?!
Om Faiz: Ayo kita kesana, mumpung ini masih jam 3 sore... tempatnya gak jauh dari rumah abang..."
Kami melewat rumah Om Faiz lalu jalan sekitar 15 menit kami berhenti di sebuah perkampungan rumah penduduk. Karena jalannya sempit mobil tidak bisa lewat. Kami terpaksa harus berjalan kaki ke sana. Kurang lebih setangah jam jalan kaki melewat rumah2 penduduk lalu memasuki hutan, kami bertemu dengan sebuah sungai yang dangkal dan airnya juga bersih banget.
"Wahhh...indah sekali pemandangan disini..." kata Mama sambil takjub melihat suasana alam yang asri.
"Belum pernah datang kan Ling..." kata Om Faiz
Kami semua melepaskan sepatu dan sendal kami di tepi sungai lalu berjalan kepinggirannya. Pelan2 kami melangkah ke airnya, terasa sangat dingin layaknya dari air pengunungan.
Ditengah sungai itu ada beberapa batu besar yang bisa diduduki. Mama duduk di batu itu dan Om Faiz bicara berdiri menghadap Mama. Aku dan ci Velin pun ikutan duduk di batu besar lainnya sambil menikmati air sejuk mengalir di sungai itu. Ci Velin sibuk banget dengan Hp nya untuk selfie lalu posting di Medsos nya.
Om Faiz: "Tadi Aling mau bilang apa..?
Mama: "Maksudnya apa Bang...?
Om Faiz: "Loh katanya nanti baru bahas..."
Mama: "Ohhh yang itu.... tadi Aling bilangnya udah sampe mana ya..lupa nih...hehe
Om Faiz: Tadi Aling bilang perbedaan itu ga buruk dan juga apa Ling...??
Mama: Dan juga Aq udah menikmati perbedaan itu Bang..
Om Faiz: Maksudnya gimana, apa yang Aling nikmati rupanya...?
Mama: ".....Menikmati malam terakhir kita di rumah aq bang...." Mama tertunduk malu sendiri
Om Faiz: "Kenapa aling gak berani liat abang...?"
Mama: " Karenaaa.. abang ini nakal..." Canda Mama lalu mencipratkan air ke wajah Om Faiz sambil menertawakannya. Lalu Om Faiz pun membalas mencipratkan air ke tubuh Mama sampai mereka berdua kebasahan. Suasana hati mama yang tadinya sedih akibat dimarahi Kakek Nenek, kini sudah membaik.
Mama: "Ampunn bang ampunnn...hahahaha..." Om Faiz menyemburkan air dengan cepat ke tubuh Mama dengan tangannya.
Om Faiz: "Ternyata Aling nakal juga ya...."
Mama: " Lebih nakal abang...bikin tubuh aq ampe basah begini..."
Om Faiz: "Hehehe...memeknya basah juga dong..."
Mama:" Tuh kan abang nakall...."
Om Faiz: "Abang memang suka bikin memek Ling jadi basah...hahahahaha...."
Mama: "Kalo basah siap2 aku terkam lo bangg....hehehe..."
Om Faiz: "Abang paling suka di terkam sama macan Ling..."
Mama: "Macan...macan...emang aku ini binatang bang... huh..."
Om Faiz:" Bukan sayanggg...macan itu Mama Cantik lo sayang..."
Mama: "Dasarrr bang Faizz..."
Lalu Mama memeluk Om Faiz lalu mereka berciuman seakan cuma ada mereka di sana.
Tidak seberapa lama datang sekelompok Om2 berkulit gelap dari perkampung itu lalu menyoraki Om Faiz dan Mama.
"OIII...ENAK KALI BOS KITA INI WOII......" lalu mereka berhenti berciuman.
Wah wah... habis dari mana kalian...? kata Om Faiz. Ternyata itu kawan2 Om Faiz baru pulang dari nebang hutan. Semua Om2 itu telanjang dada penuh keringat.
Om2 itu pada melirik ke tubuh Mama yang sedang basah sehingga memperlihatkan payudara mama yang setengahnya ditutupi BH berwarna hitam. Dan Mama juga mengenakan celana hotpants sependek paha yang memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
Dalam keadaan basah Mama masih duduk cantik menikmati suasana sungai, lalu Om Faiz menjumpai kawan2nya yang berdiri di tepi sungai. Tidak tahu mama sadar atau ngak kalau Om2 itu sedang melirik ke Mama dengan tatapan mesum. Sepertinya Mama gak peduli dengan tatapan Om2 itu. Mama menyibakkan rambutnya yang basah ke samping sehingga terlihat lehernya.
"Dapat amoy dari mana elu bos...?"
"Mereka ini penghuni baru kampung kita ini... jadi aku ajak main2 ke sini...." kata Om Faiz
"Asik bos kalo sekalian diajak main disini...sepi gak ada orang yang tahu...hahahahaha..."
"Ada anaknya bang disitu bang..." kata Om Faiz
"Itu anak gadisnya sekalian aja dientot...amoy bening gini enak kali itu.... itu anak lakinya kita sekap aja biar diam dia..."
" Jangan sekarang bang...nanti saya ajak kalian kalau sudah waktunya..."
"Beres bos...kontol awak udah gak tahan liat amoy bening kayak gini...apalagi lu liat mamaknya itu... pengen kali awak perkosa itu amoy...."
"Beres bang..tunggu tanggal mainnya..." kata Om Faiz
"Jadi bos udah entot itu amoy....?"
"Udah bang...enak kali kalo dientot itu amoy..." kata Om Faiz
"Sekalian anaknya lu entot bos...?"
"Gak bang... itu anaknya pacar anak laki aku jadi gak kuapa2in..tapi itu anak cewenya udah dientot sama akan laki awak si Rizki..." kata Om Faiz
"Enak betul kalian....Bapak dapat mamak, anak dapat putrinya...cina2 lagi..ckckckck......"
"Nanti la aku bagi kalian...sabar dulu..." kata Om Faiz
"Ok Bosss...!!! selamat bersenang2 sama amoy ya bos...ahahahahaha...."
Lalu Om Faiz kembali ke Mama lalu melanjutkan obrolan mereka. Mama sudah mulai kedinginan karena memakai baju basah. Mamapun mengajak Om Faiz untuk pulang. Selama menempuh perjalanan kaki kembali ke mobil, Mama terus memeluk Om Faiz karena kedinginan. Saat melewat perkampung penduduk, banyak bapak2 melihat ke Mama sambil tersenyum.
Om Faiz mengajak kami singgah ke rumahnya karena kebetulan ada lewat. Dirumah Om Faiz ternyata ada si Rizki yang sedang duduk di ruang tamu sedang bermain PS-4. Melihat kami di sana diapun menghentikan permainannya.
Mama sudah mulai bersin2 karena kedinginan. Om Faiz mengajak mama masuk ke kamarnya untuk ganti baju. Sedangkan aku dan Ci Velin duduk di sofa ruang tamu. Si Rizki mengajak ci Velin ngobrol dan mengabaikan aku di sana. Tidak segan2 si Rizki langsung duduk di samping ci Velin lalu merangkul dalam pelukannya. Ci Velin pun tidak menolak perlakuan Rizki padanya. Sepertinya mereka memang sudah resmi menjalin hubungan pacaran.
Karena merasa dicuekin sama ci Velin dan Rizki yang sedang ngobrol pacaran, akupun menghilangkan rasa sungkan coba berjalan menyusul Mama dan Om Faiz.
Kudengar suara Mama tertawa lepas dalam sebuah kamar. Ternyata suara itu datang dari kamar Om Faiz. Kulihat tidak ada orang di sana. Aku melangkah lebih ke dalam ternyata di dalamnya ada kamar mandi pribadi berpintu kaca bening. Bisa kulihat dengan jelas kalau Mama sedang mandi bersama Om Faiz.
Mama tertawa keras karena Om Faiz sedang mengosok memek Mama dengan sabun. Mama membuka pahanya lebar2, lalu Om Faiz jongkok dibawahnya lalu mengelus2 selangkangan Mama. Sedangkan mama memakai sabun untuk mengkramas rambut om Faiz sambil tertawa2 menahan geli yang dirasakan.
Lalu mereka berpindah posisi, kini Mama jongkok didepan Om Faiz lalu membersihkan kontolnya yang hitam dengan sabun sambil mengocok2. Sesekali Mama membuka mulut menjilat kepala kontol Om Faiz. Kontol Om Faiz yang hitam itu semakin lama semakin memanjang ketika dikocok Mama sambil tersenyum sendiri.
"Linggg....kami nungging dulu..." kata Om Faiz. Lalu kedua tangan menahan kaca yang menempel di depan wastafel.
"Sini abang mau rasakan lubang pantat lu Lingg..." kata Om Faiz
"Jangann Banggg.....Aling takutt ...." kata Mama
"Takut apa Ling...? kata Om Faiz
"Takut sakit banggg..." kata Mama
"Nanti lama2 juga enak koq Ling..." kata Om Faiz lalu mulai mengarahkan kontol ke lubang anal Mama.
"AAAAAHHHHHHHH....!!!! Sakittt Banggggg....." jerit Mama. Kontol Om Faiz pelan2 tercelup ke lubang pantat Mama yang sempit.
"Anjinggg....sempit kali lubang pantat lu Linggg.... kontol abang rasanay enakkk.... aaaahhhh...." kata Om Faiz sangkin keenakan sampai memaki. Kontolnya mulai digesekkan ke lubang anus Mama.
"AAAAAAAHHHHHHH....AAAAAAHHHHHH....AAAAAAHHHH... SAKIITTT BANNGGGG....!!!! Jerit Mama kesakitan.
"Anjinggg betul2 anjinggg... seratttt lubang bool lu Lingggg...!!!!"
"AAAAAAAHHHHH.....AAAAAAHHHH....AAAAAAHHHH.... "
"Aaaaahhhh....aaaahhhh.....aaahhhh....aaaaahhh...."
"Gimana Linggg...sudah enakkannn...." kata Om Faiz sambil terus menyodok dari belakang dengan kuat. Payudara Mama yang menggantung sampai bergetar ketika disodok Om Faiz.
"Aaaaaahhhh...aaaahhhh...aaahhh...aaaahhh..."
"AAAAAAHHH...AAAAAHHHH.....ANNJINGGG BETULLL...ENAKK KALI BOOL AMOYYY...!!! Om Faiz menyemburkan spermanya ke anus Mama.
Setelah itu Mama mengambil shower lalu disembur ke kontol Om Faiz untuk membersihkan spermanya. Lalu Mama berbalik badan lalu menyemburkan shower ke pantatnya dengan sedikit melebarkan selangkangannya untuk membersihkan sperma yang menempel.
Kemudian Mama mengambil sabun cair lalu mengusap punggung Om Faiz yang lebih besar darinya dengan kedua tangannya.
Bang Faiz berbalik berhadapan dengan Mama, lalu Mama melanjutkan dengan mengusap dada Om Faiz yang ditumbuhi bulu2 halus sampai turun ke perut. Dengan usil Mama mengoda kontol hitam Om Faiz dengan kedua tangannya sambil tertawa genit.
Lalu Om Faiz memeluk Mama hingga payudara Mama menempel penyok di dada Om Faiz. Kedua tangan Om Faiz meremas kuat pantat mama yang montok itu.
Beberapa saat setelah mereka menikmati rasa berpelukan, Om Faiz mengangkat Mama lalu menyandarkan ke pintu kaca tepat dihadapanku lalu menyoblos kontolnya ke memek Mama.
Dibalik pintu kaca itu kulihat punggung Mama menempel di pintu kaca dengan paha yang terbuka lebar. Lalu Om Faiz sedang menghujamkan kontolnya yang besar ke memek Mama. Kedua tangannya yang kuat menahan beban mama dengan merangkul pinggul Mama. Om Faiz melakukan penetrasi dengan posisi berdiri.
"Aaaaahhhh....aaaaahhh....aaaaaahhhh....aaaaahhh...." Mama mendesah
Tanpa kusadar Om Faiz tahu kalau aku sedang mengintip persetubuhan mereka. Om Faiz melihat aku mengelus kontolku sendiri yang sudah keras dari luar celana. Dia menatapku dengan tatapan tajam sambil terus mengenjot Mama. Rasa sange aku membuatku gak bisa bergerak ingin terus menyaksikan perbuatan mereka di dalam kamar mandi. Om Faiz tersenyum sinis padaku dan memperkuat sodokannya terhadap Mama.
"Aaaahhhhh...aaaaaahhhh....aaaaahhhh....aaaahhhh..." desahan Mama pun semakin kuat.
"AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH............!!!!!!!! Mama mencapai orgasmenya lalu dengan kuat memeluk Om Faiz. Mama seperti anak kecil yang digendong Om Faiz. Kedua kakinya melingkari pinggul Om Faiz.
Puas memeluk Om Faiz, Mama turun dari tubuh Om Faiz. Mereka mengeringkan tubuh mereka dengan handuk lalu membungkus tubuh mereka dengan handuk. Setelah itu mereka keluar dari kamar mandi bersama-sama. Akupun bergerak mundur agar tidak ketahuan Mama. Hanya Om Faiz yang mengetahui kehadiranku di sana tapi berpura2 tidak melihat. Sesekali mata Om Faiz melirik ke arahku.
Mama lalu duduk di tepi ranjang dengan kaki yang disilangkan menatap om Faiz.
"Ling... abang belum keluar sayang...." kata Om Faiz
Mama menelantangkan tubuhnya di ranjang lalu Om Faiz melepaskan handuk yang dipakai mama. Om Faiz melepaskan handuknya sendiri lalu melempar ke lantai. Paha Mama dilebarkan Om Faiz lalu mencelupkan kontolnya di liang vagina Mama.
Tubuh Mama ditindih oleh Om Faiz, sembari kontol Om Faiz mengenjot Mama di bawah. Di atas mereka saling berpelukan dan berciuman panas. Tubuh Mama yang putih mulus layaknya wanita chinese kini tenggelam dalam tubuh om Faiz yang lebih gelap. Sungguh kontas sekali perbedaan warna kulit di tubuh mereka. Akupun semakin terangsang melihat pemandangan ini.
Aaaaaahhhh... aaaaahhhh...aaaahhhhh...." Mama kembali mendesah sampai akhirnya.
BANNGGGG AKU KELUARRR LAGGGIII...!!!!
Iyaaa Linggg...Abanggg juga mau keluarinn sekarangggg..... aaaahhhhh.....aaaahhhhh....!!! AAAAAHHHHHHHH....aaaaahhhhh....!!! Mama juga keluar berbarengan dengan Om Faiz.
Keduanya mencapai puncak kenikmatan dalam posisi berpelukan sambil berguling di atas ranjang kamar Om Faiz yang besar itu.
Sebelum ketahuan Mama, akupun keluar dari kamar itu lalu mencari Ci Velin. Setelah mencari2 ternyata ci Velen ada dikamar Rizki. Mereka berdua sedang bercumbu dalam keadaan tanpa busana. Semua pakaian ci Velin sudah bertebaran di lantai kamar Rizki.
Melihatku di sana ci Velin lalu mengutip bajunya lalu memakai kembali. Ternyata mereka sudah selesai bersetubuh selama aku berada di kamar Om Faiz.
"Sen...kamu di sini saja ya tungguin Mama. Gue mau jalan dulu sama Rizki...nanti Rizki yang mengantar gue pulang...." kata ci Velin lalu akupun mengiyakan.
Aku sekarang belajar sesuatu dari apa yang terjadi hari ini, bahwa seorang lelaki harus bisa memenuhi kebutuhan wanita secara emosi maupun seksual. Tadinya Mama sedih banget setelah pulang dari rumah Kakek Nenek, namun malam ini Mama merasakan kebahagiaan yang diberikan Om Faiz. Itu yang tidak sanggup diberikan Papa kepada Mama. Aku tidak menyalahkan hubungan Mama dengan Om Faiz asalkan Mama bahagia.
Berapa lama lagi aku harus menunggu Mama di ruang tamu ini ?